
Emir Khan dan juga Zack saling menandatangani peralihan kepemilikan.
Akhirnya perusahaan ayahnya dan semua kekayaan sang ayah telah kembali ke tangan Zack, sedangkan Emir Khan mendapatkan tanah emas yang di bilang oleh Zack.
"Jika kau menipuku, kau berakhir seperti orang tua mu."
"Kau bisa mengeceknya sekarang, kirim pengawalmu dan suruh mereka ke sana. Aku akan menunggu di sini. Bagiku kepentingan orang banyak dan kemanusiaan jauh lebih penting dari sekedar harta. Kau tahu, harta sebanyak apapun jika kau terus haus tidak akan pernah memuaskan dahagamu." Sahut Zack.
"Ya ya ya... Terserah kau saja."
Tak berapa lama pintu yang lain pun terbuka, terlihat seorang wanita berparas cantik dan di sampingnya seorang gadis yang begitu menawan, bahkan terlihat seperti adik dan kakak.
Zack menoleh dan itu adalah Isabella beserta ibunya, Belinda.
Isabella menggandeng lengan sang ibu. Mereka berjalan beriringan dengan ketakutan yang luar biasa.
Emir Khan kemudian tertawa.
"Kau benar-benar melakukannya Zack..." Emir bertepuk tangan dan berdiri.
"Kau kejam juga pada kekasihmu."
Seorang pengawal memeriksa Stark dan mengambil pistol miliknya.
"Apa kau masih mengingatku?" Tanya Emir Khan pada Belinda.
"Bagaimana bisa aku melupakanmu." Sahut Belinda lemah.
"Apa kau ayahku?" Tanya Isabella kemudian.
"Ha Ha Ha... Kau dapat Informasi dari mana gadis kecil?" Emir tertawa, hingga menggelegar.
"Seharusnya kau pecat pengawal pribadimu, mungkin dia sudah tidak becus Zack." Kata Emir berdiri menyandarkan dirinya di kaca jendela.
"Aku akan ceritakan sedikit, aku menikahi ibu mu saat dia sudah mengandung, kau bukan anakku gadis kecil, meski kau berharap memiliki ayah tapi aku bukan ayahmu, percayalah." Kata Emir.
Pengakuan itu membuat Zack terperangah dan melihat pada Stark.
"Kau yang membunuhnya Emir." Ucap Belinda dengan suara bergetar dan menangis.
"Kau yang telah membunuh Eldon!" Teriak Belinda.
"Maafkan aku sayang, kau memang benar, aku membunuh kekasihmu, yang tak lain adalah ayah dari anakmu, aku menembaknya tepat di dahinya dan memotong jarinya yang telah memakai cincin pertunangan dengan mu, aku masih menyimpannya apa kau mau melihat jari kekasihmu yang masih memakai cincin?" Kata Emir Khan, kemudian mengeluarkan kotak kaca dimana jari itu memakai cincin putih dan di masukkan ke dalam kotak tersebut.
"Aku menyimpannya dengan sangat baik, untuk ku berikan padamu." Kata Emir Khan lagi.
Belinda merasa mual mengingat kekasihnya Eldon Gavaro meninggal dengan sangat mengenaskan, dan dia tidak pernah mengira jika Emir Khan lah yang membunuhnya, semua itu terbongkar ketika Emir membunuh sang ayah.
Apalagi kini Belinda melihat jari Eldon yang di pajang di sebuah kotak kaca. Layaknya souvenir.
"Setelah aku membereskan Eldon, aku datang berpura-pura sebagai pahlawan yang bersedia menutupi aib mu, karena mengandung bayi Eldon, apa aku salah jika aku menginginkan imbalan?"
"Tapi kau membunuh ayahku Emir! Kau sudah di beri sesuai porsimu oleh ayahku tapi kau tamak!" Teriak Belinda.
"Dengarkan aku Belinda, jika saja dulu ayahmu menurutiku dia tidak akan berakhir seperti itu, dan sekarang tinggal satu langkah lagi, kau dan juga anakmu harus menanda tangani dokumen itu, kau pergi meninggalkanku Belinda sebelum kau menandatangani dokumen itu, betapa kau menyakiti hatiku." Kata Emir memasang mimik sedih.
"Kau benar-benar binatang!" Teriak Belinda.
Tak berapa lama Yaron sang sekretaris menerima telfon dan kemudian berbicara pada Emir Khan dengan berbisik.
Zack memberikan kode pada Stark.
Kemudian Stark menarik pistol yang di bawa oleh sang pengawal dan menembakkannya.
DOOR!
Sang pengawal tewas.
Keadaan memanas.
"Aaargh!!" Teriak Isabella ketakutan dan menutup telinga.
Saat itu juga Emir Khan mengeluarkan pistolnya, mereka saling menodong.
Stark masih menjaga Zack serta Isabella dan Ibunya.
Zack masih berdiri di depan Emir Khan yang menodongkan pistolnya pada Zack.
"Zack..." Kata Isabella lirih.
"Kau membodohiku, dasar bocah tengik!" Teriak Emir Khan.
"Aku tidak pernah berbohong Emir."
"Itu bukan emas, itu hanya tanah yang berwarna kuning dan tandus!" Teriak Emir.
"Orang selalu menyebut pulau itu tanah emas, Emir." Kata Zack menyeringai.
"Stark bawa Isabella dan ibunya pergi dari sini." Sahut Zack tanpa menoleh dan tidak memalingkan pandangannya sedikitpun dari Emir Khan.
"Tidak ada yang boleh keluar hidup- hidup dari sini!" Teriak Emir Khan.
"Apa harta yang kau rampas dari ayahku masih belum memuaskanmu Emir, sekarang kau menginginkan harta milikku dan anakku!" Teriak Belinda.
"Sudah cukup kau hancurkan keluarga-keluarga tak berdosa!" Kata Belinda lagi.
Isabella kebingungan dan tak tahu harus bagaimana, ia pun juga ketakutan.
Kemudian sekretaris Emir, yang bernama Yaron membawakan dokumen itu di hadapan Belinda dan juga Isabella.
Saat Belinda hendak menandatanganinya, Emir terlihat lengah kemudian Zack maju dan merebut pistol milik Emir.
"Jangan tandatangani itu!" Teriak Zack.
Namun pistol itu terlempar.
Stark mencoba mengambil namun Yaron kemudian membekuk Stark mereka saling serang dan Stark pun di piting.
Sedangkan Emir terlihat memukul Zack berulang kali, dan melemparkan Zack hingga membentur meja. Emir mencengkram kepala Zack dan mendorongnya hingga membentur vas-vas yang terpajang dan keramik-keramik yang terpajang di atas meja.
Keramik-keramik pajangan itu berjatuhan karena kepala Zack. Semua keramik pecah dan berserakan di lantai. Kemudian Emir Khan mendorong kepala Zack hingga membentur kaca jendela, terlihat darah milik Zack sudah di mana-mana bahkan menempel di kaca jendela.
"Tanda tangani itu. Atau aku akan membunuh nya." Kata Emir Khan.
Kemudian Belinda hendak menadatanganinya, namun dengan cepat Isabella berlari ingin meraih pistol milik Emir yang terlempar, Yaron tahu dan meraih pistol itu, ia reflek menarik pelatuknya yang mengarah pada Isabella.
"Tidak Isabella!!!!" Teriak Zack yang masih di piting kepalanya di kaca jendela oleh Emir.
DOOR!!!
Belinda menghalanginya nya sebagai tameng melindungi putrinya. Darah mengucur dari perut Belinda dan terjatuh di lantai.
Stark dengan cepat menangkap Yaron dan dapat meraih pistolnya sedang pistol yang lain terlempar dari tangan Yaron.
DOORR!!!
Stark menembak Yaron tepat di dahinya.
Kemudian beberapa pengawal datang membuat Stark pun melepaskan jas nya dan menghubungi pengawal Zack, Stark keluar membereskan para pengawal Emir Khan.
Sedangkan Isabella masih menangis memandangi ibunya yang bersimbah darah.
"Maafkan ibu... Ibu akan menyu...sul ayah dan kakekmu. Ibu sang..at bahagia bertemu denganmu.. Ibu..menyayangimu. Jika mereka masih hidup... Pasti mereka juga sangat menyayangimu." Kata Belinda terbata dan kemudian menutup matanya.
Isabella menangis dan melihat pistol tergeletak di atas lantai lalu mengambilnya.
Kemudian Isabella berdiri, menodongkan pistol itu pada Emir Khan dan juga Zack.
Tangannya gemetar, air matanya terus mengalir, pandangan matanya kabur. Tubuh Isabella bahkan menggigil karena ketakutan.
Zack masih tidak dapat bergerak karena pitingan Emir Khan yang menjepit kepalanya di kaca jendela membuat kaca jendela di penuhi noda darah yang mengalir dari kepala Zack.
"Letakkan pistol itu." Kata Emir Khan.
"Isabella..." Sahut Zack.
Kemudian Zack mencoba untuk melepaskan diri dari Emir Khan mereka saling memukul dan menendang.
Zack dapat melumpuhkan Emir meski kepala dan kemeja putihnya sudah di penuhi darah, bahkan tangannya sudah begitu banyak terkena noda darah.
Zack melangkah mendekati Isabella, berdiri di belakang Isabella yang gemetar dan menangis.
Tangan kiri Zack menutup mata kekasihnya, dan tangan kanannya mengenggam kedua tangan Isabella yang sedang menodongkan pistol dengan gemetaran.
Terlihat Emir Khan mulai berdiri dengan lemah karena pukulan-pukulan Zack.
"Aku atau kau yang menarik pelatuknya." Bisik Zack di telinga kekasihnya
Tangan Zack sudah menggenggam kedua tangan Isabella, jari mereka berada di pelatuk pistol.
Kemudian secara bersamaan Zack serta Isabella menarik pelatuk pistol tersebut.
DORR!!!
Tembakan pertama mengenai dada Emir.
DORRR!!!
Tembakan kedua mengenai perut Emir.
DORR!!!
DORRR!!!
DORR!!!
Tembakan kembali di berikan pada tubuh Emir Khan, hingga darah memuncrat di kaca jendela.
Lima kali tembakan untuk lima nyawa tak bersalah.
~bersambung~