REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 63 -



Mansion Volkofrich


"Tuan Zack..." Sapa Stark.


Saat itu Zack sedang sibuk dengan laptopnya. Zack masih belum menyerah pada hilangnya Isabella.


"Hm."


"Tuan Dax pulang."


Zack menghentikan telunjuk jarinya yang sedang menyeret mouse.


"Apa seharusnya kita beritahu?" Tanya Zack ragu.


"Itu akan jauh lebih baik, semoga jantungnya kuat." Kata Stark.


"Ku rasa paman memiliki kesehatan yang lebih baik. Kita ke sana sekarang.".


Stark berjalan di belakang Zack.


Mobil yang mengantar Zack melaju dengan cukup cepat, saat itu hujan turun begitu deras.


"Bukankah seharusnya sudah masuk musim semi?" Tanya Zack.


"Iya tuan."


Zack kembali merindukan musim semi dimana dulu ia berkuda dengan Isabella, sepanjang jalan Zack hanya melamun melihat air hujan yang terus turun mengguyur begitu lebatnya.


Sampailah mereka di tempat yang di tuju, apartmen mewah dan megah yang menjulang begitu tinggi, itu adalah milik Dax Kennedy.


Zack naik dan pintu lift terbuka.


Terlihat Dax sedang berdiri di depan kaca jendela yang besar, menyesap alkohol sedikit demi sedikit.


"Paman bukan peminum bukan?" Tanya Zack.


"Oh, hey Zack, sesekali aku minum hanya saat ingin saja." Dax menaruh gelasnya dan memeluk sang keponakan.


"Aku sudah kerahkan semua pengawal semoga bisa membantu mu, dan bisa menemukannya lebih cepat." Kata Dax.


"Terimakasih paman."


"Dimana Evashya, paman merindukannya."


"Hm... Sebenarnya... Apa paman sibuk?" Tanya Zack.


"Tidak juga." Dax menggendikkan kedua bahunya.


"Ayo ikut dengan ku sebentar paman. Ada yang harus ku perlihatkan padamu."


"Apa itu."


"Aku tidak bisa menceritakannya di sini, ini sangat rahasia." Bisik Zack.


Dax berfikir sejenak dan merenung, kemudian ia bangkit dan memakai mantelnya.


"Apa kau baru saja menangkap ikan yang besar?" Tanya Dax.


"Lebih dari seekor ikan yang besar paman, ini jauh lebih berharga." Kata Zack.


"Apakah kau menemukan tambang emas?"


"Tidak ada harganya sama sekali meski tambang emas itu memiliki gunung yang tinggi dan seluruhnya berisikan emas."


Zack menjawab Dax sembari berjalan, mereka turun dan Stark sudah menunggu di dekat mobil.


"Senang bertemu dengan anda tuan Dax."


"Aku juga Stark, apa kau berolahraga dengan baik?" Tanya Dax.


"Ya, saya cukup berolahraga."


"Jangan terlalu banyak bekerja Stark, luangkan waktu untukmu juga. Carilah pasangan. Apa kau akan selamanya melajang dan mengabdi pada Volkofrich."


Stark hanya tersenyum dan membuka pintu mobil.


"Pikirkan dengan baik." Kata Dax.


"Baik tuan Dax, akan saya pikirkan."


Kemudian Stark menutup pintu mobil.


Perjalanan memakan waktu cukup lama apalagi saat itu turun hujan yang begitu lebat.


Seharusnya jika tidak hujan dalam waktu 1,5 jam mereka bisa sampai di tempat tujuan.


Namun tidak ada raut menggerutu di wajah Dax, ia menuruti Zack dengan senang hati.


Saat itu hari sudah sangat larut, mobil menyorot pada jalanan aspal yang lengang, saat bunga-bunga yang berwarna kuning tersebar di sekitar lahan yang luas saat itulah mereka akan segera sampai.


Mansion yang mewah namun tidak terlalu besar berdiri kokoh dengan penjagaan yang ketat, mereka semua memakai mantel berwarna hitam dan membawa senapan.


"Mansion milik siapa?" Bisik Dax pada Zack.


Saat itu Zack hanya menyeringai dan menggendikkan bahunya, ia menggoda Dax.


"Bocah nakal."


Kemudian seorang pengawal datang membawa payung dan membuka pintu mobil mereka.


Hanya ada sendau gurau dan suara gelak tawa di depan perapian dengan sesekali suara kayu yang terbakar ada di sela-sela gelak tawa mereka.


"Suara itu..." Dax melongo. Matanya melebar bulat.


Langkah kaki Dax pelan menuju ruang tengah, ruang keluarga sekaligus ruang perapian untuk menghangatkan diri.


Zack ada di belakang mengawasi Dax yang berjalan pelan.


"Suara ini, aku sangat mengenalnya, suara tawa mereka. Tidak mungkin..."


Dax masuk melalui pintu yang terbuka. Matanya membulat penuh melihat wajah cantik yang bersinar, seorang wanita yang paling ia kasihi.


"Laura..." Kata Dax pelan.


Seketika semua yang ada di dalam ruangan pun melihat pada arah suara itu.


"Dax..." Kata Laura.


Air mata Laura mengalir, Laura berdiri dari posisinya yang sedang duduk di atas karpet berbulu. Kakinya melangkah pelan.


Dax berlari dan mengangkat tubuh adiknya ke dalam pelukannya.


Dax menciumi seluruh wajah adiknya dengan memeluknya seerat mungkin.


"Aku hampir gila. Aku hampir tidak waras karena kehilanganmu." Kata Dax menangis.


"Ya tuhan, aku harap wanita ini bukan lah saudara kembar adikku."


Laura kemudian mencubit pinggang kakaknya.


"Aaauw!!"


Dax menurunkan adiknya dari pelukannya.


"Apa sekarang kau percaya aku adalah adikmu?" Kata Laura menghapus air mata yang jatuh di pipinya.


"Aku percaya, hanya adikku yang memiliki cubitan itu." Kata Dax tertawa namun air matanya masih menetes di sudut matanya.


Kemudian Dax melihat Zafran, pria itu terlihat jauh lebih sehat, tubuh Zafran terlihat begitu bugar dan lebih cerah apalagi kulit putihnya yang bersih dan potongan rambutnya yang baru membuatnya tampak lebih muda.


"Apa kau baru saja berkelana, jadi memangkas rambutmu." Kata Dax memeluk Zafran.


Pelukan para pria bertubuh kekar yang begitu erat.


"Maafkan kami karena telah membohongi kalian, apalagi kami juga harus berbohong padamu Dax, saat itu sangat krisis dan Stark bersama para dokter yang lainnya harus benar-benar menyembunyikan kebaradaan kami." Kata Zafran.


"Aku bersyukur yang terpenting kalian masih hidup, ya tuhan aku begitu bahagia." Kata Dax menekan kedua matanya dengan jarinya, karena matanya terus saja berair.


"Paman tidak memeluk Shya?"


"Aku hampir lupa, dengan kelinci ku yang manja. Kemarilah anak nakal." Kata Dax.


Kemudian Evahsya berlari dan menghamburkan diri ke dalam pelukan Dax.


"Maafkan semua perilaku Shya yang kekanakan." Kata Evashya.


"Tidak apa-apa." Dax membelai kepala keponakannya.


"Paman boleh menjalin hubungan dengan siapapun, Shya tidak akan melarangnya."


"Benarkah?"


Evshya mengangguk mantap.


"Kau sudah dewasa rupanya." Dax menyentuh kepala Evashya.


Malam itu mereka berkumpul dan saling memeluk. Semakin malam perapian pun semakin mengecil, hingga tersisa bara-bara api yang kian memyusut dan padam.


Evashya sudah lebih dulu masuk ke dalam kamar untuk tidur. Sedangkan Zack masih duduk bersama ayah dan pamannya, Laura pun semakin mengantuk ia memilih tidur.


Zafran memberikan kecupan selamat malam pada istrinya.


Sekarang para pria sedang berada di ruangan yang semakin malam semakin membuat obrolan mereka semakin serius.


"Apa ayah mengirim mata-mata dan informan untuk mencari Isabella?"


"Ya kau benar." Kata Zafran.


"Aku mendapat informasi dari Harry, ada 2 informan yang tidak di ketahui siapa yang menyuruh mereka, jika salah satunya milik ayah, yang satu suruhan siapa?"


"Apa Isabella masih memiliki keluarga?" Tanya Zafran.


Zack menggeleng.


"Informan ayah juga mengatakan begitu, terakhir kali adalah Paula, dan dia sudah mati."


"Atau bisa jadi, ada seseorang yang diam-diam mengagumi Isabella." Kata Dax santai menyandarkan punggungnya di sofa.


Zack diam.


"Harry mengungkit Mafia Hitam, menurut nya kita harus mencari informasi tentang mereka. Dia juga sedang berusaha mencari informasinya, terakhir kali kata Harry, Mafia Hitam menggunakan orang lain untuk menangkap adik Demian, dia akan di jual sebagai budak pada bangsawan Eropa, tapi paman Dax menggagalkannya."


Dax menyeringai.


"Ternyata Harry sudah mengintrogasi Demian." Kata Dax.


~bersambung~