REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 08 -



Kemudian Zack pergi dari ruangan rapat, di belakangnya Stark juga mengikuti.


"Apa itu cukup untuk meyakinkan mereka?" Kata Zack.


"Saya kira itu cukup tuan muda." Sahut Stark.


Di dalam perjalanan, Zack tak henti mencermati sesuatu dalam tabletnya. Namun sekelebat bayangan, membuat Zack terkejut dan spontan meoleh, seolah ia melihat Isabella dari ekor matanya melalui jendelanya.


Zack menengok cepat. Namun, ia kembali mengatur pikirannya, yang paling penting sekarang adalah masalah keluarganya dan juga mengurus adiknya.


"Setelah kita mengelabui mereka, saya yakin mereka akan menganggap anda sudah lemah dan tidak memiliki apapun untuk melawan, mereka akan menurunkan tingkat waspada." Kata Stark.


"Nama Lawrence Group sepertinya cocok untuk perusahaan ini." Sahut Zack masih melihat tabletnya dengan jarinya sibuk meneliti seluruh arsip.


"Baik tuan muda. Saya akan mempersiapkan perusahaan tersebut."


"Siapa yang akan kau kirim?" Tanya Zack dan meletakkan tabletnya di samping kursinya.


"Ada agen sendiri tuan muda, saya mengambilnya dari markas, mereka sudah terlatih."


"Aku serahkan padamu, tapi pastikan dia menjalankan tugasnya dengan baik, aku tidak ingin misi ini gagal, jika dia gagal, kedepannya akan lebih sulit meyakinkan Emir Khan." Perintah Zack.


Mobil perlahan masuk ke dalam parkiran basement, kemudian Stark membuka pintu mobil dan Zack pun keluar, mereka masuk ke dalam Apartmen baru milik Zack.


Terlihat Dax masih mengurus Evashya, Dax menemani Evashya untuk makan.


"Kakakmu pulang." Kata Dax pada Evashya.


"Kakak..." Evashya kemudian merubah mimik wajahnya yang sedih menjadi sedikit penuh harap dan perasaan tenang.


Zack masuk di sambut dengan pelukan Evashya.


"Apa kau sudah makan?" Tanya Zack yang juga membalas pelukan Evashya, dan membelai lembut rambut adiknya.


Evashya menggelengkan kepala pelan.


"Aku menunggumu, aku takut."


"Tidak apa-apa... Ada paman Dax di apartmen." Sahut Zack.


"Bukan itu... Aku takut... Aku takut kehilanganmu..." Evashya menangis di dada Zack.


Melihat adiknya menangis lagi dan lagi, membuat Zack meremas bahu Evashya dan memeluk erat.


"Aku tidak akan apa-apa, aku janji akan selalu ada di sampingmu, menjagamu, dan meyayangimu..." Zack mencium punuk kepala Evashya.


"Wajahmu sudah mulai keriput, berhenti menangis." Sahut Zack.


"Aku sedang tidak mau bercanda." Kata Evashya bertambah menangis.


Dax datang dan membelai kepala Evashya.


"Biarkan kakakmu istirahat Evashya." Kata Dax.


Evashya melepaskan pelukannya.


"Ayo kita makan, kau juga harus makan." Kata Zack mengajak Evashya duduk kembali.


Evashya makan dengan pelan, mengunyah dengan pelan, dan air matanya kemudian jatuh lagi.


"Aku tidak bisa makan!!!"


"Aku ingin Daddy dan Mommy!!!"


Evashya membuang sendok dan garpunya dengan kesal sembari menangis, membuat sendok serta garpu tersebut terjatuh di atas lantai dan membuat makanan berceceran. Beberapa pelayan datang dan membersihkannya.


Dax menarik nafasnya dengan berat dan iba, ia pun juga sedang berusaha menguatkan hatinya untuk tegar.


Zack berdiri dan melepaslan jas nya, Stark menerimanya dan menyimpannya.


"Kalau begitu tidur saja, istirahat, aku akan menemanimu." Kata Zack menuntun Evashya.


"Paman pulang saja dulu, paman juga lelah. Tidak apa-apa, aku akan menjaga Evashya." Sahut Zack.


Dax yang tidak bisa menahan dirinya pun memilih untuk pulang menenangkan diri.


"Jaga mereka Stark, besok aku kembali." Kata Dax.


"Dengan segala nyawa saya tuan Dax." Kata Stark menunduk.


Evashya naik ke atas tempat tidur, Zack pun menyelimuti Evashya.


"Temani aku tidur." Pinta Evashya.


Zack kemudian juga masuk ke dalam selimut dan memeluk Evashya.


"Apa kau sudah tidur?" Tanya Zack.


Evashya menggeleng pelan.


Kemudian Zack menarik nafas pelan dan melanjutkan kalimatnya.


"Apa kau ingat bagaimana gaduhnya Mansion, saat kau sakit Evashya." Tanya Zack masih memeluk adiknya.


"Mm... Aku ingat." Jawab Evashya.


"Ayah bahkan membatalkan semua perjalanan bisnisnya ke luar negeri, pada saat itu Ayah ada pertemuan dengan para pejabat negara."


"Dan ibu menangis histeris lari kesana kemari karena ia kebingungan melihat seluruh badanmu merah, apalagi tubuhmu sangat panas. Sampai ia ingin mengambil air sendiri untuk mengompresmu, padahal pelayan sudah mengambilkannya dan membawanya tepat di sampingmu, ibu meracau kenapa Dokter Leizya belum juga tiba."


"Saat itu seluruh badanku gatal, karena ternyata aku alergi debu dan alergi dingin." Kata Evashya.


"Lalu bagaimana jika ayah dan ibu tahu, kau tidak mau makan?" Tanya Zack.


"Mereka akan memarahiku karena aku tidak bisa mengurusmu, karena kau menjadi kurus dan pucat, lalu tua sebelum waktunya. Mereka akan menyalahkanku karena tidak ada pria yang mau menikahimu."


"Kakak...!!! Teriak Evashya sembari memukul dada kakaknya.


"Oke... Oke... Maafkan aku." Kata Zack masih mencoba menghibur Evashya.


"Apa sekarang kau mau makan?" Tanya Zack.


Evashya masih menggelengkan kepalanya.


"Baiklah tidak usah makan, dan aku juga tidak akan makan."


"Tidak boleh, kau harus makan, kau bekerja dan menggunakan otakmu terus menerus." Sahut Evashya.


"Otakku sangat pintar dia tidak perlu makanan. Tapi mungkin hanya sedikit membuat energi ku berkurang." Kata Zack.


"Baiklah aku akan makan. Tapi jika kau juga makan." Kata Evashya kemudian.


"Aku mau kau menyuapiku." Evashya menghapus air matanya.


Zack kemudian bangun dan memencet telfon, ia menghubungi pelayan.


"Bawa makanan itu untuk Evashya." Perintah Zack.


"Baik tuan muda."


Tak berapa lama makanan yang baru pun di antar masuk ke dalam kamar Evashya dengan menggunakan baki dan di terima oleh Zack, dngan sabar Zack menyuapi adiknya.


"Kau juga harus makan Zack." Kata Evashya menyuapkan brokoli ke mulut kakaknya.


Zack mengunyah pelan dan manggut-manggut pelan.


"Tidak seenak masakan ibu." Kata Zack pelan, air matanya hampir meleleh.


*****


Dax menekan gas nya dalam, mengendarai mobil dengan cukup cepat, berharap bisa cepat sampai dan meluapkan semua emosi yang ia tahan di depan keponakannya.


Sesampainya di apartmen Dax melepaskan Jas dan membuangnya sembarangan, meraih botol alkohol dan menuangnya di gelasnya.


Meminumnya dengan cepat hingga lehernya terlihat naik dan turun.


Namun, kemudian Dax melemparkan gelas itu.


"PYAR!!"


Gelas tersebut membentur dinding dan pecah berkeping-keping.


Tak puas Dax meminum langsung alkohol dari botolnya. Pria itu kemudian duduk di sofa, sembari masih meminum alkoholnya, melalui botol langsung, menegak hingga satu botol itu habis dan mengambil lagi.


Dax menahan semua kegusaran hatinya, kepedihannya, kesedihannya, berusaha setegar mungkin di hadapan Zack serta Evashya. Dax tak ingin jatuh dan terpuruk di hadapan para keponakannya, dimana mereka harus ia jaga.


"Ting Tong!"


Terdengar suara bel pintu lift yang berbunyi, dengan malas Dax bangkit, sedikit terhuyung meski ia masih sadar, itu karena kepalanya di penuhi oleh kenangannya bersama Laura sang adik dan membuatnya tertekan.


Dax membuka pintunya, dan telihat Isyana ada di hadapannya, pria itu menelan ludah nya, pakaiannya sudah berantakan, rahangnya pun mengerat sempurna, nafasnya sudah siap berburu.


Dengan cepat Dax menarik tangan Isyana untuk masuk, pria itu langsung mencium Isyana dengan rakus dan tamak.


"Kemana saja kau!!!" Geram Dax.


Isyana ingin menjelaskan namun ia tidak memiliki kesempatan sama sekali, gerakan Dax begitu liar dan tidak bisa di bantah, Isyana hanya bisa pasrah seolah sedang di terkam oleh binatang buas yang siap mencabik-cabik tubuhnya.


~bersambung~