
Zack masuk ke dalam lift dan naik ke lantai yang paling tinggi.
Terdengar suara helikopter, membuat Zack berlari dan membuka pintu darurat.
Benar saja, helikopter berwarna hitam sudah siap terbang, baling-baling membuat angin berputar kencang.
Seorang wanita bertubuh ramping dengan gaun putih dan topi yang cukup besar hendak menaiki helikopter.
"Isabella!" Teriak Zack terengah.
Wanita itu berhenti. Namun belum memutar tubuhnya untuk berbalik.
"Isabella aku tahu itu kau, maafkan aku, saat itu aku sangat bodoh, aku pencundang dan aku sangat menyesal." Kata Zack.
Wanita itu berbalik dan membuka kacamata hitamnya, benar saja, dia adalah Isabella.
Namun tatapan mata itu berbeda dari seorang wanita yang dulunya begitu lugu dan polos.
Tatapan mata yang penuh percaya diri dan cukup berani.
"Hubungan kita sudah berakhir ketika kau melangkah pergi dari apartmen Zack." Kata Isabella, gaunnya cukup berkibar berterbangan di bawah kakinya.
"Isabella, berikan aku kesempatan sekali saja, aku tidak akan menyia-nyiakannya." Zack memohon.
Isabella menyeringaikan sudut bibirnya.
"Kau seharusnya tahu Zack, bagaimana saat itu aku memohon padamu, apa kau juga memberikanku kesempatan? Kau tidak berbalik meski sekali untuk menatapku."
"Aku benar-benar minta maaf Isabella." Suara Zack cukup keras karena suara baling-baling yang berputar.
"Selamat tinggal Zack." Isabella masuk dan menutup pintunya.
"Isabella! Isabella!" Zack berlari dan menggedor-gedor pintu helikopter tersebut.
Namun perlahan helikopter naik.
Zack berpeganggan pada kaki helikopter namun Harry yang baru saja tiba menarik tubuh Zack untuk turun.
"Apa kau bodoh!!!" Teriak Harry.
"Isabella!!!" Teriak Zack ketika hellikopter itu terbang menjauh.
Terlihat Isabella hanya duduk dan tak melihat bagaimana Zack berteriak meneriaki namanya.
"Kenapa kau menahanku brengsek!!!"
"Kau yang bodoh!!!" Teriak Harry.
"Stark hubungi pengawal segera, bawa helikopter itu kesini!!!" Teriak Zack menghubungi Stark melalui ponselnya.
Zack meremas kepala dan rambutnya.
"AAARGGHH!!!" Teriak Zack.
Harry dan Demian masih berdiri di dekat Zack.
Sedangkan tak berapa lama Stark datang.
"Sebentar lagi helikopter tiba tuan."
*****
Helikopter yang membawa Zack masih berputar-putar di langit mencari dan melacak kemana helikopter itu membawa Isabella.
Hingga petang Zack baru pulang dan duduk di kursi nya. Mansion terasa sepi, Zack hanya memutar-mutar penanya dan mengingat bagaimana bisa Isabella berubah secepat itu.
"Tatapan matanya berubah." Kata Zack.
Tatapan mata yang dulu begitu polos dan lugu, kini terlihat berani dan percaya diri, dandanan Isabella pun berubah.
Isabella sekarang jauh lebih cantik dan memukau.
"Apa yang terjadi padamu Isabella."
Tak berapa lama Stark datang dengan membawa tablet nya
"Kita menemukannya tuan." Kata Stark.
"Bagiamana?" Tanya Zack yang langsung terlonjak dari tempat duduknya.
"Di bawah perlindungan Tuan Julian Podolski."
"Julian?" Tanya Zack.
"Seperti nya memang benar, Nona Isabella di culik oleh Mafia Hitam, kemudian di jual sebagai budak kepada tuan Julian Podolski, kemungkinan Nona Isabella tidak di jadikan budak, atau Nona Isabella di jadikan tunangan Tuan Podolski."
"Jangan bertele-tele cari tahu semuanya!" Bentak Zack tidak sabar.
"Terakhir kali Tuan Podolski sedang mencari pasangan, saya akan memberikan kabar selanjutnya."
Zack tidak sabar, nafasnya terengah dan mondar-mandir.
Stark hanya bisa berdiri di tempatnya.
Tak berapa lama ponsel nya bergetar.
"Ya..."
"Apa kau sudah melihatnya?" Kata Harry berada di dalam saluran panggilan.
"Apa?"
Zack kemudian segera duduk dan membuka laptopnya. Matanya terbelalak dengan undangan pertunangan Julian Podolski dengan Isabella Kayl.
BRAK!!!
Zack meninju laptop nya hingga laptop itu rusak namun masih menyala.
Zack berdiri dan berulang kali meninju dinding ruangan kerjanya yang dulunya juga ruangan kerja Zafran.
Hingga tangannya berdarah dan Stark mengambil kotak obat.
Setelah Zack melampiaskan amarahnya, ia duduk dan Stark mulai mengobatinya.
"Apa dulu dia merasakannya seperti ini juga." Kata Zack lirih.
"Ya tuan?" Stark bertanya sembari membalut luka di tangan Zack.
"Apa dulu saat aku meninggalkannya, sakit yang ia rasakan juga seperti ini." Zack memukul-mukul dadanya berulang kali menggunakan sebelah tangannya.
"Apa dia juga merasakan sesak dan perih di dadanya." Zack masih terus meninju dadanya.
Hingga akhirnya dadanya terlihat membiru.
"Tuan..." Stark menghentikan tinjuan itu.
"Tinggalkan aku sendiri Stark."
Stark kemudian berdiri dan menunduk, ia pergi meninggalkan Zack sendiri.
"Aku tidak percaya dia membalas dendam dengan cara seperti ini." Kata Zack.
*****
"Isabella akan bertunangan dengan siapa?!" Alicia tersentak.
"Julian Podolski." Sahut Harry.
Mereka sedang berada di ruangan keluarga.
"Julian sama kuatnya dengan posisi Zack sekarang, tapi... Aku masih tidak mengerti bagaimana ini bisa terjadi." Sambung Harry.
"Sepertinya Isabella benar-benar ingin melangkah maju dan mengubur masa lalunya." Kata Dax.
"Tapi, bagaimana dengan Zack?" Tanya Alicia.
"Itu kesalahannya, jika aku tahu sebelum Isabella pergi, aku juga akan bertindak seperti Julian, bahkan aku tidak akan pernah melepaskan Isabella." Kata Harry.
Dax melirik Harry.
"Dia dalam keadaan tertekan saat itu." Kata Dax.
"Aku tahu, saat itu hari-hari yang berat baginya, tapi sebelum mengambil keputusan seharusnya dia merenungkannya dan menyendiri. Biarkan dia merasakan rasanya sakit hati karena kehilangan seseorang, bahkan itu akan lebih sakit dari apa yang ku rasakan pada Isabella." Kata Harry berdiri dan meninggalkan ruangan itu.
*****
Sebelum hari pertunangan, Zack berniat mengunjungi Julian.
Pesawat telah terbang beberapa jam hingga mendarat di mansion bergaya eropa, mansion yang kental seperti nuansa kerajaan eropa.
Zack cukup kagum dengan bangunan mewah tersebut.
Para pelayan menyapanya, dan tak berapa lama seorang kepala pelayan menunjukkan jalan nya pada Zack, sedangkan Stark masih mengawalnya juga.
"Tunggu di sini tuan, akan saya panggilkan tuan Julian."
Zack menunggu sembari melihat-lihat bangunan. Ketika ia berdiri di dekat jendela yang besar, dia merenung sejenak.
"Aku harus membawanya pulang Stark, aku tidak akan membiarkan pertunangan ini berlangsung, lagi pula dia pasti masih mencintaiku." Kata Zack.
"Saya akan membantu bahkan jika nyawa saya menjadi taruhannya." Kata Stark menunduk.
Tak berapa lama seorang pria masuk ke dalam ruangan.
"Anda datang lebih awal dari tanggal pertunangan saya." Kata Julian.
Zack berbalik dan menatap sosok Julian yang kini berada tepat di depannya.
"Tidak buruk." Kata Zack dalam hati.
Sosok pria di depannya memang tampan, dengan perawakan yang tinggi dan garis rahang yang kuat, wajah khas eropa, dan tentunya rambutnya sedikit bergelombang namun di tata dengan rapi, rambut itu berwarna pirang memberikan kesan ia adalah pria yang lembut.
Namun, di sisi lain meski pria di depan Zack itu terlihat lembut, ia benar-benar memikili kharisma yang kuat, dengan pakaian bangsawan yang melekat di tubuhnya.
"Saya menghargai undangan anda Tuan Julian, saya akan menginap di sini sampai pertunangan itu tiba, apa anda mengijinkannya?"
"Sebuah kehormatan bagi saya tuan Zack, memang seperti itu seharusnya, anda datang dari jauh dan sudah sepatutnya saya menyiapkan tempat untuk anda."
"Tapi Tuan Julian... Ada satu pertanyaan yang ingin saya sampaikan."
"Silahkan tuan Zack..."
"Apa mudah bagi anda menikahi seorang yatim piatu, maksud saya, bukan rahasia lagi, jika anda memiliki reputasi yang tinggi, bagaimana nantinya para bangsawan akan membicarakan anda, maafkan saya karena di dalam undangan tersebut tidak tercantum siapa orang tua Nona Isabella."
Julian tersenyum.
"Sejujurnya, saya jatuh cinta pada pandangan pertama, dan jika ada yang membicarakannya, anda tahu bagaimana kekuatan saya di sini." Seringai Julian jelas memperlihatkan bahwa ia tidak senang dengan pertanyaan Zack, ia menantang siapapun yang berani padanya.
~bersambung~