REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
PART 4



Seminggu kemudian.


Cheriel yang telah bosan dirumah, akhirnya bisa masuk sekolah kembali, setelah melalui perdebatan panjang dengan sang bunda akhirnya Cheriel menang dan bisa masuk sekolah kembali.


Jam baru menunjukkan pukul 06.00 pagi, Rayshaka telah menunggu di rumah Cheriel, pagi ini ia akan berangkat kesekolah bersama Cheriel.


Bunda Cheriel bisa sedikit merasa tenang karena Rayshaka berjanji akan menjaga dan mengawasi Cheriel selama disekolah.


[Bunda]


Shaka, bunda makasih banget sama kamu, kalau gak ada kamu bunda gak tenang biarin riel kesekolah dengan kondisi bahunya seperti itu..


[Rayshaka]


Gak usah makasih bund, shaka senang kok bisa ngejaga riel...


[Bunda]


Yaudah, dimakan ya sarapannya,bunda ke atas dulu bantuin riel..


[Rayshaka]


Iya bund...


Bisa ditebak dong, pasti Rayshaka menaruh perasaan terhadap Cheriel,jika tidak mana mungkin ia bisa sangat peduli kepada Cheriel.


Rayshaka mengenal Cheriel saat pertama kali masuk SMA, dan cewek pertama yang mengajaknya berkenalan adalah Cheriel, dari situlah mereka dekat hingga sekarang.


Bagi Rayshaka,Cheriel adalah segalanya buatnya, jika tak ada Cheriel di pandangannya, ia merasa seperti kehilangan sesuatu.


Tapi Rayshaka masih tak berani mengungkapkan perasaanya kepada Cheriel.


Meski Chinthya dan Chika pernah memberitaunya jika Cheriel juga menyukai Rayshaka.


Tapi Rayshaka belum mau mengungkapkannya, ia masih mencari waktu yang tepat untuk mengungkapkannya ke Cheriel.


5 menit kemudian Cheriel & bunda nya turun kebawah.


[Cheriel]


Pagi shaka....


Sorry gue lama ya...??


[Rayshaka]


Pagi riel, lo kan emang lelet jadi gue udah biasa...


[Cheriel]


Yeee.....enak aja, lo gak liat nih tangan gue masih diperban..


[Rayshaka]


Mana....gue gak lihat tuhh...


[Cheriel]


Ya iyalah lo gak liat, kan gue pake baju mana kelihatan...


[Bunda]


Udah...udah...sarapan buruan entar kalian telat lagi kesekolahnya...


[Rayshaka &Cheriel]


Iya bund....


----------------------------------


Gavin baru saja sampai di parkiran sekolah, ia masih duduk di atas motor sambil melepaskan helm dan sarung tangannya.


Raut wajah dingin tak lepas dari wajahnya,seakan telah terpasang permanen dan tak bisa di ubah lagi.


Meski ia adalah salah satu cowok terkeren di sekolahnya,namun sikap dinginnya lah yang membuat banyak orang tak berani mendekatinya, bahkan untuk menyapa saja tak ada yang berani.


Untung saja ia memiliki sahabat yang memang sudah paham sekali dengan sifat & wataknya. Hingga ia tak sendirian menjalani masa SMA nya.


Saat ia turun dari motor dan mulai berjalan menuju kelas, tiba tiba langkahnya terhenti ketika ia melihat sebuah mobil sedan berwarna hitam sedang parkir.


Ketika penumpang mobil itu keluar matanya menangkap sesosok gadis yang hampir seminggu ini mengusik pikirannya.


Cheriel & Rayshaka keluar dari mobil itu, meski masih dengan tangan yang di sanggah dengan ARM sling tapi senyum ceria terus terpancar dari wajah nya.


Terlihat rasa lega dari raut wajah Gavin, ia bisa sedikit bernafas lega karena bisa melihat kondisi Cheriel dalam keadaan baik.


Tapi saat melihat Rayshaka berada disebelah Cheriel senyum yang tadi ingin terpancar seakan berbalik arah dan berganti dengan raut kekesalan.


Melihat Rayshaka berjalan beriringan dengan Cheriel sambil tertawa lepas membuat Gavin merasakan kekesalan yang teramat dalam.


[Gavin]


Gue gak yakin tuh anak cedera parah, buktinya bisa ketawa lepas gitu...


Pasti cuma akal akalannya doang...


Gavin langsung berjalan dengan cepat untuk menyusul Cheriel & Rayshaka.


Ketika langkah mereka kini seirama, Gavin langsung memotong jalan Cheriel & Rayshaka.


[Gavin]


Rayshaka menatap tajam ke arah Gavin,tangannya mulai mengepal seakan siap menuju kearah wajah Gavin, sedangkan Cheriel ia hanya merasa bingung dan mencoba mengingat wajah cowok yang kini ada di hadapannya.


[Cheriel]


Kayanya gue pernah liat lo....dimana ya..???


[Rayshaka]


Ngapain lo ingat orang kaya gini riel, gak penting....


[Cheriel]


Shaka.....apaan sih, kasar banget...


Setelah beberapa detik kemudian Cheriel akhirnya bisa mengingat siapa Gavin sebenarnya...


[Cheriel]


Ya ampunn......ternyata lo murid disini juga, soal yang kemaren, gue bener bener minta maaf, sumpaah ✌ gue gak sengaja...


[Rayshaka]


Riel, lo apa apaan sih ?


Ngapain lo yang minta maaf, harusnya dia yang minta maaf ke lo...


[Cheriel]


Shaka, itu salah gue, gue yang bikin dia celaka,sampai harus jatuh dari motor..


Rayshaka tidak mengerti dengan maksud pembicaraan Cheriel.


[Gavin]


Bagus deh, kalau lo ingat, jadi kita impas kan?


[Cheriel]


Impas ?


Tapi gue belum ganti rugi kerusakan motor lo...


[Rayshaka]


Owh......akhirnya gue paham, jadi lo balas dendam ke Cheriel, karena dia gak sengaja bikin lo jatuh dari motor


Wah....wah...gue baru tau seorang Gavin ternyata cuma pengecut yang beraninya sama cewek...


[Cheriel]


Shaka.....lo ngomong apaan sih?


[Rayshaka]


Riel, lo mau tau maksud kata impas yang dimaksud sama ni anak?


Lo kan sudah buat dia jatuh dari motor, dan dia balas lo dengan buat tangan lo kaya sekarang...


[Cheriel]


Jadi.....jadi maksud lo, yang ngelempar bola basket kemaren itu dia



[Rayshaka]


Yups....bener banget..


Itu lah arti kata impas yang dibilangnya barusan


Entah kenapa wajah Gavin berubah setelah melihat tatapan Cheriel kearahnya.


Ada perasaan tak nyaman saat Cheriel menatapnya,seolah rasa bersalah yang kemaren telah hilang kini kembali lagi.


Cheriel tidak mengira,akibat ketidaksengajaannya mencelakai Gavin mendapat balasan sampai seperti sekarang.


[Cheriel]


Ok kita impas...


Jadi gak ada lagi permasalahan di antara kita.


Dengan ekspresi datar, Cheriel pergi dari hadapan Gavin.


Rayshaka hanya menatap sinis kearah Gavin dan ikut pergi menyusul Cheriel.


Gavin hanya terdiam dan menatap ke arah punggung Cheriel yang berjalan menjauh darinya.


Ia tak mengerti apa yang saat ini sedang ia rasakan,ada perasaan aneh saat ia berdiri di hadapan Cheriel dan saat Cheriel berbicara dengan nada yang datar membuat rasa sesak di dada Gavin.


Walaupun sifat dingin & angkuh yang di miliki Gavin seperti mulai mendarah daging, tapi selama ini ia tak pernah menyakiti seorang perempuan.


Ia yakin, kekesalan terhadap ayahnya lah yang memicu Gavin bisa sampai bertindak sejauh itu.


Dan saat ia melihat Cheriel tidak seperti saat ia melihat perempuan lainnya.


Gavin masih belum tau rasa apa yang ia miliki terhadap Cheriel saat ini.


Apakah rasa suka atau hanya rasa bersalah akibat perbuatannya.