
Zack sudah memegang pena nya.
Tak berapa lama helikopter datang, Stark membawa 1 sniper bersamanya dengan tenang Stark membidik dan mengarahkan pada jendela lalu menekan pelatuknya.
Peluru menerobos masuk dan menerjang kaca jendela lalu menembus punggung belakang Emir Khan. Seketika Emir Khan melepaskan Isabella dan Zack menarik tangan Isabella ke pelukannya.
Setelah itu sniper yang ada di dalam helikopter juga membidik wanita yang ada di sebelah Emir Khan.
Tepat di kepala belakang peluru mengenai Paula.
Mata Paula terbelalak dan membulat, merasakan darah mengucur di seluruh kepalanya dan tubuhnya, ia lemas, peluru itu menembus tengkorak belakangnya, Paula terjatuh seketika itu pula ia meregang nyawa.
Di lain sisi Emir Khan mendengus, ia tidak memakai baju pelindungnya. Darah sudah mengalir. Emir Khan terbaring di atas lantai.
"Ayah pastikan dia mati." Kata Zack geram.
Emir Khan membelalak, siapa yang di panggil ayah oleh Zack.
Seorang pria berbaju serba hitam maju dan menginjak dada Emir Khan dengan sepatu kulitnya yang keras berwarna hitam, lalu menurunkan kain penutup wajahnya.
"Zaf....Fran...." Kata Emir Khan terbata.
"Terkejut?" Kata Zafran.
Kemudian Zafran menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkan pada kelapa Emir Khan.
DORR DORR DORR DORRR !!!
Tembakan cepat berulang dan beruntun di tujukan pada kelapa Emir Khan, hingga kepala itu benar-benar hancur dan tidak berbentuk lagi.
Zack memeluk Isabella agar tidak melihat kekejaman ayahnya, ia juga melihat bagaimana tatapan bengis sang ayah.
Dari dulu Zack tahu bahwa ayahnya bukanlah orang biasa, ayahnya memiliki kekejaman yang tidak bisa lagi di bayangkan oleh orang lain.
Tak berapa lama para pengawal datang.
"Bereskan semua mayatnya, jangan ada satu pun yang tertinggal, buang ke laut agar menjadi santapan para ikan." Kata Zafran menyimpan pistolnya.
******
Beberapa waktu setelah kejadian...
"Aku minta kalian tetap merahasiakan jika kami masih hidup." Kata Zafran menyendok soup jagungnya.
Saat itu mereka sedang sarapan bersama di mansion milik Zafran.
Zack benar-benar terpesona dengan mansion yang tidak terlalu besar itu, meski berada di pinggiran tebing namun begitu sejuk dan memukau.
Pemandangan serta lahan yang di penuhi rumput yang berbunga, sebuah lahan yang katanya akan Zafran gunakan sebagai kebun bercocok tanam dengan Laura.
Mansion itu berada di lahan yang besar dengan keamanan yang ketat.
Zack bersyukur semuanya kembali seperti sediakala, meski identitas mereka tetap di rahasiakan demi kebaikan bersama.
Tak berapa lama, Laura datang menyusul untuk sarapan. Seorang perawat wanita mendorong kursi roda Laura. Kondisinya sudah semakin membaik setelah Evashya selalu menghibur dan bernyanyi untuknya.
Bahkan sering kali Laura menangis karena tertawa dengan kelucuan dan keenergikan anak perempuannya.
"Ibu mau makan yang mana biarkan Shya yang menyuapi..." Kata Evashya memeluk sang ibu yang duduk di atas kursi roda.
"Apa saja ibu akan makan..." Kata Laura tersenyum.
Evashya mencium Laura dengan menangis.
"Ibu aku bersyukur sekali bisa memeluk ibu seperti ini, terimakasih kalian tidak meninggalkan kami." Kata Evashya menangis.
"Shya janji akan menurut dan jadi anak baik, Shya janji dan pasti akan membuat ibu selalu tersenyum."
"Ibu percaya." Kata Laura mengelus lembut kepala Evashya.
Zack sudah menyelesaikan sarapannya.
"Ibu maafkan aku, ada sesuatu yang harus ku urus." Kata Zack.
"Pergilah." Kata Laura tersenyum.
Kemudian Zack berpamitan pada sang ayah dan keluar dari mansion bersama Stark.
Mobil Zack melaju menuju kota yang semakin padat, tak berapa lama mobil itu terparkir di apartmen seperti biasa.
Zack naik dan masuk ke dalam apartmen, saat itu Isabella baru memberikan salep pada lebam-lebam di wajahnya serta bagian tubuh yang lainnya.
Beberapa hari Isabella cukup sendu dan tidak ceria.
Zack duduk di tepi ranjang Isabella.
"Apa sudah lebih baik?" Tanya Zack.
"Sudah memudar, beberapa hari akan sembuh." Kata Isabella.
"Isabella..."
"Mm..."Isabella memutar tubuhnya dari meja riasnya dan menatap pada Zack.
"Berhentilah mencintaiku..." Kata Zack.
Kalimat Zack seketika membuat jantung dan dada Isabella perih.
Seolah ia tersambar petir yang bahkan hari itu masih terlalu pagi dan tidak hujan sama sekali.
"Apa karena..."
"Ini tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa yang telah Emir lakukan padamu." Kata Zack.
Isabella tidak bisa lagi berkata-kata, memang ia akui hubungannya dengan Zack sedang tidak baik-baik saja setelah ia melihat cucu dari walikota mencium bibir Zack.
"Aku tidak ingin membuatmu dalam bahaya jika ada di dekatku Isabella." Kata Zack.
"Kau mau kita putus?"
Zack diam.
Suasana hening beberapa menit.
"Itu akan lebih baik, kau tidak akan terus-terusan dalam bahaya. Bersamaku kau selalu berada di ujung kematian." Kata Zack menunduk merasa menyesal.
"Aku tidak masalah Zack, jika itu bisa membuatku bersamamu." Kata Isabella serak lalu mendekati Zack dan duduk di tepi ranjang.
"Tapi itu menjadi masalah bagiku Isabella, kau membuatku tidak bisa berdaya, aku akan menyerah seketika jika itu menyangkut dirimu."
"Jadi aku penghambat bagimu?" Tanya Isabella dengan suara berbisik.
"Aku hanya ingin menjagamu, menjauhkan mu dari ku, kau akan selalu dalam bahaya jika bersamaku."
"Tapi masalah Emir Khan juga tidak lepas dari masalah keluargaku juga."
"Dan pasti akan ada Emir Khan, Emir Khan yang lainnya Isabella." Kata Zack menekankan kalimatnya pada Isabella.
Air mata Isabella mengalir di kedua mata sembab yang beberapa hari terus menangis, wajahnya sudah pucat pasi.
"Aku mencintaimu Zack, aku tidak bisa berpisah denganmu seperti ini." Isabella memohon.
"Aku tidak bisa selalu menempatkan mu dalam bahaya Isabella, lupakan aku, dan hiduplah dengan normal, cari pasangan yang bisa melindungi mu di tempat aman, menjadi penduduk inggris yang normal."
"Normal yang seperti apa Zack!" Teriak Isabella lelah.
"Normal seperti yang lainnya tanpa ancaman kematian dan ancaman penculikan, aku sangat merasa bersalah atas segala yang terjadi padamu Isabella."
"Maka tebuslah dengan bersamaku." Pinta Isabella.
"Tidak bisa, rasa bersalah ini bahkan tidak sanggup membuatmu terus berada di sampingku. Aku bahkan tidak sanggup menatapmu, setelah apa yang di lakukan Emir Khan padamu, aku sangat menyesal."
"Kau meninggalkanku karena Emir sudah menyentuh tubuhku bukan? Kau merasa jijik padaku? Kau tidak mau menyentuhku?" Kata Isabella berdiri di depan Zack.
"Tidak Isabella."
"Bohong! Kau jijik padaku!" Teriak Isabella.
"Tidak..." Kata Zack lemah.
"Meski dia tidak menyetubuhiku tapi kau tetap jijik denganku karena aku sudah di sentuh oleh tangan musuh yang kau benci Zack. Benar begitu?" Kata Isabella.
Zack seketika berdiri di depan Isabella.
"Aku merasa bersalah padamu Isabella..."
"Kalau begitu cium aku." Pinta Isabella.
Zack mencengkram kedua lengan Isabella dan menatap kedua mata Isabella kemudian menundukkan kepala.
"Maafkan aku Isabella, aku benar-benar merasa seperti pecundang, tidak bisa melindungimu, bahagialah dengan yang lain." Kata Zack pergi meninggalkan Isabella.
"Zack..." Teriak Isabella.
Namun Zack tetap pergi.
"Zack ku mohon, jangan tinggalkan aku seperti ini." Teriak Isabella lemah dan menyangga tubuhnya di ambang pintu.
Terdengar pintu apartmen terbuka dan kemudian menutup kembali, apartmen menjadi sepi dan sunyi.
"Zack... Kau jahat padaku, kau jahat padaku..." Isabella lemah menelungkup di atas lantai.
"Aku tidak percaya kau meninggalkanku saat seperti ini." Kata Isabella merintih dan menangis.
"Aku menjijikkan bagimu..."
~bersambung~