
Zack menemui dokter Alexander yang sudah duduk di ruang tamu bersama Stark yang berdiri di sampingnya.
Ketika Zack datang, dokter Alexander berdiri dan menundukkan kepalanya sedikit.
"Saya terkejut anda menghubungi saya." Kata Alexander.
"Saya berterimakasih anda mau datang." Kata Zack.
"Tidak perlu sungkan tuan Zack, paman anda sudah seperti saudara bagi saya."
"Kalau begitu bagaimana jika kita berbicara dengan santai tanpa kalimat formal?" Tanya Zack.
"Saya setuju." Kata Alexander.
"Jadi, apa yang pertama kali harus di lakukan pada istriku?" Tanya Zack.
"Aku harus melihat kondisinya dulu, seberapa parah dan seberapa terpengaruhnya istri mu."
Zack mengangguk.
"Aku akan memanggil istriku, tunggu sebentar." Kata Zack.
Setelah pergi beberapa menit, Zack kembali dengan Isabella.
Alexander terpana dengan kecantikan yang Isabella miliki.
"Kau sangat beruntung Zack, mendapatkan bidadari sebagai istri." Kata Alexander pelan sembari mengulurkan tangannya untuk memberikan salam pada Isabella.
Ketika Isabella hendak mengulurkan tangannya, Zack menahannya.
"Aku kira kau terpesona pada istriku, aku hanya menjaga mu Alexander, ketika kau berani menyentuh tangan istriku, kau akan semakin tenggelam dalam pesonanya."
Alexander tersenyum.
"Maafkan kelancanganku, aku janji akan bekerja dengan sangat profesional, tapi dalam metode ku hanya aku yang boleh menyentuhnya nanti, tapi tenang saja bukan hal yang mesumm."
"Itu pikiran yang bagus, karena kau tahu bagaimana kemarahan singa jika kau mengganggunya."
"Apa anda dokter yang akan memeriksa saya?" Tanya Isabella.
"Benar Nona, bagaimana jika anda duduk dengan rilex." Kata Alexander.
Isabella duduk dan berdampingan dengan Zack.
Alexander melihat Zack begitu mencintai Isabella, tangan kecil milik Isabella tidak pernah lepas dari genggamannya.
"Nona Isabella, saya akan melakukan sedikit pertanyaan, jadi saya minta anda menyandarkan punggung dengan se rilex mungkin."
Isabella melihat pada Zack seolah mencari jawaban di wajah suaminya, Zack tersenyum pertanda ia setuju.
Kemudian Isabella mengangguk menanggapi pertanyaan Alexander.
Alexander pun berdiri dan mengeluarkan peralatannya.
"Tuan Stark tolong bantu saya menutup semua gordyn." Perintah Alexander.
Stark pun melihat pada Zack, setelah Zack mengangguk barulah Stark melakukan nya.
Alexander mengeluarkan beberapa gelas berisi lilin-lilin yang berwarna warni, kemudian meletakkan di beberapa tempat tak jauh dari Isabella duduk dan kemudian menyalakannya.
Ruangan yang cukup gelap menjadi remang-remang karena cahaya lilin.
Zack menghirup aroma lilin-lilin itu, aroma tiap lilin berbeda-beda sesuai dengan warnanya.
Lalu Alexander mengeluarkan buku catatan lengkap dengan penanya, ia juga mengeluarkan zippo dan beberapa puntung rokok yang seperti di gulung sendiri.
Alexander kemudian duduk di depan Isabella.
"Maaf tuan Zack, tapi kau harus melepaskan genggamanmu, dan setidaknya saat aku merokok kau dan pengawalmu harus sedikit menjauh, ini juga bisa mempengaruhi kalian." Kata Alexander.
Zack mencium punggung tangan Isabella dan pergi menjauh, berdiri di sudut ruangan.
"Apa anda cenayang?" Tanya Isabella.
Alexander tersenyum.
"Bukan, tapi saya bisa menjadi cenayang anda jika anda mau." Bisik Alexander tenang dan sepelan mungkin.
Alexander menyalakan rokok di depan Isabella lalu menghembuskan asapnya tepat di wajah Isabella dengan perlahan.
"Anda bisa melihat jari saya saat saya memainkan zippo?" Tanya Alexander.
Sontak Isabella melihat jemari lincah Alexander yang terampil memainkan Zipponya. Itu cukup menyenangkan dan menenangkan, gerakan itu cepat, lincah dan sangat terampil. Apalagi jemari Alexander yang panjang dan ramping begitu terlihat seksi, entah mengapa jemari pria itu begitu indah.
"Jari-jari yang indah." Kata Isabella pelan.
Alexander tersenyum, wajah tampan blesteran korea dan amerika, siapa yang tidak akan terpikat dengannya.
"Apa hanya jari saya yang indah, apa anda hanya menyukai jari saya? Karena anda bahkan tidak menatap saya lebih lama ketika kita bertemu." Tanya Alexander dengan berbisik.
Sedang Alexander masih menghisap rokoknya dan menghembuskan asapnya pada Isabella.
Zack berdiri dan menyedekapkan tangannya, ia merasa tidak tenang, melihat Isabella mulai menutup matanya Zack kemudian duduk tak jauh dari Isabella memperhatikan dengan seksama. Sebelumnya Zack tidak bisa mendengar apa yang mereka obrolkan, ia kemudian memilih untuk duduk lebih dekat.
"Isabella... Kau mendengar ku?" Tanya Alexander.
"Isabella apa kau ada di sana?"
"Hmm..." Kata Isabella.
"Sedang dimana kau sekarang?"
"Aku... Ada di apartmen."
"Apartmen? Sedang apa kau di sana."
"Aku... Sedang menangis."
"Kenapa kau menangis di sana? Kenapa bukan ke tempat yang menyenangkan."
"Sekian banyak kesakitan, namun tempat ini lah yang membuatku lebih banyak merasakan sakit dan tempat ini lah yang paling ku ingat."
"Apartmen mana itu?"
"Apartmen milik Zack."
Alexander melirik Zack.
"Lalu apa yang sedang terjadi, kenapa anda menangis."
"Zack meninggalkanku, dia pergi, melalui pintu itu." Isabella mengangkat tangannya menunjuk lalu menurunkannya lagi.
"Kenapa dia meninggalkanmu?"
"Itu... Itu... Aku tidak tahu, mungkin dia jijik padaku."
"Kenapa?"
Isabella mulai bertambah menangis dan terisak.
"Kau bisa ceritakan padaku." Alexander menghisap rokoknya lagi, dan meniupkannya pada Isabella.
Sedangkan Zack mulai tidak nyaman, ia mulai tidak menyukainya, masalah ini seharusnya tidak perlu di ungkap.
"Zack meninggalkanku, karena tubuhku sudah di jamah oleh Emir." Isabella menangis terisak, seolah tubuhnya kembali merasakan keadaan dimana sakitnya saat Zack meninggalkannya.
"Stop Alexander!" Zack berdiri dan berteriak.
"Kita harus tahu dulu penyebab Isabella bisa terpengaruh dengan hipnotis yang mereka lakukan, hanya dengan melihat matanya, aku sudah bisa pastikan, jati dirinya yang sekarang bukanlah Isabella." Kata Alexander.
Perkataan Alexander memang masuk akal, bagi Zack. Isabella yang sekarang lebih dingin dan berubah-ubah.
"Jika kau setuju, duduklah dengan tenang." Kata Alexander.
Kemudian Zack duduk kembali.
Alexander pun menghisap rokoknya lagi dan menghembuskannya di wajah Isabella.
"Isabella, bisa kau ceritakan apa saja yang sudah kau lalui?"
Isabella menangis lagi.
"Aku menunggu dan terus menunggu, berharap pintu itu kembali terbuka dan itu adalah Zack. Aku menunggunya kembali pulang, di sudut yang gelap dan memeluk kedua kakiku, namun dia tak pernah kembali. Aku mengingat janjinya, bahwa dia tidak akan membuangku sebelum aku yang membuangnya. Kenapa dia yang justru membuangku dan meninggalkanku saat setiap malam aku bermimpi buruk tentang wajah Emir yang menyeramkan, tentang tangan-tangan Emir yang keras dan penuh tenaga merobek harga diriku, aku hanya butuh perlindungannya. Tapi, dia pergi meninggalkanku."
Isabella mengangkat kedua kakinya naik, dan memeluknya, ia meringkuk, menangis dan membuat tubuhnya melingkar kecil.
Alexander dengan lembut melepaskan tangan yang kaku itu dengan pelan.
"Rilex Isabella..." Kata Alexander.
"Duduklah dengan rilex, aku datang ingin menyembuhkan lukamu. Kau hanya perlu bercerita padaku."
Alexander membenarkan posisi duduk Isabella yang meringkuk, pria itu mengangkat tubuh Isabella hingga sedikit memeluknya.
Zack mencengkram kedua tangannya dan menahan tinjunya.
Setelah posisi duduk Isabella benar Alexander pun duduk kembali dan melanjutkan pertanyaannya.
"Lalu setelah itu apa yang kau lakukan?"
"Aku pergi dari apartmen, meninggalkan semua rasa cintaku di sana bersama kalung yang paling ku sayangi, aku meninggalkannya di dalam laci, dan mengemasi semua barangku, aku tidak membawa apapun kecuali milikku sendiri, saat itu aku datang tanpa membawa apapun dan aku pergi juga tanpa membawa apapun dari Zack, aku meninggalkan semua kartu-kartu dan semua perhiasan disana." Tubuh Isabella bergetar dan menggigil, tangisannya semakin menjadi.
Zack mengepalkan tangan dan berdiri, hampir saja ia memukul sesuatu jika Stark tidak menahannya.
"Lalu, kemana kau pergi saat itu?"
"Aku pergi ke perbatasan kota, aku ingin bekerja di sana, lalu setelah memiliki cukup uang aku ingin pergi dari inggris, memulai hidup yang baru dan menghibur diri ku sendiri, dengan mengelilingi tempat-tempat indah di dunia, meski itu tidak mungkin karena aku tidak memiliki uang, setidaknya impian itu bisa menguatkanku untuk bangkit dan melupakan Zack." Isabella menangis terisak hingga tenggorokannya begitu sakit.
Alexander yang hanya mendengar saja merasa begitu sangat sakit apalagi Isabella yang menjalaninya.
~bersambung~