REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE O7 -



Jam sekolah sudah usai, Isabella bersiap untuk pulang, gadis itu menenteng tas nya namun dari belakang di senggol dengan kasar.


"Ups Sorry..." Kata Sezi sembari mengejek.


Kemudian Fay pun menyalip Isabella dengan menyenggol bahu Isabella cukup keras.


"Ingat baik-baik, jangan sampai kau berada di peringkat 3 besar." Ancam Fay.


Kemudian mereka berlenggang pergi di susul Milly yang menyeringaikan senyumannya dan memandang penuh cemooh.


Isabella menarik nafasnya, ia mengambil oksigen sebanyak-banyaknya agar tubuh dan kakinya tidak gemetar.


Sejujurnya Isabella selalu merasa takut berada di sekolah, baginya sekolah adalah tempat yang paling tidak aman baginya.


Isabella adalah siswa remaja dengan segudang mimpi dan cita-cita, ia sangat senang dengan segala rumus dan segala hal tentang pendidikan, namun sekolahnya kini hanyalah seperti neraka baginya.


Bus melaju dengan kecepatan normal, Isabella sudah duduk di bagian belakang dengan merapatkan kakinya. Melihat ke arah jendela. Hingga pada akhirnya, Isabella tersadar dari lamunannya dan bersiap turun.


Kaki jenjang menuruni tangga bus dan menapaki jalanan, perlahan Isabella berjalan menyusuri jalanan setapak. Jalanan pintas untuk menuju suatu tempat.


Akhirnya sampailah Isabella di depan gerbang yang besar dan mewah, ia hanya berdiri termangu di tengah gerbang, mendongak dan mengedarkan pandangannya, tanpa sepatah kata, jemarinya masih meremas tali tas yang masih menggantung di bahunya.


"Tiinn!!"


Sebuah klakson mobil membuyarkan lamunan Isabella, membuat Isabella menepi agar mobil tersebut bisa masuk ke dalam Mansion dan tak berapa lama gerbang besar itu pun terbuka.


Seorang penjaga keluar dan menundukkan kepalanya saat mobil tersebut memasuki gerbang dan melesat masuk menuju mansion.


Dengan cepat Isabella berlari dan bertanya pada sang penjaga.


"Maaf bisa saya bertemu dengan Tuan Zafran dan Nyonya Laura."


"Hm... Mungkin maksudmu pemilik Mansion yang lama?" Tanya sang penjaga sedikit ketus.


"Ya pemilik Mansion ini."


"Sekarang sudah bukan punya mereka lagi, Mansion ini sudah di beli oleh pengusaha kaya dari Turkey."


Isabella diam dan sang penjaga kembali ke posnya.


"Tuan... Apa anda tahu dimana pemilik lama tinggal?" Tanya Isabella melalui kaca jendela pos.


"Tidak tahu pergilah !" Teriak sang penjaga.


Dengan kecewa Isabella pergi, ia berjalan lamban sembari mengeluarkan ponselnya.


Namun sebanyak apapun Isabella menghubungi Evashya dan juga Zack tetap tidak bisa. Isabella juga berusaha menghubungi Isyana untuk bertemu namun tidak ada jawaban pula.


Isabella pun memutuskan untuk kembali ke panti asuhan, dan berharap Zack akan segera berangkat sekolah dalam keadaan baik-baik saja.


Isabella menunggu di halte bus, menunggu bus yang menuju jalur pulangnya. Namun sebuah berita yang tersiar di layar besar sebuah gedung pun sontak membuatnya tercengang, bahkan ponselnya pun terjatuh.


"Berita hari ini, Pimpinan dan pengusaha besar serta orang paling kaya di deret daftar 5 besar dunia Tuan Zafran Volkofrich di kabarkan meninggal dunia bersama istrinya Nyonya Laura Elsabeth Queen. Di kutip dari salah satu pelayan yang pernah bekerja di Mansion, mereka sudah di makamkan di pemakaman secara privacy dan hanya di hadiri oleh anak-anak serta keluarga dari Nyonya Laura."


Tak berapa lama bus pun datang, seorang wanita paruh baya mengambil ponsel Isabella yang ada di bawah kakinya dan menepuk bahu Isabella.


"Ponselmu terjatuh." Kata wanita itu sembari memberikan ponsel milik Isabella.


"Ah... Terimakasih." Kata Isabella sembari naik mamasuki bus.


Di dalam bus ternyata juga sama, semua stasiun TV menyiarkan kabar tentang kematian Zafran serta Laura.


"*Setelah terdengar kabar meninggalnya tuan Zafran Volkofrich dimana kita semua tahu perusahaan raksasanya selalu memiliki peran dalam pasar modal dan perusahaan raksasanya lah yang mempengaruhi pasar, kini kabar itu menyebabkan kegaduhan dan kekisruhan dimana-mana, dan hari ini semua harga saham di pasar modal turun dengan drastis, semua menjadi goyah dan tidak dapat di prediksi."


"Belum ada pemberitahuan lebih lanjut apakah posisi tuan Zafran akan di gantikan oleh anaknya atau akan di serahkan pada dewan direksi pemegang saham, semua masih menunggu hasil rapat*."


"Dengar-dengar yang laki-laki orang paling kaya, dan suka bermain dengan wanita-wanita cantik." Sahut wanita paruh baya lainnya.


"Ah orang kaya selalu seperti itu, mungkin mereka meninggal karena ada wanita lain lalu bertengkar." Bisik yang lain.


"Kalian ingat Tuan Zafran pernah berfoto panas dengan artis yang sekarang sudah menikah dengan seorang pengusaha juga?"


"Ah... Ya, itu aku ingat, ohh kabarnya keluarga itu sempat bertengkar." Kata wanita paruh baya yang duduk di depan Isabella lagi.


"Dari mana kalian tahu kabar-kabar seperti ini?" Seseorang menyahut ingin ikut menggosip.


"Heh... Tetanggaku ada yang bekerja di sana sebagai tukang kebun harian, dia mendengar Nyonya Laura berteriak pada suaminya."


"Oh... Bisa jadi harta nya di kuras oleh wanita-wanita simpanan tuan Zafran, kabarnya mereka bangkrut dan Mansion sudah di jual. Kalian lihat kan tadi, nama di depan gerbangnya bukan lagi Volkofrich namun menjadi Khan."


"Mereka tidak seperti itu!!!" Teriak Isabella berdiri dan memandangi para wanita-wanita paruh baya yang bergosip.


"Ada apa dengan mu nak?" Tanya salah satu wanita paruh baya yang duduk di depan Isabella.


"Iya, ada apa dengan dirinya?" Salah satu lainnya mencibir dan saling berbisik-bisik.


Isabella pun merasa kesal dan memilih turun sebelum sampai di tujuannya.


Perusahaan Volkofrich...


Rapat sudah di mulai dan semua orang duduk dengan tidak nyaman. Kabar tentang meninggalnya Zafran beserta istrinya sudah cepat melebar kemana-mana.


Posisi yang kosong pun semakin membuat orang gila ingin menaikinya.


"Sabar semuanya kita masih menunggu kabar yang lebih valid." Sahut seseorang yang memimpin rapat.


Tak berapa lama pintu pun di buka itu adalah Zack bersama Stark.


Semua orang pun terdiam melihat Zack masuk dengan pakaian dan setelan jas rapi, Zack terlihat tampan, seolah mereka sedang melihat Zafran dalam versi muda.


"Tuan muda Zack..."


"Saya akan memimpin rapat." Sahut Zack.


"Anda tidak memiliki hak apapun di sini." Sahut seseorang yang masuk melalui pintu yang lain.


Ruangan yang cukup lebar dan memanjang, serta orang-orang hanya duduk memperhatikan.


"Saya datang kesini atas perintah dari Tuan Emir Khan bahwasanya, posisi lama tuan Zafran akan di duduki oleh tuan Emir." Sahut pria tersebut.


Semua orang saling berbisik dan gaduh. Bagaimana bisa posisi Zafran justru di masuki oleh orang yang bukan dari keluarganya.


"Apa kalian akan percaya, jika kalian di pimpin oleh anak yang berusia 17 tahun?" Kata pria itu lagi.


Zack mengepalkan kedua tangannya, namun Stark masih mencoba menahan Zack.


"Saya membawa dokumen dimana Tuan Zafran telah menyetujui bahwa semua asetnya telah di berikan pada Tuan Emir Khan, bahkan kedudukannya."


Pria itu memberikan kodenya pada beberapa sekretarisnya untuk membagikan dokumen-dokumen pada masing-masing orang.


"Kalian bisa baca sendiri ada tanda tangan Tuan Zafran, bahwa dalam perjanjian tersebut sudah jelas Tuan Zafran memberikan posisinya pada Tuan Emir."


"Lalu bagaimana dengan Tuan Muda Zack, beliau adalah anak kandung dari Tuan Zafran." Tanya seseorang yang ada di deretan tempat duduk paling ujung.


"Aku tidak tahu? Dia tidak memiliki hak apapun di sini kecuali, sahamnya sendiri, namun itu belum cukup untuk menjadi pemimpin perusahaan ini." Sahut utusan Emir lagi dengan mengangkat bahunya.


~bersambung~