REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 10 -



Isyana masih menangis di dalam lift, tak berapa lama pintu lift pun terbuka. Gadis itu menghapus air mata dan berdiri hendak pergi namun tepat di depan lobby seseorang telah menjemputnya.


"Silahkan masuk Nona." Kata Demian sembari mempersilahkan Isyana untuk masuk ke dalam mobil limosin.


Isyana sangat terkejut dengan kedatangan mereka, apalagi berada di depan apartmen milik Dax.


Dengan pasrah Isyana masuk ke dalam mobil dan terlihat Harry Benyamin sudah duduk dengam tenang di kursinya.


Setelah mobil berjalan Isyana membuka suara.


"Apa kau memasang alat pelacak di ponselku." Tanya Isyana ketus.


Harry masih diam.


"Aku harus menemani ibu sambungku di rumah sakit." Kata Isyana lagi.


"Mereka akan mengurusnya." Sahut Harry.


"Yah, kau pasti sudah menggali begitu banyak tentangku." Kata Isyana menyeringaikan bibirnya.


"Mau kemana kita?" Tanya Isyana melihat jalan yang berbeda.


"Nanti kau akan tahu."


Tak berapa lama mobil pun memasuki sebuah lokasi yang di beri nama krematorium. Isyana terbelalak dan memandangi Harry.


Setelah kakaknya keluar Isyana mengikuti Harry dan menahan lengannya.


"Apa dia akan di kremasi?" Tanya Isyana tak percaya.


Harry diam saja dan melajukan kakinya, Isyana menyusul. Kini mereka sudah berada di ruangan kremasi milik keluarga Benyamin.


"Apa tidak di makamkan saja di pemakaman." Bisik Isyana.


"Apa kau pikir wanita seperti dia layak berada di pemakaman keluarga? Apa kau pikir arwah kakek dan nenek akan tenang di alam sama?" Harry mengangkat sebelah alisnya.


"Bahkan, sampai hari ini ayah belum bangun dari komanya." Sahut Harry lagi.


Suasana cukup hening beberapa saat.


"Apa kau mau melihat wajahnya dulu?" Tanya Harry kemudian.


Isyana terdiam dan berfikir sejenak.


"Ku pikir akan lebih baik jika selamanya aku tidak mengenalinya." Sahut Isyana.


Kemudian para petugas mendorong peti yang berisi jenazah tubuh Gaby untuk di kremasi.


Peti itu masuk dan perlahan terbakar hingga akhirnya Harry pun pulang menuju Mansion bersama kembarannya Isyana.


Mobil sudah terparkir tepat di depan Mansion, namun mereka belum juga keluar dari mobil.


"Jangan menuruni sifat wanita jalangg itu." Sahut Harry dan kemudian keluar dari mobil.


Isyana mengerutkan keningnya, tak mengerti apa maksud dari ucapan Harry.


Gadis itu keluar dan mengejar Harry, menahan lengan Harry tepat di depan pintu yang sudah di buka dengan lebar.


"Apa maksudmu." Tanya Isyana tak mengerti.


"Apa perlu aku memperjelasnya di sini?" Tatap Harry penuh penekanan.


Harry hendak pergi namun Isyana masih menahannya.


"Apa kau memasang alat pelacak di ponselku, sehingga kau menjemputku di apartmen itu, apa yang ingin kau perankan sekarang, kau tidak berhak mengaturku setelah sekian lama aku hidup sendiri." Kata Isyana.


Harry kesal dan berbalik mencengkram rahang Isyana. Membuat tubuh Isyana membentur pintu.


"JANGAN... TEMUI... PRIA ITU LAGI!" Kata Harry penuh dengan penekanan dan mengintimidasi.


Isyana terdiam dan hanya bisa melelehkan air matanya.


Harry merasa sangat kesal bahkan sejujurnya ia tidak mau mengucapkan kalimat itu, karena kalimat itu mendorong pikirannya untuk kembali membayangkan bagaimana pria itu pasti sudah menyetuh adiknya dan sudah pada tahap yang Harry benci.


Harry berjalan dan menendang guci besar yang terpajang di ruangan itu membuat guci tersebut pecah berkeping dan membuat suara yang memekakkan telinga.


*****


Pagi hari yang cukup cerah dengan sinar matahari juga terpancar indah.


Zack sudah siap dengan seragamnya, ia berdiri di depan cermin panjang.


"Apa kau akan berangkat ke sekolah?" Tanya Evashya yang duduk di sofa dekat dengan jendela.


Sedari tadi Evashya hanya termangu memandangi sinar matahari yang kian naik.


"Hm... Aku tidak ingin poin ku terlalu jatuh, aku harus cepat lulus dan..." Zack tidak melanjutkan kalimatnya.


"Daddy dan Mommy akan bangga padamu, namun tidak padaku." Sahut Evashya sedih.


"Kau tidak perlu menjadi pintar, kau cukup menjadi Evashya yang menggemaskan, jangan terlalu memaksa memikirkan sesuatu aku takut nanti kau pusing." Kata Zack sembari mencubit pipi Evashya.


"Aku masih belum mau sekolah." Kata Evashya.


"Aku tahu, kau boleh bermalas-malasan." Jawab Zack dengan membelai kepala Evashya.


"Kalau kau kesepian telfon paman Dax untuk datang."


"Aku tidak tahu, ku rasa dia juga sedang butuh waktu untuk sendiri, aku tahu dia berpura-pura kuat." Evashya memainkan telinga boneka kelincinya.


Zack cukup lama hanya diam dan berfikir.


"Tidak apa-apa aku akan baik-baik saja, cepat berangkat nanti kau terlambat." Evashya berdiri dan mendorong Zack.


Namun Zack masih ragu.


"Sana!" Kata Evashya mengusir Zack dengan kedua tangannya.


Zack pun pergi dan Evashya kembali duduk di sofa berbulunya, tak terasa air matanya kembali mengalir.


Zack pergi mengendarai mobilnya dan melesat dengan kedua telinga ia masukkan penyumpal telinga atau headset dimana saat itu Zack sedang mendengar berita harga saham terkini.


Zack terus mengikuti perkembangan berita-berita seputar bisnis dan segala macam tentang pasar modal serta saham yang sekarang sedang naik.


Mobil ferrari memasuki gerbang dan mulai terparkir, Zack turun dan berjalan santai.


Semua siswa melihat pada Zack, sebagian mereka memberikan ucapan bela sungkawa, memberikan ucapan selamat datang kembali, dan sebagian lain mencemoh karena tahu Zack jatuh miskin.


Zack hanya mengucapkan terimakasih, tapi remaja itu juga mengacuhkan orang yang memandangnya sinis, Zack tak mengambil pusing mereka karena sejujurnya mereka tidak pernah berkontribusi dalam hidupnya.


Zack melewati lorong panjang akan masuk ke dalam kelas, sebelumnya ia pergi ke loker lebih dulu untuk menaruh jaketnya, terlihat lokernya sudah penuh dengan kartu ucapan, berbeda dengan sebelumnya jika lokernya kerap di penuhi kartu ucapan pengakuan cinta kini lebih di dominasi kartu ucapan bela sungkawa, kartu ucapan semangat, dan bunga serta ucapan selamat datang kembali.


"Wow karena bergaul dengan gadis miskin akhirnya penyakit itu menular pada si kaya. Ku pikir dia adalah konglomerat kaya yang tidak akan pernah jatuh." Cibir Gery yang bersandar di dinding koridor.


Zack tak memperdulikannya, ia masih sibuk melepaskan jaket dan menyimpan kartu-kartu ucapan tersebut.


"Apa kau juga akan memakai beasiswa sekarang?" Ejek Gery mulai mendekati Zack dan mengejek tepat di belakang Zack.


"Gery, sudahlah ayo kita masuk kelas." Kata Billy.


"Aku turut berduka Zack." Billy menepuk bahu Zack dan hendak pergi.


"Aku selalu ada jika adikmu membutuhkan uang." Bisik Gery.


Zack menutup pintu loker dengan kasar menimbulkan bunyi yang cukup keras, ia menarik kerah baju Gery dan membanting tubuh Gery hingga membentur loker.


"BRAAKK!!!"


"Kau mau tahu seberapa miskin nya aku?" Tanya Zack masih mencengkram kerah Gery.


Kemudian Zack mengeluarkan ponselnya, dan meloudspeaker.


Tuuttt-Tuutt


"Halo tuan Zack..." Kata Stark dari ujung panggilan.


"Seberapa persen kedudukan ku di saham perusahaan Maxger."


"Perusahaan Tuan Zafran terbelah menjadi 2, dan kini Maxger berada di bawah perusahaan anda Tuan Muda, terakhir kali, perusahaan anda menyuntikkan dana pada Maxger 100T namun masih berada di ambang koleps." Sahut Stark.


"Apa kita bisa keluarkan perusahaan itu saja dari grup holding kita, aku tidak membutuhkan perusahaan yang hanya menjadi beban dan parasit!"


"Baik tuan."


Zack pun mematikan ponselnya.


Gery mendengus dan menggertakkan giginya.


Semua orang melihat bagaimana Zack dengan kejam mendepak perusahaan Gery dari grup holding yang di pimpin perusahaan milik Zack, dan membuat perusahaan Maxger gulung tikar.


"Zack, apa kau tidak keterlaluan." Sahut Sezi.


"Aku bahkan ingin mencabut lidahnya dan mencungkil matanya." Zack memandangi Sezi dengan tatapan penuh ancaman.


Sezi mundur karena takut, sedangkan Isabella juga melihat bagaimana tindakan Zack dan masih berdiri terpaku.


Seketika Isabella merasa asing dengan sosok yang ada di depannya, ia merasa jauh dari Zack dan tidak mengenali Zack, kepribadian Zack terlihat berubah.


Bel sekolah pun berbunyi semua memasuki kelas masing-masing. Saat itu kursi di depan Isabella masih kosong pertanda hari ini Harry masih belum masuk.


Tak berapa lama Mrs.Frawn dan Mr.Jacob datang memasuki kelas akselerasi.


"Zack bisa ikut sebentar bersama Mrs.Frawn." Kata Mr.Jacob.


Kemudian Zack berdiri dan meninggalkan kelas bersama Mrs.Frawn.


~bersambung~