REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 41 -



Alicia berjalan meninggalkan perpustakaan dengan menenteng tas nya, ia berjalan dengan cepat. Namun Billy terus saja mengejarnya, Alicia menjadi panik.


"Apa yang dia pikirkan, sialan." Kata Alicia mengumpat.


Hingga akhirnya Alicia sampai di depan gerbang dan hendak menyebrang namun terlambat, traffic light penyeberangan pejalan kaki sudah berubah warna menjadi merah, sialnya Alicia tidak bisa menghentikan langkahnya dan terburu-buru.


Tiiiinnn!


Suata klakson mobil memekakkan telinga, membuat Alicia melotot dan terkejut.


Dengan sigap Billy menarik tubuh Alicia dan mendekapnya dalam pelukannya.


Sang pengemudi kesusahan menginjak rem untuk berhenti setelah mobil berhenti ia mengeluarkan kepala dari jendela mobilnya kemudian menoleh dan mencaci pada Alicia lalu melanjutkan mobilnya.


Sedangkan Alicia masih merasakan syock dan terengah dalam nafas yang cepat, ia masih dalam pelukan Billy.


"Tidak apa-apa... Tidak apa-apa..." Kata Billy membelai rambut Alicia.


Kemudian dengan perlahan Alicia mendorong tubuh Billy.


"Kau menakutiku, aku berjalan dengan cepat ku pikir kau akan menjahatiku."


"Aku sudah katakan padamu, aku bukanlah Billy yang dulu. Aku sudah memutuskan untuk meninggalkan mereka, terlepas adikku masih bersama dengan mereka, aku janji sedikit demi sedikit aku akan memberitahunya." Kata Billy.


Alicia menarik nafasnya lagi dalam-dalam.


"Terimakasih Billy, aku harus pulang."


"Biar ku antar, tangan mu sangat dingin, kau masih syock." Kata Billy.


Alicia menurut dan kemudian mereka masuk ke dalam mobil milik Billy.


Mobil melaju dan memasuki kawasan jalan aspal kecil dimana taman terawat dengan baik, dan air-air sedang memancurkan ke rerumputan taman membuat sepanjang taman menjadi sejuk


Setelah itu mobil berhenti di lobby, Harry tahu dan keluar.


Alicia pun turun dan menemui Harry yang memasang wajah tidak senang.


"Dia menyelamatku, aku tidak hati-hati dan sebuah mobil hampir menabrakku." Kata Alicia menjelaskan agar kakaknya tidak marah.


"Maaf tapi Alicia gemetar dan aku mengantarnya pulang."


"Kau bisa menelfonku Alicia." Sanggah Harry.


"Aku tahu, tapi aku terlalu syock dan tidak bisa berfikir apapun." Kata Alicia.


"Baiklah, terima kasih Billy, aku berutang nyawa padamu."


"Tidak Harry, aku melakukannya karena dia memang pantas di lindungi." Kata Billy.


Alicia hanya diam dalam pelukan sang kakak dari samping. Tubuh Alicia masih sangat gemetar.


"Aku pamit." Kata Billy dan masuk ke dalam mobil kemudian menekan gas mobilnya.


"Kau pucat sekali." Kata Harry menangkupkan kedua telapak tangannya di wajah Alicia.


"Aku akan istirahat."


"Lihat lah ayah lebih dulu Alicia kondisinya semakin buruk, beberapa jam lalu nafasnya menipis dan jantungnya sempat berhenti." Kata Harry .


"Apa?!" Alicia terbelalak dan pergi berlari keruangan sang ayah.


Kemudian mereka masuk ke dalam kamar milik Arnold Benyamin dimana semua alat masih terpasang. Alat-alat yang begitu terlihat mengerikan.


Harry dan juga Alicia selalu berada di samping sang ayah memastikan perkembangan ayah mereka.


"Seandainya aku tahu dimana obat penawarnya, kau pasti akan sangat bahagia melihat Alicia sudah kembali pulang ayah." Kata Harry menitikkan air matanya.


Begitupun Alicia yang memegang tangan ayahnya.


"Bangunlah ayah, aku belum pernah merasakan kehangatan sosok ayah, apa kau akan menggendongku di bahumu seperti anak-anak perempuan lain yang di gendong di bahu ayah mereka, apa kau akan menemaniku bermain masak-masakan dan bermain kopi pagi dengan peralatan serba pink, apa kau mau menemaniku perang bantal dan boneka? Lalu aku ingin kita bermain make up, aku ingin mendadani wajahmu dan memakaikanmu gaun. Aku menginginkan itu semua aku mohon ayah bangunlah." Kata Alicia menangis.


"Tuan, kita harus melepaskan alat bantunya." Kata sang dokter.


Harry hanya diam dan acuh.


"Tidak!" Kata Alicia.


"Tapi..." Kata dokter itu hendak menjelaskan.


Tiba-tiba monitor berbunyi lagi dan ini sudah untuk yang kedua kalinya dalam satu hari, itu menandakan jika kehidupan Arnold Benyamin menghilang. Para dokter bergegas mengambil tindakan.


"Ayah!" Teriak Alicia.


Kemudian sang dokter datang dan hendak melakukan tindakan kembali.


Harry menarik tubuh Alicia sedikit menjauh dari ranjang sang ayah.


"Tidak ada denyut jantung!" Kata dokter.


"Ayah..." Kata Alicia lemah dan dalam pelukan sang kakak.


"Aku butuh epinephrine ( Injeksi Adrenalin ) !" Teriak sang dokter.


Kemudian sang perawat membawa beberapa suntikan yang sudah terisi dengan epinephrine pada Arnold Benyamin.


Alicia sesekali melihat dan kemudian menyembunyikan wajahnya di dada sang kakak sembari menangis dan mencengkram kemeja sang kakak, sedangkan Harry kedua matanya telah menggembung dengan air mata, sembari memeluk erat sang adik.


"Aku butuh defibrillator! Cepat!" Teriak sang dokter.


Kemudian perawat mengambil troli dimana ada defibrillator ( alat pacu jantung ).


"Menyuntikkan epinephrine!"Teriak sang perawat satunya sembari memberikan suntikan pada Arnold Benyamin.


"Tidak ada respon! Mulai mengompres!" Teriak sang dokter.


"Mana defibrillator nya!" Teriak dokter lagi pada para perawat dan sang perawat menyerahkannya.


"Kosong!" Kata Dokter.


Alicia melihat dan kembali bersembunyi di dada sang kakak.


"Tidak ada denyut jantung!"


Kemudian sang dokter mengarahkan alat pacu jantungnya lagi di dada Arnold Benyamin hingga tubuh pria itu tersentak ke atas.


"Tidak ada denyut jantung!"


"Kosong."


"Mengisi!" Kata sang dokter.


Kemudian alat itu di arahkan kembali ke dada Arnold.


"Tidak ada denyut jantung!"


"Kosong."


"Mengisi!" Kata dokter.


Dan tindakan itu terus menerus dilakukan hingga akhirnya tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan.


Cukup lama para dokter dan para sustee berusaha lebih kuat, namun akhirnya sang dokter menggelengkan kepala pada Harry.


Kemudian Alicia menjerit histeris dalam pelukan sang kakak.


"Ayaahh...!!!" Teriak Alicia.


Malam itu, suasana berkabung di mansion milik Benyamin, Alicia sudah memakai pakaian hitamnya. Sedangkan sang ayah berada dalam peti kaca yang mewah dimana bunga-bunga besar mengelilingi petinya.


Arnold Benyamin pergi tanpa bisa melihat sang anak perempuannya lebih dulu, tidak ada kesempatan sama sekali, harapan terakhirnya hanyalah ingin memeluk sang anak yang telah lama terpisah dengannya.


Isabella datang bersama Zack dan juga Evashya, mereka datang setelah mendapat kabar dari para relasi perusahaan.


Alicia menangis dalam pelukan Isabella, dan tidak tahu harus bagaimana, ini kali ke dua ia kehilangan orang yang paling ia sayang dalam hidupnya.


"Kenapa Tuhan begitu kejam, merenggut semua orang yang ku sayangi." Kata Alicia.


Sedangkan Isabella hanya bisa memberikan dukungan dengan mengelus punggung Alicia.


"Mereka sudah damai dan tenang, kau menyayangi mereka dan mereka tahu." Kata Isabella.


Tak berapa lama Billy serta Milly pun hadir mewakili orang tuanya yang sedang berada di luar negeri karena urusan bisnis.


Milly hanya duduk membaur dengan para relasi perusahaan yang lain setelah mereka memberikan ucapan duka pada Alicia.


Tak terlihat dimana Harry, dia adalah orang yang paling terpukul, karena dari awal dialah yang merawat sang ayah.


Awalnya sang ayah masih sadar meski hanya satu doa kosa kata di ucapkan namun pada akhirnya racun itu menyerang seluruh tubuh dan syaraf sang ayah bahkan melumpuhkan otaknya.


Permintaan sang ayah pada Harry hanya satu, mencari saudara kembarnya dan melindunginya, mereka harus saling menjaga dan menyayangi serta saling melindungi.


Dan harapan itu kini sudah terwujud tanpa Arnold bisa memiliki kesempatan untuk bertemu dengan sang anak perempuan.


~bersambung~