
Slow Update, author sedang sibuk Real Life. Terimakasih~
*****
Tembakan-tembakan itu melumpuhkan tubuh Emir Khan hingga terjatuh di lantai. Emir Khan roboh di tangan Zack dan Isabella.
Entah bagaimana, mungkin itulah yang di namakan berani ketika keadaan terdesak, Isabella mengambil dan menodongkan pistol, yang Isabella tahu, dia harus menyelamatkan Zack.
Gadis polos itu masih mendesis karena ketakutan, tubuhnya gemetar hebat.
Perlahan Zack menyimpan pistol yang masih di genggam erat Isabella, kemudian memeluk tubuh Isabella, mendekapnya dalam perlindungan Zack.
Isabella menangis, dan mencengkram punggung Zack. Batinnya terluka hingga tak percaya baru saja ia menginjak umur 17 tahun Tuhan memberikan hadiah yang akan ia ingat sampai kapanpun.
"Semuanya sudah berakhir, maafkan aku Isabella. Maafkan aku membawamu dalam permasalahan ini." Kata Zack memeluk dan mendekap tubuh dan kepala Isabella sembari menciumi punuk kepala Isabella.
Tak berapa lama Stark dan beberapa pengawal datang untuk membereskan mayat Belinda.
"Bawa saja Belinda Stark, biarkan mayat lainnya membusuk di sini." Kata Zack.
Kemudian Stark menunduk.
Zack pulang bersama Isabella mereka sampai di rumah sakit, tidak ingin membuat Evashya khawatir.
"Aku sudah membersihkan lukanya dan menjahitnya sedikit." Kata Dokter Leizya.
"Maafkan aku Isabella, aku turut berduka, aku tidak tahu jika semua akan berakhir seperti ini." Sambung Dokter Leizya.
Isabella hanya mengangguk.
"Setidaknya aku sudah tahu bahwa aku memiliki ayah dan ibu, bahkan seorang kakek."
Dokter Leizya kemudian memeluk Isabella.
Sedangkan Stark memberikan setelan baju baru untuk Zack, saat itu Zack sudah melepaskan jas dan kemejanya, mengganti dengan t-shirt berwarna putih.
"Katakan pada Evashya, jika aku harus mengurus sesuatu di kantor, dia akan sangat khawatir saat melihat aku terluka. Setelah luka ini sembuh aku akan kembali ke apartmen."
Stark mengangguk tanda mengerti.
"Lalu urus surat-surat kekayaan milik Isabella, urus semuanya, apa yang kini di miliki Isabella, besok pagi kita akan makamkan ibu Isabella di pemakaman keluarga."
"Baik tuan."
Mereka kemudian kembali ke apartmen milik Isabella, Zack berjalan pelan di papah Isabella, tubuhnya mulai memar dan lebam. Kemudian ia berbaring di atas ranjang milik Isabella.
"Aku akan buat kan sesuatu."
Zack menahan tangan Isabella.
"Sudahlah. Ini sudah malam. Tidurlah dan istirahat." Kata Zack cukup lemah, dan lelah.
Isabella duduk diam di tepi ranjang, dan tak berapa lama air matanya kembali menetes, sembari ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Zack tahu itu, dan duduk menghadap Isabella, lalu memeluk kekasihnya.
"Maafkan aku." Kata Zack lirih.
"Aku benar-benar menyesal tidak dapat menyemalatkan ibu mu. Maafkan aku Isabella."
Isabella semakin menangis di dada Zack.
"Menangislah, luapkan semuanya padaku, kau boleh memukul atau menamparku yang tidak becus menjaga mu dan ibumu."
Isabella menggelengkan kepala.
"Aku memang sedih karena kehilangan ibuku, tapi aku sangat takut, jika aku juga kehilanganmu, aku sangat takut ketika begitu banyak darah ada di kepala hingga baju putihmu penuh dengan bercak darah. Aku sangat takut."
Zack membelai kepala Isabella, lalu mencium kedua mata basah Isabella.
"Aku baik-baik saja, dan akan selalu ada di sampingmu, aku janji."
"Berjanjilah padaku, ini yang terakhir kali kau berurusan dengan orang seperti itu."
Begitupun Isabella ia memeluk Zack dengan sangat erat.
"Ayo tidur, beberapa hari aku tidak bisa tidur, ada kau di sampingku membuat pil tidur ku utuh."
"Apa setiap malam kau meminum obat tidur?" Tanya Isabella sembari membaringkan tubuhnya.
Zack mendekap Isabella dalam pelukannya, mereka berbaring di atas ranjang, dengan nuansa kamar yang remang-remang karena sinar bulan.
"Hm, aku mulai meminum itu. Saat mengetahui jika kau adalah anak dari Emir Khan, dan ternyata faktanya berbeda."
"Karena itu kah kau menjauh dariku?"
"Sebenarnya iya dan tidak." Sahut Zack.
Isabella mendongak melihat wajah Zack menunggu jawaban selanjutnya.
"Iya aku sedikit menjauh, tidak karena sebenarnya aku hanya ingin melindungimu, aku tidak ingin membawamu dalam pusaran permasalahanku yang rumit, apalagi nyawa adalah taruhannya. Aku tidak bisa, tapi sejauh apapun aku ingin menjauhkan mu, ternyata kita tetap terikat, dan yang paling membuatku hancur adalah kesalahpahaman beruntun di antara kita."
"Aku tidak akan tahu, jika memiliki ibu, jika bukan karena kau Zack. Pertama kali aku datang ke rumah sakit, dan melihat seorang wanita yang sangat mirip denganku, aku pikir sedang melihat diriku dalam versi menua. Tapi aku melihat wajah nya begitu suram dan muram, ketika dia melihatku wajah itu kemudian berbinar terang, bagai pelangi dan awan terang setelah hujan."
"Apa yang kalian obrolkan saat bertemu?"
"Tidak ada, kami hanya saling memeluk dan mencium, entahlah tanpa mengatakan sesuatu tapi seolah hati kami dan batin kami saling mengobrol saling berbicara, bahwa semua sudah di takdirkan seperti ini."
"Maafkan aku Isabella."
"Semua sudah di takdirkan seperti ini Zack, aku merasa tenang sekarang karena tahu siapa keluargalu sebenarnya."
Zack mengeratkan pelukannya pada Isabella, dan mencium leher jenjang Isabella, kemudian memejamkan matanya.
Mereka tidur dimana Zack memeluk tubuh kekasihnya dan Isabella merangkul tangan kekar milik Zack.
Perasaan tenang itu seolah semuanya sudah berakhir dan akan kembali pada hari-hari biasa saja, namun mereka tidak pernah tahu bagaimana keadaan Sky Tower saat di tinggalkan.
Sebuah tangan kekar berlumuran darah meraih meja.
BUUGH! Suara tangan yang kekar meraih meja, untuk menjadi pegangannya berdiri.
Tubuh besar yang kekar terbaring di atas lantai marmer dengan berlumuran darah bangun dengan mendesis.
Kemudian ia meraih kursi dan duduk menghempaskan tubuh nya. Kedua tangan kekar itu melepaskan jas dengan melenguh dan membuka kancing bajunya satu persatu.
Terlihat ia memakai rompi anti peluru dan sekantung darah yang melapisinya.
"Seharusnya bocah itu menembakku di kepala." Seringai pria itu.
Emir Khan membuang pakaian anti peluru dan kantong darah yang telah habis di lantai, pria itu kemudian berdiri dan meraba dadanya, 5 lebam bekas tembakan peluru yang di berikan padanya.
"Ha.. Haa..."
"Ha... Ha... Haa... Haa...."
Emir Khan tertawa dan suaranya menggelegar di dalam ruangan yang gelap dan masih ada mayat asissten pribadinya.
Kemudian Emir Khan berjalan dan membalikkan tubuh asisstennya dengan kaki nya, ia bergidik melihat tembakan tepat di dahi sang pengawal.
"Pengawal itu memang cerdik, langsung menembaknya di dahi." Kata Emir meringis.
Pria itu merentangkan tangannya dan mengambil nafas panjang. Menghirup oksigen sebanyak mungkin untuk mengisi paru-paru nya.
"Aku tidak akan mengampuni bocah tengik itu." Kata Emir masih merentangkan tangan dan memejamkan mata menikmati setiap oksigen yang masuk ke dalam paru-paru nya.
Kemudian Emir Khan berjalan dan mendekati meja, ia membuka rak meja tersebut, dimana ada sebuah ponsel dan ia menghubungi seseorang.
"Jemput aku sekarang." Perintah Emir Khan.
Malam yang sunyi dan sepi ketika Emir Khan di jemput oleh pengawal-pengawalnya. Pria itu berjalan menuju lift dan seorang pengawal memberikan mantel besar di bahu Emir Khan, pengawal lainnya memberikan sebuah cerutu dan memantikkan api.
~bersambung~