
Pagi yang sibuk bagi para siswa-siswi Hill School. Mereka semua bersiap untuk pergi ke Perusahaan Giant Corp.
Sedang beberapa siswa lain terlihat ada yang masih malas untuk beranjak dari tendanya.
"Dingin jangan menyentuhku..." Ucap Milly.
"Apa kau butuh kehangatan?" Bisik Fay memeluk Milly dari belakang sembari terkekeh.
"Aku butuh air hangat untuk mandi. Ya tuhan, suster perawatku... Anak sambungmu kedinginan dan tubuhnya beku mengenaskan di sini!!!" Rengek Milly.
Tak berapa lama Billy datang membawakan alat penghangat dan menaruh di dalam tenda Milly.
"Tidak perlu mandi kan kalau kedinginan." Kata Billy.
"Kau yang terbaik." Kata Milly pada kakak laki-lakinya.
"Semalam kalian kemana?" Tanya Billy.
"Ehm..." Milly berfikir sejenak dan tersenyum.
Fay, Sezi dan juga Milly saling melirik.
"Gery memberikan ide yang luar biasa, sekarang hubungan Isabella dan Zack sudah tamat." Kata Fay.
Billy mengerutkan alisnya.
"Jadi, kita menyuruh siswi lain untuk mengatakan pada Isabella, bahwa Zack menunggunya di atas bukit." Kata Fay.
"Lalu, di atas bukit kita menyuruh beberapa siswa untuk menjadi saksi matanya." Sahut Sezi.
"Kenapa kalian menyuruh merek?" Tanya Billy.
"Karena jika kita yang lakukan, Isabella dan Zack tidak akan pernah percaya dengan omongan kita." Sahut Milly.
"Tidak akan pernah!" Imbuh Fay.
"Kemudian, siswi lain pun menyampaikan pesan pada Harry, jika Sezi menunggu Harry untuk membahas kegiatan di perkemahan di atas bukit." Sahut Fay lagi.
"Dan, aku tidak ada di sana tapi justru Isabella lah yang menemui Harry." Kata Sezi tersenyum puas.
"Apa berhasil?" Tanya Billy.
"Sangat sangat berhasil, bahkan Zack marah, apalagi ketika ia kembali lagi dan melihat Isabella sedang di gendong oleh Harry." Milly tertawa dan sadar siapapun bisa mendengarnya kemudian menutup mulutnya.
"Aku tidak masalah dengan Isabella, terserah kalian mau apakan dia, tapi untuk Zack kalian harus hati-hati. Jangan pernah sekali-kali menggoda dan membangunkan singa. Daripada berujung pada bangkrutnya perusahaan keluarga kalian."
"Hm... Billy, Billy, Billy... Kau ingat ketika Zack menelfon pengawalnya? Dia bilang menyuruh untuk menghabisi perusahan Maxger, sampai sekarang tidak ada kabar apapun di perusahaan itu, lihat saja Gery masih sombong dan songong. Kedua orang tua ku juga membicarakan Maxger justru sedang menjalin hubungan kerjasama dengan perusahaan besar." Kata Fay sembari melihat pada Gery yang sedang menggoda para siswi perempuan.
"Mungkin belum." Kata Billy datar.
"Itu hanyalah gertakan kosong, Zack sudah bangkrut." Kata Fay sembari mengiris lehernya dengan jemari tangannya.
Billy hanya diam dan melihat Gery sedang asik menggoda siswi-siswi lain.
"Mungkin saja begitu." Kata Gery lirih.
Beberapa saat kemudian Mr.Jacob memanggil para siswa untuk berkumpul.
"Hari ini kalian akan mempelajari pondasi bisnis Giant Corp. Jaga sikap dan tingkah laku kalian karena kalian membawa nama sekolah." Kata Mr.Jacob.
Setelah itu para murid menuju bus masing-masing.
"Bagaimana kaki mu Isabella?" Tanya Harry.
"Sudah lebih baik." Kata Isabella berbohong.
Isabella masih berjalan dengan tertatih dan menahan sakit.
"Syukurlah. Biar ku bantu naik, pegang tanganku." Kata Harry mengulurkan tangannya untuk membantu Isabella naik bus.
Saat itu Zack berada di belakang mereka dan melihat Isabella meraih tangan Harry, membuat dada nya berdesir perih.
Perjalanan menuju perusahaan Giant Corp cukup tenang, sesekali Isabella melihat pada Zack, dan beberapa kali juga mereka beradu pandang dan saling salah tingkah.
Harry memilih menutup wajahnya dengan jaket nya dan tidur.
Setelah sampai di perusahaan Giant Corp, semua akan di kumpulkan di halaman perusahaan kemudian akan di ajak berkeliling.
"Kita turun belakangan, agar kaki mu lebih leluasa." Bisik Harry.
Isabella hanya mengangguk.
Zack melirik pada Harry serta Isabella, ia penasaran apa yang sedang mereka bicarakan.
Setelah semua murid berkumpul acara pun di mulai, mereka di pandu untuk berkeliling di perusahaan kimia tersebut.
Isabella berjalan pelan, kadang ia harus berhenti karena kakinya benar-benar sakit.
"Mau ku gendong?" Tanya Harry.
"Jangan bercanda." Sahut Isabella.
"Kenapa?"
"Semua akan melihat. Lagi pula aku tidak mau ada kesalahpahaman yang semakin dalam antara aku dan Zack, aku minta kau menjaga jarak." Kata Isabella.
Kemudian Harry pun mundur beberapa langkah menjauh untuk menjaga jarak.
Isabella tertawa.
Saat itu Isabella sedang duduk untuk istirahat.
"Kau semakun cantik saat tertawa. Wajahmu juga semakin bersinar." Puji Harry.
Isabella dengan cepat berhenti tertawa, dan merubah mimik wajahnya kemudian ia mengikat rambut panjangnya, leher putih jenjang dan mulus pun terlihat.
Membuat mata Harry terpesona pada kecantikan Isabella, matanya terus memandangi leher jenjang tersebut.
Ketika itu Zack melihat Isabella mengikat rambutnya dan datang dengan langkah cukup cepat, kemudian menarik ikat rambut itu membuat rambut panjang Isabella kembali tergerai.
"Zack?" Kata Isabella terkejut.
"Zack Wickley!!!" Teriak Mr.Jacob
Kemudian Zack menemui Mr.Jacob.
"Ada yang ingin bertemu, katanya Tuan Andrew adalah teman ayahmu, dia Ceo Perusahaan Giant."
"Saya turut berduka Zack, ayahmu adalah pria yang sangat hebat." Kata Andrew.
"Terimakasih." Sahut Zack yang beberapa kali melihat ke arah Isabella, sedang apa dengan Harry.
*****
Apartmen Zack...
Ting Tong!
Pelayan melihat melalui layar monitor siapa yang datang kemudian membuka pintu.
"Selamat datang kembali Nyonya dan Tuam. Syukurlah, saya sangat lega anda kembali Nyonya." Sahut pelayan itu.
"Dimana Evashya."
"Ada di kamarnya Nyonya, di lantai atas."
Dengan cepat wanita itu pergi naik bersama sang suami dan membuka pintu kamar Evashya.
Terlihat Evashya hanya duduk termenung di sofa berbulunya memandangi gedung-gedung pencakar langit.
"Evashya."
Suara yang memanggil namanya tentu saja tidak asing di telinga Evashya.
"Bibi Kate, paman Edward..." Sahut Evashya lirih dengan tangisan yang berderai.
Evashya kemudian berlari menghamburkan diri dalam pelukan Kate.
"Maafkan aku, maafkan aku baru datang sayang." Kata Kate sembari memeluk dan menciumi Evashya.
"Daddy dan Mommy..." Evashya tidak bisa meneruskannya, ia hanya menangis sesenggukan.
"Iya... Kami baru saja dari sana. Kami sudah menyapanya." Kata Edward mengelus rambut Evashya.
"Dimana Zack?" Tanya Edward.
"Kakak sekolah, dia ada karya wisata selama 2 hari."
"Dimana Stark?" Tanya Edward lagi.
"Baru saja ada di apartmen, mungkin sedang pergi sebentar." Jawab Evashya lagi.
"Apa kalian akan tinggal di sini selamanya?" Tanya Evashya.
"Untuk sementara kami akan menemanimu sayang, tapi perusahaan butuh Edward, aku juga sedang merintis perusahaan fashion dan entertaiment. Apa kau mau ikut dengan kami?" Tanya Kate.
"Udara baru, suasana baru, teman baru, lingkungan baru, dan di sana banyak pemandangan yang indah. Bagaimana Evashya?" Tanya Edward.
"Aku akan memikirkannya paman."
"Baiklah pikirkan dulu, perlahan jangan terburu-buru." Sahut Kate menciumi Evashya kembali.
"Aku tenang kau baik-baik saja. Aku bahkan tidak bisa tidur." Kata Kate lagi menghapus air matanya.
Kemudian terdengar suara Stark yang sudah tiba, Edward pergi dari kamar Evashya dan menemui Stark.
"Tuan Edward, selamat datang kembali." Kata Stark memberikan salam.
"Kita harus bicara." Sahut Edward.
Stark menunduk dan memberikan jalan.
Kini mereka berada di lobby bawah, sebuah mini bar, dimana gelas berisi whisky sudah berada di meja marmer, namun Stark hanya duduk menemani tanpa minum.
"Masih tidak minum?" Tanya Edward menyesap whiskeynya.
"Saya memilih untuk tidak minum tuan, ada banyak hal yang harus saya kerjakan, apalagi saya harus menjaga Nona Evashya dan tuan muda."
Edward mengangguk pelan.
"Bagaimana ini semua bisa terjadi." Tanya Edward.
Saat itulah Stark menceritakan kronologi yang sebenarnya, bagaimana Zafran serta Laura meregang nyawa.
~bersambung~