REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 39 -



Mansion Benyamin...


"Aku sudah menghubungi para petinggi perusahaan, mereka akan mengatur rapat peralihan kekuasaan." Kata Harry.


"Lalu..." Tanya Alicia.


"Aku sudah katakan kemarin kau akan meneruskan pendidikanmu di USA, dan mengurus perusahaan yang ada di sana, aku pikir kau akan mampu, aku tidak bisa mengurus semuanya Alicia, jadi kita berbagi tugas, aku juga harus menjaga ayah di sini." Kata Harry.


Alicia masih ragu.


"Aku yakin kau mampu Alici, setelah semua guru pembimbing mengajarimu, dan setelah aku tahu kau lebih pintar dari ku." Kata Harry memuji dengan malas.


"Akhirnya kau menyadarinya, aku jauh lebih pintar dari mu."


"Ya... Kau senang sekarang?" Kata Harry.


"Sebelum berangkat aku harus menemui Isabella, aku akan sangat merindukannya." Kata Alicia sedih.


"Dengar Alicia, aku minta jaga dirimu baik-baik, aku akan menyiapkan pengawal atau assisten pribadi untukmu, Demian akan bersamamu."


"Bagaimana denganmu?"


"Aku lebih kuat dari mu, dan kau yang lebih membutuhkannya, lagipula jika aku butuh, sesuatu di sini banyak pengawal." Kata Harry.


"Kau yakin Demian akan mau bersamaku? Dia sudah lama bekerja untukmu Harry."


"Dia akan menjagamu di sana, aku hanya akan percaya pada Demian, dan jangan coba-coba kau main-main di sana, atau menggoda pria." Kata Harry.


"Hatiku sudah mati, aku tidak tertarik pada pria manapun." Kata Alicia.


Sesaat kemudian Alicia menghubungi seseorang.


"Halo Isabella, bisa kita bertemu sekarang? Aku merindukanmu dan ingin menghabiskan waktu satu hari ini dengan mu."


"Kau bisa membujuk Zack, semoga saja dia mengijinkannya."


"Apa kalian sudah menikah, apa Zack sekarang menjadi suamimu, kenapa aku harus meminta ijin padanya?" Kata Alicia.


Saat itu Harry sedang mengiris daging nya mendengar pertanyaan Alicia membuat irisan nya meleset dan dagingnya meloncat keluar piring, gesekan pisau mengenai piring nya dan membuatnya tidak selera.


Harry melihat Alicia dengan tatapan sedikit kesal.


Alicia melihat itu dan buru-buru pergi mencari tempat lain berbicara dengan Isabella.


"Kau tahu kakakku marah karena aku menyebutmu sudah menikah dengan Zack." Bisik Alicia.


"Cepat atau lambat Isabella akan menjadi istriku, dan kalian harus datang di pernikahan kami." Kata Zack kemudian.


"Ya ampun, kalian benar-benar sedang bersama? Okey, maafkan aku tapi kalau kau bisa hari ini mari kita bertemu Isabella, besok pagi aku harus pergi ke USA, entah sampai kapan aku bisa kembali lagi ke sini, aku akan meneruskan pendidikanku di sana dan mengurus perusahaan milik ayahku." Kata Alicia.


"Tunggu aku, aku akan datang.... Aaaa Zackk... Apa yang kau lakukan hentikan itu aku geli....!!!" Teriak Isabella sembari tertawa.


"Okey, silahkan lanjutkan, aku akan menunggumu di Mansion." Kata Alicia tersenyum dan bernafas lega.


*****


"Zack aku harus pergi..." Kata Isabella.


"Aku tidak akan mengijinkanmu." Zack masih memeluk Isabella di bawah selimut.


"Aku akan pergi menemui Alicia, dia sahabatku yang sangat berharga."


"Dan aku pacarmu yang sangat berharga, aku akan menjadi suamimu." Bisik Zack di telinga Isabella dan kemudian mejilatnya sedikit.


"Aaa.... Kau melakukannya lagi Zack! Aku geli!" Kata Isabella tertawa dan berusaha melepaskan diri.


Zack kemudian membuka selimut dengan masih memeluk Isabella.


"Katakan kau sudah memaafkanku." Kata Zack berada di atas tubuh Isabella.


"Aku sudah lumayan memaafkanmu."


"Kenapa pakai kata lumayan?"


"Ya karena aku masih sedikit kesal." Kata Isabella.


"Baiklah, kita akan seperti ini sepanjang hari dan sampai kau benar-benar memaafkanku." Rengek Zack.


"Baik lah aku memaafkanmu."


"Beri aku ciuman pertanda kau sudah memaafkanku." Kata Zack.


"Kau banyak permintaan Zack, aku bukan aladdin." Gerutu Isabella.


"Tapi kau bisa mewujudkannya." Sahut Zack.


Isabella melenguh dan tertawa geli, kali ini ia merasa bahwa Zack sudah kembali seperti dulu, Zack yang hangat dan Zack yang begitu bahagia.


"Baiklah." Kata Isabella.


Kemudian Isabella melingkarkan tangannya pada leher Zack dan mencium bibir Zack dengan lembut.


Ketika Isabella akan menyelesaikannya dan menurunkan kedua tangannya Zack menahannya, dan terus melanjutkan ciuman itu, Zack juga menahan agar Isabella tetap melingkarkan tangannya di lehernya.


Cukup lama mereka berciuman membuat tubuh mereka semakin memanas.


Apalagi saat itu Zack mulai menurunkan tangannya meraih sesuatu di balik pakaian Isabella, meremasnya dan kemudian tangan Zack turun hingga menyentuh sesuatu di balik underwear Isabella.


"Hentikan Zack...." Kata Isabella terengah dan mencengkram bahu Zack dengan kedua tangannya.


Nafas mereka memanas, Zack kembali mencium bibir Isabella, tangannya masih bermain-main di bawah sana.


Isabella menutup matanya, semakin lama getaran aneh mulai mengaliri sel-sel syarafnya, darah yang mengaliri tubuh mereka mulai memanas.


Lenguhan demi lenguhan mencuat dari bibir Isabella.


Sedikit demi sedikit Zack menurunkan underwear Isabella.


Kemudian naik menyibak pakaian milik Isabella dan membenamkan wajahnya di dada Isabella, menyesapnya dengan lembut sembari tangan yang satu bermain di bagian paling penting milik Isabella.


Keringat mulai muncul di dahi Isabella, bahkan pendingin ruangan tidak bisa membuat mereka merasa sejuk.


Seluruh tubuh mereka sudah memanas dan semakin bergairah.


"Zack hentikan... Ini sudah terlalu jauh..." Kata Isabella masih menutup mata.


Namun Zack tidak memperdulikan nya, karena tubuh Isabella berkata lain, tubuh Isabella semakin meresponnya.


Apalagi ketika Zack mulai menelusuri tubuh Isabella dengan bibirnya, menciuminya, mengecup setiap inci tubuh putih yang mulus tanoa cacat milik Isabella.


Membuat suara desahaann Isabella cukup keras ketika bibir Zack susah berada di bawah sana.


Isabella mencengkram kuat rambut kekasihnya dan melengkungkan tubuhnya.


Sebuah serangan atau semacam sengatan kenikmatan semakin membuatnya gila, rintihannya semakin cepat, desahannya semakin mengeras.


Tubuhnya mulai menegang dan kemudian ia mencapai pada titik kenikmatan luar biasa. Tubuh mungil Isabella mengejang dan melengkung bersamaan dengan lenguhan dan desahann yang memenuhi ruangan kamar milik Zack.


Setelah beberapa menit, kemudian tubuh Isabella mulai mengendur, dan melemas, tatapan mata sayu Isabella membuat Zack tersenyum kemudian mencium bibir Isabella.


"Hadiah kelulusan mu." Bisik Zack.


Isabella menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.


Sedangkan Zack berada di samping Isabella.


"Kau mengajariku dosa." Kata Isabella.


"Hanya dosa kecil, setelah ini aku akan mengantarmu ke gereja, untuk pengakuan dosa. Lagi pula di kelas kita aku yakin hanya kau yang masih perawan Isabella." Kata Zack tersenyum dan menyangga kepalanya dengan telapak tangan dan sikunya sedangkan tangan yang lain masih sesekali membelai sesuatu yang ada di balik selimut.


"Benarkah?" Tanya Isabella.


"Hm. Apa kau tidak tahu? Kebanyakan umur 17 tahun mereka sudah tidak perawan."


"Darimana kau tahu Zack, apa kau yang mengambil keperawanan mereka?"


Zack tertawa.


"Sudahlah jangan membahasnya."


"Zack apa kau yang mengambil keperawanan mereka?!" Kata Isabella mulai serius.


"Bukan aku. Entahlah itu sudah seperti tradisi setiap umur 17 tahun mereka akan mengadakan pesta sekss."


"Aku tidak tahu itu... Apa kau juga tidak perawan?" Kata Isabella terbelalak.


"Aku perjaka Isabella bukan perawan. Kau ini." Zack memukul dahi Isabella menggunakan kepalan tangannya dengan pelan.


Isabella termenung dan memikirkan sesuatu.


"Tenang saja aku belum pernah melakukan hubungan sekss, aku menunggumu siap." Bisik Zack di telinga Isabella.


Perkataan Zack membuat wajah Isabella memerah dan salah tingkah.


"Baiklah. A... A.. Aku arus ke tempat Alicia." Kata Isabella terburu-buru dan salah tingkah.


Zack justru tersenyum melihat tingkah polos Isabella.


"Akan ku antar, dan jangan main mata dengan Harry." Kata Zack mengingatkan.


"Aku tidak pernah main mata dengan nya Zack. Kau masih meragukanku?"


"Aku tidak meragukanmu, tapi Harry masih sangat menyukaimu. Sudahlah jangan bahas pria lain saat kita ada di ranjang." Kata Zack mencium eher Isabella.


Zack menyesap dengan kuat dan membuat tanda merah.


"Zack... Sakit." Kata Isabella.


"Dia akan tahu kau milikku kalau melihat ini." Kata Zack.


"Kau kekanakan." Isabella tersenyum dan mulai membetulkan baju serta celananya.


~bersambung~