
Beberapa minggu setelah liburan Camping/Karya Wisata kelas Akselerasi Hill School..
Siswa dan siswi yang berada di kelas Akselerasi mendapatkan libur cukup panjang setelah kunjungan karya wisata untuk tugas karya ilmiah mereka.
Liburan itu di berikan agar para murid bisa beristirahat dan juga bisa mempersiapkan diri pada ujian pertengahan tahun.
Pagi itu semua siswa dan siswi sudah kembali berangkat ke sekolah, dan pagi itu juga awal dari rangkain ujian para siswa dan siswi Hill School.
Evashya turun dari mobil bersama Zack. Sedangkan Evahsya sudah di sambut oleh teman-teman sekelasnya.
Saat itu juga Isabella baru tiba dan menyapa Evashya.
"Hay Evashya senang bertemu denganmu." Sapa Isabella.
Namun di luar dugaan Evashya justru hanya diam membisu dan mengacuhkan Isabella, memandang ketus dan kemudian pergi berlalu.
Zack melihat itu dan hendak mengejar, ia ingin memberikan nasihat pada Evashya agar lebih sopan.
"Evashya!"
"Tidak perlu Zack." Cegah Isabella menahan lengan Zack.
"Kita harus fokus ujian, apa kita satu ruangan?" Tanya Isabella.
Gadis itu cukup yakin jika dirinya satu ruangan dengan Zack, pasalnya setiap ujian mereka selalu satu ruangan, namun mungkin Zack tidak pernah menyadarinya karena saat itu ia begitu dingin dan tidak memperhatikan sekelilingnya.
Namun Isabella seketika merubah mimik wajahnya ketika ia berdiri di depan papan announcement melihat daftar yang menunjukkan bahwa ia justru tidak satu kelas dengan Zack.
Yang membuat Isabella semakin down adalah, ternyata ia sekelas dengan Sezi dan kawan-kawannya. Bahkan tempat duduk mereka saling berdekatan.
"Apa kau baik-baik saja Isabella?" Tanya Zack.
"Ah... Iya, aku baik-baik saja. Ayo sebentar lagi bel berbunyi, kau harus masuk ke ruanganmu sendiri."
Zack cukup ragu meninggalkan Isabella.
"Aku tidak apa-apa Zack." Kata Isabella menyakinkan zack sembari tersenyum.
"Hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Isabella hanya mengangguk pelan.
Bel pertanda kelas akan segera di mulai di Hill School sudah berkumandang.
Semua masuk ke ruangan kelas masing-masing para guru juga sudah siap membawa soal-soal di tangannya.
Tanpa banyak kata sang guru membagikan selembaran soal pada para muridnya, dan dengan tenang para murid mengerjakan soal-soal tersebut.
Ujian pertama pada menit-menit awal di lalui Isabella dengan aman dan tenang, namun sebuah buntalan kertas mengenai kepalanya.
Isabella membuka buntalan kertas tersebut perlahan dengan sesekali melirik pada guru.
Terlihat sang guru pun tidak benar-benar menjaga ia tidak memperhatikan ruangan, guru itu duduk sembari fokus membaca bukunya dari balik kaca mata.
"Jalangg berikan jawabannya atau kau akan mati!!!"
Sebuah ancaman lagi.
Dengan pasrah Isabella pun menuliskan jawaban-jawaban di balik tulisan ancaman tersebut dan melemparkan kembali pada Sezi.
Ujian pertama berlalu seperti itu dan terus menerus Sezi menginginkan semua jawaban milik Isabella.
Hingga akhirnya bel berbunyi dan semua kertas ujian harus di kumpulkan. Guru tersebut mengambil kertas milik masing-masing siswa dan siswi.
Setelah guru pergi, Sezi dan para teman-temannya mendatangi Isabella.
"Kerja yang bagus, nanti dan juga besok jangan lupa untuk memberikan jawabannya lagi." Kata Sezi menepuk kepala Isabella pelan.
Isabella hanya diam, dan tak berapa lama Zack datang ke ruangan Isabella.
"Kau mau makan sesuatu?" Tanya Zack.
"Tidak, aku tidak lapar Zack."
"Apa kau mau ku belikan sesuatu?"
Isabella tersenyum dan menggelengkan kepala.
"Apa kau sakit Isabella? Wajahmu pucat."
Isabella kemudian tersenyum dan mengangkat bukunya memberikan kode bahwa ia harus belajar dan mungkin wajahnya pucat karena ia sibuk belajar.
Zack menarik tangan Isabella dan menggandengnya ke kantin utama untuk makan siang, kemudian mengambilkan piring pada Isabella.
"Ayo makan." Kata Zack.
"Tidak Zack, aku tidak bisa makan di sini, ingat beasiswaku tidak untuk menanggung makanan di sini."
"Aku yang mengajakmu makan di sini, kau datang bersamaku."
"Tapi Zack..."
"Kalau begitu kau duduk saja aku akan bawakan sesuatu untukmu."
Kemudian Isabella duduk sedangkan Zack sibuk mengambil ini dan itu dan kemudian menaruhnya di atas meja tepat di depan Isabella.
"Ayo makan." Kata Zack sembari duduk di depan Isabella.
"Aku tidak enak duduk di sini Zack, aku bisa pindah ke kantin sebelah dan membeli sepotong roti kemasan."
"Kau selalu melakukan itu, sekarang kau harus makan di sini bersamaku."
Semua siswa memandang ke arah Isabella, bagaimana mungkin seorang siswa yang memiliki logo beasiswa makan di kantin utama.
"Zack, aku mohon, aku tidak nyaman di sini."
Isabella pergi meninggalkan Zack yang sudah mengambilkan makanan dengan beberapa lauk serta sayuran, tak lupa Zack juga mengambil beberapa puding serta jus untuk Isabella, namun semua itu masih utuh. Isabella tidak menyentuh apapun.
Zack terpaku dengan kepergian Isabella, kemudian dengan cepat ia beranjak pergi dan menahan lengan Isabella.
"Ada apa Isabella, apa kau ada masalah, kau bahkan tersenyum dengan paksa saat aku datang padamu."
"Aku lelah Zack." Sahut Isabella melepaskan diri dari tangan Zack.
"Katakan ada apa Isabella."
"Tidak ada Zack, aku hanya ingin sendiri dan belajar."
Kemudian Isabella berjalan lagi, namun Zack menghentikan langkah Isabella kembali dengan berdiri di hadapan Isabella.
"Ada apa Isabella, apa kau marah padaku? Apa kau sedang kesal padaku, apa aku melakukan kesalahan?"
"Entahlah, aku hanya sedang tidak mood." Kata Isabella.
"Kalau begitu ayo beli sesuatu, yoghurt atau cemilan manis agar membuat moodmu naik dan bersemangat." Zack menarik tangan Isabella.
"Zack!!!" Teriak Isabella kesal.
Zack terkejut melihat Isabella berteriak padanya.
"Aku lelah, dan jangan memaksakan kehendakmu padaku, kau mengatur ini dan itu pada hidupku, kau memaksa aku ikut denganmu , melanggar semua peraturan bagi siswi beasiswa. Aku tidak nyaman dengan semua itu!" Isabella kesal dan meninggalkan Zack.
Sedangkan Zack masih terkejut bagaimana Isabella meluapkan kekesalan itu tepat di depan semua siswa dan siswi yang memandangi mereka.
"Apa mereka bertengkar?" Tanya seorang siswi pada temannya.
"Ku dengar pacarnya tepatnya si wanita itu di musuhi satu kelas karena dari jalur beasiswa dan mempermainkan 2 pria sekaligus."
"Siapa?"
"Harry Benyamin dan Zack Wickley."
"Apa, tamak dan kurang ajar, pantas jalangg itu di musuhi satu kelas, seharusnya satu sekolahan, apalagi dia dari jalur beasiswa. Beraninya mempermainkan siswa elite." Sahut seseorang siswi lagi.
Zack menahan amarah yang menggondok dan menutup matanya, seandainya saja ia tidak menahan semua amarah yang siap meledak, pastilah Zack sudah menarik lidah mereka masing-masing dan menyayat mulut mereka.
Bel berbunyi dan pertanda ujian akan kembali berlangsung.
Zack masuk ke dalam ruangannya sedangkan Isabella juga sudah duduk di kursinya.
Seorang guru yang berbeda dari guru pertama masuk ke ruangan dan membagikan lagi kertas ujian.
Isabella kembali mengerjakannya tanpa menoleh kesana dan kemari. Sesekali melihat pada guru yang berjaga.
"Pantas saja, guru juga pasti sudah saling bekerja sama dengan para orang tua siswi yang merundungku."
Sang guru bahkan berjaga dengan menutup mata dan sesekali tertidur, entah pura pura atau memang benar-benar tertidur.
~bersambung~