REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 74 -



"Aku ada di ruang kerja jika kau mencariku." Zack berdiri.


"Apa masih banyak pekerjaanmu?" Tanya Isabella.


"Dokumen dokumen itu baru sampai dan belum ada satupun yang ku sentuh."


"Kalau begitu aku buatkan teh lagi."


"Jika kau tidak keberatan, aku akan senang." Kata Zack tersenyum.


"Aku akan antar teh itu ke ruanganmu."


Zack tersenyum lagi dan mengusap pelan kepala Isabella, lalu ia pergi menuju ruang kerja.


Isabella pergi ke dapur, saat itu para koki sudah beristirahat karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 malam.


Isabella membawa teh menuju ruang kerja Zack dengan perasaan dan hati yang berbeda.


Sebelumnya Zack meminta pada Isabella untuk di buatkan teh, sekarang justru Isabella yang menawarkan teh untuk Zack.


Isabella masuk ke dalam ruang kerja, terlihat Zack sangat berkonsentrasi, alis dan dahinya mengkerut ketika mengecek dan melihat angka-angka yang tertera di dokumen-dokumen itu, dan kemudian Zack menandatanganinya.


Teh yang baru saja di taruh pun segera Zack ambil dan ia menyeruputnya.


"Apa masih lama?" Tanya Isabella.


"Kau pergilah tidur, sudah pukul 12 malam." Kata Zack.


"Mm... Baiklah."


Sejujurnya Isabella masih ingin menunggu Zack sampai suaminya selesai dengan pekerjaannya, menurutnya ketika Zack berkonsentrasi pada dokumen yang berisi angka-angka perkiraan dan segala macamnya, di mata Isabella Zack tampak keren dan tampan.


"Apa aku boleh membaca buku?" Tanya Isabella, itu adalah salah satu alasan yang ia buat agar bisa melihat dan memandangi wajah tampan suaminya.


"Boleh saja, tapi ini sudah malam apa kau tidak mengantuk?"


"Sejujurnya belum, ku pikir dengan membaca akan membuatku mengantuk."


"Baiklah, tapi jangan memaksakan diri."


Isabella kemudian mencari buku romance yang bisa ia baca, dan ternyata ada, kemudian ia duduk di sofa yang ada di samping meja Zack.


Isabella menyandarkan punggungnya di bahu sofa dan mengangkat kaki nya naik, sesekali ia melirik wajah tampan Zack.


"Wajah ini lah yang selalu membuatku luluh lagi." Kata Isabella dalam hatinya.


"Kenapa dia tampan sekali. Apalagi ketika ekspresinya serius seperti itu."


"Apa buku nya bagus?" Tanya Zack tiba-tiba.


Pertanyaan dan sapaan Zack membuatnya salah tingkah, seolah Zack menangkap basah dirinya yang terpesona dan terus memandangi Zack.


"Ah ya, cukup bagus."


"Aku sudah baca itu, nanti kita bisa bertukar argumen. Itu cerita fiktif tentang seorang pria yang membunuh semua orang terdekat istrinya, bahkan dia membunuh orang asing yang sedang mengobrol dengan istrinya, pria itu memiliki penyakit paranoid yang sangat parah."


"Bukan kah ini cerita romance? Kenapa menjadi aksi pembunuhan."


"Ya, agar lebih membuat para pembaca penasaran, di selipkan kisah romantis."


"Astaga, aku membenci kisah pembunuhan tapi aku penasaran."


"Bacalah." Kata Zack tersemyum.


Isabella tenggelam dalam buku yang ada di hadapannya, sedangkan Zack juga fokus dengan pekerjaannya hingga pukul setengah 2 dini hari Zack baru menyelesaikan pekerjaannya.


Zack melihat Isabella tidur di atas sofa dengan memeluk buku di dadanya.


Zack berdiri, mengangkat tubuh Isabella dan membawanya pergi ke dalam kamar.


Tentu saja Zack membawa Isabella ke dalam kamarnya, dengan sepelan mungkin Zack membaringkan Isabella di atas ranjang.


Tangan kekar itu kemudian membenarkan rambut yang menempel di wajah Isabella, menarik selimut dan menutupi tubuh Isabella.


Zack berganti pakaian dengan kimono tidur dan merebahkan diri di samping Isabella, ia memeluk tubuh istrinya seerat mungkin dan mengecup bibir Isabella.


******


Isabella melenguh kan nafasnya, merasa tidurnya begitu nyenyak, namun ia juga merasa begitu sesak dan tubuhnya berat, perlahan matanya terbuka dan mendapati wajah tampan masih tidur dengan pulas di sampingnya.


"Kenapa wajahnya tidak pernah berubah, tetap saja tampan." Isabella cemberut dan perlahan ingin bangun.


Namun tangan kekar itu semakin erat memeluknya.


"Kau sudah bangun kan." Kata Isabella kesal.


Zack tersenyum.


"Sudah dari tadi."


"Apa kau manusia."


"Kemarin kau tidak tidur dan menungguku, sekarang apa kau juga tidak tidur?"


"Aku tidur, tapi tidak bisa melewatkan pemandangan indah ini, tidur selama satu atau dua jam sudah cukup bagi ku."


"Apa kau tidak mengantuk?"


Zack menggelengkan kepala pelan.


"Selama ada kau aku tidak merasa mengantuk."


Isabella menggembungkan pipinya, dan membuatnya tampak imut.


"Kenapa kau serakah sekali Isabella."


"Hm?!" Isabella terkejut.


"Kau sudah sangat cantik, kau juga manis, sekarang kau menunjukkan ekspresi itu, membuatmu sangat imut. Aku ingin menggigit mu."


Seketika membuat Isabella tertawa.


"Kau sangat pintar menggombal, awas saja jika kau menggunakan keahlianmu untuk merayu wanita lain." Isabella meninju dada Zack pelan.


"Aaarg... Kau memang serakah sekarang kau memiliki kekuatan super dan membuatku terluka."


"Dasar lebay...!!!" Pekik Isabella.


"Aarg... Sakit sekali dadaku." Zack meringis kesakitan.


Isabella melirik, Zack masih meringis kesakitan.


"Apa benar-benar sakit? Apa tubuhmu lemah karena begadang terus?" Isabella mulai menunjukkan wajah khawatir.


Zack semakin meringis dan meringkuk memegangi dadanya.


"Zack... Kau menakutiku, apa benar sesakit itu." Wajah Isabella mulai cemas dan ketakutan.


"Zaackk... Jangan seperti ini!!!"


Isabella mulai menangis.


Zack masih mencengkram dadanya dan begitu terlihat kesakitan, hingga wajahnya sangat merah.


Isabella semakin keras menangis.


"Maafkan aku Zack, jangan mati, aku mencintaimu, aku memaafkanmu, aku benar-benar akan ikut mati jika kau mati. Aku memukulmu dengan pelan kenapa jadi seperti ini."


Isabella panik dan begitu takut untuk menyentuh Zack.


"Aku akan panggil dokter, dimana aku bisa memanggilnya!"


Isabella hendak pergi namun Zack menarik tubuh Isabella ke dalam pelukannya.


"Jika kau mau serakah lakukan lah dengan benar, kau cukup menjadi dokternya, aku hanya mau kau yang menjadi dokternya." Bisik Zack di telinga Isabella.


"Kauu....!!!" Isabella kesal dan menggertakkan giginya, matanya juga membulat.


Sebelum Isabella benar-benar marah, Zack melumaatt bibir Isabella dan menekan tubuh Isabella yang kini berada di bawah tubuhnya.


Awalnya Isabella meronta dan ingin melepaskan diri, ia mencakar punggung Zack dan memukul-mukulnya namun kekuatan Zack begitu besar sehingga ia kelelahan dan tidak bisa bergerak lagi.


Nafas Isabella hampir habis, Zack melepaskan ciumannya.


Isabella menarik nafasnya sedalam mungkin, merasa dadanya akan meledak karena panas. Isabella kekurangan oksigen.


Zack tersenyum melihat wajah merah Isabella.


"Kalau kau marah lagi aku akan menciummu lagi." Peringat Zack.


"Lepaskan aku Zack."


Namun kalimat Isabella tidak terdengar seperti benar-benar ingin di lepaskan, itu hanyalah kalimat yang menutupi egonya.


"Kau tidak bersungguh-sungguh mengatakannya." Bisik Zack di telinga Isabella lalu menjilat pelan telinga Isabella.


Suata khas Isabella mulai terdengar, ia mulai melenguh pelan dan memejamkan mata.


"Aku benar-benar bersungguh-sungguh Zack..." Bisik Isabella setengah mendesahh karena ciuman Zack mulai turun dan menyesap dada Isabella.


"Aku akan memukulmu lagi..." Desahh Isabella.


"Pukul aku sepuasmu..." Kata Zack namun bibirnya masuh terus terun hingga berada di pusar Isabella.


Isabella menggigit bibirnya, jemarinya mulai mencengkram rambut Zack.


"Aku tahu kesukaanmu." Kata Zack lagi.


Perlahan Zack terus turun dan menyapu seluruh nya dengan bibir dan lidahnya.


~bersambung~