REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 53 -



Dax menatap secara intens kedua mata Alicia. Pria itu pun sulit menahan dirinya, bahwa hampir seluruh waktunya selalu memikirkan Alicia.


Perlahan Dax mendekatkan wajahnya pada Alicia, tubuh nya semakin rapat dan merapat.


Alicia tahu itu, tapi Dax seperti magnet bagi nya, ia tidak bisa bergerak mundur justru terseret dan tertarik untuk terus menempelkan tubuh nya pada tubuh bidang Dax.


Pada akhirnya tubuh mereka sudah saling bersentuhan dan saling menekan, Alicia kembali jatuh dalam jurang yang dalam.


Sedangkan Dax, bohong jika ia tidak memikirkan Alicia, dalam benak dan pikirannya hanyalah kerinduan pada Alicia.


Tangan kekar itu naik dan merengkuh separuh leher Alicia lalu naik dan mennyentuh tulang rahang Alicia, membuat Alicia menutup matanya.


"Aku membenci mu...." Bisik Alicia dengan mata tertutup dan nafas yang naik dan turun.


"Ya, sepatutnya kau membenciku Alicia..." Kata Dax mendaratkan bibirnya di bibir Alicia.


Ketika Alicia ingin menikmati itu, Dax menarik bibirnya.


"Kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan di inggris?" Bisik Dax di telinga Alicia.


"Apa maksudmu..." Kata Alicia menatap Dax.


"Kau ada di kamar hotel dengan pria lain."


Alicia mundur dan menatap tak percaya.


"Kau memata-matai ku?"


"Aku mengawasimu. Selalu." Kata Dax kembali mencengkram pinggul Alicia dan menariknya lagi untuk kembali mendekat.


Alicia berusaha melepaskan diri.


"Kau egois Dax, kau meninggalkanku, dan memata-mataiku!" Geram Alicia suara nya mulai meninggi.


Dax masih diam.


"Kau jahat padaku dan sekarang kau putar semuanya seolah aku yang berkhianat!" Geram Alicia lagi sembari berteriak dan memukul Dax.


Alicia ingin melepaskan dirinya namun Dax masih merantainya.


"Aku akui saat itu kebimbangan melanda pikiranku Alicia, tapi aku tidak pernah berniat meninggalkanmu, tidak sekalipun!"


"Bohong!" Teriak Alicia.


"Aku tidak bisa menghubungimu! Kau bahkan tidak hadir di pemakaman ibuku sambungku Dorothy dan ayah kandungku!" Teriak Alicia.


"Aku ada di sana Alicia." Kata Dax datar dan menatap Alicia.


"Apa?" Alicia menelan ludahnya tercekat.


"Kau mengada-ada! Lepaskan aku! Pembohong!" Alicia sudah mulai menangis.


"Aku tidak pernah bohong padamu, aku hadir di pemakamanan mereka, aku tidak menemui mu karena aku tahu jika aku menemui aku tidak bisa lagi kembali ke sini."


Alicia menangis namun wajahnya masih berusaha untuk tegar, melihat dan menantang Dax.


"Aku melihat mu saat itu, bahkan setelah kau pergi bersama kakakmu di pemakaman Dorothy, aku memberikan bunga. Kau bisa bertanya pada Demian." Kata Dax.


Seketika Alicia seperti tersambat petir.


"Demian?" Tanya Alicia.


"Yah, aku datang melalui dia."


Alicia semakin terkejut, tubuhnya merinding seketika dan meremang, apalagi Demian tidak pernah mengatakan apapun padanya tentang Dax.


"Aku berusaha untuk tidak menemuimu, karena aku yakin aku akan goyah saat bertemu denganmu, ada yang ingin bermain-main dengan perusahaanku, dan membuat D'Knedy cukup kesulitan."


"Aku harus di sini sampai semuanya kembali normal dan terkontrol Alicia."


Saat itu Alicia tahu, Dax tidak berbohong.


"Lalu... Apa pria itu lebih kuat dari ku dan lebih bisa menyenangkanmu?" Bisik Dax.


Alicia kembali meremang, dan diam sejenak.


"Ya... Dia jauh lebih hebat dari mu." Balas Alicia.


"Benarkah?" Tanya Dax mengeratkan rahangnya.


"Dia paling tahu bagaimana menyenangkan ku, dan tidak pernah membuatku menangis, maafkan aku Dax tapi kita sudah selesai bukan?"


Lalu Dax menariknya dan mendorong Alicia di atas meja kerjanya, membuat Alicia terkejut dan setengah berbaring di sana.


"Lepaskan!" Teriak Alicia.


Namun Dax mencengkram kedua tangan Alicia di atas meja.


"Jangan harap kau bisa menyentuhku setelah sekian lama kau meninggalkanku!" Teriak Alicia.


"Kau belum mengerti Alicia, ponsel ku di sadap, aku tidak bisa menghubungimu, aku hanya bisa menghubungi Demian atau pun Stark itu pun sangat terbatas tidak bisa setiap hari, mereka orang yang paling aman untuk di hubungi meski aku masih harus berhati-hatti, suasana sedang kacau dan panas, kau tahu orang yang telah membunuh adikku bahkan masih berkeliaran, dia masih ingin menghancurkan semuanya." Kata Dax menegaskan dengan mencengkram kedua tangan Alicia.


"Apa?"


"Emir Khan masih hidup, dia mencoba menghancurkan perusahaanku." Kata Dax.


Perlahan Dax mendekat dan mengecup kembali bibir Alicia, kemudian turun dan mengecup leher Alicia.


Nafas Alicia semakin tidak terkontrol, ia tidak bisa lagi menahannya.


"Aku marah jika pria itu benar-benar membuat mu menyukai permainannya, apa dia benar-benar menyenangkanmu dan lebih kuat dariku?" Tanya dax meneluri leher Alicia hingga menuju pada dada Alicia.


Saat itu Alicia hanya bisa pasrah, ia tidak bisa lagi menahan kekuatan Dax, bahkan ia pun merasa kering dan merindukan sentuhan itu.


"Sejujurnya, itu hampir terjadi, dan aku sudah berada di atas ranjang bersamanya, tapi aku melihatmu dalam anganku, dan menyadarkanku jika aku harus berhenti, aku tidak pernah berhubungan dengannya Dax." Kata Alica.


Kemudian Dax menggigit kecil puncak gunung kembar milik Alicia membuat Alicia mengerangg.


"Aku tahu... Dan jangan pernah berhubungan lagi dengannya atau aku akan marah padamu."


"Tapi..."


Alicia hendak menjawab namun Dax mencium bibir Alicia dengan cepat.


"Tidak ada bantahan." Bisik Dax


Kemudian perlahan Dax menurunkan underwear Alicia, rok selutut berwarna hitam pun sudah tersingkap, kemeja Alicia berwarna pink sudah terbuka beberapa kancingnya.


Kemudian Dax siap mengarahkannya pada Alicia dan mendorongnya. Sesuatu sudah masuk dan membuat Alicia menutup mata sembari mendongak, rahangnya terlihat mungil saat Alicia menengadah merasakan sesuatu yang begitu meluluh lantak kan seluruh tubuh dan urat syarafnya, membuat hasratnya semakin menggebu.


Apalagi, saat Dax mendorong dan masuk, sebuah siraman air seolah mengguyur seluruh tubuh Alicia yang merasa dalam kekeringan dan ketandusan.


Alicia mendesahhh sembari menutup matanya.


Dax mendorong kembali dengan pelan.


Dan kembali lagi siraman-siraman air seolah di guyurkan padanya dan pada dadanya.


Dax membuka lebih lebar lagi kemeja Alicia dan menyesap dua gunung kembar itu, sesekali memainkannya sembari perlahan dan perlahan lalu semakin cepat dan semakin cepat bergerak.


Alicia mencengkram tepian meja kerja Dax, mendesahh dan menutup mata, rambutnya sudah acak-acakan, setelan baju nya apalagi, namun ia masih memakai sepatu heelsnya.


Dax menggeram dan terus bergerak cepat merasakan tubuh Alicia yang sudah lama ia merindukannya. Dax berjuang untuk tidak menemui Alicia demi menyelamatkan perusahaannya dan menyelamatkan pikirannya agar tetap konsentrasi.


Tidak ada kata yang terucap, kini yang ada hanyalah suara desahann bersahut-sahutan dari mereka di dalam ruangan Dax.


Alicia mulai menegang dan Dax mengarahkan kedua kaki Alicia di bahunya.


Dax menarik kedua tangan Alicia dan memegangnya.


"Dax... " Desahh Alicia.


Tubuh Alicia melengkung dan merasakan semua sengatan mengaliri darahnya yang panas hingga ubun-ubunnya terasa ingin meledak.


Setelah sekian lama ia merasakan nya lagi, setelah sekian lama ia pun menyerah pada kekuatan Dax.


Begitu pula Dax, ia menggeram dan semakin mempercepatnya, menumpahkan segalanya di dalam rahim Alicia, tubuhnya sudah di penuhi keringat hingga kemeja dan jasnya sudah teronggrok di lantai.


Dax ambruk di atas tubuh Alicia dengan nafas tersengol, melampiaskan seluruh kerinduan dan kekeringan yang melandanya.


Kesendirian yang sunyi dan sepi kini terobati sudah.


"Sampai kapan kau di amerika?" Bisik Dax di telinga Alicia sembari tersengol dengan nafas yang naik turun.


"Mungkin 2-3tahun? Atau bisa lebih lama lagi 4tahun?" Kata Alicia lemah.


Dax tersenyum dan mencium bibir Alicia.


~bersambung~