
Sepanjang hari, detik demi detik, perasaan Zack tidak nyaman, ia gelisah dan cukup resah, akhirnya ia memutuskan untuk melacak kemana Isabella pergi karena ini sudah sangat membuatnya cemas.
"Tuan..." Kata Stark yang masuk ke dalam ruangan Zack.
"Bagaimana, apa kau menemukan Isabella?" Tanya Zack.
Stark menggeleng.
"Tapi, mobil nona Evashya saat pulang dari sekolah di hadang beberapa pengawal Emir Khan, merela melumpuhlan pengawal kita dan membawa nona Evashya." Kata Stark.
"Apa!" Zack geram dan mulai meradang.
"Kau sudah melacaknya?" Sambung Zack.
"Sudah tuan."
"Kita bergerak sekarang."
Zack melangkah kaki nya di ikuti oleh Stark di belakangnya.
Setelah perintah di turunkan oleh Zack para pengawal pun segera bergerak menyiapkan segala keperluan senjata.
Mereka semua sudah berada di Mansion. Tak berapa lama Stark mendapatkan pesan, dan membuka tabletnya.
"Tuan..." Kata Stark menyerahkan tablet tersebut.
Zack melihat Isabella sudah diikat dan di sekap mulutnya, Isabella berada di atas tempat tidur dalam keadaan pingsan sedangkan Evashya juga dalam keadaan terikat.
"Mereka selalu menggunakan cara kotor yang menjijikkan!" Geram Zack.
"Apa maunya?" Tanya Zack.
"Sama seperti sebelumnya tuan."
"Tidak pernah jera dan seharusnya ku bunuh Emir Khan tepat di kepalanya!"
"Kali ini saya yakin Emir akan lebih hati-hati, karena bisa jadi ini adalah langkah terakhir yang ia bisa tuan." Kata Stark.
"Kita berangkat." Kata Zack.
Tak berapa lama sebuah panggilan masuk di ponsel Stark, dan ia mengangkatnya tanpa berbicara, kemudian beberapa menit berlalu panggilan berakhir.
"Anda harus ikut saya tuan." Kata Stark.
"Kemana?"
Tanpa menjawab Stark mengarahkan Zack untuk masuk ke dalam mobil, perjalanan memakan waktu cukup lama, hampir satu jam lebih dan mereka masih berada di jalan.
Karena perjalanan tidak kunjung sampai membuat Zack cukup marah.
"Jangan main-main Stark, nyawa adik dan kekasihku sedang menjadi taruhan!" Kata Zack kesal.
Zack melihat ke arah belakang, iring-iringan mobil yang mengawalnya satu persatu menghilang dan yang paling terkahir tiba-tiba menepi di jalan, kemudian mematikan mesin mobilnya.
Kini tinggal mobil-mobil pengawal yang di depan. Setiap beberapa meter mobil para pengawal berhenti dan menepi.
Pada akhirnya kini tinggallah mobil milik Zack sendiri.
"Apa kau ingin menkhianatiku Stark? Membunuhku di tempat yang jauh dan membuang tubuhku?" Kata Zack.
Saat itu Zack mulai mengeluarkan pistol yang ada di belakang pinggangnya.
"Tidak tuan." Kata Stark.
"Lalu apa yang di lakukan para pengawal!"
"Mereka sedang berjaga." Kata Stark.
Stark kemudian diam, tak berapa lama mobil masuk ke sebuah jalan yang semakin sempit, lampu mobil menyoroti jalanan, namun juga memberikan penerangan dimana mungkin di sepanjang tepi jalanan itu di tumbuhi oleh rumput-rumput kecil yang memiliki bunga berwarna kuning dan orange, semuanya tersebar di sepanjang lahan.
"Stark, Evashya dan Isabella menunggu untuk di selamatkan, apa kau berkhianat!" Geram Zack.
"Bahkan saya bersedia mengorbankan nyawa saya demi keluarga anda tuan Zack."
Mobil pun berhenti di depan mansion yang cukup kecil namun sangat mewah, banyak pengawal berjaga di sekelilingnya.
Zack melihat ke atas atap, ada banyak sniper juga di sana berjalan dan berjaga mondar mandir.
Lalu Zack melihat ke arah lain, banyak pengawal juga berjaga memakai senjata mereka.
"Mari tuan." Kata Stark.
Zack pun menyimpan pistolnya, ia keluar dan mengekor di belakang Stark dengan tetap siaga.
Para penjaga menunduk pada Stark dan kemudian membukakan pintu.
Stark mempersilahkan Zack untuk masuk.
"Mansion kecil, lantai terbuat dari plitur kayu yang mengkilat, mansion bernuansa lawas tapi cukup mewah. Ada perapian dan beberapa jendela yang tidak terlalu besar. Namun juga di jaga dengan sangat ketat." Zack membatin siapakah pemilik mansion ini.
"Apa dia orang yang sangat penting?"
Kemudian Stark membuka salah satu pintu yang ada di depannya, pintu itu akan menghubungkan pada suatu ruangan.
Zack melihat seorang pria duduk di depan jendela dengan menggosok senapan nya.
Pria yang tidak asing dari pikirannya, benaknya, dan bahkan ingatannya.
Pria itu kemudian melihat ke arah Zack dan tersenyum.
"Ayah..." Kata Zack seakan jantungnya hampir terlepas.
"Zack..." Sahut Zafran berdiri.
"Ayah!" Zack berlari dan berhenti di depan pria paruh baya yang masih terlihat begitu muda dan perkasa.
"Kalian membohongi kami! Kalian masih hidup! Selama ini kalian berbohong!" Kata Zack geram dengan berderai air mata. Zack mencengkram kemeja ayahnya.
"Dengarkan ayah Zack... Ayah punya alasan." Kata Zafran.
Zafran memandangi wajah Zack dan menangkupkan kedua tangannya di wajah anaknya.
Kemudian Zafran menarik tubuh anaknya dan memeluknya.
"Ayah merindukanmu!" Kata Zafran dengan mata berkaca-kaca.
"Ayah harus jelaskan semuanya." Kata Zack memeluk balik sang ayah dengan erat.
"Aku bersyukur, aku masih bisa memeluk ayah, aku sangat bahagia, tapi Evashya...." Zack tidak dapat melanjutkannya.
"Ya, aku tahu, untuk itulah aku meminta Stark membawamu kemari." Kata Zafran.
"Lalu dimana ibu!" Kata Zack.
"Tenanglah, ayo ku antar ke pada ibu mu..." Ajak Zafran.
Kemudian mereka naik ke lantai atas, beberapa pelayan dan perawat jaga yang baru saja keluar dari sebuah ruangan menunduk dan menepi di tepi koridor.
"Ibu mu ada di dalam sana." Kata Zafran.
Zack melihat pada ayahnya, dengan perasaan yang berkecamuk, bahagia dan tidak sabar, namun takut, Zack membuka pintu.
Terlihat Laura berbaring di atas ranjang yang terbuat dari sutra terbaik, dengan memakai selimut mewah kwalitas terbaik.
"Ibu..." Kata Zack sedikit terhuyung.
Zafran menunduk dan menepuk punggung anaknya.
"Ibu..." Kata Zack lirih sembari mendekati Laura.
Air mata Zack tidak dapat lagi di bendung, dan memeluk kaki sang ibu lalu menciumnya. Kemudian Zack beralih menggapai dan mengangkat tangan ibunya sepelan mungkin.
Beberapa alat masih terpasang di dada Laura dan wajah Laura untuk membantunya hidup.
"Inilah alasan kami memalsukan kematian kami Zack, tembakan itu melukai paru-paru ibu mu. Jika mereka tahu, ibumu lemah dan aku juga dalam perawatan akan membuat kondisi semakin menguntungkan untuk mereka." Kata Zafran.
"Tapi kondisi ibumu berangsur membaik." Sahut Zafran lagi.
Tak berapa lama mata Laura terbuka, baru saja ia tertidur karena obat.
Zack yang melihatnya kemudian tersenyum.
"Zack..." Panggil Laura lemah.
"Ya ibu, aku disini."
"Akhirnya... Apa ayahmu memberitahumu?" Kata Laura lemah.
"Yah..." Bisik Zack.
"Maafkan aku Ibu, yang tidak becus menjaga keluarga kita." Kata Zack menangis dan menyesal.
"Andaikan saat itu aku tidak ceroboh, pasti dia sudah mati." Kata Zack.
"Aku tidak bisa di andalkan..." Sahut Zack lagi.
"Ibu bangga padamu, kau seharusnya menikmati masa mudamu namun banyak beban ada di bahumu, maafkan ibu dan ayah Zack." Kata Laura dengan nafas sedikit sesak.
"Ibu, aku akan membawa Evashya kesini, aku janji, dia pasti akan senang." Kata Zack mencium kening ibunya.
"Ya, aku merindukan anak bandel itu..." Kata Laura, sebuah air mata menetes di kedua sudut matanya.
Zack kemudian menghapus air mata itu.
"Ibu harus cepat sembuh..." Kata Zack.
Laura mengangguk pelan.
"Ayo Zack, biarkan ibumu istirahat, ada sesuatu yang harus kita bicarakan." Ajak Zafran.
"Ibu istirahatlah..." Kata Zack mencium tangan dan kening Laura.
Kemudian Laura mengangguk dan tersenyum pelan.
"Aku pergi dulu." Kata Zafran berpamitan pada Laura.
Zafran mencium kening dan bibir Laura.
Pintu ruangan kamar pun di tutup kembali.
Zafran membawa anak laki-lakinya ke sebuah ruangan yang lain dimana mereka melewati lorong panjang dan kemudian menuruni tangga, dan menuju sebuah lantai bawah tanah yang di jaga oleh beberapa pengawal.
~bersambung~