
Seorang wanita paruh baya berlari ketakutan dilorong Rumah sakit,ia adalah Kasih, bunda nya Cheriel saat di telpon oleh wali kelas Cheriel bunda Cheriel tak bisa berfikir apa apa lagi, ia hanya takut terjadi apa apa pada Cheriel.
Saat sampai di kamar rawat Cheriel, bunda kasih melihat Cheriel telah sadar dan duduk bersandar ditemani Rayshaka.
Ia langsung memeluk Cheriel.
[Bunda]
Kamu bisa gak sih gak bikin bunda khawatir
[Cheriel]
Hehehehe.....maaf bund, riel gak papa kok...
Bunda melepaskan pelukannya,ia melihat bahu Cheriel di perban, dan tangan kanan nya ditopang oleh ARM sling/penyanggah bahu.
[Bunda]
Gak papa gimana? Tangan kamu sampai seperti ini...
[Cheriel]
Beneran bund, enggak papa....
[Bunda]
Riel....maafin bunda ya
[Cheriel]
Bunda gak salah, kenapa bunda harus minta maaf, justru riel yang minta maaf ke bunda,riel selalu buat bunda khawatir
Bunda tau kan riel seperti apa? Riel bukan orang yang lemah bund...
Kasih memeluk Cheriel,ia meminta maaf karena telah mendidik Cheriel menjadi anak yang tidak boleh mengeluh dan harus menjadi wanita yang kuat, ia hanya tak ingin Cheriel mengalami nasib sama seperti dirinya dulu.
▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪
Semenjak ambulance datang dan membawa Cheriel ke Rumah sakit, Gavin hanya diam.
Entah apa yang difikirkan olehnya.
Apa rasa bersalah karena telah membuat Cheriel terluka, atau ia memikirkan cara agar dirinya tak disalahkan atas apa yang di alami oleh Cheriel.
Jam sekolah telah usai dan beberpa siswa menghambur keluar kelas untuk pulang.
Gavin berjalan menuju parkiran motornya dengan tatapan kosong, tiba tiba suara teriakan Reymond menyadarkannya.
[Reymond]
Woiiiiiii........ngelamun aja lo
[Gavin]
Kenapa lo ?
[Reymond]
Barusan gue dengar dari wali kelas nya Cheriel kalau Cheriel dirawat di Rs.Bhakti, katanya cederanya lumayan parah, terus dokter menyuruh Cheriel istirahat selama 4 bulan dan gak boleh beraktivitas berat.
[Gavin]
Terus hubungannya sama gue apaan?
[Reymond]
Kan elu....kampret yang buat dia cedera kaya gitu,kasian tauu...
[Gavin]
Menurut gue itu impas, tadi pagi dia buat gue jatuh dari motor,nih liat motor gue baret parah...
[Reymond]
Waah.....otak lo emang gesrek parah ya...
Terserah lo deh...bye......
Mending lo kedokter deh periksain tuh otak lo...
Reymond tak bisa lebih lama lagi mengobrol pada gavin, ia tak mengerti kenapa sahabatnya itu mempunyai hati sekeras batu dan sedingin es.
Reymond menuju motornya dan pergi meninggalkan Gavin sendirian.
Chintya dan Chika sangat terburu buru menuju mobil mereka, mereka sudah tak sabar ingin melihat keadaan Cheriel.
Meski tadi Cheriel sempat menelpon dan memberi kabar kalau dirinya baik baik saja, tapi keduanya tetap tak percaya dan ingin melihatnya secara langsung.
Setelah melalui pemikiran panjang akhirnya gavin mengikuti egonya. Ia memilih untuk pulang kerumah dan tidak mau memperdulikan omongan Reymond.
▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪
Disalah satu kamar rawat, terdengar suara heboh dari kedua teman Cheriel, siapa lagi kalau bukan Chinthya dan Chika.
Sesampainya di Rumah sakit kedua gadis itu mulai dengan segala kehebohannya. Meski Cheriel sudah memberi taukan kalau dirinya tak apa apa tapi tetap tak dihiraukan oleh Chinthya dan Chika.
Kedua nya merasa bersalah karena tak bisa menjaga Cheriel dengan baik, dan mereka juga sedih saat mendengar Cheriel harus beristirahat dan tak bisa mengikuti kompetisi dance yang sudah lama ia ingin ikuti.
Namun bukan Cheriel namanya jika ia tak menghadapinya dengan senyuman.
Mereka berdua berfikir waktu tuhan menciptakan Cheriel dari apa?
Karena tak pernah sama sekali mereka melihat Cheriel bersedih atau mengeluh, apa pun masalah yang di hadapi ia selalu menampilkan senyuman dari wajah cantiknya.
[Chinthya]
Riel, gue heran deh sama lo?
Bisa gak sih lo sedikit aja ngeluh atau sedih sama keadaan lo !!
[Chika]
Iya riel, lo juga manusia, lo berhak buat ngeluh atau sedih,setidaknya lo marah kek,sama yang udah buat lo kaya gini !!! Gara gara dia lo gak bisa ikutan kompetisi dance.
[Cheriel]
Terus, kalau gue ngeluh atau sedih semuanya bakal kembali seperti semula apa? Enggak kan...
Ya....mungkin ini bukan waktunya buat gue, next time mungkin...
[Rayshaka]
Yang dibilang Chinthya sama Chika ada benernya riel...
Lo bukan malaikat, yang harus selalu sabar menghadapi setiap masalah yang lo hadapi.
[Cheriel]
Kalian aneh deh, kan kalian kenal gue udah lama, gue yang seperti ini ya itulah gue, tak ada yang harus dikeluhkan atau dimarahkan,gue tau tuhan punya caranya sendiri untuk membahagiakan gue.
Chinthya,Chika dan Rayshaka hanya bisa terdiam mendengar jawaban sahabatnya itu.
Mungkin kalau bisa digambarkan Cheriel mungkin adalah wujud malaikat yang tak bersayap dan menyamar seperti manusia biasa pada umumnya.
Waktu terus berlalu, angka jam sudah menunjukkan pukul 19.00 malam.
Bunda kasih juga sudah kembali ke rumah sakit dan membawa beberapa keperluan Cheriel selama di Rumah sakit.
Chinthya, Chika dan Rayshaka pamit pulang dan berjanji akan mengunjungi Cheriel kembali besok setelah pulang sekolah.
Suasana kamar rawat yang tadi ramai, kini telah sepi. Hanya ada Cheriel dan bundanya.
[Cheriel]
Bund, riel minta maaf ya udah bikin bunda repot...
[Bunda]
Bunda gak mau ya dengar kata maaf lagi dari kamu, kamu itu anak bunda,sudah pasti bunda khawatir sama kamu, dan itu sudah jadi kewajiban bunda dan bunda gak merasa di repotin
[Cheriel]
Makasih bunda, riel sayang bundaaa
[Bunda]
Bunda juga sayang sama kamu, yaudah sekarang istirahat biar kamu cepat pulih...
[Cheriel]
Iya bund....
Di tempat lain, gavin tengah berbaring di ranjangnya dan memandangi langit langit kamarnya.
Ia masih teringat ucapan Reymond yang mengatakan kalau Cheriel mengalami cedera cukup parah akibat benturan bola basket yang ia lemparkan tadi.
[Gavin]
Ngapain gue mikirin tuh cewek terus sih...harusnya kan impas, dia udah buat gue jatuh dari motor dan itu balasan buat dia, lagian dia udah cedera duluan kan sebelum gue lempar bola...
Gavin terus meyakinkan dirinya jika ia tetap tidak bersalah.
Dan Gavin berusaha untuk tidak memikirkannya lagi. Ia memilih memejamkan matanya dan melupakan omongan Reymond.