
"Mataku tidak pernah salah, orang yang memiliki pendidikan tinggi akan memperlihatkan kharismanya sendiri meski ia bersembunyi di balik seragam cleaning service. Kenapa kau melamar menjadi cleaning service." Tanya Stark pada gadis yang kini sudah duduk di hadapannya.
Di lain sisi, Wyne justru kebingungan.
"Aku baru saja melihat latar belakangmu, kau memiliki pendidikan yang bagus, lulusan universitas yang bagus juga dengan peringkat yang bagus. Semuanya bagus, wajahmu juga... Ehem..." Stark tidak melanjutkan dan justru terbatuk.
"Wajahmu cocok sebagai sekretaris." Lanjut Stark.
"Ah..." Wyne baru mengerti dan sedikit mengangkat dagunya sembari tersenyum tipis.
"Karena di sini hanya ada lowongan pekerjaan di bidang itu." Kata Wyne.
Stark melihat kembali cv milik Wyne.
"Kenapa nama mu Wyne?" Tanya Stark.
"Kenapa aku menanyakan ini?"
"Saya... Tidak tahu, orang tua saya yang memberikan nama itu." Wyne sedikit melirik pada tatapan Stark ia merasa di tekan, aura pria di hadapannya begitu dominan.
Baru kali ini Stark di buat tidak berdaya, segala pertanyaan yang sudah ia rancang, seketika buyar dan tanpa jejak dari dalam otaknya.
"Kau bisa menjalankan tugas sekretaris mulai sekarang. Aku yakin itu tidak sulit bagi mu melihat bagaimana nilai-nilaimu yang memuaskan."
"Apa!" Wyne merasa salah dengar.
"Sepertinya harus ke dokter." Kata Wyne lemah sembari memasukkan jari kelingkingnya ke telinganya.
"Kau tidak salah dengar, mulai hari ini kau naik jabatan menjadi sekretaris presdir, karena beberapa hari aku harus pergi, dan kau bertugas mengurus dokumen-dokumen untuk presdir, dokumen itu harus diantar bolak balik mansion - perusahaan, apa kau sanggup?" Tanya Stark kemudian.
"Sa... Saya tidak salah dengar! Sa... Saya sangat sanggup, sejauh apapun itu akan saya tempuh tuan Stark!" Wyne berkata dengan ber api-api. Matanya berbinar bagai cahaya yang menyilaukan.
Stark menelan ludahnya, tanpa ia sadari Wyne sudah mengisi pikiran dan menari-nari di kepalanya.
"Tuan, apa anda sakit? Wajah anda merah padam." Wyne memajukan tubuhnya untuk memastikan keadaan Stark. Tangannya terulur maju.
Dengan gerakan spontan Stark mundur namun ia justru terlalu bertenaga membuat kursinya tidak seimbang dan ia jatuh ke lantai.
Wyne berdiri dan hendak menolong Stark, namun tawa di wajahnya benar-benar tidak bisa ia tahan dengan kelakuan lucu Stark.
"Kenapa anda begitu impulsif tuan." Wyne hendak membantu Stark.
"Jangan sentuh." Stark memberikan peringatan.
"Kenapa?" Tanya Wyne tidak mengerti.
Saat itu Stark menyembunyikan wajahnya, ia tidak mau melihat Wyne.
"Pergi!" Perintah Stark.
"Tapi tuan biarkan saya membantu..."
"Pergi atau kau akan menyesal!" Bentak Stark.
Wyne yang ketakutan, akhirnya memilih untuk melangkah pergi setelah terdengar pintu di tutup Stark bangkit dan membenarkan pakaiannya.
"Magic apa yang dia gunakan." Kata Stark menghela nafasnya dan duduk kembali di kursinya dengan lemah.
Stark menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang besar dan berotot, ia tidak menyangka gadis itu bisa membuatnya serba salah tingkah dan tak berdaya, ia tidak bisa menatap Wyne, seluruh darahnya mendidih dan ingin sekali mencengkram tubuh kecil Wyne, apalagi mata yang bersinar itu begitu terlihat lugu.
******
Matahari sore telah menyorot dan siap tenggelam, namun sinar senja itu begitu terlihat indah bagi Zack, ia sangat merindukan Isabella, sepanjang hari Zack bertanya sedang apa Isabella, saat Zack penasaran ia akan bertanya pada para pengawalnya.
Tok tok tok.. Pintu di ketuk.
"Masuk."
Seorang gadis datang dengan pakaian agak lusuh.
"Tuan, saya akan membantu membawakan dokumen anda." Kata Wyne.
Zack mengernyitkan dahi nya. Kemudian ia memanggil Stark.
Merasa di panggil, Stark langsung berjalan dengan langkah lebar menuju ruangan Zack.
"Dia bilang akan membawa dokumen-dokumennya?" Tanya Zack.
Zack diam.
Tak berapa lama Stark menyuruh Wyne untuk keluar untuk berbicara dengan Zack.
Wyne keluar dan menutup pintu.
"Saya harus pergi beberapa hari untuk menyelidiki mafia hitam dan juga mengurus beberapa semut utusan Julian." Kata Stark.
"Ke depannya, bicarakan dulu padaku." Kata Zack.
"Maaf tuan Zack."
"Tidak perlu minta maaf, aku akan pergi lebih dulu, ajak sekretaris itu berbelanja untuk kebutuhannya, aku tidak mau sekretarisku terlihat lusuh."
"Ya tuan?!" Tanya Stark terkejut.
"Kau yang merekrutnya bukan? Tidak mungkin aku yang menemaninya belanja. Istriku akan membunuhku, dia pasti mengamuk dan membakar mansion, sampai hari ini saja Isabella masih mendiamkanku. Kau yang memilih wanita itu menjadi sekretarisku, kau juga yang harus bertanggung jawab, berikan gaji di awal meski dia belum bekerja, mengingat kau yang telah merekrutnya aku percaya dia berkopeten. Apa itu masalah bagimu?"
"Ti... Tidak ada tuan." Stark menunduk.
"Semua orang tahu gaji yang di dapat sebagai sekretaris memiliki nominal besar, apa yang akan di katakan oleh orang lain jika dia berpenampilan seperti itu di belakangku, lagi pula kau tahu bagaimana seseorang yang seharusnya berdiri sepanjang waktu denganku, kau tahu Stark selera ku tinggi, maka dandani dia agar aku tidak di perolok dan di tertawakan oleh orang lain." Kata Zack sembari memakai jas nya.
Stark hanya menunduk, dalam pikirannya terlintas bahwa ia akan menghabiskan waktu dengan Wyne.
Berbelanja dengan Wyne. Berbelanja dengan Wyne.
Zack melihat jam tangannya dan menunjukkan pukul 4 sore.
"Stark, suruh sekeretaris itu mengumpulkan semua dokumen dan proposalnya dari para karyawan dan manager, pukul 8 malam semua dokumen harus sudah berada di mansion."
Zack kemudian pergi meninggalkan Stark yang masih berdiri kaku di tempatnya.
"Kau tidak mengantarku naik?" Tanya Zack.
Lamunan Stark seketika buyar ketika Zack bertanya padanya.
"Saya akan mengawal anda tuan."
Zack naik ke atap bersama Stark, di sana helikopter sudah menunggu untuk membawa Zack kembali ke pulau hantu, dimana ia juga menempatkan istrinya di sana.
******
Stark sudah membawa beberapa paperbag belanjaan berisi pakaian, tas, sepatu, dan perlengkapan make up lainnya, karena ia merasa kwalahan, Stark memanggil beberapa anak buah untuk membantunya membawa barang belanjaan.
"Beli beberapa baju lagi dan kau bisa kembali ke perusahaan untuk mengambil semua dokumen." Kata Stark.
"Baik tuan."
Kemudian mereka masuk di salah satu toko baju bermerk, Wyne melihat-lihat dan Stark masih berdiri dengan membawa beberapa barang belanjaan, terlihat para pengawal yang lain berada di depan toko dengan barang-barang belanjaan pula.
"Aduh, beruntung sekali Nona itu, pengawal dan pacarnya sangat setia."
"Iya, pasti dia orang kaya."
Bisik-bisik pun semakin heboh, membuat Wyne tersipu malu dan tersenyum. Wajahnya seketika merona.
Sebuah gaun berwarna merah membuat matanya takjub, ia mengambilnya dan melihat bentuk gaun tersebut.
"Nona, ini sangat cocok untuk pergi ke pesta dengan pacar anda, aduhh... Anda pasti akan terlihat sangat cantik, lihatlah pacar anda juga sepertinya akan setuju." Kata sang karyawan toko.
"Saya akan mencobanya." Kata Wyne malu-malu.
Setelah beberapa menit Wyne berada di ruang ganti, akhirnya dia keluar dengan memakai gaun merah itu.
Stark yang melihat langsung melepaskan semua barang belanjaannya dan melepaskan jasnya, ia maju lalu menutupi tubuh Wyne menggunakan jas miliknya.
Wajah Stark begitu merah, bahkan ia tidak berani lagi melihat pada Wyne yang begitu cantik.
Gaun itu memperlihatkan lekuk tubuh Wyne, terlalu seksi dan memperlihatkan bahu langsung Wyne, belahannya pun tinggi hingga batas paha, perpaduan warna merah dan kemerlip membuat wajah Wyne juga memerah mempesona.
" Ya Tuhan.... Kalian sangat serasi." Decak kagum semua karyawan toko.
~bersambung~