
Alicia sampai di apartmen dan waktu sudah hampir malam, ia melemparkan tasnya.
Sedangkan Demian sudah kembali ke apartmennya setelah memastikan Alicia kembali ke apartmen dengan selamat.
Baru sejenak Alicia merebahkan tubuhnya di atas ranjang, bel apartmennya berbunyi.
Ting Tong
"Demian selalu mengangguku." Kata Alicia malas.
Kakinya terasa cukup lemas dan ia melepaskan sepatu heelsnya, dengan telanjang kaki Alicia melangkah untuk membuka pintu apartmen.
"Demian aku ingin istira..." Seketika Alicia terkejut dan terbelalak.
Seorang pria tersenyum di depan Apartmen Alicia kemudian menarik Alicia dalam pelukannya.
"Aku merindukanmu Alicia."
"Billy..." Kata Alicia lemah.
"Kau terkejut aku di sini?"
"Ya..."
"Kau tidak menyuruhku masuk?"
"Tidak... Ah... Ya... Masuklah." Kata Alicia mulai kebingungan.
Kemudian Billy masuk dan menaruh kopernya.
"Aku akan tinggal di sini bersamamu."
"Apa?" Kata Alicia terkejut.
"Aku memutuskan memilih Harvard." Kata Billy.
"Pilihan yang bagus Billy..." Kata Alicia.
"Kau tampak pucat, apa kau tidak senang aku di sini atau kau terlalu terkejut aku ada di sini?" Kata Billy sembari menyambar Alicia dan memeluknya.
"Aku senang Billy..."
"Alicia kita sudah berpacaran, aku tidak ingin kau menutupi apapun dari ku." Kata Billy ingin mencium Alicia.
"Kau pasti lelah, aku akan buatkan sesuatu." Kata Alicia melepaskan pelukan Billy.
Namun dengan cepat Billy menyambar tubuh Alicia dan memeluknya dari belakang.
"Aku cuma butuh kau." Kata Billy mencium tengkuk leher Alicia.
"A... Aku..."
"Aku merindukanmu Alicia..." Kata Billy masih menyesap dengan cukup kuat tengkuk Alicia hingga membuatnya membekas.
Alicia mendesahh, namun ia tidak bisa melanjutkannya.
"Billy aku sangat lelah, kau tahu seharian aku mengurus kuliah dan bekerja, dan aku belum mandi, aku harus mandi dulu." Kata Alicia.
"Kita mandi bersama?" Bisik Billy dan masih memeluk Alicia dan menyesap leher Alicia.
"Billy!" Pekik Alicia sedikit kesal.
Billy terkejut dan melihat pada Alicia.
"Apa kau kesal padaku Alicia?"
"Ti.. Tidak aku hanya, lelah." Kata Alicia melepaskan pelukan Billy dan pergi menuju kamar mandi.
Saat itu Billy hanya memandang kepergian Alicia, ia tahu perubahan Alicia begitu terlihat.
FLASHBACK ON
"Ayah..." Kata Billy.
"Ada apa ini... Semua surat-surat ini, bisa kau jelaskan semua ini padaku?"
Billy melihat semua surat undangan penerimaan siswa baru di beberapa university tanpa melakukan tes, dan itu sudah di pegang oleh ayahnya.
"Apa kau menggeledah kamarku." Kata Billy mengambil bola bisbolnya dan memainkannya di tangan.
"Apa kau tidak berniat melanjutkan study mu?"
"Aku akan menentukannya."
"Kapan?"
"Jangan mendesakku ayah, aku pasti akan memutuskannya, lagi pula masa tenggatnya masih lama."
"Seberapa banyak kau membahayakan masa depanmu Billy! Aku ingin kau memilih The Hill University Billy."
"Kenapa?"
"Karena itu universitas paling bagus!"
"Tidak semudah itu. Ayah tidak bisa memaksaku, dan mencoba mengaturku."
"Tentu saja bisa, ini karena kau belum dewasa, buatlah pilihan Billy!"
"Oh, ayolah, kau bahkan tidak pernah ada di rumah dan sekarang kau berpura-pura perhatian?" Bantah Billy.
"CUKUP!"
"Maafkan aku, tapi kau tidak bisa memperbaiki kesalahanmu di waktu muda melalui aku!" Tantang Billy.
"Maafkan aku Billy, jika aku tidak pernah di rumah menemanimu, tapi itu bukan niatku, dan menyalahkanku tidak akan mengubah kenyataan jika aku adalah ayahmu. Karena di masa depan kau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi, apakah kau siap atau tidak. Aku hanya memastikan kau memiliki masa depan yang lebih baik dari ayahmu."
Semua menjadi hening dan diam.
"Aku memilih Harvard, dan akan terbang besok pagi." Kata Billy kemudian melihat pada sang ayah.
FLASHBACK OFF
Setelah mandi Alicia melihat Billy sudah tidur di atas ranjangnya.
Alicia mendesahh, bingung.
Perlahan Alicia menarik selimut dan menaruh beberapa bantal serta guling di tengah-tengah lalu ia tidur dengan memiringkan tubuhnya membelakangi Billy.
Hingga pagi datang, dan semua terlelap tidur, posisi bantal serta guling sudah pergi entah kemana, Billy sudah memeluk Alicia dan mendekapnya.
Ting Tong
Ting Tong
Ting Tong
Suara bel pintu tidak membuat Alicia bergeming, bahkan ia masih nyaman dalam kantuk dan tidurnya di dekapan Billy.
Ting Tong
Ting Tong
Ting Tong
Billy yang merasa terganggu pun perlahan membuka mata, melihat Alicia masih tidur di lengannya, dengan perlahan Billy menaruh kepala Alicia di atas bantal.
"Pagi-pagi sekali Demian sudah menganggu..." Kata Billy dengan suara serak, dengan malas ia beranjak dari ranjang.
Matanya masih sedikit mengantuk lalu membuka pintu apartmen, terlihat dua pria di depan nya.
Satunya Demian, dan satu nya lagi seorang pria yang cukup ia kenal baik.
Saat itu Demian yang masih berdiri santai pun terkejut melihat Billy yang membuka pintunya, ia membelalak dan melihat pada Dax.
Sedangkan Billy juga tak kalah terkejut dan hanya bertanya-tanya dalam hati serta kepalanya.
*****
Setelah cukup lama tidur, Alicia bangun, melihat sebelah ranjangnya kosong.
"Apa dia sudah bangun...?"
Alicia turun dari ranjang dan keluar dari kamarnya menuju dapur, namun pandangannya tertuju pada Billy yang ada di ruang tamu hanya duduk.
Alicia menuang air putih dari teko kaca ke gelasnya dan membawa bersamanya.
"Billy, kenapa kau bangun pagi sekali?" Kata Alicia kemudian meminum airnya.
Namun ketika kakinya berjalan lebih dekat, ia tersentak melihat Dax bersandar di dinding tepat di depan Billy.
Seketika air yang sedang ia minum masuk dengan kasar ke dalam tenggorokannya, kakinya goyah, dan dengan cepat ia menaruh gelas nya di atas rak tv sembarang.
Dax melihat pada Alicia, jubah kimono nya berantakan, kemudian Alicia membenarkannya dengan gemetar, jantungnya seakan ingin melonjak.
Mata Alicia dan wajah Alicia seketika pucat.
"Aku akan kembali ke inggris dan membatalkan study ku di sini." Kata Billy masih duduk di sofa menggenggam kedua tangannya.
"Billy..."
Kemudian Billy bangkit dan menuju kamar untuk mengemasi barang-barangnya.
"Billy dengarkan aku dulu..." Kata Alicia
"Apa? Bahwa kau mencintainya?" Tatap Billy pada Alicia.
Billy melepaskan pakaian dan berganti dengan pakaian lain, kemudian mencuci wajahnya dan memakai sepatu.
"Billy maafkan aku, kau baik padaku, aku minta maaf..."
"Setidaknya jangan permainkan hati ku Alicia!" Geram Billy mendekatkan wajahnya pada Alicia.
"Ku kira aku tidak akan pernah bertemu lagi dengannya." Kata Alicia merasa bersalah.
"Lalu kau menjadikanku cadangan?"
Alicia diam tak berani menatap.
"Atau kau menjadikanku pelarianmu?"
Alicia masih diam.
"Kau menghancurkan hatiku Alicia, baru kali ini aku benar-benar serius dengan seorang wanita." Geram Billy hingga hidung mereka bersentuhan.
Air mata menetes di kedua pipi Alicia.
"Maafkan aku Billy... Aku sangat menyesal, dan merasa sangat jahat."
Billy menarik nafasnya untuk menahan amarah.
"Aku bahkan mengenalnya, kenapa kau tidak memberitahu jika orang itu adalah Dax! Kau benar-benar jahat padaku Alicia. Kau tahu, aku sangat mencintaimu!" Geram Billy.
Alicia terkejut dan melihat pada kedua mata Billy, tatapannya mengiris, ia tak mengira jika Billy mengenal Dax.
~bersambung~