
Isabella masih bimbang dan dilema, ia tidak ingin terlihat seperti mengambil keuntungan dari kekasihnya yang kaya raya.
Apalagi jika teman-temannya tahu, pasti akan memperburuk kabar tentang dirinya, dan mereka akan menyebarkan rumor yang tidak benar lagi. Isabella mencintai Zack apa adanya, dan ia tidak ingin terlihat seperti mengambil keuntungan dari perasaan Zack.
"Aku tidak mau orang mengira aku memanfaatkanmu Zack. Aku akan mengajukan asrama di Hill School."
"Isabella, pengajuan asrama tidak mudah, memerlukan waktu yang cukup lama juga. Lagipula aku tidak akan setuju jika kau tinggal di asrama."
"Kenapa?"
"Pokoknya aku tidak akan setuju, aku tidak akan memberitahumu alasannya."
"Kau tidak akan memberitahuku, aku akan tetap memilih ke asrama."
"Aku akan memberitahumu tapi jangan berfikir aku merendahkanmu Isabella, ini yang terjadi di sana."
Isabella mengangguk pelan.
"Asrama di bagi menjadi beberapa bagian, jika kau mau kamar privacy, kau harus membayarnya, atau kau akan memilih kamar yang di isi oleh 2 sampai 3 orang, dan kau tidak akan tahu siapa teman sekamarmu, jika kau beruntung kau bisa memdapatkan teman yang baik jika tidak. Kau tahu sendiri, kebanyakan yang tinggal di asrama dan yang menempati asrama adalah dari keluarga kaya yang berasal dari luar negeri. Kau sendiri tahu bagaimana sifat orang-orang kaya itu."
Isabella hanya diam dan masih kebingungan apakah ia tetap akan mengajukan asrama atau harus menerima tawaran Zack.
"Begini saja, berikan uang sewa itu padaku, setiap bulan kau mengirimkannya ke rekening ku. Anggap kau menyewa apartmenku."
"Tapi, aku tidak tahu berapa harga sewanya."
"Terserah kau akan membayarku berapa, atau kau bisa terapkan harga sewa yang akan kau berikan pada apartmen pilihanmu kemarin?"
Setelah Isabella mempertimbangkannya akhirnya gadis itu mengangguk oelan pertanda bahwa ia menyetujui.
"Baiklah, aku akan menerima tawaran ini." Kata Isabella tersenyum.
"Aku senang, dan bisa lebih tenang, sekarang kau harus istirahat, aku harus pulang karena ini sudah malam."
Zack kemudian menggendong Isabella menuju kamar dan membaringkannya di atas ranjang.
"Jangan tidur terlalu malam, aku akan menghubungi mu saat sudah sampai." Kata Zack mencium kening Isabella.
"Terimakasih Zack."
Kemudian Zack mencium bibir Isabella tanda ia berpamitan.
Setelah pergi dari apartmen, kini Zack sampai di apartmen miliknya yang ia tinggali bersama Evashya, Kate serta Edward sudah menunggunya.
Mereka duduk di sofa, Kate sedang meminum kopi hangatnya dengan cangkir Mug, di susul Zack yang ikut duduk di sofa pula dengan mereka.
"Aku ingin mengajak kalian ikut dengan kami, tapi ku rasa kau tidak akan mau dengan ide ini Zack. Bukan begitu?" Tanya Edward yang sudah bisa menebaknya.
"Aku harus mengurus sesuatu di sini paman, kecuali jika Evashya mau, aku tidak akan melarangnya."
"Tapi kurasa, Evashya pun juga masih ragu." Timpal Kate.
"Paman dan bibi Kate tenang saja, kalian tidak usah merasa bersalah, apapun pilihan kami semua itu adalah keputusan kami dengan mempertimbangkannya lebih dulu, dan kami juga selalu tahu kalian sangat menyayangi kami. Aku tidak akan egois meminta kalian untuk tinggal di sini selamanya, karena aku tahu perusahaan di sana butuh kalian."
"Kau sudah dewasa Zack, dan aku percaya kau bisa menjaga Evashya." Sahut Edward meremas bahu Zack.
Mereka mengobrol hingga malam, mengingat masa-masa dimana mereka masih berkumpul bersama.
Hingga malam yang penuh obrolan pun berganti dengan pagi dimana kini sinar matahari hangat telah memancar menerpa wajah dan tubuh mereka yang sedang berada di landasan pribadi.
Kate memeluk Evashya cukup lama. Kate bahkan menitikkan air matanya tidak dapat menahan rasa kesedihannya.
"Aku sangat berharap kau bisa ikut dengan kami Evashya." Kata Kate.
Kemudian Edward pun ikut memeluk Evashya.
"Hubungi kami Evashya, jika kau berubah pikiran." sahut Edward.
Evashya hanya tersenyum dan mengangguk.
"Jaga adikmu baik-baik Zack." Kata Edward mengingatkan.
"Aku akan selalu menjaganya."
"Sangat berat bagi kami meninggalkan kalian. Evashya... Kau benar-benar tidak akan ikut dengan kami?" Tanya Kate lagi seolah ingin mengubah pendirian Evashya.
"Yasudah, jika kau sudah memikirkan semua ini matang-matang, aku tahu kalian sudah semakin dewasa, hubungi kami lebih sering sayang." Kata Kate membelai kepala Evashya.
Kemudian Kate serta Erdward mulai menaiki tangga pesawat jet pribadi milik mereka sembari melambaikan tangan.
Setelah pintu pesawat di tutup, mesin mulai menderu dan sang pilot perlahan menerbangkan pesawat tersebut. Sedangkan Zack memeluk adiknya Evashya.
"Stark suruh pengawal membawa pulang Evashya."
"Zack, kau mau kemana?" Tanya Evashya.
"Ada urusan di perusahaan." Kata Zack.
"Baiklah."
Evashya kini menjadi gadis yang mulai menekan ego dan mulai menjadi adik yang pengertian, ia tidak ingin membuat ulah atau apapun yang menyebabkan kakaknya terlalu banyak pikiran.
Setelah sang pengawal mengantar Evashya pulang, Zack pergi bersama Stark.
"Apa agen yang kau tugaskan sudah bergerak?" Tanya Zack.
"Sudah tuan muda."
"Kita ke perusahaan dan jangan lupa beri perintah pada agen itu untuk berganti penampilan, dan datang ke perusahaan, melaporkan semuanya."
"Saya sudah memasang chip microfon tuan, dan tidak akan terlihat."
"Hm. Kerja bagus Stark."
Mobil melaju dengan cepat menuju perusahan Wickley Group. Zack sudah mulai bergerak untuk merebut kembali semua milik orang tuanya yang sekarang ada pada Emir Khan.
Setelah sampai di perusahaan Wickley, semua menunduk ketika Zack melewati para karyawan.
"Apa kau yakin tuan Zack bisa memimpin perusahaan? Sebelumnya perusahaan Wickley di urus oleh tuan Zafran, kau tahu, dan kita semua tahu tuan Zack masih berusia 17 tahun." Bisik salah satu karyawan.
"Ya, dia masih sangat muda, kau tahu manager kita yang sudah berumur tua saja masih belum bisa mengontrol emosinya." Timpal karyawan yang lain.
Zack mendengarnya, namun ia tetap berjalan menuju lift tanpa memperhatikan mereka, kini ia tahu bahwa perusahaannya mulai goyang, keadaannya sudah seperti air yang tenang namun di dalamnya justru sedang bergejolak dan menghanyutkan. Namun, Zack memilih diam dan masuk ke dalam lift.
"Saya akan memecat karyawan yang menggosip dan membicarakan anda tuan." Kata Stark.
"Tidak perlu, biarkan saja." Sahut Zack.
Mereka sampai di ruangan Zack yang luas dan mewah, ruangan kantor yang bahkan memiliki fasilitas lengkap.
"Apa agen itu sudah memberikan kabar?" Tanya Zack lagi.
"Sebentar lagi dia datang tuan."
Benar saja, setelah menunggu beberapa saat, pintu di ketuk dan sang agen perempuan yang di tugaskan oleh Stark pun datang.
"Selamat siang tuan Zack." Sahut wanita itu berjalan mendekati meja kerja milik Zack.
"Perkenalkan saya adalah Yivon, ini adalah rekaman percakapan kami." Kata Yivon meletakkan chip microfon di atas meja Zack.
Kemudian Zack memegangnya dengan ujung jari telunjuk dan ibu jarinya.
"Katakan apa saja yang kalian bahas."
"Seperti rencana kita tuan Zack. Saya menawarkan bangunan serta lahan yang sudah kita siapkan, lalu memberikan harganya pada Emir Khan, namun sesuai perkiraan kita pula, dia tidak berminat menginvestasikan uangnya pada perusahaan Lawrence."
"Buat satu perusahaan lagi Stark yang seolah milik orang Japan, nama Daichi mungkin cocok, lalu lakukan penawaran untuk lahan tersebut dengan harga tinggi. Daichi akan menawar lahan itu lebih tinggi dari harga yang Lawrence berikan pada Emir Khan. Buat seolah-olah Daichi sangat menginginkan lahan tersebut. Jangan lupa bayar media lokal yang tidak ada hubungan kerjasama dengan kita, rekrut orang untuk mengekspose berita ini dan jadikan berita tentang penawaran lahan itu menjadi berita yang besar." Kata Zack.
"Kita akan menjebak Emir Khan melalui perusahaan Daichi dan perusahaan Lawrence." Sahut Zack kembali.
"Baik tuan Zack."
"Jangan lupa cari agen orang Japan."
Zack kemudian menyimpan rekaman chip itu ke dalam saku jasnya.
"Baik tuan."
~bersambung~