REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 27 -



"Aku memiliki kekayaan yang sangat cukup memenuhi kebutuhanmu, untuk apa kau masih bekerja di luar sana berperan sebagai seorang selebritis dan memerankan film bersama pria lain saling berpelukan dan saling berciuman?" Tanya Mark Tomson meraih pinggang istrinya.


"Dari awal menikah kita sudah sepakat Mark, bahwa kau mengijinkanku tetap berkarya dan menjadi publik figur." Kata Abigail.


"Aku bahkan menghancurkan semua tv di mansion karena selalu melihat kau lebih hangat saat dengan pria lain." Kata Mark menyusuri leher jenjang Abigail dengan hidungnya hendak mencium.


Namun Abigail mendorong suaminya.


"Jangan mengalihkan pembicaraan Mark, aku hanya ingin kau lebih lembut pada Sezi, apa kau juga menginginkan Sezi mengakhiri hidupnya seperti apa yang di lakukan kakaknya Seza setelah kau mengirimnya ke luar negeri? Kau tidak tahu bagaimana Seza terluka, ia mengira kau membuangnya karena tidak dapat memenuhi standar kepuasanmu tentang prestasinya." Abigail memicingkan matanya.


"Apa yang kau tahu Abigail, Seza mengakhiri hidupnya, itu karena kau tidak pernah ada untuk dirinya, bahkan di hari ulang tahun mereka kau selalu tidak pernah ada, apalagi ketika Seza mendapatkan peringkat 3 besarnya yang pertama, kau memilih pergi ke acara pesta perayaan film."


"Aku rasa kita tidak akan pernah lagi menemukan titik temu di sini, aku lelah selalu berdebat denganmu." Kata Abigail pergi dengan membanting pintu ruangan Mark Tomson.


...*****...


La Dante Bar ....


Berbeda dengan Sezi. Fay, ia memilih untuk pergi ke bar, meski umurnya 17 tahun namun ia bisa masuk leluasa di bar milik temannya.


"Hay Pablo." Sapa Fay.


"Bar masih belum buka, apa yang kau butuhkan." Kata Pablo sedang mengelap meja-meja marmernya.


"Aku cuma butuh tempat untuk menyendiri dan menyepi, kau tahu nilai-nilaiku sangat hancur dan orangtuaku pasti akan memarahiku, mereka sedang perjalanan pulang dari bisnis, mungkin nyawaku tinggal beberapa jam lagi, dan akan berakhir ketika aku bertemu dengan mereka." Sahut Fay.


"Kenapa kepintaran selalu di ukur dari nilai, jika mau melihat kebanyakan orang sukses ada yang tidak bersekolah hingga lulus." Sahut Pablo.


"Entahlah, beberapa orang normal lainnya menganggap sekolah bagus, nilai bagus, akan membuat perjalanan hidup mereka lebih baik."


"Lalu menurutmu, mana yang lebih baik, nilai atau menjadi diri mu sendiri?" Tanya Pablo menuang segelas bir dan di berikan pada Fay.


Pablo masih membersihkan dan mengelap meja bar panjang di hadapannya kemudian ia menaruh lap itu dan keluar menemani Fay duduk.


"Aku lebih memilih menjadi diriku sendiri, tapi untuk orang yang memiliki previlege atau hak istimewa sosial di kehidupan, mereka juga mendapat tuntutan lebih banyak dari orang tua."


"Kau lihat aku Fay, memang usahaku tidak seperti orang tua mu yang kaya, tapi aku bahagia, aku menjalani hidup seperti yang aku mau. Tidur saat aku ingin tidur, makan saat aku lapar, dan bekerja saat aku mau. Bar ini awalnya juga hanya kecil tapi saat aku berusaha demi diriku sendiri kini aku memiliki beberapa cabang, sekarang lihat dirimu, apa yang kau cari dan untuk siapa kau belajar serta mati-matian menginginkan nilai yang baik?" Kata Pablo.


Fay meminum birnya.


"Kau tahu Pablo, terkadang hidup seseorang tidak semudah itu. Rumit dan terpaksa mengikuti aturan, lama kelamaan kita terbiasa dengan kehidupan itu, dan kita terbawa arus menjadi seorang monster."


"Apa kau sudah menjadi monster?"


"Ya, ku rasa aku hampir menjadi monster. Bahkan aku selalu merundung siswi lain yang menyaingiku. Entahlah mungkin karena aku takut orang tuaku akan marah jika seseorang akan lebih baik dariku, maka itu aku menggunakan kekuasaan dan hak previlege ku untuk menjatuhkan dan menekan orang lain agar ia tidak bisa melewati ku."


"Fay, aku temanmu, dan aku melihat kau sudah terlalu jauh melangkah hingga tersesat, kau lupa bahwa tujuan hidup yang sebenarnya adalah menjadi bahagia dengan menjadi diri sendiri, kita tidak dapat merubah apapun kecuali kau sendiri yang mau berubah." Kata Pablo meninggalkan Fay sendirian.


"Pablo!" Teriak Fay.


"Aku hanya butuh teman yang mau mendengarkanku, tapi kau pun juga menjauh." Fay meraih tasnya dan pergi keluar dari Bar yang masih memiliki tanda Close.


...*****...


"Evashya apa kau masih marah? Dan tidak sepatutnya kau melihat acuh serta sinis pada Isabella." Kata Zack menahan Evashya pergi ke kamarnya.


"Aku tidak marah Zack, aku hanya kecewa kenapa kau tidak jujur." Kata Evashya berlalu pergi ke dalam kamarnya.


Sebelum Zack mengejarnya star sudah datang.


"Tuan muda... Anda harus melihat file yang baru saja saya terima." Kata Stark.


Kemudian mereka masuk ke dalam ruangan.


"Apa yang sudah kau temukan Stark?"


Stark membuka tabletnya dan di berikan pada Zack, kemudian Zack membaca nya perlahan, dan Stark memberikan keterangan secara ringkas.


"Tuan Kaufmann Hueber berkebangsaan Jerman, dia adalah pria paling kaya disana dan memiliki banyak lahan, serta perusahaannya bergerak di bidang jual beli tanah, dia memiliki satu orang anak perempuan bernama Belinda Hueber dan menjalin asmara dengan Amran Zafer hingga mereka menikah, dan Belinda mengandung. Namun, pria itu berkhianat dan meracuni Kaufmann, kemudian menyekap Belinda. Amran Zafer mendapatkan semua warisan tersebut."


"Apa pasien yang memiliki gangguan mental adalah Belinda Hueber?"


"Saya pastikan dia adalah Belinda Hueber, namun kasus di keluarga Hueber di tutup rapat, Amran membuat seolah-olah Kaufmann bunuh diri karena Belinda meninggalkan mansion, saat itu Belinda memang berhasil melarikan diri di bantu seorang pelayan, dan pelayan itu sudah kami temukan, kami sudah mengamankan pelayan tersebut. Untuk dimintai keterangan."


"Jadi Isabella adalah anak dari Belinda." Kata Zack.


"Benar tuan, dan nama samaran dari Amran Zafer adalah Emir Khan." Sahut Stark.


Seketika Zack terbelalak, tablet itu jatuh dari tangannya. Jantungnya seolah berhenti, nafasnya berhenti, dan bayangan senyuman Isabella terlintas di pikirannya.


"Maaf kan saya tuan." Kata Stark mengambil tablet yang jatuh di lantai.


Zack masih terdiam di kursinya. Sedangkan Stark masih menunggu perintah.


"Tinggalkan aku sendiri dulu Stark."


"Baik tuan. Saya permisi." Kata Stark dan pergi meninggalkan ruangan.


Zack menunduk dan meremas kedua tangannya yang menggenggam.


Kini semua keputusan ada di tangan Zack, semua informasi pun ada pada Zack, pria itu harus benar-benar memikirkan secara matang.


Di lain sisi, Emir Khan adalah orang yang menyebabkan kematian ayah dan ibunya, dan dalam darah Isabella mengalir darah pembunuh orang tuanya.


Sekali lagi bayangan dan kenangan-kenangan nya bersama Isabella kembali terlintas dalam pikiran Zack, bagaimana senyuman polos itu merekah di wajah Isabella yang cantik dan lugu.


Zack seakan berada di ujung jalan yang memiliki arah bercabang, ia masih belum bisa menentukan jalan mana yang harus ia pilih.


Akankah Zack harus membawa Isabella pada Belinda, dan kemudian memberitahukan pada kekasihnya jika ayahnya lah yang membunuh kedua orang tua nya dan menyebabkan ia dan adiknya yatim piatu.


Ataukah Zack menutup rapat informasi ini lalu akan memberitahu pada Dokter Leizya bahwa ia tidak tahu apa-apa dan tidak bisa menemukan apapun.


~bersambung~