REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 73 -



Ketika Isabella pergi dengan membanting pintu, Wyne mengangkat dan mencibir Isabella menggunakan bibirnya.


"Attitudenya sangat buruk tuan, bagaimana anda bisa memperkerjakannya."


"Ngomong-ngomong... Siapa yang memberitahumu dia adalah sekretaris pribadiku." Tanya Zack yang sedang berdiri di samping meja sembari menyedekapkan tangannya.


"Saya hanya menduga dan menebak saja, kami bertemu di koridor, lalu ia membawa secangkir teh di tangannya, saya membaca beberapa komik biasanya itu dilakukan para sekretaris pribadi yang mengurus segala keperluan bosnya termasuk baju dan alat mandinya." Kata Wyne menundukkan kepala sembari melipat kedua tangan di depan perutnya.


Wyne sedikit malu saat menyebutkan bahwa sekretaris pribadi melakukan pekerjaan tentang keperluan pribadi boss nya.


"Kau menduga-duga?"


"Ya tuan, lagi pula dia juga mengiyakannya, ah mungkin lebih tepatnya begitu, ketika saya bertanya apakah dia sekretaris pribadi anda."


"Sejujurnya kau sudah membuatku dalam masalah besar." Kata Zack.


Wyne mengangkat wajahnya tak mengerti.


Kemudian Zack mengangkat telapak tangannya naik, dan memperlihatkan pungung tangannya, ia menunjuk cincin yang melingkar di jari manisnya.


"Dia istriku."


Wyne membuka lebar mulutnya, nafasnya tertarik ke atas hingga dadanya membusung, matanya membulat, dan kakinya sontak gemetar.


Wyne menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Ba... Ba...Ba...Ba...Bagaimana ini... Matilah saya. Matilah saya. Bodohnya saya..." Wyne meracau dan sangat ketakutan.


"Lagi pula tidak pernah ada berita anda sudah menikah tuan, jadi saya pikir anda masih bujangan."


"Bagaimana ini tuan, Nona terlihat sangat marah." Wyne panik dan menyatukan kedua telapak tangannya memohon pada Zack.


"Pulanglah, tapi terimakasih karena mu, aku bisa melihat kecemburuan istriku." Kata Zack pergi meninggalkan Wyne yang masih tertegun di ruangan Zack.


"Dari mana Stark mendapatkan wanita unik itu." Zack menahan tawa ketika ia melihat ekspresi istrinya begitu marah karena cemburu.


Saat itu Isabella sedang mengotak-atik laptop di kamarnya, entah apa yang ia cari. Zack yang datang dengan mengendap-endap membuat Isabella tidak sadar jika Zack sudah berdiri di belakangnya.


Zack melihat Isabella sedang membaca artikel tentang "Cara make up dan berpakaian cantik."


"Kau sudah sangat cantik sayang, tidak ada yang bisa menandingi kecantikanmu." Zack mencium punuk kepala Isabella.


Sontak Isabella terkejut dan menutup laptopnya dengan cepat.


"Se... Sejak kapan..." Isabella berdiri dan menghindar.


"Sejak tadi, kau tidak menyadarinya?" Tanya Zack.


Isabella duduk di tepi ranjang dan membuka selimut.


"Ini baru pukul 10 malam, kau sudah mau tidur?" Tanya Zack lagi.


Isabella diam dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Astaga apa yang ku lakukan, aku menjadi salah tingkah, kenapa sekarang aku tidur, dia pasti mengira yang tidak-tidak. Hanya duduk di tepi ranjang saja itu seolah sudah seperti memberi kode, sekarang aku tidur di ranjang, apa yang ku pikirkan."


Zack tersenyum dan mendekat, ketika Zack menunduk dengan cepat Isabella juga bangun, seketika dahi dan kepala mereka saling membentur.


Jedug!


"Aaaahh...!!!" Pekik Isabella memegangi dahinya yang sakit.


Zack juga memegangi dahinya yang berdenyut.


Isabella bangun namun kepalanya pusing dan tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya.


Zack dengan cepat menangkap Isabella ke dalam pelukannya, agar Isabella tidak jatuh, namun Isabella meronta dan tanpa sengaja menjinjak kaki milik Zack.


Zack mendesis karena Isabella menginjaknya memakai tumitnya.


"Diamlah sayang, kau aman di pelukanku, tenanglah." Kata Zack memeluk erat Isabella dan membelai rambut Isabella.


"Tidak perlu memikirkan sesuatu yang membuatmu bimbang." Kata Zack masih memeluk Isabella.


"Ingat, aku masih marah padamu!" Balas Isabella.


"Iya, aku tahu kau masih marah." Zack tersenyum.


"Iya sayang." Zack masih memeluk Isabella dan membelai kelapa Isabella dengan lembut.


"Tapi sayang, apa kau begitu cemburu pada sekretaris itu, jika kau tidak suka aku akan menggantinya, dia sekretaris yang di pilih Stark untuk menggantikan tugas-tugasnya."


"Memang Stark ada dimana?" Isabella melepaskan pelukan Zack.


"Dia sedang mengurus sesuatu."


"Apa lama?"


"Kau merindukan Stark? Kau memikirkannya?" Zack mengerutkan dahinya.


"Iya, aku selalu memikirkan Stark, aku merindukannya juga, aku hampa tanpa dirinya, aku sangat kesepian tanpa melihatnya, dan aku..."


Zack menutup mulut Isabella dengan mencium bibir Isabella. Hanya sebuah kecupan cepat.


"Kalau begitu, aku sangat menyayangkan karena hari ini nyawanya akan menghilang." Kata Zack tersenyum dingin.


Isabella mengerutkan alisnya tidak mengerti, ia pikir Zack sedang bercanda dengannya.


Zack mengeluarkan ponselnya dan menghubungi salah satu pengawalnya.


"Lagi pula sejak sekretaris itu datang memakai pakaian seksi, aku sudah berniat ingin membunuhnya, dan sekarang kau merindukan serta memikirkannya, aku semakin bersemangat ingin melenyapkannya." Zack tersenyum dingin.


"A...Apa...?!" Isabella seketika takut dan tubuhnya meremang.


"Halo Tuan Zack..."


"Dimana Stark?" Tanya Zack pada pengawalnya yang sudah tersambung.


Kemudian Zack meloudspeakernya


"Ada tuan, sedang memancing."


"Apa memdapatkan ikan yang besar?"


"Belum tuan, tapi tuan Stark masih terus memancing, kami sudah mempersiapkan semua peralatannya, mengantisipasi jika ikan yang jauh lebih besar akan datang."


"Hmm... Namamu Jade bukan, yang selalu menemani Stark?"


"Benar tuan."


"Penggal kepala Stark atau bunuh dia menggunakan laras panjang tepat di kepalanya."


"Ya t**uan?" Pengawal itu terkejut dan bertanya ingin memastikan jika ia salah mendengar.


Isabella dengan cepat meraih ponsel Zack dan berteriak.


"Jangan dengarkan apa yang barusan, Zack sudah gila!!! Jangan sekali-kali membunuh Stark!!!" Teriak Isabella di depan ponsel Zack


"Jangan membunuhnya, apa kau mengerti!!! Halo!! Halo!!"


"Saya baik-baik saja Nona Isabella, apa Tuan Zack marah? Saya sudah mendengar ceritanya dari Wyne. Baru saja dia selesai menghubungi saya, maafkan kecerobohan saya Nona Isabella, saya benar-benar minta maaf, tuan Zack tidak tahu menahu tentang sekretaris itu, Wyne baru bekerja hari ini, akan saya jelaskan pada anda saat nanti kita bertemu."


"Memangnya kau siapa mengajak istriku bertemu." Zack merampas ponsel yang ada di tangan Isabella san mematikannya lalu melemparnya ke atas tempat tidur.


Isabella terduduk di tepian ranjang sembari memegangi dadanya, ia merasa lega bahwa nyawa Stark akan baik-baik saja, dan tentu saja menyesali perkataannya.


Zack berlutut di depan Isabella dan mencium kedua lutut Isabella dengan lembut, kemudian Zack menarik laci meja yang ada di sebelah tempat tidur Isabella.


Pria itu tahu, Isabella melepaskan cincinnya dan menyimpannya di sana, perlahan Zack mengambilnya dan memakaikannya lagi di jari manis Isabella, Zack masih berlutut.


"Aku mohon pakailah Isabella, aku tidak mau ada orang lain lagi yang mengira kau adalah sekretaris pribadiku."


"Tapi memang aku yang mengurusi semua keperluanmu kan."


"Tapi bukan sebagai sekretaris pribadai melainkan istri sah Zack Wickley. Setelah situasi mereda aku akan membuat pesta pernikahan dan mengulangi pemberkatan pernikahan kita, lalu aku juga akan mengumumkan ke seluruh dunia bahwa kau adalah istriku." Zack mencium punggung tangan Isabella.


"Kenapa kau senekat ini Zack." Kata Isabella lirih.


"Aku melakukan satu kesalahan yang akan membuatku menyesal seumur hidup, dan aku tidak mau mengulangin kesalahan itu, jadi aku menahanmu dengan cara ini." Kata Zack menggendikkan kedua bahunya.


"Aku tidak memiliki ide lain selain seperti ini Isabella." Wajah Zack terlihat lemah dan sedih.


~bersambung~