REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 36 -



Beberapa hari kemudian....


"Apa lukanya sudah kering?" Tanya Isabella menaruh telur dadar dan beberapa sayuran di atas meja makan.


Saat itu Zack sedang berdiri di depan cermin dengan melihat luka yang ada di kepalanya.


"Kurasa sudah."


"Kau habis dari mana Zack, kenapa hanya memakai celana panjang."


"Gym." Kata Zack tersenyum.


Pagi-pagi sekali Zack sudah pergi entah kemana dan saat Isabella sedang memasak Zack kembali dengan tanpa pakaian hanya memakai celana panjang serta dada dan tubuhnya di penuhi keringat.


Kemudian Zack mendekat dan mengambil beberapa sayuran, brokoli, dan wortel.


Zack mencomotnya dan memasukkannya ke dalam mulut.


"Pakai piring dan sendok." Kata Isabella menaruh piring serta sendok di atas meja.


Zack kemudian duduk, Isabell mengambilkan telur dadar dan beberapa sayuran pelengkap, tak lupa ia juga menyiapkan air putih serta jus jeruk.


"Perfect." Kata Zack.


"Hm, apanya?"


"Kau seperti ibuku, kau tahu apa yang ku sukai." Kata Zack.


Isabella tersenyum


"Hanya beberapa makanan sehat saja, aku tidak terlalu suka dengan makanan cepat saji."


"Besok aku harus masuk sekolah Zack, tidak baik ijin begitu lama." Kata Isabella.


"Ya, okey, aku juga."


"Apa kau akan pindah hari ini? Ku pikir Evashya akan mencarimu dan mengkhawatirkanmu, sudah berhari-hari kau di sini."


"Ya, tubuhku juga pegal-pegal beberapa hari tidur di sofa."


"Itu karena tanganmu sangat nakal."


Zack menyeringaikan senyumannya dan menusuk potongan brokoli lalu memasukkan ke dalam mulutnya, dia mengingat bagaimana Isabella mengusirnya dari kamar.


"Tapi kau menyukainya." Sahut Zack tersenyum menyeringai.


"Zack..." Kata Isabella memperingatkan.


"Kau bilang tidak tapi kau mendesahh..." Kata Zack lagi.


"Astaga." Isabella menahan senyumannya namun akhirnya senyuman itu lolos juga.


"Kau tahu Zack, saat wanita bilang tidak mau namun ia mendesahh, bukan berarti dia mau, tapi itu reaksi alami yang terjadi saat itu. Seperti ketika kau di cubit." Isabella mencubit lengan Zack.


"Ouh!!" Pekik Zack menahan tangan Isabella.


"Nah tepat seperti suara yang kau keluarkan, itulah yang di namakan reaksi alami." Kata Isabella.


"Alasan, kau hanya malu mengakui itu." Kata Zack memasukkan kembali telur dan brokoli ke dalam mulutnya.


"Terserahlah." Balas Isabella.


"Aku mau mandi dulu, aku sudah selesai sarapan." Kata Zack mengelap mulutnya.


"Jangan lupa menutup pintu dan mengambil handuk, aku tidak akan mengambilkanmu handuk." Kata Isabella.


Zack pergi berlalu dan masuk ke dalam kamar mandi.


Isabella melirik dan dua handuk masih menggantung di jemurin balkon belakang.


"Astaga, dia selalu memancing suasana." Kata Isabella menahan senyumannya.


Kemudian gadis itu berjalan dan mengambil handuk yang sudah kering lalu meletakkan di atas meja dekat kamar mandi.


Setelah Isabella pergi Zack membuka pintu dan hendak berteriak, namun ia melihat handuk yang sudah di lipat rapi di dekat kamar mandi.


Zack tersenyum, kemudian meraihnya.


Setelah berpakaian rapi, Zack siap untuk kembali ke apartmennya.


Terlihat Stark sudah membawa tas jinjing Zack berisi perlengkapan milik Zack.


"Aku akan mengungjungi mu lagi secepatnya." Kata Zack mencium kening Isabella.


Saat itu Isabella berada di ambang pintu apartmennya.


Isabella tersenyum, kemudian sebuah kecupan mendarat di bibir Isabella.


"Aku akan sangat merindukan suara dengkuranmu."


"Zack aku tidak mendengkur!" Isabella memukul pelan bahu Zack, dan melihat ke sisi lain apakah para pengawal akan menertawainya.


"Ya, kau mendengkur sangat keras."


"Tidak Zack."


"Bagaimana bisa tahu kau tidak mendengkur, kau tidur." Sahut Zack.


"Kau selalu menggodaku." Kata Isabella kesal.


"Baiklah, aku akan merindukan wajah mu yang tidur dengan sangat cantik, seperti putri tidur." Kata Zack mengelus pelan punuk kepala Isabella.


"Kau berlebihan."


Zack tersenyum.


"Tuan..." Panggil Stark.


"Ya?"


"Ada sesuatu."


"Aku pergi, jaga diri baik-baik, berjanjilah jangan buka pintu apartmen pada pria manapun selain padaku." Peringat Zack.


"Aku berjanji." Kata Isabella.


Zack kemudian turun dari apartmen dan Stark membuka kan pintu mobil.


"Nona Evashya baru saja menarik uang dengan jumlah yang cukup besar."


"Untuk apa?"


"Mungkin ada yang sedang mengancamnya." Kata Stark.


"Selidiki itu."


"Baik tuan."


Akhirnya Zack sampai di apartmen, dan melihat Evashya tidur dengan masih menggunakan seragamnya.


Zack duduk di tepi ranjang dan membelai rambut Evashya pelan.


Gadis itu melenguh dan membuka matanya sedikit.


"Zackk..." Sahut Evashya pelan.


"Hm..."


"Kau baru pulang?" Evashya duduk dan memeluk kakanya dengam sangat erat.


"Iya, ganti seragam mu Evashya lalu kau bisa tidur lagi."


"Iya." Kata Evahsya melepaskan pelukannya.


Evashya kemudian menurunkan kakinya hendak pergi mengganti pakaian seragamnya.


Namun Zack menahan tangan Evashya.


"Apa kau sedang punya masalah?" Tanya Zack.


Evashya diam.


"Kau bisa cerita padaku." Kata Zack lagi.


"Tidak ada Zack." Kemudian Evashya pergi dan mengganti pakaiannya.


Zack mengambil ponsel Evashya dan mencoba membukanya, ia menekan angka-angka untuk membuka pin ponsel milik Evahsya.


Namun pin yang di masukkan salah.


"Sejak kapan dia mengganti pin ponselnya." Kata Zack dan meletakkan kembali ponsel milik adiknya.


Zack keluar dari kamar Evashya dimana Stark sudah menunggu.


"Tuan..."


"Ada informasi apa tentang Evashya."


"Ini tentang Nona Evashya dan juga Emir Khan, tuan." Kata Stark.


"Kenapa, apa mayatnya di gerogoti belatung?" Zack mengambil botol air minum di dalam almari es yang cukup besar.


"Mayatnya tidak ada." Kata Emir Khan.


"Mungkin di bawa oleh para pengawalnya."


Stark kemudian memberikan tabletnya yang sudah terbuka menunjukkan sebuah foto.


Zack menaruh botol air minumnya, di meja marmer, dan memperbesar gambar tersebut.


Ekspresinya begitu terkejut melihat rompi anti peluru dan juga sekantung darah yang sudah habis, kemudian Zack meremas tengkuknya dan mendesis.


"Kenapa tidak ku tembak saja kepalanya!" Geram Zack memukul meja marmer di hadapannya.


"Apa kau sudah melacaknya."


"Sudah dan sepertinya, nona Evashya mengambil uang yang cukup banyak dan di berikan pada Emir Khan, pengawal kita menyabotase ponsel milik Nona Evashya melalui komputer. Berulang kali Nona Evahsya juga mengelabui para pengawal kita ketika anda berada di apartmen Nona Isabella."


"Apa!!!" Teriak Zack melotot.


"Apa yang dia lakukan!!!" Geram Zack dan pergi kembali ke kamar Evashya.


Saat itu Evashya masih berada di ruang ganti, Zack tidak sabar dan langsung masuk.


"Zack!" Pekik Evashya dan dengan cepat memakai baju tidurnya.


"Bisa kau jelaskan kenapa kau menarik uang begitu banyak dari rekeningmu." Tanya Zack tidak sabar.


Evashya gemetar, matanya ke kiri dan ke kanan, pertanda ia sedang mencari alasan.


"Lama sekali kau menjawabnya." Kata Zack kesal dan tidak sabar.


"Temanku meminjamnya." Sahut Evashya.


"Teman mu yang mana? Aku tahu siapa saja temanmu."


"Temanku Camilla."


"Oke Camilla? Untuk apa?"


"Untuk..." Evashya bingung.


"Katakan Evashya!" Teriak Zack berkacak pinggang dan tidak sabar.


"Kenapa kau membentakku Zack?"


"Karena kau berbohong!"


"Aku...."


"Apa kau bertemu Emir! Apa Emir mengancam mu! Kapan kau menemuinya, dan bagaimana bisa kalian bertemu, apa dia menyakitimu!" Kata Zack mencengkram lengan Evahsya.


Evashya begitu terkejut, ia takut pada mata yang menatapnya dengan tajam. Seolah hanya dengan tatapan mata itu Zack mengkoyak dan mengkulitinya.


"Zack... Sakit." Air mata Evashya meleleh di kedua pipinya.


"Kau menekanku... Aku perlu mencerna dan berfikir." Sahut Evahsya.


Zack melepaskan cengkramannya, dan kemudian mencengkram kepalanya.


"Bisa kah kau menjaga dirimu sendiri Evahsya, bahkan kau meninggalkan dan mengelabui para pengawal..."


"Aku bingung Zack.... Emir mengatakan dia menyekap mu dan aku harus membawakan dia uang sebagai syarat menebus mu, jika tidak dia akan membunuh mu dan juga membunuh Isabella, dia mengirimi ku foto seorang wanita yang sudah mati, dia bilang itu adalah ibu dari Isabella. Namun, setelah uang itu ku serahkan baru dia menceritakan semuanya, apa yang telah terjadi padamu dan juga Isabella. Aku bodoh aku tahu! Tapi aku tidak mau kehilanganmu." Evashya menutup mata dan menangis.


~bersambung~