
Mobil Zack berjalan menyusuri jalanan malam yang cukup lengang namun rasa cinta Zack pada Isabella ternyata jauh lebih besar daripada yang Zack pikirkan, cinta yang ia rasakan membuatnya menjadi buta dan tidak ingin kehilangan Isabella.
Sebagaimana pun nantinya Isabella akan melukai hatinya ia akan terima, sebagaimanapun nantinya Isabella hanya akan memanfaatkannya ia pun tetap akan terima asal Zack tetap bisa melihat dan menyentuh wajah Isabella.
"Putar balik Stark ke apartmen Isabella." Perintah Zack.
"Baik Tuan."
Sang sopir pun memutar balik mobilnya dan menuju ke apartmen Isabella kembali.
Kemudian Zack naik ke apartmen Isabella, namun apartmen itu masih gelap.
"Kenapa tidak menyalakan lampu." Kata Zack.
"Isabella?"
"Isabella?"
Zack berulang kali memanggil Isabella, bahkan kamar pun masih gelap, namun pintu kamar mandi terbuka dan lampu menyala begitu terang hingga sinarnya menyorot.
"Isabella apa kau sedang mandi?" Kata Zack lagi.
"Aku minta maaf dengan perkataan ku tadi, aku sangat mencintaimu dan aku sangat menyesal, mari kita bicara dengan kepala dingin, aku tidak mau kita putus."
Namun Isabella hanya diam, Zack makin penasaran kenapa Isabella diam dan hanya terdengar gemericik air.
Dengan pelan dan ragu Zack berjalan menuju kamar mandi, tepat di depan mata Zack Isabella terbaring tangannya menggantung di bathup.
Pemandangan yang begitu mengerikan kembali menyerang ingatan Zack seperti ketika kedua orang tua nya bersimpah darah.
Berbeda dengan yang sekarang, Isabella terbaring di bathup kamar mandi dan hampir tenggelam dengan air yang mengalir hingga membanjiri lantai.
"Isabella!!!"
Zack berteriak dan kemudian berlari menghampiri Isabella yang tubuhnya sudah terkulai.
"Isabella... Apa yang telah kau lakukan!!!" Teriak Zack sembari memeluk tubuh kekasihnya.
"Apa yang kau lakukan!!!"
Kemudian Zack meraih botol obat dan membacanya.
"Stark!!!"
"Stark!!!"
Teriak Zack, suara nya menggema dan menggelegar penuh emosi, Zack kemudian mengangkat dan menggendong tubuh Isabella yang masih memakai seragam, matanya telah menutup rapat dan sangat lemah.
Tak berapa lama Stark datang dengan berlari melihat Zack yang sudah basah sembari menggendong Isabella, Stark pun tanggap dan mengarahkan para pengawal untuk bersiap menuju rumah sakit sembari menghubungi dokter Leizya.
Mobil pun melaju dengan cepat dan sampai di rumah sakit, Zack ikut mendorong Isabella yang sudah terbaring di ranjang pasien, dimana dokter Leizya juga sudah standby di di depan rumah sakit sesaat sebelum Zack datang.
"Ada apa ini!" Tanya dokter Leizya panik.
"Kurasa Isabella meminum satu botol pil acetaminophen!" Sahut Zack rahangnya menggigil karena ketakutan, kejadian yang menimpanya seolah adalah dejavu baginya.
"Apa!!! Dia meminum 1 botol obat nyeri!!!" Kata Dokter Leizya terkejut.
Mereka masih mendorong ranjang pasien dibantu oleh Stark dan beberapa perawat serta dokter yang lain.
"Baiklah gadis berusia 17 tahun overdosis acetaminophen 750mg dan denyut jantungnya lemah sekali." Sahut salah satu dokter yang lain.
Pintu ICU pun di buka oleh para perawat, sembari para dokter dan perawat mendorong Isabella masuk ke dalam ICU, Zack kemudian menarik kalung milik Isabella hingga terputus.
Kemudian pintu pun di tutup dan lampu emergency menyala.
"Oke. Kita tangani dia pasang monitor dan selang nya kita harus menguras lambungnya lebih dulu!" Sahut Dokter Leizya.
"Lakukan EKG, cek darahnya, dan cek hatinya!" Teriak Dokter Leizya.
Sedangkan di luar ruangan Zack merangkup kepalanya dan menarik nafas bahkan air matanya hendak menetes.
"Jangan Kau ambil dia, hanya dia yang memberiku kehidupan Tuhan." Kata Zack berdoa.
Setelah beberapa saat Zack pun duduk dan menunggu di kursinya, namun kemudian pandangan Zack memperhatikan kalung yang ada di tangannya, ia sempat melupakannya dan hanya terus menggenggamnya dalam hening dan dalam diamnya.
Zack masih melihat ada sesuatu yang aneh dengan kalung itu.
"Stark bongkar kalungnya ada sesuatu di dalamnya." Kata Zack menyerahkan pada Stark.
"Baik tuan."
Stark pun pergi untuk memeriksa kalung tersebut.
Butuh waktu beberapa jam Isabella dalam penanganan dan akhirnya sudah di pindahkan di ruangan VVIP dengan beberapa alat dan selang terpasang di tubuh Isabella.
Kemudian Zack masuk ke dalam ruangan mendekati Isabella dan meraih tangan lemah itu, dengan selembut mungkin Zack menciumnya.
"Maafkan aku." Sahut Zack.
"Dia mengalami hipoksia, karena kekurangan oksigen." Kata Dokter Leizya pelan hampir berbisik.
"Kita hanya tinggal menunggu, dan para dokter akan melakukan tes neurologis."
"Apa Isabella merasakan sakit?" Tanya Zack sembari membenarkan rambut Isabella dengan selembut mungkin.
Tangan Zack gemetar saat kulit Isabella begitu dingin saat ia sentuh.
"Kulitnya dingin." Kata Zack.
"Kau bisa terus bicara padanya Zack, dan menggenggam tangannya."
"Apa dia mendengarnya?"
"Ya, dia mendengarnya, yang harus kau lakukan sekarang adalah pastikan bahwa dia ingin hidup, kau harus meyakinkan dia agar mau berjuang untuk hidup, kau harus menguatkan mentalnya." Kata Dokter Leizya.
Zack hampir putus asa melihat Isabella yang tak berdaya dan tanpa senyuman bahkan kulitnya menjadi dingin.
"Maafkan aku Isabella, maafkan aku." Sahut Zack.
"Berapa lama dia akan seperti ini?" Tanya Zack lagi.
"Kita tidak bisa pastikan itu juga tergantung dari seberapa besar harapannya ingin hidup, seberapa besar juga ia berjuang untuk hidup, Tapi seharusnya ia sadar lebih cepat." Kata Dokter Leizya.
Tak berapa lama Stark pun datang.
Kemudian Dokter Leizya berpamitan pergi.
"Kalung itu memiliki kamera." Stark menyerahkan tablet nya pada Zack.
Tablet itu sudah terbuka dimana sebuah video terpampang di layarnya, dengan gerakan pelan Zack kemudian menekan tanda play.
"Apa ini berfungsi?" Tanya Isyana.
"Ya, sangat berfungsi. Aku juga pakai, tadinya ingin ku berikan padamu, lihat aku juga pakai kan dan lihatlah semua video akan tersambung dengan laptopku, ini adalah video-video milikku."
"Apa langsung tersambung? Apa kau tidak bisa langsung menyambungkannya ke ponselmu, agar saat Isabella di ganggu oleh jalangg-jalangg itu kau bisa langsung menolongnya?"
"Bisa saja langsung ku sambungkan ke ponselku, tapi apa Isabella tidak akan marah?" Tanya Harry.
"Ku mohon, aku ingin Isabella aman, kau tidak tahu kan, bahkan hari ini mereka membekap Isabella hingga wajahnya masuk ke dalam wastafel berisi penuh dengan air. Aku menangis mendengar dia bercerita, belum lagi ancaman-ancaman yang selalu di kirim ke ponsel Isabella, dan itu terus menerus, bahkan ke surel milik Isabella."
"Aku akan membalas mereka, dan menghancurkan keluarga mereka, membuat mereka bangkrut." Sahut Harry.
"Tidak Harry, kata Isabella itu tidak akan menyelesaikan masalah dan pasti hanya akan memperburuk keadaan, memperburuk perundungan mereka pada Isabella, jika Isabella mengadu pada orang lain. Aku hanya ingin kau menolong Isabella seolah itu adalah suatu kebetulan saja."
"Tapi mereka sudah keterlaluan Alicia!"
"Aku mohon Harry."
Harry masih berfikir dan terdiam.
"Baiklah aku hanya akan menolongnya seolah itu hanya sebuah kebetulan aku memergoki mereka sedang merundung Isabella, lalu apakah Isabella akan mau memakainya?" Tanya Harry.
~bersambung~