REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 42 -



Harry duduk di sofa, merenung dan melihat foto sang ayah, kemudian ia mendesahhkan nafasnya lalu meletakkan kembali foto sang ayah di atas meja.


Dalam keheningan kamar dan suasana duka, Harry masih berada di dalam kamar, ia memilih untuk mandi lebih dulu, kemudian bersiap untuk pemakaman sang ayah, semua orang pasti sudah menunggunya.


Cukup lama Harry hanya berdiri di bawah shower dengan air yang membasahi seluruh kepala hingga tubuhnya.


Setelah mandi Harry menatap tubuhnya di depan kaca, ia selalu melihat pada sebuah luka di lengannya mengapa ada tanda luka di sana.


"Apa aku pernah jatuh?" Tanya Harry menekan luka itu.


Namun semakin ia menekan luka itu semakin rasanya ada sesuatu di dalam dagingnya.


Tidak jarang Harry selalu menekan lengannya, dari dulu ia selalu ingin tahu sebenarnya luka apa itu namun ia selalu berakhir dengan anggapan jika itu hanya luka biasa.


"Ini aneh, rasanya ada sesuatu di lenganku." Kata Harry.


Kemudian Harry memanggil Demian untuk datang dan membawa serta seorang dokter lengkap dengan alat bedah, tak berapa lama Demian pun datang bersama seorang dokter dengan membawa beberapa suntikan dan alat bedah yang di inginkan Harry.


"Ada yang aneh di dalam sini." Kata Harry menunjukkan lukanya.


"Kita harus melakukan tes tuan, atau CT Scan, semacam Ex-ray." Kata sang dokter.


"Tidak, aku yakin ada sesuatu di dalam lenganku, aku merasakannya, setiap waktu aku memegangnya dan semakin lama aku semakin yakin, ada sesuatu yang aneh." Kata Harry.


"Apa anda yakin saya harus membedah ini di sini?" Tanya sang dokter lagi.


"Lakukan saja." Perintah Harry.


Saat itu Demian masih berjaga di dekat Harry, sedangkan sang dokter sudah duduk di dekat Harry dimana ia juga duduk di sofa.


Kemudian sang dokter memakai sarung tangan latex nya dan menyuntikkan obat anestesi pada lengan Harry, dokter itu membius lokal.


Harry menelan ludah nya, telinganya mendengar sang dokter sudah mulai mengiris lengannya, suara itu cukup membuat Harry membayangkannya ia tidak akan melihatnya.


Namun setelah sang dokter mengambil sesuatu yang ada di dalam lengan Harry dengan sebuah pinset, ia baru menoleh dan melihat sebuah botol berukuran sangat mini, mirip dengan ampul berwarna kaca sangat kecil bahkan hanya seukuran kelingking anak kecil atau bayi.


"Apa itu?" Tanya Harry.


"Saya tidak yakin tuan tapi akan saya periksa di laboratorium."


Demian kemudian mengambilkan cawan yang sudah di beri tisu di atasnya pada sang dokter, kemudian dokter itu meletakkan benda ampul itu ke cawan.


Sang dokter kembali pada pembedahan sesi terakhirnya, kemudian mulai menjahit lengan Harry, setelah di bersihkan dan di sterilkan dokter itu melilitkan perban membalut lengan Harry.


Sebuah ingatan menyerang kepala Harry dan membawanya kembali ketika ia berada di atas bangunan bersama dengan keluarga Volkofrich. Dimana sang ibu meregang nyawa.


EPISODE 04


Harry masih berulang kali bertanya pada Gaby dimana wanita itu menyembunyikan obat penawarnya agar ayahnya bisa sembuh dari kelumpuhan otak.


"Di dalam... Tu-buhmu..." Sahut Gaby terbata kemudian tersenyum menyeringai, mulut yang penuh darah itu mengembangkan senyuman lebar membuat wajahnya tampak menakutkan.


"Katakan dengan jelas!!!" Sahut Harry kian marah meradang.


Namun, kali ini Gaby tidak bisa lari dari kematian, wanita itu sudah tidak bernafas dengan mata terbuka terbelalak penuh dengan darah, dengan sebagian tubuhnya masih bersandar di dinding.


"Bangun Jalangg!!!" Teriak Harry mencengkram kemeja Gaby dan menggoyang-goyangkan Gaby dengan kasar.


Harry kemudian tertunduk dan menangis, mencengkram kepala dan rambutnya.


Kemudian Harry tersadar dari ingatannya, ia menggeram marah dan kesal.


"Ku rasa itu adalah obat penawar untuk ayah." Kata Harry.


Semua terkejut dan melihat pada Harry yang mencengkram rambutnya dengan kedua tangannya.


"Seandainya aku tahu lebih awal dan menyadarinya lebih cepat!" Geram Harry.


"Aargghh!!!" Teriak Harry penuh amarah.


Harry bangkit dan membanting beberapa barang yang ada di kamarnya.


"Tuan... Kita harus pastikan lebih dulu." Kata sang Dokter.


Sedangkan Demian hanya menunduk menyesal.


Darah Harry sudah mendidih, ingin sekali Harry membangkitkan Gaby dan menghajarnya habis-habisan.


Namun, sekarang yang Harry rasakan hanyalah sebuah penyesalan.


"Tuan... Semua sudah menunggu." Kata Demian.


"Jangan katakan apapun pada Alicia." Kata Harry yang menyangga tubuhnya dengan kedua tangan di depan meja.


Wajah Harry sudah merah padam, kedua matanya pun merah menahan tangis.


Demian hanya menunduk.


Sang dokter membereskan semua peralatannya dan undur diri sembari membawa ampul tersebut untuk di periksa di laboratorium.


Sedangkan Harry mulai memakai setelan jas nya yang serba hitam.


Setelah siap Harry keluar dari kamarnya dan menuruni tangga lebar mendatangi peti mati sang ayah, ia hanya berdiri menaruh telapak tangannya di atas peti itu.


Ingin sekali ia memeluknya, ingin sekali ia meminta maaf, semua itu adalah kesalahannya.


"Selama ini obat penawarnya selalu ku bawa kemana-mana, dan aku lah penyebab ayah meninggal." Kata Harry dalam hati.


"Ayah, semoga kau bisa memaafkan semua kebodohan anakmu ini." Kata Harry.


Malam itu juga sang ayah akan di makamkan di pemakaman keluarga.


Pemakaman yang luas dan selalu di jaga dengan ketat oleh para pengawal.


Semua lampu sudah dinyalakan, Harry dan Alicia melepaskan kepergian sang ayah dan kembali ke mansion.


Isabella menemani Alicia untuk tidur, mereka saling berpelukan. Terkadang saat salah satu dari mereka terpuruk pasti salah satu dari mereka akan berperan layaknya seorang ibu untuk menguatkan satu sama lain.


"Aku juga kehilangan ibuku..." Kata Isabella kemudian.


Alicia melihat pada Isabella dengan terkejut.


"Aku belum cerita..." Sahut Isabella lagi.


"Dia ditembak tepat di hadapanku, saat itu orang yang telah membunuh kedua orang tua Zack adalah orang yang telah membunuh keluargaku, dia adalah Emir Khan." Kata Isabella.


"Saat kau dan Zack beberapa hari tidak berangkat sekolah?" Tanya Alicia.


"Ya." Kata Isabella tersenyum.


"Tapi... Kabar nya di sekolah kau mendapat warisan dari keluarga mu yang telah lama pergi dan kau di culik oleh orang asing."


"Berita itu hanya di karang oleh Stark, agar tidak menyeret kasus pembunuhan Volkofrich dan Kaufmann terlalu panjang, ternyata kita di kelilingi oleh mafia-mafia Alicia." Kata Isabella.


"Bahkan aku yakin kakakmu juga seorang mafia, karena Zack juga begitu."


Alicia bangun dan memeluk Isabella, mereka saling menguatkan.


"Ya, aku percaya, banyak mafia di sekililing kita, dan aku tidak ingin kehilangan orang yang ku sayang lagi." Kata Alicia.


"Semoga kita selalu bersama dan seperti ini." Pinta Alicia.


"Ya, persahabatan kita sudah seperti saudara, kau sudah seperti saudaraku Alicia." Kata Isabella.


"Aku pun merasa begitu, semarah apapun kita jabgan sampai persahabatan kita hancur." Pinta Alicia.


Malam itu mereka tidur dengan berpelukan, sedangkan Harry masih duduk di depan perapian, matanya lurus menatap api yang terus membakar kayu yang berbunyi dan semakin lama semakin habis.


"Tuan, salah satu perusahaan milik Benyamin di USA butuh seorang pimpinan." Kata Demian kemudian.


"Kenapa?"


"Sudah sangat lama kosong, dan setelah kabar kematian Tuan besar ada beberapa orang yang ingin mengkudeta." Kata Demian.


"Sebentar lagi kelulusan kita akan kirim Alicia kesana, kau harus temani dia jadilah pengawal pribadinya." Kata Harry.


Demian terkejut mendengar keputusan yang keluar dari Harry, namun semua keputusan dan titah Harry harus ia laksanakan.


~bersambung~