
"Itu baru keponakanku." Kata Dax
Para pengawal mengejar, namun kaki panjang Dax dan Harry tiba-tiba maju terulur menghalangi para pengawal, membuat para pengawal yang berlari bergelimpungan jatuh.
Wajah pengawal-pengawal itu suram melihat pada Dax dan Harry.
"Maaf, saya tidak sengaja, kaki ku terlalu panjang." Kata Dax.
Julian berlari mengejar, sedangkan para undangan sontak terkejut dan saling berbisik, bagaimana bisa seseorang membawa lari mempelai wanitanya.
"Cari dan kejar mereka, aku ingin Isabella kembali!!!" Teriak Julian.
"Zack... Kau tidak akan tahu bagaimana aku akan membalasmu." Kata Julian.
*****
Setelah aksi kejar mengejar yang sengit, di tambah Zack hanya bersama Stark dan beberapa pengawal yang ia persiapkan namun Zack akhirnya bisa lolos dari mansion, ia membawa Isabella dengan menggunakan pesawat jet pribadi.
"Kau keterlaluan Zack!!" Bentak Isabella.
"Tuan kita akan diikuti... Kemana tujuan anda?" Tanya Stark.
"Ke tempat yang paling aman dan tidak akan pernah bisa di jangkau."
Stark membulatkan kedua matanya.
"Anda tidak mungkin membawa Nona Isabella ke sana bukan?"
"Aku akan membawanya kesana."
"Kemana.... Kemana kau akan membawaku Zack!!!" Isabella panik.
"Ke suatu tempat dimana kau pasti akan menyukainya."
"Omong kosong! Aku tidak akan pernah menyukai tempat itu jika itu ada kau!!!" Teriak Isabella.
Kalimat itu membuat sakit di ulu hati Zack, Isabella mengatakan begitu tegas dan mantap.
"Aku tahu kau membenciku, maka dari itu, aku ingin membuatmu memaafkanku."
"Tidak ada maaf jika itu karena paksaan!"
"Dan kau akan memaafkanku atas kemauanmu sendiri Isabella."
"Kau membuangku, dan menyakitiku, kali ini kau juga menghancurkan pernikahanku, bagaimana bisa aku memaafkanmu. Kesalahan mu terlalu fatal!"
"Ayolah Isabella, matamu tidak akan berbohong, kau tidak pernah mencintainya." Kata Zack.
"Pesawat akan mendarat tuan." Sahut Stark.
Setelah menempuh beberapa jam perjalanan pesawat akhirnya mendarat di sebuah pulau kecil.
"Pulau hantu." Kata Stark.
"Hantu? Apa banyak hantu di sana?" Tanya Isabella bergidik sembari melihat pada pulau yang terlihat kecil dari atas udara.
Zack tersenyum melihat wajah cemas dan pucat Isabella.
Pesawat perlahan mendarat.
Sebuah helikopter yang menjemputnya sudah menunggu.
Mau tidak mau Isabella menurut dan mengangkat pakaian pengantinnya, mereka masuk ke dalam helikopter dan terbang menuju sebuah mansion yang cukup besar.
Helikopter mendarat di atas atap mansion, Zack mengulurkan tangannya dan kemudian Isabella turun.
"Apa semuanya sudah siap?" Tanya Zack.
"Sudah tuan."
Zack membawa Isabella di sebuah ruangan dimana sang pendeta sudah menunggu mereka di sana.
Ternyata Zack sudah merencanakan semuanya, dan ini adalah bagian dari rencana nya juga.
"Kau akan menikah denganku Isabella."
"Lelucon macam apa ini Zack!" Bentak Isabella.
Kini Zack telah berdiri di depan pendeta dengan memegang erat tangan Isabella.
Isabella menolaknya, namun tatapan tajam Zack yang penuh penekanan terus ditujukan pada pendeta di depannya yang ketakutan.
"Isabella Kayl apa kau menerima Tuan Zack sebagai suami..."
Belum selesai sang pendeta dengan kalimatnya Zack menatap buas pada pendeta membuat sang pendeta mengubah kalimatnya.
"Sekarang kalian resmi menjadi suami-istri." Kata Pendeta bergetar.
Zack menyeringaikan sudut bibirnya, dan bersiap mencium Isabella.
"Kau mempermainkan sumpah pernikahan Zack."
Zack hanya tersenyum dan hendak mencium Isabella, pria itu sudah mencondongkan tubuhnya.
Namun Isabella mundur.
Zack mengurungkan niatnya dan memilih pergi dari ruangan sunyi itu.
"Stark, urus surat-surat pernikahannya, Julian tidak akan pernah bisa merebut Isabella mulai sekarang." Kata Zack.
Zack berjalan dan melangkah pergi menuju kamarnya, beberapa pelayan menyapa dan menundukkan kepala.
Isabella berlari dan mengejar Stark.
"Stark, ada dimana kita sekarang." Tanya Isabella.
"Kita ada di pulau yang tidak ada di maps. Tidak bisa di lacak radar, dan tidak pernah ada orang tahu."
Mulut Isabella menganga.
"Maka dari itu, pulau ini di beri nama pulau hantu."
"Apa-apaan ini..."
"Nona Isabella... Saya akan mengurus surat-surat pernikahan anda dengan tuan Zack, dan anda resmi menjadi istri tuan Zack sekarang. Selamat Nona."
Stark kemudian pergi.
Isabella masih dalam keadaan terkejut.
"Permisi Nona..." Seorang pelayan datang menyapa.
"Saya akan mengantar anda ke kamar, tuan Zack beropesan kami harus memperlakukan anda dengan baik, selamat atas pernikahan anda dengan tuan Zack." Kata pelayan itu sembari menunduk.
Isabella pasrah dan mengikuti kemana sang pelayan akan membawanya.
Setelah masuk ke dalam ruangan yang mewah, itu adalah sebuah kamar untuk Isabella, dimana tempat tidur begitu besar dan segala set meja rias serta barang-barang berharga lainnya.
"Apa anda butuh pelayanan untuk mandi Nona, dengan senang hati kami bisa memandikan anda."
"A-apa!! Ti.. Tidak saya bisa mandi sendiri." Kata Isabella.
"Baik Nona, jika anda memerlukan sesuatu silahkan hubungi kami." Kata pelayan itu menunduk sembari mundur dan pergi meninggalkan Isabella.
Isabella mendesahhkan nafas yang terasa menyesakkan dadanya.
"Kenapa jadi seperti ini." Kata Isabella berjalan pelan dan membuka kamar mandi.
Mata Isabella terbelalak, kamar mandi yang begitu luas dan mewah, membuatnya segera ingin berendam di air hangat.
Isabella melepaskan gaunnya, kaki telanjangnya menyentuh setiap lantai keramik yang dingin.
Jemari lentik Isabella memutar kran, ia ingin berendam dengan air hangat yang di penuhi dengan busa.
Setelah berendam, mata Isabella yang memiliki bulu panjang yang lentik perlahan menutup.
Namun, ia di sadarkan dengan suara ketukan suara yang tidak asing baginya.
"Isabella..."
Dada Isabella berdetak dengan cepat.
Buru-buru Isabella mengambil handuk kimono dan memakainya.
"Ya..." Kata Isabella dingin.
"Apa kita perlu bicara?" Tanya Zack.
Isabella diam.
"Kau tidak perlu menjawab, aku hanya ingin bicara sebentar. Cukup dengarkan."
Isabella mendekati pintu kamar mandi namun ia tidak membukanya.
"Aku tahu aku sangat egois padamu, memperlakukanmu seenak hatiku, yang paling parah aku sudah sangat menyakitimu, kau bisa melakukan apapun agar aku bisa menebus kesalahanku, tapi jangan meninggalkanku, hanya dengan cara ini aku bisa menahanmu di sisi ku. Maafkan aku Isabella." Kata Zack lemah di balik pintu kamar mandi.
Setelah itu keadaan menjadi sunyi dan hening.
"Apa dia sudah pergi." Kata Isabella lirih.
Cukup lama Isabella hanya berdiri dan bersandar di pintu kamar mandi hingga akhirnya ia membukanya dengan pelan.
Isabella berjalan keluar, menjulurkan kepala dan menoleh kemanapun, kemudian Isabella merasa lega dan membuang nafasnya, namun ketika ia berbalik tubuhnya terperanjat melihat Zack masih berdiri di belakang pintu kamar mandinya.
"Ka.. Kau belum pergi." Tanya Isabella gagap.
Zack masih diam.
"A... Aku harus pakai baju, kau seharusnya tidak berada di sini." Kata Isabella.
"Bagian tubuh mana yang belum pernah aku lihat Isabella..."
"Apa kau berniat merendahkanku sekarang!" Geram Isabella.
"Maafkan aku Isabella, aku akan pergi."
Zack melangkah pelan.
"Tapi sebelum itu Isabella..." Zack berbalik dan menatap wajah Isabella.
Zack mengeluarkan sebuah cincin dari sakunya, dan meraih jemari Isabella.
"Kau sekarang adalah istriku." Kata Zack memakaikan cincin pada Isabella.
Cincin yang indah, berlian yang indah, dan tentu saja semakin indah di jemari lentik Isabella.
~bersambung~