REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 69 -



"Tuan, maafkan kami, mereka menghilang."


Wajah Julian mengerut kesal, ia berdiri dengan tangan berada di dalam kedua saku celananya.


"Bagaimana bisa menghilang, kalian ada berapa banyak, kenapa bisa membiarkan mereka menghilang." Suara Julian terdengar dingin.


Srrrr...


Terdengar suara tarikan pedang.


"Aku tidak mengira sebelumnya, tapi seharusnya aku bisa mengantisipasi. Isabella yang mempesona membuatku lengah dan tidak terpikirkan dengan penjagaan lagi."


SRET!


Julian mengibaskan pedangnya dan mengenai leher sang pengawal, hingga kepala itu menggelinding membuat darah memuncrat di mana-mana.


"Aku kehilangan kendali, membuat susah saja." Kata Julian tenang.


"Bereskan mayatnya, dan suruh para pelayan membersihkan ruangan ini. Lagi-lagi aku mengotori ruangan ini dengan darah."


Julian ingat, sudah tak terhitung banyak kepala yang ia penggal di ruang kerjanya, seketika ia membayangkan ruangannya penuh dengan darah yang membanjir, kepala-kepala terpajang seperti manekin.


"Isabella tidak akan pernah mau masuk ke sini, jika dia tahu tempat ini lebih seperti ruangan penjagal."


Salah satu pengawal mengambil pedang yang di serahkan. Pengawal yang lain memberikan sapu tangan untuk Julian.


"Panggil pemimpin Mafia Hitam kemari." Kata Julian pergi dari ruangannya.


Di dalam kamarnya Julian hanya bisa memandangi tuxedo pernikahannya, dan seulas senyuman mengembang di wajah Julian.


"Bahkan jika itu adalah mayat mu, aku akan mengawetkanmu dan memajangmu di kamarku. Isabella." Kata Julian lirih.


"Apa kau tidur dengan baik? Atau kau ketakutan? Setidaknya butuh beberapa kali terapi hipnotis agar kau melupakan kejadian itu."


******


Pulau Hantu...


"Tidak..."


"Pergilah..."


"Kalian siapa..."


"Jangan ganggu aku... Pergi!!!"


"Pergi...!!!"


Zack yang saat itu melewati kamar Isabella terkejut mendengar Isabella berteriak, ia segera masuk dan mendapati Isabella bermimpi buruk.


"Isabella... Bangun."


Zack berusaha membangunkan Isabella dengan gerakan pelan, ia tidak ingin membuat Isabella semakin terkejut.


Akhirnya Isabella membuka matanya, dan mendorong Zack, ia menjauh dan meringkukkan tubuhnya.


"Isabella... Ini aku." Kata Zack mencoba membelai kepala Isabella.


Mata Isabella ketakutan, ia menggigil.


"Kau bermimpi buruk?" Tanya Zack cemas.


"Emir, mereka... Mereka semua apakah suruhan Emir." Tanya Isabella membelalakkan matanya.


Keringat sudah membasahi sekujur tubuh Isabella, bahkan rambut Isabella pun basah.


Zack merasa hancur melihat Isabella yang begitu ketakutan, bahkan dalam tidurnya Isabella tidak bisa tenang, tapi bagaimana bisa Isabella melewati hari-hari dengan tenang.


Zack menarik Isabella dalam pelukannya.


"Maafkan aku Isabella, aku yang bodoh, kau berjuang sendirian. Ceritakan padaku apa yang terjadi."


"Mereka pasti suruhan Emir..." Isabella masih meracau ketakutan, pandangan matanya kosong.


"Tidak mungkin, Emir sudah mati."


Zack kemudian menekan bel untuk memanggil pelayan. Tak berapa lama para pelayan pun tiba.


"Panggilkan Stark untuk membawa obat penenang." Perintah Zack.


"Baik tuan."


Tak berapa lama Stark datang dengan beberapa pil obat penenang, Zack memberikan itu pada Isabella.


Berangsur-angsur Isabella mulai mengendurkan seluruh otot tubuhnya yang tegang.


Isabella berbaring dengan lemah, keringat mulai sedikit mengering meski rambut Isabella masih sedikit basah.


"Apa yang sudah kau lihat Isabella?" Tanya Zack.


"Pembunuhan." Kata Isabella setengan berbisik.


"Billy. Aku yakin dia adalah Billy." Mata Isabella masih kosong.


"Apa maksudmu..."


"Carilah Billy, aku yakin dia membunuh Billy."


"Aku... Aku tidak tahu, saat itu aku sedang menurunkan barang-barang pindahanku, dan terdengar suara di sebuah gang yang tak jauh dari apartmen ku, dan aku mendatangi, aku melihat mereka menusuk perut Billy."


Air mata Isabella mengalir.


"Tapi tidak ada berita apapun tentang Billy." Batin Zack.


"Stark, periksa ada dimana Billy sekarang." Kata Zack.


"Baik tuan." Stark pun bergegas pergi.


"Tidurlah, kau aman di sini Isabella, percayalah padaku."


"Biasanya Julian yang selalu duduk dan menemaniku, sampai aku tidur, kadang saat aku membuka mata dia tidur dengan posisi duduk." Kata Isabella memejamkan matanya.


"Apa maksudnya dia berbicara seperti itu padaku, apa dia ingin memberitahu jika aku tidak ada pun masih ada pria yang mau menjaganya?" Zack mengepalkan kedua tangannya.


"Maafkan aku Zack, aku hanya tidak ingin jatuh lagi dalam penjara cinta yang menenggelamkanku ke dalamnya, aku hanya ingin mencegah hatiku dari mu yang entah nantinya kau pasti akan melukai ku lagi atau meninggalkanku."


Sampai pagi Zack menunggu Isabella yang tidur, berkat obat penenang itu Isabella bisa dengan nyenyak tanpa terjaga.


Di lain sisi, Zack bahkan tidak tidur sama sekali. Sampai akhirnya Isabella pun bangun.


"Apa kau tidak tidur?" Tanya Isabella menarik selimut dan menutupi tubuhnya.


Saat itu Isabella perlahan duduk.


"Kau terlihat tidur nyenyak, aku sepanjang malam menjagamu." Kata Zack.


"Terimakasih, tapi kau tidak perlu."


"Siapa yang tadi malam tidak mau di tinggal."


"Apa aku bilang begitu? Aku memintamu tinggal?"


"Tidak. Tapi secara tidak langsung, kau memintanya bukan? Dengan mengatakan jika pria itu yang selalu menjagamu sampai kau tidur."


"Tapi aku tidak memintamu untuk menjagaku dan menemaniku Zack." Tatapan Isabella dingin.


"Apa kau tidak bisa memaafkanku Isabella?"


"Bagaimana jika aku meninggalkanmu, kita lihat apa kau bisa bertahan, dan memaafkanku?"


Zack diam.


"Aku akan menunggumu sarapan di bawah." Kata Zack lemah dan pergi.


Setelah kepergian Zack, Isabella melenguh dan berbaring kembali.


"Pagi ku mengundang mood yang buruk." Kata Isabella.


*****


Isabella dan juga Zack sarapan bersama di ruang makan yang hanya ada mereka berdua.


Suasana cukup hening dan canggung, hanya suara deburan ombak yang selalu terdengar.


Dari tempatnya duduk, Isabella bisa melihat pantai yang indah.


"Apa kau mau ke pantai?" Tanya Zack.


"Tidak."


"Tapi kau melihat ke arah pantai sepanjang sarapan."


"Hanya karena aku melihatnya bukan berarti aku ingin pergi." Kata Isabella dingin.


"Aku akan pergi sebentar, kau harus di sini dan jangan kemana-mana, kau tidak tahu daerah di sini, meski banyak penjagaan aku tidak mau ada sesuatu terjadi denganmu."


Zack kemudian berdiri dan menghampiri Isabella, tiba-tiba Zack mencium punuk kepala Isabella dengan lembut.


"Aku mencintaimu istriku."


Kemudian Zack mengahapus sisa saus yang ada di sudut bibir Isabella.


Setelah Zack pergi, ruangan semakin sepi.


"Dia memakai cincin di jarinya, apa dia ingin menunjukkan bahwa dia sudah menikah?" Isabella berbicara pada dirinya sendiri.


Kemudian ia melihat jemari tangannya.


"Aku melepaskan cincin yang dia berikan, dan tidak memakainya, apa aku terlalu kejam?"


"Tapi bukankah dia meninggalkanku? Bukan aku yang kejam, tapi dia. Aku tidak bisa lagi percaya pada kata-katanya."


Isabella kemudian berdiri di dekat jendela, ia memandangi pantai yang pasirnya terlihat putih dan bersih.


"Aku ingin berenang, ini masih pagi, dan pasti itu menyenangkan."


Isabella berbalik dan menuju kamarnya, ia mencari dan menggeledah semua almari yang ada di ruangan ganti.


"Apakah ada pakaian renang di sini?"


Kemudian mata Isabella tertuju pada almari yang lain, ia membukanya dan berbagai pakaian renang ada di sana.


~bersambung~