
Sepulang sekolah Zack mengajak Evashya ke suatu tempat dan itu adalah Mansion lama mereka yang sudah kembali.
Stark mengatur ulang ruangan seperti sediakala, membersihkan dan mengecek semuanya.
Evashya berlari kesana dan kemari, melihat semua ruangan.
"Kembali seperti semula..." Kata Evashya tertawa dan kemudian menaiki tangga untuk ke lantai atas dengan berlari.
"Evashya hati-hati, tidak perlu berlari." Kata Zack mengejar adiknya.
Kemudian Evashya membuka kamarnya, dan berlari lagi beralih ke kamar kedua orang tuanya, Zafran dan juga Laura.
Evashya membuka pintu kamar mereka dengan perlahan, namun seketika raut wajah Evashya berubah menjafi sedih.
"Hanya kamar Daddy dan Mommy yang terasa sepi dan dingin. Aku berharap mereka sedang duduk di balkon." Kata Evashya
Kemudian Zack merengkuh bahu adiknya dan memeluknya.
Begitu pula Zack, beberapa menit yang lalu ia juga sangat berharap jika Mansion kembali, kedua orang tuanya pun juga ikut kembali.
Namun, kenangan-kenangan bersama mereka tak bisa begitu saja terlupa.
Di dalam museum kenangan, milik Zafran dan Laura kini bertambah dengan semua foto keluarga dan barang-barang kenangan.
Zack tidak merubahnya, ia mengaturnya lagi agar menjadi lebih indah jika di tambah dengan foto-foto nya bersama mereka.
Perjalanan yang tidak mudah mereka lalui masa muda, lalu bahagia di masa pernikahan, dan kini menjadi kenangan indah yang tak terlupakan.
******
1 Tahun kemudian...
Waktu terus berlalu dan semakin lama, luka batin semakin memudar, lebih tepatnya mereka di tempa untuk terbiasa dengan luka-luka kehilangan dan kini mereka lebih fokus pada masa depan.
Zack, Isabella, dan juga Evashya sedang berkumpul di kamar milik Zack.
Mereka akan melihat pengumuman penerimaan Isabella di perguruan tinggi milik Hill School.
Zack membuka laptopnya, Evashya serta Isabella duduk di tepi ranjang sembari berpelukan.
"Kenapa aku yang gugup?" Tanya Evashya.
Isabella tersenyum pada Evahsya.
"Baiklah, sebentar lagi pengumumannya akan di kirim." Kata Zack.
"Kita hitung mundur, siapa yang akan meng klik." Tanya Zack.
"Aku gugup sekali..." Sahut Isabella.
"Ayo Isabella kau yang harus membukanya." Kata Zack.
Kemudian Isabella berdiri dan jarinya menekan emailnya lalu menekan tautan tersebut.
BERHASIL
Satu kata yang membuat Isabella melonjak dan menjerit, di susul oleh Evashya dan senyuman puas Zack.
Kemudian Isabella menghamburkan diri pada Zack, dan mereka berpelukan.
"Ayo Zack, sekarang buka punyamu." Kata Isabella.
Sontak membuat Evashya menahan tawanya, sedikit demi sedikit menjadi senyuman dan menghilang, Evashya memandangi Zack serta Isabella.
Zack sendiri sedikit bimbang bagaimana akan memberitahunya dan menjelaskannya, ia menggosok-gosok tengkuknya.
Isabella masih menanti.
"Baiklah akan ku buka sendiri, mana emailmu." Kata Isabella.
Namun Zack menahan tangan Isabella.
"Begini Isabella, aku memutuskan untuk melanjutkannya dengan cara virtual, aku tidak bisa hadir di universitas, kau tahu aku di tuntut lebih dan semakin sibuk di perusahaan." Kata Zack.
"Jadi, apa maksudnya?" Tanya Isabella.
Evashya yang melihat raut wajah Isabella sedikit demi sedikit berubah kemudian pelan-pelan ia memilih pergi dari kamar Zack dan menutup pintu, ia tahu akan ada perang besar.
"Aku akan menjalani kuliah dengan sistem online."
"Apa!!!" Kata Isabella.
Zack masih diam.
"Sejak, kita berdua berhadapan dengan Emir Khan, aku sudah mulai memikirkannya."
Isabella melenguhkan nafasnya, ia tak percaya dengan segala janji yang Zack berikan bahwa mereka akan berada di universitas yang sama, berjuang bersama, Zack juga berjanji akan melindunginya.
Isabella masih diam, dengan wajah datar ia meraih tas nya hendak pulang.
"Isabella tunggu dulu..." Kata Zack menahan kedua bahu Isabella.
"Lihat aku sebentar." Pinta Zack.
Namun Isabella masih acuh dan dingin, tatapan matanya masih berada di tempat lain.
"Isabella, aku mohon lihat aku." Pinta Zack lagi.
Dengan malas Isabella menepis kedua tangan zack yang memegang bahunya, dan melihat Zack.
"Aku minta maaf Isabella, aku tidak memberitahumu, aku takut kau tidak akan semangat untuk melanjutkan pendidikanmu."
"Maafkan aku... Aku hanya ingin yang terbaik untukmu." Lanjut Zack.
"Dengan cara membohongiku!" Kata Isabella.
"Maafkan aku." Zack hendak memeluk Isabella.
"Lepaskan Zack! Kau berjanji padaku!!!" Kata Isabella mulai marah.
"Tapi, mengertilah Isabella, aku tidak punya pilihan lagi, perusahaan membutuhkanku, aku ingin membuat Volkofrich dan Wickley menjadi perusahaan yang lebih besar lagi." Kata Zack.
"Aku hanya kecewa, kenapa kau tidak memberitahuku, kenapa kau menyembunyikan semuanya dariku, apa sekarang prinsip dalam hubungan kita bahwa kita harus saling terbuka sudah tidak lagi di butuhkan?"
"Aku yang salah, aku pikir kau tidak akan marah."
"Tentu saja aku tidak marah Zack jika kau ingin fokus mengurus perusahaanmu, tapi aku kecewa kenapa kau tidak membahas ini dan menceritakannya padaku Zack, apa selama ini aku menjadi beban untukmu?"
"Tidak Isabella, tidak pernah, kau bukan beban bagiku." Zack hendak memeluk lagi.
"Cukup Zack aku butuh menenangkan diri."
Isabella hendak pergi namun dengan cepat Zack mendahuluinya dan mengunci pintu.
"Sebelum kau memaafkanku dan menyelesaikan masalah ini, kau akan tetap di sini, aku tidak akan mengijinkanmu pergi Isabella."
"Kau memaksaku Zack, kau selalu memaksa kan kehendakmu padaku!"
"Aku tidak akan tenang, aku tidak akan bisa tidur, aku tidak bisa konsentrasi, bahkan aku tidak akan bisa apapun jika masih mengetahui kau marah padaku."
"Jadi jangan pernah membohongiku Zack!"
"Aku mohon Isabella mengertilah."
"Apa selama ini aku tidak pernah mengerti dirimu!" Teriak Isabella kesal.
Zack menarik tangan Isabella untuk memeluknya, namun lagi-lagi Isabella hendak melepaskan diri.
"Aku tidak akan membiarkanmu pergi Isabella, sebelum kau memaafkan aku." Kata Zack memeluk paksa Isabella.
"Zack!" Teriak Isabella yang kesakitan karena Zack memaksa memeluknya.
"Kau berjanji padaku, kau akan melindungiku, aku tisal tahu apakah aku bisa bertahan di sana."
"Bukankah kau mendaftar melalui jalur umum?"
"Aku mendaftar melalui jalur beasiswa."
Zack seketika melihat Isabella, ia melepaskan pelukannya.
"Aku sudah mendonasikan semua kekayaanku untuk Panti Asuhan Mariana Montana. Yayasan berencana menggusur panti asuhan itu, seseorang ingin membangun mall di kawasan tersebut dan lahan yang paling di incar adalah panti asuhan itu. Mereka tidak memberikan konpensasi apapun pada Panti Asuhan karena semua uang yang di dapatkan masuk ke dalam Yayasan pemilik panti itu, dan kurang lebih 200 anak terancam terlancar, 50 pengasuh juga terancam tidak memiliki tempat tinggal, mereka semua tidak memiliki tempat tinggal, dengan semua warisan yang ku punya setidaknya akan cukup mencarikan mereka tempat tinggal dan memberikan mereka makanan serta pakaian yang layak." Isabella menangis menutup wajahnya.
Zack memeluk Isabella kembali.
"Kau juga merahasiakan ini padaku. Jadi sekarang kita impas. Kau bisa saja cukup bilang padaku dan aku akan membantu mereka. Cukup bilang padaku Isabella dan aku akan membantumu."
"Bagaimana bisa aku bilang padamu, sedangkan kau tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka."
"Membantu orang lain tidak perlu memiliki hubungan saudara atau apapun itu Isabella."
"Aku tidak mau melanjutkan ini, aku takut, Sezi dan yang lainnya akan kembali membalas dendam." Kata Isabella.
"Aku akan menjagamu, aku akan mengurus mereka jika mereka berani menganggumu." Kata Zack.
~bersambung~