REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 25 -



Isabella menghempaskan dirinya di sofa, merasa tubuhnya lemah dan lelah.


Bukan karena fisik nya, semua itu di karenakan berbagai tekanan dan membuat tubuhnya terasa sangat lelah.


Tanpa sadar Isabella pun tertidur di sofa, hingga pintu apartmen di buka Isabella masih tidur dan tidak mendengar bahwa ada orang yang masuk ke dalam Apartmennya.


Itu adalah Zack, dan hari sudah sore namun Isabella belum juga bangun. Perlahan Zack menggendong Isabella untuk di pindahkan ke kamar.


Dengan pelan, Zack kemudian menyibakkan rambut yang menutupi wajah Isabella, ia duduk di tepi ranjang dan memandangi kecantikan Isabella.


Drrtt.. Drrtt...


Ponsel Zack berbunyi dan itu adalah dari dokter Leizya.


"Zack bisa kau datang ke rumah sakit?"


"Apa ada sesuatu?"


"Ku pikir kau harus tahu ini."


"Sebentar lagi aku datang."


Zack kemudian mengakiri panggilannya.


"Aku pergi dulu Isabella, semoga besok suasana hatimu jauh lebih baik." Kata Zack sembari mencium kening Isabella.


Ciuman itu membuat Isabella melenguh dan membenarkan posisi tidurnya.


Zack kemudian pergi ke rumah sakit di temani Stark dan para pengawal, tak butuh waktu lama Zack telah berada di rumah sakit dan memasuki ruangan Dokter Leizya.


"Oh hay Zack." Sapa Dokter Leizya masih menatap layar komputernya.


Tak berapa lama kertas-kertas dokumen keluar dari mesin print.


"Aku tahu kau sangat sibuk Zack, tapi aku ingin meminta tolong padamu. Ku pikir hanya kau yang bisa membantu." Kata Dokter Leizya penuh harap.


"Katakan Dokter."


"Kau ingat ketika aku menyuruhmu keluar dan aku akan membicarakan sesuatu tentang Isabella?"


Zack mengangguk pelan.


"Awalnya aku hanya asal mengira saja, namun sejak pertemuan pertamaku dengan Isabella pikiran itu terus menggangguku."


"Ada apa Dokter Leizya?" Zack mulai menegang.


"Aku memiliki pasien dengan gangguan mental, ku pikir Isabella memiliki wajah yang cukup mirip dengannya, dan aku melakukan analisa ku, hasilnya sangat mengejutkan, ternyata memang benar mereka adalah anak dan ibu."


Dokter Leizya menyerahkan berkas hasil tes DNA yang baru saja ia print.


Zack terkejut hingga tak bisa berkata apapun, bahkan matanya terbelalak dan tangannya mencengkram kursinya dengan kuat.


"Maafkan aku sebelumnya telah lancang Zack, tapi pasienku selalu memanggil manggil "bayiku" , aku sedang memberikan therapy padanya dan sedikit demi sedikit ia mau membuka diri. Pasienku mengatakan jika dirinya adalah seorang putri seorang bangsawan, berulang kali ia menyebutkan nama ayahnya adalah Kaufmann Hueber, dan aku mencarinya di internet ternyata pria itu berkebangsaan Jerman, dia memang seorang pria kaya raya."


"Ku mohon langsung ke intinya saja." Kata Zack tidak sabar.


"Jadi, aku ingin meminta bantuanmu untuk mencari keluarga pasienku, tolong carikan Kaufmann Hueber Zack. Biarkan dia tahu keadaan putrinya di sini, apalagi Isabella adalah cucu nya. Aku juga akan mempertemukan Isabella pada pasienku."


"Siapa nama pasien itu?" Tanya Zack.


"Sayangnya kita tidak mengetahuinya. Dia sudah sangat lama berada di rumah sakit, dan tidak ada yang tahu. Kita sedang mencoba membuatnya berbicara namun berulang kali yang ia sebutkan hanyalah Kaufmann Hueber dan ia adalah seorang putri bangsawan."


Zack menghembuskan nafas panjang dan berfikir sejenak.


"Jangan katakan ini pada Isabella sebelum aku mendapatkan informasi yang jelas." Sahut Zack.


"Baiklah, dan maafkan aku Zack, menambah bebanmu." Kata Dokter Leizya.


"Isabella adalah pacarku, sudah seharusnya bagiku. Apa ada sesuatu lagi yang harus ku ketahui, tentang semua yang menyangkut pasien itu, agar mempermudah Stark untuk mencari informasinya."


"Kurasa hanya itu Zack, jika ada tambahan aku akan menghubungimu."


Zack mengangguk pelan dan kemudian ia berdiri di ambang pintu, ia cukup ragu memegang gagang pintu.


"Apa pasien itu sangat mirip dengan Isabella?"


"Seperti wajah yang tampak serupa." Sahut Dokter Leizya.


"Boleh aku melihatnya?" Tanya Zack.


"Tentu. Tentu Zack, sangat boleh, kapan pun kau ingin melihatnya."


Zack mengangguk dan kemudian pergi meninggalkan ruangan Dokter Leizya.


Dalam perjalanan Zack masih merenungkan perkataan Dokter Leizya, ia melihat ke arah jalanan melalui kaca jendela mobilnya hingga tanpa sadar mobil pun sudah berhenti namun Zack masih melamun.


Perasaan yang ada di dalam hati Zack cukup rumit, antara ia harus membantu mencari keluarga Isabella atau dia cukup diam saja.


Dalam sisi yang lain, ia takut jika membongkar dan menggali lebih dalam semua itu hanya akan membuat Isabella semakin menderita dan tertekan, namun sisi lain Zack, ia juga menginginkan Isabella bertemu dengan keluarganya.


"Jika keluarganya baik aku akan memberitahukannya, jika keluarganya tidak baik maka aku akan menyimpannya dan mengubur informasinya." Sahut Zack dalam hati.


"Tuan...." Panggil Stark.


"Tuan muda Zack..."


Zack masih melamun.


"Tuan Zack kita sudah sampai di apartmen." Kata Stark.


Kalimat Stark membuyarkan lamunan Zack.


"Hm iya..."


Kemudian Zack turun, ia berjalan dengan cepat dan masuk ke dalam lift, tak berapa lama lift terbuka, Zack keluar dengan langkah cepat, namun langkahnya tiba-tiba menjadi pelan dan terhenti di depan pintu apartmennya, kemudian ia menatap Stark.


"Ada hal yang harus kau lakukan Stark." Kata Zack yang akhirnya memutuskannya.


"Ya tuan."


Kemudian Zack mengajak Stark untuk membicarakan sesuatu dan itu tentang masalah Isabella yang baru saja Dokter Leizya sampaikan.


Mereka duduk di ruangan privacy milik Zack, ruangan khusus yang ia pakai untuk melakukan meeting dan sebagainya dengan Stark.


"Bagaimana menurutmu?" Tanya Zack kemudian.


"Saya akan mencarinya tuan, tergantung dari keluarga seperti apa mereka. Jika keluarga bangsawan seperti tuan Zafran yang begitu cerdas, pastilah sangat rumit mencari informasi pribadi, apalagi semua data biasanya akan di amankan bahkan intelijen sekalipun akan susah."


Zack mengangguk pelan.


"Baiklah ku serahkan padamu Stark." Kata Zack dan kemudian meninggalkan ruangan tersebut.


"Baik tuan." Kata Stark menundukkan kepalanya.


******


Pagi hari yang mendung, dan hari ini Isabella memakai payungnya karena rintik-rintik hujan cukup deras berjatuhan dari langit.


Isabella memakai mantelnya, kemudian berjalan kaki menuju sekolah, menerobos rintikan hujan. Sepatunya melangkah di trotoar yang basah.


Pengumuman hasil ujian sudah terpasang di papan, dan sebentar lagi hasil pdf nya pun akan di kirimkan pada surel masing-masing murid.


Namun untuk murid yang tidak sabar mereka lebih memilih berdesak-desakkan untuk melihat hasilnya. Semua saling mendorong.


Wajah-wajah siswa beraneka ragam, sedih, puas, hancur, kesal bahkan takut akan di maki oleh keluarganya, mereka adalah para murid yang berhasil melihat namanya, dan berdiri di depan papan pengumuman dimana orang lain menunggu antrian.


Setelah melihat hasilnya, mereka mundur dan bergantian untuk memberikan kesempatan para murid yang ada di belakang, dan begitu seterusnya, selalu ada wajah-wajah beraneka ragam saat itu.


Namun, tidak untuk Isabella, gadis itu masih menunggu di ujung jalan sekolahan, menunggu file pdf yang akan di kirimkan ke surel masing-masing.


Tuling!


Ponsel berbunyi dan Isabella memeriksanya dengan tangan gemetar apalagi saat itu cuaca sangat dingin, jemarinya sudah mulai kaku.


Isabella menutup matanya dan kemudian perlahan sedikit demi sedikit membuka sebelah matanya.


Nama Isabella berada di urutan rangking ke 2 setelah Zack Wickley. Peringkat umum, di Hill School dari keseluruhan siswa satu angkatan.


Senyuman tersungging penuh di wajah Isabella, merekah, puas dan begitu bahagia.


"Yess!!!" Kata Isabella menahan suaranya agar tidak berteriak, namun kebahagiaannya sungguh terpancar jelas di wajahnya.


"Artinya beasiswaku masih aman." Kata Isabella.


Namun wajah bahagia itu dengan cepat memudar, senyumannya menghilang bagai debu yang tertiup angin.


~bersambung~