
Isabella masih mencari-cari namanya, sedangkan Zack sudah mendapatkan di mana ia duduk dan di bus berapa.
"Apa sudah ketemu?" Tanya Zack.
"Ah... Sebentar." Kata Isabella.
"Biar ku bantu cari." Kata Zack dan membuka kembali ponselnya.
"Ah, sudah, sudah ketemu, bus 3..." Kata Isabella melihat ke arah Zack.
"Ayo." Ajak Zack.
"Zack... Tapi, kau bus berapa?" Tanya Isabella yang terkejut karena tangannya di gandeng dengan cepat di depan semua siswa.
"Sama dengan mu."
Kemudian mereka masuk ke dalam bus bernomor 3, melihat nomor-nomor kursi. Bus itu mewah dengan kapasitas 31 Seat. Memiliki banyak fasilitas.
Zack melihat nomor kursinya dan ternyata ia duduk dengan Sezi, dimana Sezi sudah duduk santai dan asik dengan ponselnya.
Sedangkan Isabella duduk sejajar dengan kursi Zack, Isabella menaruh tas nya di bagasi tepat di atas kursinya dan duduk di dekat jendela.
Sedangkan Zack masih berdiri memandangi Isabella yang tersenyum cukup terpaksa.
"Apa kau hanya akan berdiri di sana?" Tanya Harry.
Zack kemudian duduk berbarengan dengan Harry yang juga duduk di samping Isabella.
Zack tahu, tempat duduk - tempat duduk ini pasti ada campur tangan dari mereka. Harry sebagai ketua dan Sezi sebagai wakilnya, mengapa mereka justru duduk terpisah.
Dalam keheningan masing-masing dan pikiran kepala masing-masing, kecuali Sezi yang terus saja tersenyum dan menggoda Zack, bus akhirnya perlahan berangkat untuk menuju tempat pertama yaitu Giant Corp dan tempat perkemahan yang sudah di sediakan oleh Giant Corp.
Para siswa akan mempelajari pondasi bisnis perusahaan kimia tersebut.
Perjalanan cukup panjang, di tengah perjalanan Mrs.Frawn pun mengajak para siswa untuk bernyanyi sembari menyalakan musik.
Zack masih sering melihat Isabella, dan mengawasi Harry.
"Apa kau tidak bisa tenang dengan matamu." Kata Harry.
"Tentu saja tidak."
"Aku tidak akan memakan pacarmu di sini."
"Bahkan jika itu di luar aku akan membunuhmu " Sahut Zack.
Harry kemudian menutup wajahnya dengan menggunakan jaket dan memilih untuk tidur.
Terlihat Isabella juga menyandarkan kepalanya di jendela melihat jalanan yang sudah memasuki wilayah bukit.
Meski lahan perkemahan juga di miliki Giant Corp namun letak perkemahan dengan perusahan Giant cukup jauh.
Dan kini bus sudah memasuki tempat parkir, semua siswa sudah turun dan membawa barang-barang mereka. Koper, tas dan segala macam makanan selama 2 hari.
Para guru pun juga membagi murid menjadi beberapa kelompok untuk mendirikan tenda. Isabella mendapat kelompok dengan teman-teman dari kelas lain, membuat Isabella bernafas lega, karena tidak satu tenda dengan para siswa yang selalu membully nya.
"Ayo semuanya... Kalian harus cepat mendirikan tenda, sebelum makan siang siap." Teriak Mr.Jacob.
Cukup lama para siswi perempuan mendirikan tenda dan selalu gagal sehingga harus di bantu oleh para murid pria.
"Ingatlah, anggap kalian hidup tanpa apapun di sini, jadi kalian harus saling membantu dan bekerja sama." Teriak Mr.Jacob lagi menggunakan pengeras.
Zack yang sudah selesai dengan urusan tendanya datang membantu Isabella, membuat teman-teman yang sekelompok dengan Isabella tersipu malu dan terkesima.
"Nanti malam ikut aku ke bukit." Kata Zack.
"Apa boleh?" Bisik Isabella.
"Boleh asal kita kembali sebelum waktu tidur." Kata Zack.
Isabella tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
"Apa sudah selesai?! Yang belum selesai kalian tidak akan dapat jatah makan siang." Kata Mr.Jacob tertawa.
Semua siswi perempuan memprotes dan saling berteriak karena sebagian dari mereka belum selesai dengan urusan tenda, Billy serta Gery sedang membantu tenda Sezi, Fay dan Milly.
Makan siang sudah siap, Mrs.Frawn sudah memasak dengan di bantu oleh beberapa pendamping atau penjaga yang ada di perkemahan.
Semua berbaris rapi dengan membawa alat makan milik masing-masing dan memgambil makan siang.
Isabella duduk bersama Zack, mereka makan bersama sembari tertawa dan mengobrol.
Billy melihat itu dan mengambil sendok yang Sezi lemparkan.
"Apa yang menarik dari dia?" Tanya Billy.
"Aku sudah menyukai nya sejak pertama masuk di sekolah, aku berusaha keras agar bisa masuk kelas akselerasi dan masuk kelas bisnis hanya agar bisa dekat dengannya. Menurut ku Zack itu tampan dan juga seksi."
"Seksi?" Tanya Billy.
"Ya, seksi, bahkan suaranya juga seksi. Kau tahu maksudku? Seksi bukan dalam arti seksi seperti itu, kau tahu. Seperti berkharisma dan memiliki daya tarik yang luar biasa."
"Apa kau akan terus mengejarnya?" Tanya Billy lagi.
Sejenak Sezi hanya diam saja.
"Keluargaku bahkan sangat mendukungku dan sedang mengatur rencana untuk bertemu dengan Zack, mereka akan menjalin kerjasama dengan Zack dan mempererat hubungan."
"Caranya?"
"Pernikahan." Kata Sezi dengan menyeringai.
"Zack tak akan mau." Billy mulai tidak nyaman.
"Dia harus mau, perusahaannya dan keluarganya bangkrut."
"Dia tidak sebangkrut yang ada di pikiran orang Sezi. Dia hanya kehilangan perusahaan raksasa milik ayahnya dan beberepa aset, sisanya masih ada pada Zack, entah apa yang membuat ayah Zack sebelum meninggal justru mewariskan hartanya pada orang lain."
Sezi tidak mengerti dan meminta penjelasan melalui alisnya yang terangkat.
"Zack memang terlihat bangkrut, tapi dia masih seorang yang lebih kaya dari pada kita, itu yang aku dengar dari ayahku saat dia sedang berbicara dengan ibuku, dan itulah mengapa keluargaku tetap di zona netral tidak mendukung dan tidak menghindar saat rapat pemegang saham di perusahaan Volkofrich."
Sezi mengigit bibir bawahnya kecil-kecil seolah sedang berfikir, apakah ia harus memberitahukan masalah ini pada orang tuanya atau tidak.
"Lebih baik kau melihat seseorang yang tidak pernah kau lihat namun ia sangat peduli padamu." Kata Billy.
Namun Sezi tidak benar-benar memperhatikan kalimat Billy. Sezi hanya terus memandang Zack yang asik mengobrol dengan Isabella.
"Hey!!!" Sapa Fay dan juga Milly kemudian.
"Hey..." Sahut Sezi.
"Aku harus pergi." Kata Billy kemudian.
Setelah Billy pergi Fay pun berbicara pada Sezi bahwa baru saja Gery memberikan sebuah ide untuknya.
"Kapan?" Tanya Sezi.
"Malam ini." Sahut Fay.
"Besok kita akan berangkat ke perusahaan Giant, ku pikir nanti malam adalah waktu yang tepat." Kata Milly.
Mereka bertiga saling menepuk tangan toss, dan tersenyum.
Harry yang tidak sengaja melihat seringai 3 serangkai pun merasa aneh dan curiga namun Harry hanya diam memperhatikan tanpa sepakah kata.
Di ujung yang lain, Zack sedang memberikan kisi-kisi ujian perguruan tinggi pada Isabella melalui ponselnya.
"Apa semua ini akan keluar?" Tanya Isabella sembari membaca soal-soal tersebut.
"Hm... Aku yakin." Kata Zack sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.
Tanpa sengaja Isabella menggeser panel yang salah dan muncul beberapa foto-foto miliknya.
Zack melirik dan melihat Isabella sedang melihat galery foto.
"Hey...!" Kata Zack hendak meraih.
"Sebentar... Sebentar." Kata Isabella tertawa dan menjauhkan ponselnya.
"Kau penguntit, banyak sekali foto-foto ku." Kata Isabella tertawa.
Kali ini Zack tidak dapat mengambil alasan apapun karena memang diam-diam ia memotret Isabella.
"Astaga bahkan saat aku sedang tidur." Kata Isabella menutup mulutnya.
Zack dengan cepat mengambil ponselnya dan menaruh di sakunya, kemudian pergi untuk mencuci peralatan makannya.
Isabella tersenyum hingga menggigit bibir bawahnya, tak percaya diam-diam Zack memiliki sisi yang lembut dan romantis.
~bersambung~