
Billy hendak menyeret kopernya keluar dari kamar Alicia, namun ia melihat Alicia yang masih menangis dan menunduk.
Billy memang merasa hancur namun ia ingin berusaha untuk mempertahankan meski hanya seberkas asa yang paling terkecil.
"Alicia..." Kata Billy mendekat dan mencengkram kedua lengan Alicia.
"Katakan padaku, bahwa kau pernah mencintai ku meski sedikit."
Alicia diam dan menunduk, air matanya terus mengalir.
"Katakan, di hatimu ada aku meski hanya sekecil duri." Kata Billy lagi.
"Apa kau pernah mencintaiku meski hanya sedetik?" Tanya Billy.
Alicia menangis dan menggelengkan kepalanya pelan.
"Maafkan aku Billy..." Kata Alicia menyesal.
"Baiklah, seharusnya jangan memberikanku harapan, jika kau hanya akan menyakiti perasaan, kau berpura-pura mencintaiku dan menghancurkanku Alicia." Billy kemudian menyeret kopernya keluar.
Dax masih berdiri dan menyedekapkan tangannya di depan dada bidangnya, melirik pada Billy yang keluar tanpa melihat nya.
Setelah Billy keluar, Dax mendatangi Alicia yang menangis di dalam kamar.
Pria itu memeluk Alicia dan mencium punuk kepala Alicia.
"Maafkan aku, semua ini tak lepas dari kesalahanku."
"Tapi, bagaimana kalian bisa saling mengenal? Aku tidak bermaksud mempermainkannya. Saat itu aku dalam perasaan tertekan dan Billy menawarkan dirinya untuk ada di sampingku."
Alicia kemudian duduk di sofa dan menghapus air matanya dengan telapak tangan mungilnya.
"Aku yang membantunya dalam pembangunan hotel dan restoran." Kata Dax.
"Seharusnya aku tahu, aku terpesona dengan bangunan mewah itu, dan seharusnya aku tahu itu." Kata Alicia menangis.
"Jangan menyalahkan diri mu sendiri Alicia."
"Bagaimana tidak, aku menghancurkan hati pria yang tulus mencintaiku, yang selalu ada saat aku sedih, dan selalu mencoba menghiburku." Kata Alicia.
Dax menarik nafasnya dalam-dalam, ia melihat bagaimana Alicia menangis di penuhi rasa penyesalan.
*****
Inggris...
Isabella duduk bersama Paula di sebuah restoran yang cukup terkenal, mereka sudah selesai makan.
"Isabella, bagaimana jika membawa makanan ini untuk Zack, kau menceritakan begitu banyak tentang Zack, dan kata mu dia sekarang sedang sibuk. Kita bisa mengiriminya makanan."
"Mm... Entahlah bibi, aku tidak pernah ke kantornya."
"Kalau begitu ini akan jadi kali pertama kau datang dan membawakannya makanan, dia pasti akan senang." Kata Paula bersemangat.
"Apa itu ide bagus?" Tanya Isabella tidak yakin.
"Tentu saja, kau pacarnya." Kata Paula.
Kemudian Isabella tersipu, dan mengiyakan, mereka memesan kembali makanan yang akan di bungkus untuk Zack.
Akhirnya sampailah mereka di sebuah perusahaan yang besar, itu adalah perusahaan Volkofrich.
Isabella ragu namun Paula terus meyakinkannya.
"Apa kita harus menemui resepsionis lebih dulu?" Tanya Isabella.
"Biar aku yang menemuinya kau di sini saja." Kata Paula.
Setelah Paula berbicara dengan sang resepsionis mereka pun naik ke lantai atas, menuju ruangan Zack.
Saat itu Stark ada di depan ruangan dan menunduk melihat Isabella datang. Sekilas pandangannya tertuju pada wanita yang ada di samping Isabella.
"Halo Stark, apa Zack ada?" Tanya Isabella.
"Tuan Zack sedang ada tamu Nona." Kata Stark masih melihat pada wanita di samping Isabella.
"Dia bibi ku Stark, bibi dari keluarga ayahku." Kata Isabella tersenyum.
"Baik nona." Kata Stark.
"Apa masih lama?" Tanya Isabella.
Namun tak berapa lama pintu ruangan di buka oleh seorang wanita.
"Aku pergi dulu, hari ini sangat menyenangkan, aku akan datanh lagi Zack." Kata wanita itu sembari mencium bibir Zack.
Saat itu Zack terkejut melihat tindakan wanita itu, ia juga terkejut tepat di depannya Isabella sudah berdiri tersenyum dengan membawa sebuah bingkisan di tangannya.
Namun, senyuman Isabella seketika memudar saat ia melihat adegan itu.
"Aku terkejut kau ada di sini Isabella." Kata Zack.
"Ya, seharusnya kau terkejut, apalahi dengan adegan itu." Kata isabella.
"Aku tahu kau pasti akan salah paham Isabella, aku juga tidak mengira dia akan seperti itu." Kata Zack.
"Mengira apa?"
"Apa kau tidak marah?"
"Tidak..." Kata Isabella.
"Syukurlah, aku tahu kau percaya padaku."
"Tadi nya aku ingin memberimu ini, tapi ku rasa aku sudah tidak mood." Kata Isabella membuang makanan itu ke tempat sampah.
"Aku pergi."
Isabella melangkah pergi namun Zack menahannya.
"Kau bilang tadi tidak marah padaku Isabella?"
"Ya, aku memang tidak marah Zack, kau bisa meneruskannya." Kata Isabella.
"Benarkan kau salah paham!" Geram Zack.
"Aku juga tidak tahu Isabella kenapa dia menciumku!" Kata Zack menjelaskan.
"Dia datang untuk menawarkan bantuan, dia cucu dari walikota." Kata Zack.
"Wow, selamat Zack kau mendapatkan seorang wanita yang luar biasa, dia cucu walikota."
Isabella melangkah kan kakinya hendak pergi namun Zack juga hendak mengejar.
"Bisa kah kau tidak kekanak-kanakan Isabella?!"
"Aku kekanakan?" Tanya Isabella.
"Semua ini hanya lah tentang bisnis."
"Bisnis ya? Aku baru tahu jika seorang wanita mencium pria itu adalah termasuk dari bisnis, apa kau sibuk karena sedang "berbisnis" dengannya?"
"Apa maksud mu dengan "berbisnis" dengannya, apa kau menuduhku melakukan sesuatu dengan dia?" Tanya Zack.
"Aku hanya bertanya Zack?" Kata Isabella menggendikkan kedua bahunya.
"Tapi pertanyaanmu tentang pengucapan "berbisnis" seolah memakai arti yang lain Isabella."
"Aku tidak bermaksud begitu, jika kau menganggapnya seperti itu berarti memang seperti itu." Kata Isabella mengangkat sebelah alisnya.
Isabella kemudian melangkahkan kakinya masuk ke dalam lift, Zack hendak mengejar namun Paula menahannya.
"Zack, sudahlah..." Kata Paula.
Zack mengernyitkan alisnya.
"Siapa kau?"
"Aku bibi nya Isabella, ku kira kau pria baik, Isabella sangat semangat menceritakan diri mu padaku." Kata Paula.
Setelah itu Paula masuk ke dalam lify dimana Isabella sudah menunggu dengan menyedekapkan tangan dan memalingkan wajahnya dari Zack.
Setelah lift tertutup Zack melihat pada Stark.
"Apa kau sudah menyelidiki wanita yang menempel pada Isabella?" Tanya Zack masuk ke dalam ruangannya dan mengendurkan dasinya.
"Sudah tuan, baru saja informan kita memberikan datanya, memang benar dia adalah bibi dari ayah kandung Nonan Isabella." Kata stark menyodorkan tabletnya.
Zack duduk di tepi meja nya, dan memeriksa latar belakang Paula, setelah membacanya, Zack menyerahkan kembali tabletnya pada Stark.
"Aku tidak percaya wanita itu sangat berani, dia menciumku tepat di depan Isabella." Kata Zack.
"Apakah ada perintah tuan?"
"Dia cucu walikota, dan kita membutuhkannya untuk mengusir Emir Khan dari Inggris."
"Apa kita harus mengirim pengawal untuk mengawasi Nona Isabella tuan?"
"Itu lebih baik, kita tidak biaa begitu saja percaya dengan orang baru yang ada di sekeliling kita." Kata Zack.
"Baik tuan, saya permisi."
Zack kemudian mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi Isabella, namun tidak di jawab, dan panggilannya yang berikutnya ponsel Isabella sudah tidak aktif.
~bersambung~