
Tak berapa lama ponsel Stark bergetar.
"Ya tuan."
"Kirimkan semua dokumen sekarang, sebentar lagi aku akan melakukan panggilan video dengan para investor."
"Baik tuan."
Setelah ponsel di tutup Stark kemudian membawa Wyne pergi.
"Tu... Tuan kita mau kemana?"
"Kau harus mengantarkan dokumen-dokumen dan proposal pada tuan Zack."
"Tapi, saya harus berganti pakaian dulu." Kata Wyne panik.
"Tidak ada waktu, tuan Zack sudah memberi perintah." Kata Stark.
Mobil melaju dengan cepat menuju perusahaan. Setelah sampai Stark memberikan perintah pada Wyne agar mempersingkat waktu.
"Kau naik sendiri ke atas atap, sudah ada helikopter di sana, aku akan memeriksa dokumen dan mengumpulkan dokumen yang masih di ruangan manager." Kata Stark.
Stark kemudian memanggil para manager dan mereka memberikan beberapa dokumen yang harus di tanda tangani Zack, dan beberapa proposal yang harus di bahas dengan para investor.
Kurang lebih ada 11 dokumen dan proposal, Stark membawa nya naik ke atap dan menyerahkan pada Wyne.
"Naiklah." Kata Stark.
Helikopter kemudian siap terbang.
"Anda tidak ikut?" Tanya Wyne.
"Aku ada urusan lain, dan harus cepat menyelesaikannya."
Stark memegang tangan Wyne yang selembut sutra. Saat Wyne naik dan sudah duduk di dalam helikopter, Stark mengikuti nalurinya sebagai pria, ia mencium punggung tangan Wyne.
Perlakuan itu membuat Wyne terkejut, matanya membulat, wajahnya merah.
Begitu pula Stark, ia tidak menyangka pengendalian dirinya yang begitu kuat tiba-tiba rontok dan tanpa sadar melakukan hal semacam itu pada Wyne.
"Ah... Maafkan aku."
Belum sempat Wyne menjawab, Stark sudah menutup pintu helikopter dan memberikan kode pada pilot untuk terbang.
Stark setengah berlari untuk menjauh dan membiarkan helikopter terbang menuju pulau hantu.
Setelah helikopter menghilang, Stark memanggil para bawahannya.
"Kita harus pergi memancing, siapkan peralatan nya." Kata Stark memberikan perintah.
"Baik tuan."
******
Helikopter mendarat sempurna di atas atap mansion yang berdiri kokoh di pulau hantu.
Wyne takjub melihat betapa megah dan hebatnya mansion yang di bangun, dengan pelan dan perlahan Wyne turun dari helikopter, karena saat itu gaunnya sedikit ketat dan ia memakai heels.
Wyne berjalan masuk dan turun menggunakan lift.
Banyak pelayan berseliweran, ada yang sedang membersihkan lukisan, atau menyapu. Ketika ia hendak bertanya pada salah satu pelayan, pandangan matanya tertuju pada wanita yang cantik.
Wanita cantik itu berjalan menyusuri koridor dan sedang membawa cangkir, mungkin berisi teh atau kopi.
Itu adalah Isabella, ia juga sedang sibuk dengan pikirannya karena melihat ada wanita masuk ke dalam mansion dengan memakai gaun seksi, Isabella pun mengeryitkan dahi, bagaimana bisa seorang wanita yang membawa dokumen tampil dengan gaun yang seksi.
"Hai, aku mencari ruangan tuan Zack, aku harus memberikan semua dokumen ini." Tanya Wyne.
Isabella terhenyak melihat wanita itu bertanya dengannya secara lugas dan tanpa basa basi.
"Aku mau ke sana, kau bisa ikut bersamaku." Kata Isabella tenang.
"Baiklah, terimakasih banyak jika tidak merepotkanmu." Wyne berjalan di belakang Isabella.
"Untuk apa repot, aku hanya menunjukkan jalannya."
"Kau seperti tour guide saja, menunjukkan jalannya." Wyne tertawa, ia ingin mencairkan suasana yang sedikit canggung.
Isabella hanya melirik sekilas, Wyne memang masih muda, ceria dan juga terlihat lugu.
"Jika itu menyenangkan untukmu, kau bisa menganggapku sebagai tour guide mu, karena mansion ini memang begitu besar." Kata Isabella dingin.
"Iya benar, aku sekretarisnya tuan zack." Kata Wyne tersenyum lebar.
"Lalu kau? Apa kau sekretaris pribadi Tuan Zack, melihatmu mengantar teh dan berada di mansion ini melayani tuan Zack." Tanya Wyne.
"Jika aku terlihat seperti itu kau bisa mengiranya seperti itu." Jawab Isabella dingin.
"Sepertinya kau kesulitan membawa cangkir itu, bagaimana jika ku bawakan saja, karena teh nya tumpah-tumpah." Kata Wyne.
"Kau membawa banyak dokumen." Sahut Isabella.
"Tidak apa... Aku masih bisa menggunakan tanganku yang sa..."
"Kita sampai." Potong Isabella.
Isabella membuka pintu ruangan kerja milik Zack, berkali-kali Wyne di buat kaget dan terpana dengan segala bangunan yang ada di dalam mansion.
Ruang kerja Zack begitu besar, dan memiliki rak-rak yang terisi penuh dengan buku hingga rak-rak besar itu menjulang tinggi.
"Ini lebih mirip dengan perpustakaan." Kata Wyne lirih.
Saat itu Zack sedang melakukan panggilan video, ia rapat bersama para manager dan investor.
Isabella menaruh cangkir bersama lepeknya di atas meja dengan kasar menimbulkan bunyi "Klak" yang cukup keras dan tentu saja teh itu tumpah di atas meja hingga tersisa setengah.
Zack menelan ludahnya, ia melihat tumpahan teh tercecer di atas mejanya, ia tahu istrinya marah.
"Rapat hari ini selesai, saya akan mempertimbangkan segala pembahasan hari ini." Kata Zack dan mematikan komputernya.
Zack kemudian melihat Wyne yang datang dengan gaun seksi, kini ia tahu akar permasalahannya kenapa istrinya marah, dan mereka masuk secara bersamaan.
Zack memijat pelipisnya, dan menyandarkan punggungnya.
"Aku pasti akan membunuhmu Stark."
"Tuan, maaf saya terlambat."
"Sangat terlambat." Kata Zack dingin dan tanpa melihat pada Wyne.
Wyne menyerahkan tumpukan dokumen itu ke atas meja, namun ia melihat bagaimana teh itu tumpah dan mengotori meja milik Zack.
"Astaga, bagaimana bisa seperti itu." Kata Wyne membelalak.
Isabella yang sedang menyedekapkan tangannya di depan dadanya, melihat santai pada Wyne sembari mengangkat sebelah alisnya.
"Meski kau sudah memiliki jabatan sebagai sekretaris pribadi tuan Zack dan mengurus segala keperluan dan kebutuhan tuan Zack secara pribadi, tapi kau tidak boleh seperti ini." Wyne meraih beberapa tisu yang ada di atas meja dan mendorong Isabella dengan tubuhnya.
"Akan saya bersihkan tuan." Sahut Wyne lagi sembari mengelap meja.
Zack melirik pada Isabella, ia bisa melihat kobaran api yang besar di tubuh Isabella, dan pasti kobaran api itu bisa membuat mansionnya terbakar.
"Hei nona, aku sudah merasa sejak awal kau melihatku, kau tidak senang denganku, kau sangat cemburu denganku kan, tapi mari kita bersikap profesional. Aku banyak mendengar tidak sedikit sekretaris pribadi yang akan menjadi kekasih presdir, tapi Tuan Zack tidak akan menyukaimu jika dengan attitude mu yang seperti itu." Kata Wyne.
"Lalu, apa dia akan menyukaimu?" Tanya Isabella dingin.
Pertanyaan Isabella terang saja membuat Wyne memiliki rona merah di wajahnya.
"Apa, i i tu juga tidak akan terjadi." Kata Wyne melirik pada Zack.
Isabella tersenyum dingin tak percaya bahwa sekretaris ini jelas menyimpan rasa pada Zack, entah itu rasa cinta atau rasa kagum semata.
"Apa teh nya juga membasahi anda tuan?" Wyne melihat ke arah celana Zack, ia ingin mengalihkan pembicaraan yang canggung itu.
Namun pertanyaan Wyne justru membuat suasana semakin canggung dan semakin menimbulkan kesalah pahaman yang pasti akan lebih panjang.
Isabella menoleh sembari membelalak karena terkejut.
Buru-buru Zack berdiri dan menjauh dari Wyne.
"Kau bisa pergi Gwen." Perintah Zack.
"Nama saya Wyne tuan, Wyne... W-Y-N-E, bukan Gwen." Kata Wyne melafalkan namanya dengan jelas dan hati-hati.
Karena merasa jengah Isabella pergi meninggalkan ruangan kerja milik Zack dengan geram, ia membuka pintu dan menutup pintu dengan kasar.
BRAK!!!
Kedua bahu Zack melonjat secara bersamaan karena terkejut.
~bersambung~