
"Kau menggunakan kasus Isabella sebagai alasan untuk menikahi adikku!" Kata Harry dingin menahan tinjunya.
Hampir saja amarah itu meletup dan memukul wajah Dax jika saja adiknya tidak duduk di hadapannya.
"Kenapa hanya bagian akhirnya yang kau tangkap, sebelum aku mengatakan itu, aku lebih dulu bilang padamu jika Alicia adalah perempuan yang aku cintai. Lagi pula dengan pernikahan ini kita akan memancing Isabella, apakah dengan pernikahan Alicia, dia akan keluar. Tidak ada yang bisa kita semua lakukan, dia tidak bisa di lacak. Apakah Isabella bersembunyi atau di culik. Hubungan Isabella dengan Alicia sangat dekat tidak mungkin Isabella melewatkan begitu saja hari penting Alicia."
"Meski begitu, aku tidak bisa menerima ini, sekalipun Alicia menikah, itu tidak akan terjadi denganmu!" Harry berdiri dari tempatnya duduk.
Dax mengeratkan rahangnya.
"Apa karena aku lebih tua dari Alicia."
"Bukan."
"Ini hidupku Dax, kita tidak perlu meminta ijinnya. Kita bisa menikah kapan saja. Ayo Dax, kita pergi." Kata Alicia berdiri hendak menarik tangan Dax.
Kemudian Dax berdiri.
"Tidak Alicia, Harry satu-satunya keluarga yang kau miliki, aku akan pergi. Kau tetap di sini."
"Dax..."
"Jangan membantah kakakkmu Alicia."
"Okey, kau sudah cukup membuatku seperti orang jahat yang memisahkan kalian, apa itu tujuanmu Dax." Harry bersungut marah.
"Aku tidak tahu, kenapa kau membenci ku Harry, tapi bukankah seharusnya aku yang membenci keluarga benyamin, setelah apa yang dilakukan wanita itu pada adik perempuan ku satu-satunya. Aku datang ke sini dan meruntuhkan segala rasa dendam ku. Ini antar sesama pria Harry, kau juga pasti tahu bagaimana seorang pria benar-benar menjaga harga dirinya." Kata Dax.
"Aku mencintai nya Harry..." Kata Alicia memohon.
Harry terdiam.
Dax kemudian menurunkan tangan Alicia yang mencengkram lengannya.
"Aku akan pergi ke apartmen." Kata Dax menepuk punggung tangan Alicia.
Alicia menahan bibirnya yang bergetar karena menangis.
Dax membenahi beberapa kopernya.
"Kau benar-benar mempermalukan dia Harry!" Geram Alicia dan pergi masuk ke dalam kamarnya dengan berlari.
Dax memasukkan kembali kopernya ke dalam bagasi mobil.
Harry perlahan mendatangi Dax yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Apa jaminanmu bahwa kau tidak akan menyakiti adikku." Kata Harry tiba-tiba.
Dax yang sudah membuka pintu mobil melihat pada Harry yang berdiri di ujung pintu.
"Nyawaku?" Kata Dax.
Harry menyeringai.
"Apa masih belum cukup? Atau kita bisa menandatangani beberapa dokumen yang menurutmu baik?" Tanya Dax.
"Aku akan pikirkan itu."
Dax tersenyum klise.
"Aku akan menghubungimu jika sudah terpikirkan sesuatu." Kata Harry memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
"Aku akan menunggu itu tiba, tapi waktu ku di sini tidak banyak, aku harus segera kembali ke USA."
Harry mengangguk.
Dax pun pergi meninggalkan mansion benyamin.
*****
Tak berapa lama Demian yang baru saja menyusul sampai di Inggris.
Demian berjalan mendatangi Harry, saat itu Harry ada di ruangan kerja.
"Tuan Harry." Kata Demian menyapa.
"Aku senang kau kembali."
"Maafkan saya, saya terlambat."
"Tidak apa-apa, bagaimana penyelidikanmu."
"Tidak ada yang bisa di katakan Tuan, benar-benar bersih, tidak ada jejak apapun."
"Tapi apa kau bisa memastikan jika Isabella masih hidup?"
"Saya tidak berani tuan. Sebenarnya, banyak yang mencari Isabella, mungkin salah satunya pengawal dan informan milik tuan Zack, tapi ada cukup banyak yang mencari."
"Hmm... Siapa yang ikut mencari keberadaan Isabella selain aku dan juga Zack, bisa saja itu Dax?"
"Saya mengenali siapa suruhan tuan Dax dan itu bukan dari suruhan tuan Dax."
"Selain saya yang mendapat perintah dari anda, ada pengawal atau infornman yang mendapat perintah dari tuan Dax, lalu ada dari tuan Zack, sisanya ada 2 orang lagi yang saya tidak tahu mereka suruhan dari siapa tuan."
"2 orang itu siapa, tapi yang jauh lebih penting sekarang, dimana Isabella berada, dan siapa yang telah menyembunyikannya."
Demian diam.
"Tapi, selama di USA apa kau mengawasi adikku dengan baik Demian?" Tanya Harry.
"Ya tuan?" Tanya balik Demian tidak mengerti.
"Aku bertanya, apa kau memiliki rahasia di belakangku?" Kata Harry memainkan penanya.
"Tidak tuan." Jawab Demian lugas
"Tapi... Kenapa kau tidak melaporkan hubungan Alicia dan Dax padaku, apa mereka saling bertemu saat di USA."
Demian diam, ia tahu saat ini akan tiba. Akan aneh jika Harry tidak menyadarinya, apalagi Alicia pulang bersama Dax dari USA.
"Dari raut wajahmu, itu benar kan, kau berbohong padaku?" Harry kemudian berdiri dan duduk di depan mejanya menghadap pada Demian yang menunduk.
"Baru saja Dax mengajukan permintaan untuk menikahi adikku, apa hubungan mereka semakin erat dan tinggal bersama selama di USA." Tatapan Harry dingin.
"Maafkan saya tuan." Kata Demian kemudian bersujud dengan menyangga tubuhnya menggunakan lututnya.
Harry masih duduk di tepi meja nya, tubuhnya yang tinggi melihat Demian bersujud di depannya, membuatnya hanya melirik dengan matanya dengan kedua tangannya bersedekap di dada.
"Aku kecewa Demian, sejak kapan kau mengkhianatiku."
"Maafkan saya tuan, sejak kematian ibu sambung Nona Alicia."
Harry menyeringai kan sudut bibirnya.
"Selama itu, dan aku tidak merasakan apapun."
"Info apa saja yang kau berikan padanya." Sambung Harry.
"Hanya mengenai Nona Alicia tuan, lalu tuan Dax datang dalam pemakaman ibu sambung Nona, serta pemakaman tuan besar."
Harry menarik nafasnya, mengontrol emosi nya, ingin sekali ia menendang kepala Demian yang sedang menunduk.
"Lalu apa mereka saling bertemu."
"Tidak tuan, saya rasa tuan Dax masih sibuk dengan urusan perusahaan, membuat nya harus cepat kembali ke USA, dia berkata jika bertemu dengan nona Alicia akan berat baginya kembali ke USA."
"Cih...! Kau lebih tahu tentang dia!" Kata Harry ketus.
"Maafkan saya tuan."
"Pembelaan apa yang ingin kau katakan agar aku meringankan hukumanmu."
Demian diam.
"Katakan sebelum aku benar-benar kehabisan kesabaran."
"Tuan Dax pernah menyelamatkan adik saya dari penculikan yang akan menjual adik saya sebagai budak pada para bangsawan eropa. Saat itu pacar dari adik saya ternyata memiliki banyak scandal dengan para mafia hitam." Kata Demian.
"Mafia hitam?" Tanya Harry.
"Ya tuan, kelompok mafia hitam sudah mulai terang-terangan, mereka menggunakan beberapa masyarakat biasa sebagai boneka mereka."
Harry merenung.
"Telusuri latar belakang semua tentang Mafia Hitam, aku ingin sebanyak-banyak nya informasi."
"Akan saya coba tuan, mereka sangat pintar bersembunyi."
"Kali ini aku memaafkanmu, tapi tidak ada lain kali lagi, kau harusnya bersyukur lehermu baik-baik saja."
"Terimakasih tuan."
"Hm.. Kau tahu Demian, aku baru saja berfikir ingin memenggal lehermu sendiri dengan pedang ku." Kata Harry kemudian pergi meninggalkan ruangan kerjanya.
Demian mendesahhkan nafasnya, ia masih berlutut di atas lantai yang berwarna kecoklatan.
Tok Tok Tok...
Beberapa menit berlalu, tidak ada sautan, pintu kamar Alicia kemudian terbuka perlahan. Terlihat Harry masuk dengan tenang dan melihat Alicia tertidur.
Harry menyelimuti adiknya, matanya terlihat sembab dan menghitam.
"Dia terlalu banyak menangis. Maafkan aku Alicia, aku hanya ingin tidak ada seorang pun yang bisa menyakitimu lagi, kita tahu dulu dia pernah meninggalkanmu. Aku harus pikirkan bagaimana bisa melindungimu." Kata Harry.
Kemudian Harry mencium kening adiknya.
"Aku tidak mau kehilangan dirimu, aku sangat menyayangimu, hanya kau satu-satunya keluarga yang ku miliki."
~bersambung~