REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
EDISI KHUSUS HARRY DAN EVASHYA



PEMENANG SOUVENIR SILAHKAN HUBUNGI AUTHOR.



"Aku ada di depan gerbang kampus, aku tunggu 5 menit, kalau tidak datang lihat bagaimana aku mencarimu dan membereskanmu." Kata Harry melalui saluran ponselnya.


Tak berapa lama seorang gadis berlari terengah penuh dengan peluh keringat yang membasahi wajah dan rambutnya.


Harry membuka jendela mobilnya, Evashya melotot penuh amarah.


"Masuk." Perintah Harry.


Dengan geram Evashya memutari mobil dan masuk ke sisi lain.


"Apa yang kau lakukan seenaknya menyuruhku ini dan itu!" Evashya cemberut dan menggembungkan pipinya.


Harry hanya menyeringai.


"Beritahu kampus kau akan cuti selama seminggu bersamaku." Kata Harry.


"Baiklah... Eh apa!!!" Evashya terperangah dengan kalimat Harry.


Namun sebelum Evashya berhasil keluar dari mobil, Harry sudah memekan gas nya dan melajukan mobilnya.


"Jangan membuang-buang waktu, aku memberimu kesempatan 30 menit untuk membawa pakaian yang kau butuhkan."


"30 menit untuk mengepak barang selama seminggu!" Teriak Evashya.


Harry menggendikkan alisnya.


"Ya tuhan, apa kau primitif tuan Harry. Kau tidak tahu ya, wanita itu lebih rumit dan perlengkapannya lebih banyak." Kata Evashya memprotes.


"Baiklah 31 menit"


"Hanya tambah 1 menit saja apa yang membuatmu bangga telah memberiku tambahan waktu."


"Baiklah 15 menit."


"Apa kau gila!!!" Teriak Evashya.


Harry justru tertawa melihat Evashya marah dengan berapi-api.


"30 menit dan jangan sampai telat, kalau tidak aku akan memberitahu Zack tentang hubungan kita." Kata Harry.


"Oh tidak, jangan, aku tidak mau ada perang lagi." Evashya melorot dari kursinya, ia lemas.


Harry melihat tingkah Evashya membuatnya benar-benar menyerah, ia pun menepikan mobilnya dan berhenti.


"Kau sangat manis dan imut."


Harry menarik Evashya dalam pelukannya dan ******* bibir Evashya.


Pergulatan antara dua bibir pun terjadi, Harry tidak ingin melepaskan Evashya namun gadis itu telah kehabisan nafas.


"Kau buruk dalam berciuman." Ejek Harry.


"Ya, kau ahlinya, karena aku yakin ketrampilanmu ini ada karena banyaknya wanita yang sudah kau ciumi."


Mendengar kalimat provokatif Harry menarik lagi Evashya dalam pelukannya, dan mencium kembali Evashya.


Dengan mengepalkan tangan, Evashya berusaha mendorong tubuh Harry yang lebih kuat darinya.


"Hah!" Evashya mendesahh dan mengambil nafas panjang.


"Kenapa kau marah, aku hanya bilang apa yang ada di pikiranku."


"Kalau begitu biarkan aku membersihkan otakmu, apa kau melihatku sebegitu murahan hingga kau menilaiku mau begitu saja memberikan ciuman pada wanita manapun."


Harry menatap tegas pada Evahsya.


Setelah melihat raut ciut Evashya, Harry pun menggosok pelan kepala Evashya.


"Aku punya tempat yang bagus, kau pasti suka." Kata Harry melajukan mobilnya.


"Baiklah, tapi beri kan aku beberapa jam untuk berkemas." Pinta Evahsya.


"31 menit atau tidak sama sekali, aku bisa membawa mu sekarang juga."


"Baiklah, baiklah kau menang tuan arogan." Kata Evashya melotot.


Harry hanya membalas dengan senyuman.


******


Evashya dan juga Harry menaiki pesawat pribadi yang mewah, mereka akan menuju suatu pulau dimana itu akan menjadikan kejutan bagi Evahsya.


Setelah beberapa jam pesawat pun mendarat sempurna.


Harry melihat Evashya masih tidur, tanpa ingin membangunkan Evashya, Harry lebih memilih untuk menggendongnya.


Namun angin yang kencang membuat Evahsya terbangun dalam pelukan Harry.


"Apa sudah sampai?" Tanya Evahsya.


"Eh.. Kenapa kau menggendongku?" Tanya Evashya.


"Hm, kau tidur dan air liur mu kemana-mana, aku takut jika membangunkanmu membuat putri tidur ini terkejut." Kata Harry.


"Apa! Apa aku...!" Evashya panik dan segera membersihkan mulutnya, namun tidak ada air liur.


Harry tertawa puas melihat ekspresi Evashya yang panik.


"Aduh, diam dulu nanti kau jatuh." Kata Harry mengeratkan tubuh Evahsya.


Evashya mulai berhenti ketika ia melihat pantai dengan air yang landai, karang-karang yang terlihat dan kapal-kapal yang ada di dermaga.


"Indah sekali, turunkan aku, aku mau kesana." Kata Evahsya.


"Tidak mau."


"Kenapa?"


"Masih ada banyak waktu. Aku mengajakmu ke sini hal pertama yang ingin ku lakukan bukan di sana."


"Lalu dimana?"


"Di kamar." Bisik Harry.


Seketika wajah Evashya pun memerah dan ia menutupinya dengan kedua telapak tangannya.


Harry tersenyum dan senang melihat wajah Evahsya yang sangat jarang menunjukkan sikap malu.


"Aku gemas sekali ketika kau menggodaku dengan wajah malu mu itu."


"Aku tidak menggodamu, kenapa kau terang-terangan sekali."


"Karena aku tidak mau kehilanganmu." Kata Harry.


Saat itu Harry sudah membuka pintu dengan siku dan mendorong pintu itu menggunakan kakinya. Kemudian menutup kembali menggunakan bahunya.


"Aku pernah merasakan sakit, dan aku tidak ingin tenggelam merasakan itu lagi, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku."


"Tapi, bagaimana jika Zack tidak menyetujui kita..." Wajah Evashya menjadi muram dan cemas.


Perlahan Harry membuka kancing kemejanya, dimana kini ia sudah di atas ranjang bersama Evashya.


"Aku akan meninjunya, lalu mengajaknya berkelahi."


"Aku tidak setuju!"


Saat itu Harry menghentikan untuk membuka kemeja yang sudah setengah terbuka, terlihat dada bidang dan perut berototnya.


"Kenapa?"


"Karena, aku tidak mau kau terluka oleh pukulan Zack."


"Kenapa kau yakin sekali aku akan kalah." Harry tidur menyamping di samping Evahsya.


"Karena, ya karena sang penulis kehidupan kita selalu menjadikan mu nomor 2. Salahkan pada penulisnya kenapa kau selalu kalah dari Zack!!!!" Teriak Evahsya.


"Kau sedang mengutuki authornya Evahsya? Matilah kau." Kata Harry tertawa.


"Tapi, apa kau benar-benar akan bicara pada Zack bahwa hubungan kita tidak main-main?"


"Menurutmu? Zack sudah menikah, aku juga ingin bahagia, menikah, dan memiliki kehidupan yang teratur bersama istriku." Kata Harry mencium leher jenjang Evahsya.


"Harry... Sebentar..."


"Hm?" Harry masih terus menciumi leher jenjang Evahsya.


"A... A..Ku... Sejujurnya..."


"Apa?" Perlahan Harry meluncur kebawah dan membuka kancing baju Evahsya.


"A... Aku belum berpengalaman..."


"Tidak masalah." Kata Harry.


"Ta...Tapi..."


"Aku juga pertama kalinya." Bisik Harry mesra.


"Apa..!" Evashya membelalak.


"Tapi, kau terlihat badboy..."


Harry menyeringai.


"Ini pertama kalinya bagiku, apa kau puas?" Tanya Harry sembari mencium bibir Evashya.


Evahsya mendorong bahu Harry.


"Ta... Tapi kau tidak terlihat gugup."


Harry tersenyum.


"Aku gugup, tapi aku menikmati nya. Rasa ku mencintaimu lebih tinggi daripada kegugupanku." Harry menelusuri leher Evashya sedangkan tangan yang lain meluncur membuka pakaian Evahsya.


Hari itu menjadi hari dimana semua berjalan penuh dengan kebahagiaan bagi Evahsya, Harry melampiaskan seluruh tenaganya dan hatinya hanya untuk Evahsya.


Bahkan ia siap menanggung semuanya jika keluarga Volkofrich tidak merestui hubungan mereka.


Harry siap menanggung semua akibat dari perasaannya yang mencintai Evahsya.


Begitu pula Evahsya yang sudah tunduk dengan segala perlakuan hangat Harry, bagaimana pria itu mampu melindunginya dan bagaimana sikapnya yang begitu dewasa memanjakannya.


"Harry sudah hentikan, ini sudah malam, apa kau tidak lelah." Tanya Evahsya meminta belas kasihan. Seluruh tubuhnya basah karena keringat, ia juga terlihat lemah dan kelelahan.


"Maafkan aku, sekali lagi dan kita akan tidur." Pinta Harry dengan peluh keringat membasahi seluruh tubuhnya.


~TAMAT~