
Dengan perlahan Zack menarik tubuh Evahsya, yang sedang menangis dan terguncang.
"Kenapa kau tidak mengkonfirmasi pada Stark atau padaku." Tanya Zack.
"Aku berulang kali mencoba menelfonmu dan juga Stark namun selalu tidak bisa." Kata Evashya menangis di pelukan kakaknya.
"Maafkan aku Evahsya, karena telah membentakmu, aku sangat menyesal, semata-mata hanya karena aku sangat khawatir padamu, bagaimana bisa kau menemui Emir Khan sendirian, tapi syukurlah dia tidak menyakitimu." Kata Zack memeluk adiknya begitu erat.
"Berikan ponselmu, kurasa ada orang lain lagi yang menyabotase ponselmu."
Kemudian Evahsya menghapus air mata dan berjalan keluar dari ruang ganti di ikuti oleh Zack.
Evashya memberikan ponselnya pada sang kakak, ponsel iphone dengan cassing pink dan gantungan disney land edisi terbatas.
"Aku akan memeriksanya, berapa pin nya?"
"Tanggal ulang tahun pernikahan Daddy dan Mommy." Kata Evashya menangis.
Mata Zack memerah mendengar adiknya mengatakan tanggal pernikahan kedua orang tua mereka.
Zack kemudian mencium punuk kepala Evashya dan pergi menemui Stark, yang masih setia menunggu dan berdiri di ruang tengah.
"Stark periksa ponselnya, kode pin tanggal pernikahan ayah dan ibu. Sepertinya ada orang lain lagi yang menyabotase ponsel milik Evashya."
"Baik tuan." Kemudian Stark pergi menuju markas dimana para pengawal bekerja.
Zack duduk di ruang pribadi miliknya, lebih tepat di sebut kantor atau semacamnya.
Sebentar lagi ulang tahun nya yang ke 18, ia tidak menginginkan kado apapun meski itu adalah kado termahal sedunia, yang ia mau hanyalah keluarganya damai, terbebas dari para penjahat yang menggangu ketenangan mereka.
****
Isabella melangkahkan kaki jenjangnya dengan menenteng tas di bahu serta rambut yang tergerai.
Saat melewati lorong seseorang menarik tasnya, membuat Isabella terkejut dan ingin berteriak. Isabella di tarik masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup gelap.
Isabella hendak berteriak, Namun sebuah tangan kekar dengan cepat menutup mulutnya, wangi parfum di tangan pria itu menyeruak di hidung Isabella.
"Ini aku Isabella." Kata Zack berbisik.
"Kau mengagetkanku!" Pekik Isabella.
"Sst..." Peringat Zack dengan telunjuknya.
"Ada apa Zack?"
Kemudian Zack mencium bibir Isabella, hingga mendorong Isabella di dinding san menekan tubuh Isabella, Zack menyesap bibir mungil Isabella dan lidahnya menerobos masuk.
"Hmb!" Pekik Isabella yang bersandar di dinding karena kehabisan nafas.
Kedua tangan Isabella memukul pelan bahu Zack.
Kemudian Zack melepaskan ciumannya.
"Aku sangat merindukannmu." Bisik Zack di telinga Isabella kemudian menggigitnya pelan.
"Zack... Ini di sekolah."
"Ya, aku tahu. Jika bukan di sekolah apa kau mau melakukan sesuatu yang lebih menyenangkan?" Tanya Zack.
"Jangan mulai lagi Zack, aku tidak mau melakukan itu."
Zack kemudian mengecup lagi bibir Isabella hingga menimbulkan bunyi, menyesap dan melepaskan bibir itu.
Kemudian Zack menyeringaikan senyumannya.
"Apa yang ada di otakmu?" Bisik Zack dan mengecup leher Isabella.
"Aku mengajakmu untuk berkuda." Sambung Zack lagi dengan tersenyum dan pergi meninggalkan Isabella untuk masuk ke dalam kelas.
"Astaga." Desahh Isabella dan menutup wajahnya yang merah karena malu.
Kemudian Isabella berlari keluar dari tempat persembunyian namun ia tidak sengaja menabrak Harry.
BUGH!
"Awas!" Harry menangkap tubuh Isabella sebelum gadis itu terjatuh.
"Dan lagi, kau lari ke pelukanku." Kata Harry menyeringai.
"Ma maafkan aku..." Kata Isabella berdiri dan merapikan seragamnya lalu masuk ke dalam kelas.
Tak berapa lama Mr.Jacob datang dengan seorang siswi baru.
"Perkenalkan dirimu." Kata Mr.Jacob.
Isabella yang saat itu sedang menunduk mengerjakan sesuatu, kemudian mendongak dan melihat ada seorang siswi baru yang membuatnya terkejut tak percaya.
"Saya Alicia Benyamin senang ada di kelas ini." Sapa Alicia.
Isabella tersenyum bahagia melihat sahabatnya ada di kelas yang sama.
"Tambah satu jalangg lagi, dan si jalangg pertama sudah menjadi orang kaya baru, di susul jalangg ke dua katanya dia adalah anak yang hilang dan mendapatkan warisan dari keluarga bangsawan." Bisik Sezi pada Fay.
"Label tetap melekat pada mereka, yang satu simpanan pria tua, yang satu adalah jalangg tidak tahu malu." Bisik Fay.
"Baiklah, mari kita lihat Alicia akan duduk dimana." Kata Mr.Jacob.
"Biar duduk di tempatku Mr Jacob, dan aku akan duduk di belakang." Kemudian Harry pindah duduk di belakang Zack berdampingan garis lurus dengan Gery.
"Kakak yang pengertian." Sahut Mr.Jacob.
Alicia kemudian berlari kecil dan mengulurkan kedua tangan begitu juga Isabella, mereka saling tos kecil berkali-kali dan tertawa sumringah.
"Kumpulan ******." Bisik Milly.
"Aku tidak tahu penjaga perpustakaan itu menjadi cantik saat memakai seragam yang bersih dan menjadi bangsawan." Kata Billy.
"Jangan katakan kau sudah berpaling dari Sezi."
"Entahlah, kadang wajah Sezi terlihat menyeramkan ketika sedang membully Isabella. Dulu dia gadis yang manis saat pertama kali masuk Hill School." Kata Billy.
"Jangan katakan itu di depan Sezi, lehermu bisa di iris." Kata Gery.
"Jangan membuat masalah dulu hingga berita kemarin mereda, Isabella membuat kita semua menjadi terlihat sangat buruk." Kata Milly
"Kita memang buruk kan? Kita monster." Sahut Gery.
"Kau yang menyebarkan foto si gadis penjaga perpustakaan dan menyebarkan rumor, menggiring semua siswa agar mempercayai dia adalah Isabella, jadi kaulah monsternya." Kata Milly.
"Lalu apa yang kalian lakukan saat menyiksa Isabella terus menerus? Apa kalian lupa pernah ingin membunuh nya?" Balas Gery.
BRAKK!
Billy menggebrak meja dan berdiri, membuat semuanya terkejut dan menoleh pada Billy.
"Ijin ke toilet Mr.Jacob." Kata Billy.
"Okey, santai. Kau boleh ke toilet kapanpun." Kata Mr.Jacob yang juga terkejut ketika Gery menggebrak mejanya.
Akhirnya jam istirahat datang, Alicia mengajak Isabella ke kanti untuk makan.
"Tidak Alicia, aku masih menyandang siswi beasiswa." Kata Isabella.
"Kalau begitu ayo kita beli roti dan makan di atas balkon sekolah." Ajak Alicia.
"Ayo."
Mereka memakan roti sembari duduk di balkon paling atas bangunan sekolah, menikmati udara serta langit yang terang, angin saat itu cukup pelan dan membuat mereka sangat santai.
"Ini sejuk sekali, sudah sangat lama kita tidak duduk bersama di sini kan." Kata Alicia.
"Ya, semakin dewasa akan semakin sibuk. Bagaimana kau bisa masuk ke kelas akselerasi."
"Aku mengejar ijazah ku dan mengikuti tes masuk Hill School, mereka kemudian percaya pada kemampuanku, lalu mereka menawarkan beberapa kelas akselerasi dan aku memilih kelas dimana itu ada dirimu." Kata Alicia sembari tertawa.
"Ternyata kau sangat pintar." Kata Isabella mengelus rambut Alicia.
"Meski selama ini aku hanya menjaga perpustaan, tapi di sana adalah gudang ilmu, aku selalu membaca, apalagi kau selalu membawa catatan-catatan mu ke perpustakaan." Kata Alicia.
"Terimakasih, karena kau adalah yang menjadi temanku Isabella." Tambah Alicia.
Isabella menggeleng.
"Aku yang beruntung memiliki teman seperti dirimu Alicia."
Mereka berpelukan sembari memegang roti milik masing-masing.
~bersambung~