REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 60 -



Amerika...


Dax bangun dan perlahan mengusap matanya, tangan kekarnya terulur ingin meraih seseorang, namun Alicia tidak ada di sampingnya. Mereka memutuskan untuk tinggal bersama dan itu sudah berlangsung ketika Alicia bertemu dengan Dax pertama kalinya di USA.


Dax kemudian turun dan berjalan dengan mata masih terasa berat, ia melihat Alicia berada di dapur memakai kemeja putih milik Dax, kemeja itu terlihat kebesaran di tubuh Alicia.


Dax tersenyum melihat Alicia justru semakin cantik dan seksi, apalagi underwear Alicia sedikit terlihat.


Alicia tidak menyadari jika Dax memperhatikannya sembari tersenyum dan menyedekapkan tangan, serta bersandar di ambang pintu.


Lalu jemari lentik Alicia menaruh sebuah pil masuk ke dalam lidahnya dan meminumnya dengan segelas air putih.


Dax mengeryitkan dahinya.


"Obat apa yang kau minum Alicia?" Tanya Dax dengan cepat melangkah mendekati Alicia.


Alicia terperanjat segera menutup botol pilnya namun tangannya tremor karena terkejut membuat botol pil terjatuh, Alicia berjongkok dan memunguti pil-pil itu.


Dax juga ikut membantu mengambil pil-pil kecil itu dari lantai.


"Ini... Vitamin." Kata Alicia menunduk dan masih memungut pil-pil yang tercecer.


Dax menyerahkan pil itu pada Alicia, namun diam-diam Dax menyimpannya satu.


"Aku harus mandi, pekerjaan ku banyak, apa kau mau ku masakkan lebih dulu?" Tanya Alicia.


"Tidak, aku bisa sarapan di kantor."


"Baiklah."


Alicia berjinjit hendak mencium bibir Dax, kemudian Dax menunduk agar Alicia bisa menciumnya.


"Aku mandi dulu." Bisik Alicia.


Setelah Alicia bersiap dan berpamitan untuk berangkat ke kampus, Dax berganti pakaian dan pergi untuk menemui seseorang.


Di sebuah rumah sakit besar salah satu rumah sakit terbaik di bawah naungan grup perusahaannya, Dax sudah duduk di depan dokter pribadi, di tangan dokter tersebut sudah mengamati pil kecil yang Dax berikan.


"Aku yakin itu pil kontrasepsi." Kata Alexander.


"Pil kontrasepsi?" Tanya Dax.


"Ya, mencegah kehamilan." Kata Alexander santai dan memutar kursinya dengan punggung menempel di bagian kursi.


Dax mengeratkan rahangnya, sontak ia menghubungi Alicia untuk pulang.


Namun saat itu Alicia sedang bersama dengan profesor.


Panggilan Dax terabaikan.


"Kalau begitu aku pergi dulu." Kata Dax.


"Dax..." Panggil Alexander kemudian.


"Pasti kan kau tahu berapa kali dia meminumnya dan sejak kapan, kita harus melakukan pemeriksaan pada rahimnya, dia masih terlalu muda, karena itu bisa membuat rahimnya kering."


Dax menarik nafasnya dalam.


Saat itu kemarahan melingkupi seluruh kepala dan benaknya, Dax mengendarai mobilnya dengan cepat menuju kampus.


Dengan perasaan kesal Dax memarkir mobilnya hingga menabrak tong sampah dan membuatnya tercecer, Dax acuh dan berjalan dengan cepat menaiki tangga yang berjajar menjulang tinggi.


Demian ada di depan ruangan profesor yang sedang Alicia temui.


"Panggil Alicia." Kata Dax tidak sabar.


"Tapi tuan Dax..."


"Aku mengenal profesor itu, bilang aku yang memanggilnya dia tidak akan marah." Kata Dax.


"Baik..."


Demian kemudian masuk ke dalam ruangan.


Dax membelakangi dan melihat ke arah pemandangan luar yang tersuguh di lantai dua tersebut.


"Dax... Apa ada masalah?" Tanya Alicia yang sudah berdiri di belakang Dax.


"Kita pulang!"


Dax menarik tangan Alicia dengan kuat.


"Ada apa?" Tanya Alicia masih kebingungan.


Sedangkan Demian masih mengejar di belakang.


"Tuan Dax..." Kata Demian kemudian menghadang Dax dengan wajah sedikit cemas.


"Aku tidak akan menyakitinya." Kata Dax penuh penekanan.


Demian kemudian mundur.


Alicia masih kebingungan dan menuruni tangga dengan tergopoh.


Merasa tidak sabar Dax mengangkat tubuh Alicia, memunjinya di bahu.


"Akkk!!! Apa-apan ini...!!!" Pekik Alicia.


Dax memasukkan Alicia ke dalam mobil, kemudian dengan cepat Dax berlari masuk dan mengemudikannya.


Mobil melaju dengan kecepan tinggi membuat Alicia terengah dan bernafas cepat, ia cukup histeris.


Namun Alicia masih diam tidak ingin memperkeruh masalah, tatapan dan wajah Dax sudah sangat suram.


Setelah sampai di apartmen milik Dax, pria itu hendak menggendong Alicia lagi.


"Tidak, aku bisa jalan sendiri." Kata Alicia menolak.


Dengan kesal Alicia keluar dari mobil di susul oleh Dax.


Belum sempat Alicia memaki, Dax sudah menyerangnya dan membopongnya ke atas tempat tidur.


Dax berusaha membuka pakaian Alicia.


"Dax!!! Lepaskan!!!"


Dax membuat telinganya sendiri seolah tuli dengan makian Alicia dan membutakan matanya sendiri dengan wajah penuh protes Alicia.


"Ada apa denganmu Dax!!!" Teriak Alicia.


Saat itu Dax terus menyesap bagian-bagian tubuh Alicia, hingga tubuh Alicia memerah.


Plak!!!


Sebuah tamparan melesat di pipi Dax.


Alicia marah.


Dax berhenti dan menatap nanar pada Alicia.


"Apa kau tidak mau mengandung anak dari ku?!" Tanya Dax dengan geram.


"Apa?" Wajah Alicia seketika berubah.


"Sejak kapan kau minum obat itu..."Kata Dax masih mencengkram kedua tangan Alicia.


"Aku..."


"Katakan Alicia apa kau tidak akan mau memiliki anak dari ku?"


"Aku... Aku hanya ingin melindungi diriku sendiri." Kata Alicia.


"Melindungi diri mu?"


"Aku merasa, bahwa kau selalu sengaja tidak memakai pengaman, dan aku tidak mau hamil di luar pernikahan."


"Kau meragukan aku tidak akan bertanggung jawab padamu jika kau hamil?" Tanya Dax ketus.


"Aku berfikir, kau tidak akan pernah menikahi wanita seperti aku."


"Lalu untuk apa aku berhubungan badan denganmu?" Tanya Dax.


"Mungkin untuk memuaskan diri mu sendiri." Kata Alicia.


Dax masam dan sudut bibirnya terangkat.


"Kau pikir aku pria seperti itu? Sepicik itu dan sedangkal itu kau berfikir tentangku?"


"Umur kita berbeda terpaut jauh Dax." Kata Alicia.


"Lalu kenapa!!" Dax berdiri dari ranjang.


"Ku pikir kau tidak akan mau menikahi seorang bocah."


"Kau sebut dirimu bocah?" Tanya Dax.


"Aku ...."


"Jangan terlalu banyak alasan Alicia, sejak kapan kau minum itu."


Alicia terdiam.


"Sejak pertama kali kita berhubungan." Kata Alicia kemudian.


"Aku tidak bisa hamil saat hubungan kita bahkan tidak tahu akan di bawa kemana." Kata Alicia duduk dan menghapus air matanya.


Dax melenguh dan menaruh kedua tangannya di pinggang.


"Kalau begitu bersiaplah kita akan menikah." Kata Dax.


"Apa!!!"


Alicia mengangkat wajahnya seketika matanya membulat, kepala nya pening, ia melihat pada Dax yang menatapnya dengan tatapan penuh kekesalan.


"Kau berbicara tanpa di pikirkan lebih dulu, kau sedang marah Dax, kau akan menyesal nantinya."


"Aku kesal dan marah karena kau meragukanku Alicia!!!" Teriak Dax.


Suara Dax menggelegar, amarahnya sudah di atas ubun-ubun.


Alicia menelan ludahnya melihat kemarahan Dax, wajah Dax merah padam.


"Bersiaplah kita akan menikah." Perintah Dax.


"Tapi..."


Dax kemudian menyeret tangan Alicia untuk mengikutinya.


Namun dengan cepat Alicia menepis dan berteriak.


"Pernikahan tidak semudah itu Dax!!!"


"Lalu?"


"Aku yakin kau hanya kesal lalu memintaku menikah denganmu, kau akan menyesal Dax, kau tidak tulus padaku."


Dax kemudian memeluk Alicia. Melihat Alicia menangis membuat nya mengontrol kemarahannya yang menimbun isi kepalanya.


"Kita akan menikah, aku tidak akan pernah menyesal Alicia, dan jangan pernah meminum obat itu lagi, aku ingin kita memiliki banyak bayi, aku sengaja tidak memakai pengaman agar memiliki alasan untuk bisa menikahimu, kau tahu kakakmu membenciku, kenapa kau justru meminum obat jahanam itu."


Dax memeluk erat tubuh mungil Alicia hingga seolah tubuh Alicia tidak terlihat karena tubuh besar Dax.


"Kau menghancurkan harapanku Alicia." Bisik Dax lemah dan kecewa.


~bersambung~