
"Lalu apa kau mendapatkan apa yang kau impikan." Alexander bertanya dengan sedikit lesu.
"Tidak... Saat aku menurunkan barang-barangku, aku mendengar suara gaduh dari gang di sebelah, aku penasaran untuk melihatnya, dan aku melihat Billy melukai pria itu."
"Siapa Billy?"
"Dia adalah teman satu sekolah denganku, berulang kali dia mengangguku, aku tahu Billy sangat nakal, tapi aku tidak percaya saat itu Billy menusuk pria itu hingga mati." Tubuh Isabella mengigil.
Isabella menangis, tubuhnya mulai bergetar dan menggigil, tubuh mungil itu berguncang-guncang.
"Isabella..." Kata Alexander menyentuh tangan Isabella ingin menenangkan.
Melihat Isabell tidak merespon Alexander berdiri dan mengambil lilin berwarna putih lalu menyalakannya. Alexander mematikan lilin-lilin yang berwarna warni dan menggantinya dengan lilin berwarna putih di dekat Isabella.
Zack melihat tubuh Isabella bergetar pun mulai panik dan cemas.
"Apa yang terjadi..."
Alexander diam masih mencoba membangunkan Isabella.
"Apa yang terjadi dengan istriku!" Zack menarik kerah Alexander dan mencengkramnya.
"Biarkan aku membangunkannya, atau dia tidak akan pernah bisa bangun!" Teriak Alexander.
Zack melepaskannya dengan kasar.
Alexander mengambil rokoknya yang lain dan menyalakannya, ia menghirupkan sekuat mungkin, kemudian Alexander menangkupkan kedua tangan besarnya di wajah Isabella dan perlahan meniupkan asap itu di wajah serta hidung Isabella.
Terus seperti itu hingga akhirnya perlahan mata Isabella pun terbuka.
Alexander bernafas lega dan duduk di depan Isabella.
Zack melihat itu dan langsung memeluknya.
"Maafkan aku." Kata Zack memeluk Isabella.
Saat itu Isabella tidak mengerti apa yang terjadi, namun ia hanya merasa bahwa tubuhnya lelah, seperti berlari ribuan kilo.
"Aku lelah." Kata Isabella.
"Aku antar untuk tidur."
Zack hendak menggendong Isabella namun di tolak, Isabella ingin berjalan sendiri.
Setelah Zack mengantar Isabella ke kamar, dan kembali lagi ke ruang tamu, ia melihat gordyn sudah di buka kembali oleh Stark.
Zack melihat Alexander juga sedang mengemasi peralatannya untuk di masukkan ke dalam tas nya.
"Aku tidak akan melanjutkan terapi ini, kau boleh kembali ke Amerika." Kata Zack.
Alexander menghentikan tangannya yang memasukkan peralatannya ke dalam tas.
"Apa kau tahu arti dari keputusan itu."
"Isabella tersiksa dengan terapi mu!" Teriak Zack.
"Karena aku sedang membuka lukanya, dan ingatan yang paling besar mempengaruhi nya itulah yang membuat Isabell berada di sana." Kata Alexander.
"Aku akan mengirim uang ke rekening mu, hari ini juga silahkan pergi." Kata Zack.
"Tapi, bukankah Isabella kesakitan karena ada penyebabnya, aku hanya mendengarnya tapi bisa merasakan betapa sakitnya ia memikul luka itu, bukankah kau meninggalkannya, bagaimana bisa seorang pria bisa melakukan itu padanya. Benarkan Zack?"
"Bukan urusanmu."
"Baiklah, jika kau sudah membuat keputusan, tapi jangan pernah memanggilku kemari lagi jika sesuatu terjadi padanya, kau juga tahu Zack, yang sekarang berperan bukanlah Isabella asli, itu sifat yang di buat dari pencucian otak yang telah mereka lakukan pada Isabella, kau pasti juga tahu jika terus berlanjut Isabella akan kehilangan kewarasannya, ia akan gila, tidak bisa membedakan mana kenyataan, mana mimpi, dan ingatan masa lalu, semua akan menjadi berantakan, dan saat itu tiba jangan pernah menyesal dengan keputusan mu saat ini."
Alexander mengepak barangnya untuk pergi.
Zack keluar dengan membanting pintu.
Beberapa menit kemudian Alexander siap untuk menaiki helikopter, ia sudah menekan lift untuk naik ke atas atap mansion.
"Bawa barang-barangmu kembali, pelayan akan mengantarmu kemana kau harus tidur, kamarnya sudah siap." Kata Zack tiba-tiba yang sudah berada di belakang Alexander.
Alexander pun tersenyum, namun secepat mungkin ia menarik senyumannya.
"Keputusan yang tepat." Kata Alexander membalik tubuhnya pada Zack.
Seorang pelayan kemudian mengantar Alexander ke kamar yang akan dia gunakan, Alexander akan tinggal di mansion selama melakukan perawatan terapi pada Isabella.
"Katanya kau mencariku." Tanya Alexander.
Zack menyodorkan map berisi dokumen.
"Tanda tangani itu." Kata Zack.
Alexander mengambilnya dan membaca perlahan, ia tersenyum dan dengan enteng menandatangani itu.
"Apa kau puas?" Tanya Alexander.
"Kau boleh pergi."
"Tapi, selama terapi kau tidak boleh bersama kami."
"Kau!!!" Teriak Zack.
"Terakhir kali kau sangat menganggu konsentrasiku, itu membahayakan Isabella, aku tidak mau hal seperti itu terjadi lagi, jika kau tidak bisa mengendalikan perasaan dan emosi mu lebih baik jangan melihatnya, kau bisa mengawasi kami melalui CCTV."
Zack diam, dia memang tidak tahan melihat Isabella seperti itu, dan itu adalah rasa penyesalannya bahwa sebenarnya awal dari permasalahan ini adalah dari kesalahannya sendiri.
"Jika kau diam, aku anggap kau setuju." Kata Alexander.
Setelah kepergian Alexander, Zack hanya memandangi dokumen yang sudah Alexander tanda tangani. Dokumen itu bertulisakan tentang Alexander yang di larang untuk menggunakan perasaannya pada Isabella.
Sedangkan Alexander yang berjalan menuju kamarnya hanya tersenyum.
"Dia kira bisa membuatku menyerah hanya karena selembar kertas itu, hati siapa yang akan tahu, aku akan menyembuhkan Isabella, semakin sering nya kami bertemu dan dia tahu aku merawatnya, ia akan menyukai ku."
******
Beberapa hari berlalu, tugas Wyne sudah selesai dan kembali di gantikan oleh Stark lagi.
"Dimana istriku?" Tanya Zack.
"Sedang berjalan-jalan tuan, bersama Tuan Alexander."
Zack menghentikan penanya, seketika wajahnya menjadi suram.
"Akhir-akhir ini mereka sering berjalan-jalan, utus pengawal agar mereka tidak berduaan." Kata Zack.
"Setiap pengawal yang hendak menemani selalu di cegah dan di usir oleh tuan Alexander, katanya ini demi kebaikan Nona Isabella dalam terapi kesembuhannya. Tuan Alexander mengklaim bahwa pengawal dan orang yang tidak mengerti kondisi Nona akan semakin membuat Nona tidak nyaman."
Zack bersandar di kursinya, ia benar-benar merasakan kesibukannya membuat waktunya tersita apalagi setelah datangnya Alexander, seolah dokter itu sengaja menghalanginya bertemu dengan Isabella. Zack hanya bisa bertemu ketika malam tiba itupun Isabella sudah tidur dengan pulas.
Zack memilih berhenti bekerja. Setelah puas mencari, akhirnya Zack menemukan mereka ada di atas tebing pantai.
"Apa kau berniat mengajak istriku menguji adrenalin." Kata Zack bertanya santai.
"Zack.." Suara Isabella serak dan pelan.
Secepat mungkin Zack menarik tangan Isabella ke pelukannya.
"Bagaimana perkembangan terapi nya." Tanya Zack.
"Masih kurang memuaskan."
"Aku kira kau dokter ahli, ini sudah hampir seminggu."
"Seahli apapun mereka tidak dapat menyembuhkan kasus seperti ini dengan cepat."
"Hm... Aku cukup kecewa padamu, jika kau benar-benar tidak bisa seharusnya aku mengganti dokter lain."
"Zack, aku sudah lebih baik, beberapa hari aku sudah tidak mimpi buruk." Kata Isabella.
Alexander tersenyum, seolah kemenangan dari perdebatan ini berpihak padanya.
"Ayo kembali, hari akan malam." Kata Zack.
Di tengah perjalanan, tiba-tiba Isabella berhenti.
"Ada apa, apa kaki mu lelah? Aku akan menggendongmu." Kata Zack khawatir.
"Zack... Apa kau memberikan perjanjian yang melukai hati dokter Alexander?"
Zack melihat pada tatapan Isabella yang menunduk takut.
~bersambung~