REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 15 -



Api unggun sudah di nyalakan, semua sudah duduk dan bernyanyi.


Isabella duduk dengan teman-temannya dan bertepuk tangan pelan ikut bernyanyi.


"Isabella Zack mencarimu." Kata seorang temannya yang baru tiba.


"Benarkah? Ada dimana?" Tanya Isabella.


"Katanya kau hanya cukup berjalan menaiki jalan setapak dia sudah menunggumu di sana." Sahut temannya lagi.


Kemudian Isabella berdiri dan menaiki jalan setapak perlahan.


"Katanya harus berangkat bersama kenapa dia menunggu ku di sana." Kata Isabella lirih.


Sedangkan Zack sendiri, berdiri bolak balik mondar dan mandir, ia cukup kesal karena berulang kali tidak dapat menghubungi Stark, hingga ia harus mencari sinyal dan berjalan cukup jauh dari perkemahan.


Dan akhirnya panggilannya berhasil.


"Bagaimana?" Tanya Zack.


"Semua sudah siap tuan muda, agen akan pergi setelah anda pulang dari karya wisata."


"Tidak usah menunggu ku, kau tahu apa yang harus di lakukan." Kata Zack.


"Baik Tuan."


"Bagaimana keadaan adikku, Stark?"


"Nona muda baik-baik saja tuan muda, dan sudah mau makan."


"Syukurlah."


"Tapi, tuan Dax beberapa jam lalu menghubungi saya jika harus terbang mendadak ke Amerika karena urusan perusahaan Induk yang ada di Amerika cukup mengkhawatirkan."


"Ada apa dengan perusahaan induk kontruksi milik paman Dax?"


"Sepertinya karena Tuan Dax tidak pernah berada di perusahaan Induk, menyebabkan perusahaan itu cukup di tekan, saya rasa mereka sedang ingin menunjukkan taring, namun tidak tahu siapa lawan mereka sebenarnya."


"Mereka akan tunggang langgang ketika paman Dax marah."


"Saya akan menghubungi anda untuk kabar selanjutnya tuan muda." Sahut Stark.


"Hm. Aku percaya padamu." Sahut Zack dan menutup panggilannya.


Zack kemudian kembali ke perkemahan, ia mencari-cari Isabella bertanya pada yang lain namun tidak ada yang melihat dan tidak ada yang tahu dimana Isabella.


Zack kemudian berjalan mencari Isabella kemana kekasihnya sedang pergi, ia menapaki jalan setapak dan melihat beberapa siswi sedang ada di sana.


"Apa kalian melihat Isabella."


"Isabella? Ku kira baru saja naik ke atas bersama Harry."


"Harry?"


"Ya, awalnya aku melihatnya datang sendiri ke sini, namun setelah itu Harry mengajaknya naik."


Wajah Zack berubah seketika, ia hendak naik dan menyusul Isabella. Namun langkahnya berhenti ketika Isabella mulai terlihat menuruni bukit.


Zack hendak mendatangi Isabella karena jalan terlihat licin, namun seketika kakinya kaku dan ia mengurungkannya.


Di belakang Isabella, ada seseorang yang lain, dia adalah Harry, jalanan setapak cukup licin dan membuat Harry harus memegangi tangan Isabella, gadis itu bahkan hendak terpeleset namun Harry menangkap tubuh Isabella dari belakang lebih mirip dengan setengah pelukan.


Setelah turun dan berjalan di jalan yang landai, Isabella melihat ke depan dan mendapati Zack sudah berdiri di sana.


"Zack... Kau di sini?" Tanya Isabella.


"Menurutmu aku harus dimana." Tanya Zack datar.


"Bukan begitu, bukannya tadi kau..."


Tanpa ingin mendengar Isabella berbicara Zack kemudian berbalik dan pergi.


"Zack... Zack... Tunggu!" Teriak Isabella


Para siswi di sana saling tertawa dan berbisik.


Harry hanya melenguhkan nafasnya dan mennyentuh kepalanya dengan satu tangan.


"Zack... Tunggu." Isabella ingin menggapai lengan Zack.


Namun tangan itu tidak sampai, justru kaki Isabella terkilir dan jatuh.


"Aaakk...!!!" Teriak Isabella.


Tanpa menoleh pada Isabella yang jatuh Zack masih terus berjalan, ia merasa kesal dan marah.


"Zaack..." Sahut Isabella lirih.


"Zaack... Oh Zaackk..." Sahut seseorang di belakang Isabella membuat Isabella pun menoleh.


"Dasar Jalangg, serakah, tamak, kau sudah mendapatkan Zack, kenapa selingkuh dengan Harry. Jalangg tetaplah jalangg." Kata Sezi tertawa.


"Sekarang Zack tahu sendiri, bagaimana ia melihat wajah asli jalangg ini dengan kedua mata nya." Kata Fay tertawa.


"Nikmatilah kesakitan ini, nikmatilah yang namanya patah hati." Kata Milly mendorong kepala Isabella dengan telunjuknya.


"Ayo semuanya " Kata Sezi.


Tak berapa lama Harry pun datang.


"Ayo ku bantu." Kata Harry ingin memapah.


"Tidak perlu Harry." Kata Isabella menolak.


"Kau tidak bisa berdiri, tidak usah memikirkan kesalahpahaman ini." Kata Harry hendak menggendong Isabella.


"Tidak Harry turunkan aku." Pinta Isabella.


Dan sialnya, saat Harry sudah menggendong Isabella Zack justru kembali lagi, dan melihat Isabella sudah berada dalam gendongan Harry.


Seketika membuat Zack mengerti.


"Okey terserah kalian." Sahut Zack dan pergi.


"Zack...!" Isabella tidak lagi bisa berkata-kata. Isabella hanya bisa menangis.


"Turunkan aku Harry!!!" Teriak Isabella.


Kemudian Harry menurunkan Isabella dan gadis itu duduk di atas batu yang cukup besar. Menangis dengan menutup wajahnya.


"Dia sensitif sekali." Sahut Harry.


"Dia baru saja kehilangan orang-orang yang di cintainya, orang tuanya meninggal, dan kepribadianya sedang goyah." Kata Isabella tersedu dan lemah.


"Seharusnya aku tetap diam di tenda dan tidak mempercayai mereka, aku memang bodoh!"


"Ayo kita turun, aku akan menjelaskannya pada Zack."


"Benarkah, kau akan melakukannya?" Tanya Isabella membuka telapak tangannya.


"Iya. Tapi jangan menangis lagi." Sahut Harry.


"Ayo turun. Pegangan pada tanganku, kakimu mulai bengkak." Kata Harry.


Isabella pun berpegangan pada lengan Harry, mereka turun perlahan dan menuju tenda, terlihat beberapa masih bernyanyi dan saling memainkan permainan di sekitar api ungun.


Harry menuntun Isabella masuk ke dalam tenda, teman-teman Isabella cukup cemas melihat kaki Isabella sudah terlihat membiru.


"Aku akan mengambil P3K." Sahut salah satu teman satu tenda Isabella.


Harry melepaskan sepatu Isabella, dan P3K sudah datang. Kemudian Harry membuka kotak P3K dan hendak mengoleskan salep pada kaki Isabella.


"Tidak, biar aku sendiri. Aku tidak nyaman, kau harus menyentuh kakiku." Kata Isabella.


Sudut bibir Harry tersenyum.


"Terkena jari ku kakimu justru akan lebih cepat sembuh." Kata Harry sembari mengoleskan salep pada kaki Isabella.


"Manis sekali...." Sahut teman Isabella.


"Dan juga tampan..." Sahut teman yang lainnya.


"Istirahatlah, semoga besok pagi sudah sembuh." Kata Harry.


Kemudian Isabella masuk ke dalam tenda dan Harry pergi, melihat balutan elastic bandage atau perban elastis yang rapi di kaki, membuat Isabella cukup terkesan.


Jam tidur malam sudah tiba dan semua harus masuk tenda. Namun Zack masih duduk sendiri di depan api unggun dimana kayu sudah hampir habis dan hanya tinggal bara api yang terus membara dan memiliki api tipis-tipis.


Zack duduk sendiri dan sesekali melemparkan kulit-kulit kacang yang ada di dekatnya.


Harry kemudian duduk agak jauh dari Zack.


"Kau salah paham Zack." Kata Harry.


Zack menoleh pada Harry.


"Aku tidak butuh omong kosong mu."


Melihat tanggapan Zack yang tidak mau di ganggu Harry pun hendak meninggalkan tempat itu.


"Zack, jangan sampai kau menyesal."


Zack hanya diam dan tak menoleh sedikitpun.


"Isabella memang cantik dan aku jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya, namun aku tidak sebuas dan selicik yang kau kira. Aku menghargai Isabella sebagai seorang gadis yang harus di lindungi. Aku menghargai perasaannya." Kata Harry dan berlalu pergi.


~bersambung~