REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 28 -



DARI SINI KITA AKAN TAHU SIAPA SEBENARNYA ISABELLA, APAKAH DIA BENAR ANAK DARI EMIR KHAN.


 


Setelah makan malam selesai, Stark memberikan kabar pada Zack, jika perusahaan Daichi juga tidak dapat mempengaruhi Emir Khan untuk menginvestasikan uangnya.


"Berita sudah sangat heboh tuan, membuat perusahaan-perusahaan lain pun ikut menawar dengan harga yang tinggi, namun ikan yang kita pancing justru tidak tertarik sama sekali."


Zack meremas tengkuknya dan menelan ludahnya.


"Bagaimana caranya agar kita bisa bertemu dengan Emir Khan. Dia bersembunyi dengan sangat cerdik."


"Setiap agen yang kita kirimkan hanya bertemu dengan utusan Emir Khan tuan, seperti saat kita datang ke perusahaan pertama kalinya setelah ayah anda meninggal, dia juga hanya mengirimkan utusannya. Sepertinya dia tahu jika sedang di incar." Kata Stark.


"Apa bawahanmu masih melacaknya?"


"Setiap hari mereka berusaha menyadap tapi keamanan Emir Khan memang sulit di tembus."


Zack diam, dan sesaat ruangan menjadi hening.


"Bagaimana jika kita gunakan Belinda tuan?" Saran Stark kemudian.


Zack masih diam.


"Ku rasa Emir tidak mencintainya?" Kata Zack kemudian.


"Saya akan mencari informasi secepatnya tentang hubungan mereka di masa lalu."


"Hm." Kata Zack singkat dan memijit pelipisnya.


Malam itu menjadi malam yang panjang bagi Zack, detik jam berlalu dengan sangat lambat, ia benar-benar tidak bisa tidur. Pandangan matanya hanya tertuju pada langit-langit kamarnya yang sudah remang-remang karena saat itu lampu kamar sudah mati.


Zack masih memikirkan apa yang harus ia lakukan, banyak masalah yang harus ia urai sendirian sedangkan ia juga memikirkan Isabella serta Evashya yang makin hari mereka justru semakin jauh darinya, dan pada akhirnya, Zack benar-benar tidak bisa tidur, kemudian ia turun dari ranjang nya, saat itu ia hanya memakai boxer dan berniat ingin berolah raga.


Zack masuk ruangan Gym, berharap jika ia lelah maka matanya akan terasa mengantuk.


Namun hingga pukul 2 pagi Zack masih saja belum mengantuk, dari treadmill, lat pulldown machine, bahkan sampai leg press machine, hingga tubuhnya berkeringat ia tidak merasakan kantuk sedikitpun.


Nafasnya sudah semakin cepat dan ngos-ngosan, dada kekarnya yang tanpa memakai pakaian terlihat aliran-aliran keringat yang melewatinya.


Merasa sia-sia Zack kemudian meraih ponselnya yang ada di meja dan menghubungi Stark.


"Stark datang ke kamarku." Kata Zack sembari mengelap keringat memakai handuk kecilnya dan menuju kamar.


"Baik tuan."


Tak berapa lama Stark pun datang ke dalam kamar Zack, saat itu Zack duduk di tepi ranjang sembari memainkan ponselnya melihat laporan perusahaan yang di kirim melalui surelnya.


Stark kemudian menunduk dan berdiri di samping Zack.


"Beri aku Propofol." Kata Zack.


Stark hanya diam dan jelas ia tahu alasan Zack tidak dapat tidur.


"Maaf tuan saya tidak dapat memberikannya tanpa mendapatkan ijin dari dokter Leizya, dan obat itu adalah obat bius anestesi yang cukup berbahaya." Kata Stark.


"Mata ku benar-benar tidak bisa tidur." Sahut Zack.


"Saya akan memberikan Dumolid tapi saya harus menghubungi dokter Leizya lebih dulu." Kata Stark dengan terpaksa.


Stark kemudian keluar dari kamar Zack untuk menghubungi Dokter Leizya dan beberapa saat kemudian Stark datang membawa pil tersebut.


"Maksimal hanya pemakaian selama 2 bulan tuan, tidak bisa lebih." Kata Stark memberikan pil itu dengan segelas air putih.


"Aku hanya ingin tidur tanpa harus memikirkan sesuatu." Kata Zack sembari menelan pilnya.


Stark sangat mengerti, Zack dulunya hanyalah seorang remaja yang setiap hari-harinya di isi dengan belajar dan belajar, Zack menyukai itu. Namun sekarang banyak tanggung jawab yang di sematkan pada bahu dan kepalanya.


Karena semakin lama Emir Khan akan memperkuat akar nya dan sangat sulit untuk di cabut.


...*****...


Pagi hari dimana semua siswa sudah masuk ke dalam kelas, Isabella berangkat lebih pagi sebelum semua siswa di kelasnya datang, ia duduk dengan perasaan takut dan waspada.


Kemudian satu persatu teman-temannya datang, Gery, Harry, dan yang lainnya.


Tak berapa lama Sezi serta Fay dan Milly datang dan masuk kelas, mereka saling bercanda, tertawa dan menggoda. Ketika masuk ke dalam kelas mereka saling adu pandang dengan Isabella.


Namun pandangan mereka pada Isabella terkesan cuek dan tidak peduli.


Harry sudah duduk di depan Isabella dan kemudian berbalik.


"Untukmu, titipan dari Alicia." Kata Harry sembari memberikan kotak berukuran sedang dengan pita pink.


"Alicia?" Alis Isabella mengerut.


"Maksudku Isyana." Sahut Harry.


Isabella membukanya sedang Harry menatap nya secara intens, saat itulah Zack masuk dan melihatnya, ia hanya melirik dan acuh, sedangkan Isabella melihat dan memandang Zack berharap hubungan mereka masih baik-baik saja setelah ia berteriak pada Zack.


Namun Zack hanya acuh, kembali lagi sikap dingin itu terlukis jelas di wajah Zack, senyuman Isabella pun memudar dan memutar wajahnya melihat pada kotak pink di mejanya.


Harry melihat perubahan wajah Isabella, dan melihat bagaimana Zack acuh.


"Isyana memintaku menyampaikan pesannya, sepulang sekolah Isyana akan menjemputmu."


"Menjemputku?" Tanya Isabella.


"Nanti kau akan mengerti." Kata Harry.


Isabella kemudian membuka kotak itu, dan tertulis kertas ucapan untuknya.


"Selamat ulang tahun sayangku, sahabatku, kekasihku, semuanya, aku mencintaimu." Isyana~


Isabella tersenyum namun matanya berubah kemerahan, ia hampir menangis melihat isi kotak kado tersebut.


Sebuah snowball music yang cantik membuat Isabella terharu.



"Ini cantik dan indah, pasti sangat mahal, dari mana dia mendapatkan uang untuk membeli semacam ini, dan kemana saja kau Isyana, sudah beberapa hari kau tidak masuk sekolah." Sahut Isabella.


"Dia baik-baik saja, nanti kau akan tahu setelah bertemu dengannya." Kata Harry.


Pelajaran panjang dimulai, setiap guru berganti mengajar. Setiap guru yang masuk selalu memuji Zack, Isabella serta Harry atas kepintaran mereka, dan jam istirahat pun tiba, Isabella pergi ke toilet berniat untuk mencuci wajahnya.


Tiba-tiba Sezi dan genk nya datang, beberapa siswa yang ada di kamar mandi itu pun berurutan keluar tidak ingin terkena masalah.


Isabella masih mencuci wajahnya dan tidak tahu jika Sezi sudah berada di dekatnya. Ketika Isabella menengadah dan melihat cermin ia terkejut, dengan cepat Isabella menutup kran tanpa mengelap wajah dan berniat pergi.


Namun Milly dengan cepat menutup pintu kamar mandi dan berjaga di luar, tersisalah Sezi serta Fay di dalam bersama Isabella.


"Aku cukup tersinggung Isabella, kau melihatku seolah sedang melihat setan." Kata Sezi memainkan kukunya.


"A... Aku harus pergi." Kata Isabella.


"Tapi aku sedang ingin bermain denganmu." Kata Sezi lagi.


Fay tersenyum dan mendekati Isabella.


~bersambung~