REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISOSE 66 -



Julian mengantar Zack menuju kamar yang sudah di sediakan.


Kamar yang mewah dan megah.


"Tidak buruk." Kata Zack.


"Anda bisa langsung beristirahat. Untuk tuan Stark anda bisa mengikuti pelayan saya, dia akan menunjukkan jalannya." Kata Julian dengan sopan.


Zack kemudian membuka tirai nya, terlihat taman belakang yang cukup indah dan cocok untuk bersantai.


"Saya belum melihat tunangan anda, apa dia ada di mansion terpisah?" Tanya Zack.


"Dia ada di kamarnya, beberapa hari ini kondisinya cukup lemah, jadi dia meminta untuk mempercepat pertunangan."


"Apa dia sakit!" Tanya Zack dengan wajah cemas.


"Tidak... Dia hanya sedikit tertekan, mungkin kenangan buruk nya di masa lampau, dia selalu..." Kalimat Julian tertahan.


"Tapi, tuan Zack kenapa anda justru mencemaskan calon tunangan saya..." Kata Julian mengerutkan keningnya.


"Hanya cemas, saya sudah datang jauh-jauh kesini akan sangat di sayangkan jika pertunangan ini gagal bukan." Kata Zack memalingkan wajahnya dan menatap taman kembali.


Julian tidak sebodoh itu, ia peka, ia sadar ada yang aneh pada Zack.


"Saya ada urusan, anda bisa memanggil pelayan jika membutuhkan sesuatu." Kata Julian.


Zack menunduk pelan.


Julian menuju ruang kerja dan duduk sejenak, kemudian jari telunjuknya menekan tombol cepat pada telfon yang ada di atas meja.


"Kemarilah." Perintah Julian.


Tak butuh waktu lama, seorang pengawal dengan baju lengkap seperti ninja masuk ke dalam ruangan Julian melalui jendela.


Wajah itu di tertutup rapat hanya kedua mata yang terlihat.


"Cari informasi apakah Zack memiliki hubungan dengan Isabella, dan perintahkan bawahanmu untuk mengawasi mereka."


"Di mengerti." Kata pengawal itu lalu bergegas pergi.


Tok tok tok...


Terdengar pintu di ketuk.


"Siapa."


"Maaf tuan, Nona Isabella ingin bertemu."


Julian kemudian berdiri dan membuka pintu, senyuman merekah di bibir Julian melihat wajah cantik Isabella.


Isabella pun masuk, Julian menutup pintu.


Beberapa menit cukup hening.


Lalu Julian memeluk Isabella dari belakang, Julian merantai perut kecil Isabella. Namun dengan cepat Isabella melepaskannya.


"Tuan Julian, saya ingin membatalkan pertunangan." Kata Isabella.


Julian tersentak.


"Mari kita ubah pertunangan itu menjadi pernikahan." Kata Isabella menggenggam erat kedua tangannya.


Bukan hanya terkejut, namun Julian juga penasaran, wajahnya menegang.


"Maafkan saya, tapi apa tidak seharusnya kita langsung menikah saja."


Julian masih diam terpaku.


"Jika itu tidak masuk akal, maafkan saya." Isabella hendak pergi.


Julian menahan jemari Isabella dan menggenggamnya.


"Bukannya aku tidak mau Isabella, aku terlalu terkejut karena mendengar sesuatu yang sangat aku harapkan. Aku akan beritahu perubahan itu, dan menyuruh mereka mengirim kembali undangan." Kata Julian.


Isabella diam.


"Tapi, kenapa tiba-tiba kau meminta pernikahan Isabella, sebelumnya kau menolak dan justru memilih ingin bertunangan lebih dulu."


Isabella diam.


"Apa ada yang mengganggu mu, kau bisa bilang padaku, dan aku akan membereskannya."


"Ti... Tidak ada tuan, hanya saja, saya pikir bertunangan hanya akan membuang waktu dan membuang-buang uang."


Julian tersenyum dan menggenggam kedua tangan Isabella.


"Kau tidak perlu mengkhawatirkan financial, bahkan jika kau menginginkan pertunangan di lakukan di beberapa negara, aku akan lakukan, tapi tentu saja itu sudah tidak bisa, karena aku tidak akan mengijinkan kau menarik kembali ucapanmu, jika kau menginginkan kita menikah." Kata Julian mencium tangan Isabella.


"Aku jadi ingat, temanmu sudah datang Isabella. Apa kau sudah tahu?" Tanya Julian sembari matanya menyelidik.


"Saya melihatnya masuk melalui jendela kamar saya, bagaimana anda bisa tahu jika dia teman saya."


Julian diam.


"Bagaimana pesta yang kau hadiri beberapa waktu lalu?"


"Oh, teman saya senang melihat saya kembali." Kata Isabella canggung.


"Ya tentu, aku sudah sangat lama tidak bertemu dengan dia."


"Kalau begitu, kau pasti akan senang ketika dia datang ke pesta pernikahan kita." Senyuman Julian mengembang.


"Aku tidak bermaksud mencari informasi di belakang mu Isabella, tapi kau tahu, aku hanya ingin menjagamu, aku cukup tahu siapa Harry, ku pikir tidak masalah jika aku mengirimkan undangan juga pada adiknya yang juga teman dari calon istriku?"


Isabella terbelalak dan menelan ludahnya.


"Ti... Tidak apa.."


Julian tersenyum.


"Saya akan kembali ke kamar."


"Iya, istirahatlah Isabella."


Namun sebelum Isabella membuka pintu ia melihat pada Julian.


"Saya tahu, pasti anda juga akan mencari tahu tentang masa lalu saya, cepat atau lambat anda akan tahu, jadi saya akan jujur pada anda..."


Julian mengangkat satu alisnya.


"Tamu anda yang sekarang datang... Saya mengenalnya."


"Ya aku tahu kau mengenalnya, dia ada di pernikahan temanmu bukan?" Kata Julian.


"Saya mengenalnya jauh lebih baik di bandingkan orang lain." Isabella meremas jemarinya dengan gemetar.


Julian melihat tangan Isabella gemetar lalu mengajaknya untuk duduk di sofa.


"Kau tidak perlu memberitahu ku jika itu sulit." Kata Julian menggenggam kedua tangan Isabella.


Wajah Isabella pucat pasi.


"Kau tahu Isabella, aku menyelamatkanmu dari tawanan Mafia hitam karena aku jatuh cinta pada pandangan pertama denganmu, jika dia datang kesini dan kau justru memintaku untuk mengubah pertunangan menjadi pernikahan, aku percaya jika sekarang kau ingin bersamaku, kau tidak perlu memberitahuku jika itu berat."


"Tapi..." Isabella tidak melanjutkan kalimatnya.


Julian berfikir sejenak.


"Aku akan tahu jika aku ingin tahu." Kata Julian tersenyum.


"Jadi, apakah sekarang kau sudah lega. Isabella."


Isabella menggigit bibirnya pelan.


"Aku menerima Isabella yang sekarang, terlepas bagaimana masa lalu mu, aku hanya mau Isabella yang sekarang."


"Maafkan saya tuan Julian..."


"Semua memiliki masa lalu, dan anggaplah masa lalu mu sudah hilang, jadilah Nyonya Isabella Podolski." Julian mengangkat dagu Isabella.


Saat itu Isabella yang menunduk pun wajahnya terangkat. Julian hendak mencium bibir Isabella.


Dengan perlahan bibir Julian mendekat.


Namun dengan cepat kedua tangan Isabella menekan dan menutup bibir Julian. Membuat Julian tersenyum.


"Kau menggemaskan." Kata Julian.


Tok tok tok...


"Tuan Julian, tuan Zack ingin bertemu."


Seketika tubuh Isabella menegang. Julian berdiri dan membuka pintu. Terlihat Zack berdiri dengan tubuh tegap.


Isabella melirik pada wajah yang tidak pernah ia lupakan sama sekali, wajah yang pernah membuatnya tergila-gila, bahkan sosok Zack membuatnya jatuh cinta menyerahkan segala hati dan tubuhnya.


Sedalam dia mencintai Zack, sedalam itu juga ia jatuh dalam kesakitan, dan bisa di katakan jauh lebih dalam ketika ia ada di kondisi terpuruk kala itu.


Ketika Zack masuk, ia terkejut melihat Isabella yang duduk di sofa.


Julian menatap Zack, dimana Zack tidak melepaskan pandangan matanya dari Isabella yang duduk dengan tatapan ke arah lantai.


"Cantik bukan? Dia adalah Isabella." Kata Julian.


Zack melihat pada Julian.


"Kami baru saja mengobrol, dan Isabella meminta untuk membatalkan pertunangan ini."


Zack menarik sudut bibirnya entah kenapa ia ingin tertawa. Hatinya tiba-tiba merasa ringan dan berbunga, jelas saja Zack bahagia.


"Isabella menginginkan pernikahan." Sambung Julian kemudian.


Seketika itu juga dunianya seakan runtuh, hatinya yang sudah melambung di banting dengan sangat keras oleh Julian.


"Menikah?" Tanya Zack serak dan lemah.


"Ya, menurut Isabella pertunangan hanya membuang-buang waktu, lalu ia ingin membatalkan pertunangan itu dan menggantinya dengan pernikahan, sebentar lagi undangan yang baru akan menyusul." Kata Julian.


Zack menatap Isabella dengan bengis dan terluka.


~bersambung~