
Fay menahan lengan Isabella dengan kuat dan mendorongnya maju ke arah wastafel.
Sezi menutup lubang wastafel dan mengisi air hingga penuh.
"Aku ingin mengucapkan selamat padamu Isabella, karena kau mendapatkan peringkat yang sangat bagus. Tolong terimalah ucapan selamat dariku." Kata Sezi.
Isabella menggeleng pelan.
"Aku mohon Sezi hentikan semua ini." Kata Isabella.
Sezi kemudian mencengkram rambut Isabella, sedangkan Fay mencengkram kedua tangan Isabella ke belakang.
Dengan gerakan kasar Sezi mengarahkan wajah Isabella masuk ke dalam wastafel yang sudah terisi penuh dengan air.
Isabella berontak namun Sezi serta Fay menahan kepala serta tangannya membuat Isabella tidak dapat bergerak.
Nafas Isabella hampir habis, dan kemudian air pun masuk ke dalam hidung dan mulutnya.
Sezi serta Fay melepaskan Isabella dan gadis itu tersungkur jatuh ke lantai dengan menarik nafas panjang dan mengambil oksigen sebanyak-banyaknya.
Isabella terbatuk-batuk sembari menangis.
"Selamat datang di neraka." Kata Fay mendorong dahi Isabella yang sudah basah penuh air sampai pada rambut panjangnya.
Mereka pun pergi meninggalkan Isabella yang tak berdaya masih berusaha untuk mengeluarkan air yang masuk dengan terbatuk-batuk.
"Kalian sedang apa?" Tanya Gery yang sedang lewat.
"Main." Jawab Fay asal.
Gery mendengar suara batuk-batuk di dalam kamar mandi dan mengernyitkan alisnya.
"Apa kalian mengerjai Isabella lagi?" Tanya Gery.
"Apa kau mau jadi pahlawan atau kau mau menggunakan kesempatan ini untuk merasakan bibirnya?" Tanya Sezi.
"Kami akan berjaga di sini." Sahut Milly.
"Sudahlah lupakan, aku sedang malas." Kata Gery hendak pergi
"Gery apa kau sudah tidak menginginkan Isabella?" Kata Fay.
"Entahlah, aku sedang malas saja. Kau tahu, Zack tidak pernah main-main, kalian berhati-hatilah." Sahut Gery dan pergi berlalu.
"Ada apa dengannya?" Tanya Milly.
"Entahlah." Sahut Sezi.
"Bukankah dulu dia yang paling semangat ingin membuat jalangg itu terlihat buruk, sampai ia menyebarkan foto si tukang perpustakaan itu ke grup chat dan membuat para siswa mengira itu adalah Isabella." Kata Sezi lagi.
"Ya, aku pun cukup terkejut jika si petugas perpustakaan itu adalah jalanggnya." Kata Fay.
"Kemana dia, ketika aku ke perpustakaan dia sudah tak pernah kelihatan." Sahut Milly.
"Entahlah, mungkin di keluarkan." Kata Sezi.
"Sudah hampir masuk kelas bisnis kita harus bersiap." Ujar Fay.
"Iya, ayo." Jawab Milly dan Sezi.
Setelah kepergian Sezi dan kawan-kawannya Isabella kemudian memberanikan dirinya untuk keluar dari kamar mandi.
Saat pergi ke ruangan kelasnya, Isabella berpapasan dengan Sezi dan yang lainnya terutama Zack yang berjalan tanpa melihat Isabella. Mereka akan menuju kelas khusus bisnis.
Saat itu Zack memakai headset di telingannya dan menenteng buku di tangannya.
Isabella hanya bisa memandangi Zack yang kembali menjadi sosok sedingin es, dengan hati yang getir dan perih Isabella melangkahkan kakinya menuju kelas.
Sedangkan Gery pun hanya sekedar mengawasi apa yang sebenarnya terjadi antara Zack dan Isabella.
"Apa kalian tidak merasa hubungan Zack dan Isabella cukup dingin, mereka bahkan tidak saling menyapa." Tanya Gery pada Billy dan juga ada Sezi pula.
"Apa mereka sudah putus?" Kata Sezi menyeringai.
"Ini bahan yang bagus dan bisa kita sebar di grup chat, tidak akan ada lagi yang melindungi jalangg sombong itu." Sahut Fay.
Di sisi lain Isabella sudah duduk di kelasnya kemudian Harry memutar tubuhnya dan menghadap Isabella.
"Apa kau sakit? Tanya Harry.
"Mata dan hidung mu merah. Kenapa rambut mu basah Isabella?"
"Aku tidak apa-apa."
Jam pelajaran di lalui oleh Isabella dengan pikiran yang tidak dapat fokus dan berkonsentrasi ia butuh teman untuk bercerita, ia butuh tempat untuk bersandar, air matanya bahkan berulang kali ingin menetes.
Tak berapa lama jam pelajaran usai, Isabella berjalan berdampingan dengan Harry, semua mata siswa dan siswi tertuju pada Isabella.
"Dasar jalangg murahan tidak tahu diri, setelah mendapatkan Zack, dia meloncat seperti katak yang menjijikkan ke pria lain."
"Namanya juga pelacurr, dia akan berpindah-pindah pria."
"Apa kurangnya Zack, dasar rendahan yang tidak tahu diri."
Hampir semua murid membicarakan Isabella, namun yang di bicarakan benar-benar tidak mengerti.
Setelah sampai di gerbang, seorang gadis cantik dengan pakaian casual dan memakai mantel mewah pun melambaikan tangannya pada Isabella.
"Isabella!" Teriak Isyana.
"Isyana..." Isabella merangkul sahabatnya yang sudah lama tak ia jumpai.
"Aku merindukanmu." Kata Isyana.
"Aku juga."
"Jalangg-jalangg sedang berpelukan." Sahut seorang murid.
Harry yang mendengar itu dengan cepat menarik tas milik siswi itu.
"Apa?" Tanya Harry seolah menekan dan menantangnya agar murid itu kembali mengatakannya lagi.
"Aku bilang para jalangg sedang berpelukan, apa kau tidak tahu di grup chat beredar berita tentang mereka berdua, mereka sama-sama jalangg. Yang satu simpanan pria tua, yang satunya jalangg yang suka bergonta ganti pacar kaya, sebaiknya kau hati-hati jangan sampai terkena sihir dan mulut racun nya." Kata murid itu melihat pada Isabella dan Isyana dengan mata yang ketus.
"Apa kurangnya Zack sehingga dia berselingkuh dan putus dengan Zack, sekarang dia mendekatimu, apa kalian sudah pacaran?" Kata murid yang lain.
Isabella terbelalak mendengar kata putus.
"Siapa yang putus?" Tanya Isabella.
"Tidak usah sok alim dan sok lugu apalagi berlagak polos Isabella, kau putus dengan zack supaya bisa pacaran dengan Harry kan, karena Zack sudah bangkrut kan!" Teriak murid yang lainnya lagi.
Kemudian Isabella melihat Evashya yang juga berdiri melihat beberapa siswa menghakimi Isabella di depan pintu gerbang Hill School dan ia pun bertanya.
"Evahsya dimana Zack, apa dia tahu masalah ini?" Tanya Isabella penuh ketakutan.
"Aku tidak tahu, ku kira dia sudah pulang duluan, ada urusan di perusahaan yang mendesak." Kata Evashya ketus dan berlalu pergi.
"Evashya!" Teriak Isabella.
Namun Harry menghentikan Isabella.
"Biarkan saja." Kata Harry.
Sedangkan Isabella masih dalam kekalutan dan kebingungan apakah Zack memutuskan hubungan sepihak atau bagaimana.
"Ayo ikut dengan ku Isabella." Sahut Isyana.
"Aku tandai nama kalian, dan urusan kita belum selesai!" Kata Harry.
"Harry sadarlah, mereka berdua hanyalah jalangg."
Harry hendak maju dan menampar siswi tersebut namun Isyana menahannya.
"Tenang Harry... Tidak apa-apa, tidak masalah bagiku." Kata Isyana.
Kemudian mereka bertiga pergi menaiki mobil mewah milik keluarga Benyamin, sedangkan Sezi dan kawan-kawannya saling menyedekapkan tangan dan kemudian melakukan tos dengan tawa sumringah.
"Ini baru permulaan, sebentar lagi Isabella pasti akan pergi dari Hill School dengan sendirinya." Kata Sezi.
"Aku punya ide-ide gila untuk menyiksanya."
Sezi dan kawan-kawannya semakin tidak terkontrol, dan dengan hak istimewa yang mereka miliki tentu saja mereka selalu lolos dari hukuman apapun dari guru kedisiplinan, jika pun Isabella melaporkan itu hanya akan sia-sia.
~bersambung~