
"Sa... Saya ada sesuatu yang harus di kerjakan, saya permisi." Kata Isabella berdiri dari tempat duduknya.
"Isabella..." Kata Julian dengan suara rendah.
Kemudian Isabella berhenti, Julian melepaskan jasnya dan menaruh di bahu Isabella.
"Istirahat yang baik, kau harus sehat untuk acara pernikahan kita." Kata Julian.
Isabella mengangguk pelan dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Julian melihat Zack dari belakang, saat itu Zack mengepalkan kedua tangannya, jika saja saat itu Zack berada di mansion miliknya, pastilah ia sudah melampiaskan amarah yang sudah siap meledak.
Julian tersenyum getir, kemudian berjalan dan duduk di tepi meja, kini mereka saling berhadapan.
"Jadi, apa yang membawa tuan Zack datang kemari, apa yang bisa saya bantu?" Kata Julian.
"Saya pikir saya telah melupakan sesuatu, saya baru saja ingat jika harus menghubungi staff saya yang ada di inggris." Kata Zack dengan rahang yang terkatup erat, tulangnya terlihat menonjol karena menahan marah.
Zack berpamitan dan pergi meninggalkan ruangan Julian, ia berjalan dengan cepat, seandainya saja ia bisa menemui Isabella secara pribadi.
Dan hari itu mungkin hari buruk namun juga hari dimana tuhan mengabulkan permintaannya.
Zack melihat Isabella berdiri mengambil beberapa ikat bunga di taman belakang.
Dengan langkah cepat Zack menarik lengan Isabella, membuat gadis itu tergagap, saat itu Stark yang tiba-tiba datang pun mulai berjaga.
Zack membawa Isabella ke ruangan yang cukup tertutup, menghimpit tubuh Isabella dengan tubuh kekarnya.
"Apa kau sedang membalas dendam pada ku?"
Isabella berpaling dan tidak mau melihat wajah Zack.
"Isabella, apa kau berniat balas dendam!" Geram Zack.
Isabella masih diam. Zack kemudian menekan tengkuk leher Isabella dan mengarahkan wajah Isabella pada wajah Zack.
Mau tidak mau Isabella menatap wajah Zack, wajah tampan yang bisa saja membuatnya kembali jatuh dalam pusaran kegilaan.
"Apa benar-benar sudah melupakanku? Kau tidak mencintaiku lagi?"
"Kau yang membuangku Zack." Kata Isabella.
Zack menelan ludahnya.
"Aku minta maaf Isabella, aku sudah bertindak impulsif, tapi aku benar-benar menyesal, saat itu aku merasa tidak becus melindungimu."
"Dan bukankah kau sendiri yang bilang padaku, jika aku harus mencari pasangan dan hidup dengan normal?" Kata Isabella dingin.
"Aku tidak berfikir rasional saat itu, lupakan semua omong kosong yang pernah ku katakan padamu Isabella."
"Mudah sekali, segala kalimatmu bahkan masih teringang-ngiang di telingaku Zack, seolah itu baru kemarin terjadi." Kata Isabella.
"Aku tidak pernah ingin benar-benar meninggalkanmu, saat itu aku hanya merasa gagal melindungimu."
"Kau jijik dengan ku Zack, jadi kau membuangku, kau jijik karena tubuhku di jamah oleh Emir!" Geram Isabella dengan mata membulat.
"Kau tidak tahu bagaimana aku melewati setiap malam yang berat."
Zack tidak lagi bisa berfikir, bagaimana cara ia menyakinkan Isabella, bahwa Zack sudah menyesal.
"Kembalilah padaku Isabella..." Pinta Zack lemah.
Isabella diam.
"Aku janji aku tidak akan mengecewakanmu lagi. Apa kau menginginkanku berlutut padamu?"
Kemudian Zack merosot dan berlutut, Zack memeluk kaki-kaki Isabella.
"Kau sudah membuangku Zack, kau jijik padaku, kau menginginkan ku hidup dengan pria lain, ada apa dengan mu sekarang Zack."
"Aku tidak pernah jijik padamu Isabella!" Zack menggeram dan semakin erat memeluk paha Isabella. Zack berlutut dan meminta pengampunan pada Isabella.
"Kau pembohong! Saat ini kau berdusta, kau berkata seperti ini, bisa saja sebentar lagi kau akan berubah seperti dulu lagi dan membuangku lagi."
Kemudian Zack berdiri, ia putus asa, matanya berwarna merah, namun Zack menahannya agar tidak menangis. Zack tidak tahu lagi bagaimana ia bisa meyakinkan Isabella.
Nafas Zack semakin memburu melihat kecantikan Isabella yang selalu ia rindukan, ia benar-benar merindukannya, Zack hendak mencium Isabella.
"Aku merindukanmu Isabella, aku benar-benar akan mati."
Zack mendekatkan bibirnya, dan melumaat bibir mungil Isabella. Menyesap nya dengan lembut. Zack memeluk Isabella dengan sangat erat.
Kemudian bibir Zack menelusuri leher jenjang Isabella, dan mengecup nya pelan.
"Aku sangat membencimu Zack..." Bisik Isabella.
Air mata mengalir di kedua pipi Isabella, mata itu sudah begitu basah dan menggembung. Isabella menggigit bibirnya hingga berdarah.
"Apa yang kau lakukan Isabella, lepaskan gigitanmu!" Kata Zack menarik bibir Isabella dengan kedua ibu jarinya, dan menangkupkan kedua telapak tangan besar itu di rahang Isabella.
"Maafkan aku Isabella, aku hampir gila."
"Pukul aku Isabella, pukulah aku, jika itu bisa mengurangi rasa marahmu padaku, pukul sepuasmu."
"Tapi jangan menangis..." Pinta Zack mulai gusar.
"Aku sangat membencimu, hingga aku ingin mati, hingga aku tidak mau melihat wajahmu lagi." Kata Isabella dengan air mata yang mengalir deras.
"Lepaskan Zack, aku membencimu...." Tubuh Isabella terguncang karena isak tangisnya.
"Aku tahu... Kau membenciku..."
Zack masih memeluk Isabella dan mencium kedua mata basah Isabella.
*****
Setelah pertemuan rahasia itu, Zack sangat yakin jika Isabella masih mencintainya.
"Aku tahu dia masih mencintaiku." Kata Zack.
Hari yang di tentukan sudah tiba, Zack memakai setelah jas mahal, para tamu dari negara-negara lain pun sudah datang beberapa jam sebelum acara di mulai.
"Aku tahu dia masih mencintaiku."
Berulang kali Zack mengatakan itu, bahkan ketika tangannya sibuk mengikat dasi.
Semua berkumpul di ruangan besar, yang sudah di atur sedemikian rupa.
Banyak kristal-kristal menggantung di langit-langit ruangan, pernikahan yang megah dan sangat mewah. Bunga-bunga warna-warni juga di tata dengan rapi.
Gelas-gelas berisi alkohol menjulang tinggi membentuk gunung.
Zack berdiri di dekat gunungan gelas yang menjulang tinggi dengan meminum beberapa gelas alkohol, hingga Dax datang dan menghentikannya.
"Kau bisa mabuk Zack."
Alicia menatap sedih dan prihatin.
Zack menyeringai.
"Aku tidak akan jatuh mabuk hanya dengan beberapa gelas ini paman, kau tahu aku kuat minum."
"Tapi jangan tunjukkan keterpurukanmu, kau tidak cocok dengan wajah muram itu." Sahut Dax.
Sedangkan Harry hanya diam, menaruh kedua tangannya masuk ke dalam saku celana, Harry tidak memiliki pendamping, ia memilih datang dengan mengajak Evashya.
"Zack, kau semakin berantakan, jangan seperti ini dan rebut Isabella!" Kata Evashya geram.
"Apa dia bahagia dengan pernikahannya?" Tanya Alicia.
"Aku lebih tahu Isabella, dia masih mencintaiku." Kata Zack.
"Maka dapatkan dia kembali, jangan terlalu banyak minum." Kata Dax.
"Kali ini aku setuju. Ehem.." Kata Harry berdehem.
"Rebut dia Zack..." Kata Alicia.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan." Sahut Dax menepuk punggung besar milik Zack.
Provokasi dan segala hasutan terus menerus di lontarkan untuk Zack.
Hingga akhirnya semua undangan pun diperkenankan untuk duduk.
Pendeta sudah memasuki ruangan mewah dan berdiri di ujung altar, pendeta itu memakai jubah putih yang mewah.
Sang pendeta kemudian memberikan dakwahnya sebentar, tak berapa lama kemudian di susul musik yang pelan-pelan mengalun dan kemudian suara alunan musik itu meningkat mulai memenuhi ruangan.
Pintu-pintu besar yang ada di samping ruangan terbuka.
Sang pengantin wanita dan pria keluar dari pintu yang saling berhadapan.
Karpet merah membentuk huruf T dimana para penganti berjalan sendirian lalu saling bertemu dan kemudian mereka akan melangkah bersama menuju altar.
Kondisi itu di perumpamakan dengan, dimana para wanita dan pria yang awalnya berjalan sendirian, memiliki kehidupan sendiri, akan bersatu dan melewati hari-hari bersama, dengan visi misi yang di satukan.
Isabella tampil dengan cantik, balutan gaun pernikahan putih membuat Julian sangat takjub dengan kecantikan alami Isabella.
"Kau sangat cantik." Bisik Julian.
Isabella hanya tersenyum canggung."
Mereka berjalan beriringan dan menuju altar. Zack menatap Isabella dengan perasaan sedih, saat itu mata mereka saling bertemu, Isabella menatap Zack.
Julian tersenyum dan menatap mantap ke depan menuju altar.
"Zack, apa kau rela Isabella menjadi istri pria itu." Bisik Dax.
Zack mengepal dan menelan ludahnya membuat jakunnya naik dan turun, hatinya teriris melihat Isabella berdiri di depan Altar dengan seorang pria.
Zack berdiri, dan melompat, ia berlari dengan sekuat mungkin dan menggendong Isabella di pundaknya.
"Stark!!!" Teriak Zack.
Kemudian Stark berlari dan membuka pintu yang lebar itu dengan cepat.
Zack mencuri mempelai wanitanya.
Julian terperangah, seketika amarahnya memuncak dan berteriak.
"Tangkap dia!!!"
~bersambung~