REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 11 -



Hill School....


"Baiklah... Murid-murid semuanya karena teman kita sedang berduka dan karya wisata sudah di ulur satu hari, maka kami menetapkan karya wisata akan tetap terlaksana dan besok pagi kita akan berangkat. Ingat untuk membawa barang seperlunya." Peringat Mr.Jacob.


Sedangkan di ruangan lain, Zack duduk bersama Mrs.Frawn serta beberapa dewan sekolah.


"Kami mewakili sekolah dan seluruh guru serta siswa di Hill School turut berduka Zack, orang tua mu adalah sosok yang baik dan dermawan, hampir sebagian dari Hill School selalu ada campur tangan Tuan Zafran, bahkan terakhir kali Tuan Zafran membangun gedung baru untuk olimpiade basket." Sahut Mrs.Frawn.


Zack masih diam dengan wajah datar.


"Kami bisa mengerti jika kau mau mengambil cuti beberapa hari Zack, dan kami tidak akan mengurangi poin akselerasimu, atau jika kau mau absen tidak akan ikut karya wisata." Sahut salah satu dewan sekolah.


"Terimakasih, saya akan memikirkannya." Jawab Zack.


Cukup lama Zack ada di ruangan bimbingan bersama para guru. Hingga jam pelajaran pun berganti, kali ini semua siswa dam siswi kelas akselerasi sedang mengganti pakaiannya menggunakan seragam olahraga, karena pagi ini adalah pelajaran kesehatan.


Isabella berjalan menuju ruang ganti siswi, untuk mengganti seragamnya dengan pakaian olahraga, namun ia terkejut melihat keadaan lokernya di ruangan ganti siswi sudah terbuka.


Isabella berlari, namun pakaian olahraganya sudah tidak ada.


"Jangan lagi, aku sedang merasa lelah." Kata Isabella.


Gadis itu menutup loker nya dan menyandarkan dahinya di loker, merasa sangat lelah dan sedang sangat malas.


"Apa kau cari ini?"


Suara yang tidak asing bagi Isabella, dan berada tepat di belakangnya, siapa lagi jika bukan Sezi.


Isabella berbalik dan ingin meraih seragam olahraganya. Namun tangannya tidak cukup cepat meraihnya dan berujung Sezi hanya mempermainkan Isabella.


"Jangan ganggu aku Sezi. Aku sedang tidak enak badan." Kata Isabella.


"Apa kau sudah menyerah?" Tanya Sezi menyeringai.


Pertanyaan itu membuat Fay dan Milly ikut tertawa.


"Aku hanya tidak enak badan, berikan seragam itu." Kata Isabella ingin meraihnya.


Kemudian Sezi mendorong bahu Isabelle dengan wajah sinis.


"Kenapa kau selalu mengangguku Sezi." Tanya Isabella lemah.


Sezi tertawa.


"Karena aku sangat membencimu ISA-BELLA!" Sezi mendekatkan wajahnya sembari melotot.


"Kau bau sekali. Kau pasti belum mandi kan?" Tanya Sezi.


Kemudian Sezi mencengkram rambut Isabella dan menyeret Isabella. Fay dan Milly juga ikut menyeret tubuh Isabella.


"Tidak! Apa yang kalian mau! Pergi jangan ganggu aku!" Teriak Isabella sembari menangis.


Sezi beserta teman-temannya mendorong Isabella masuk ke dalam kamar mandi, kemudian Sezi menghidupkan showernya.


BLAAAZZ


Suara air yang cukup deres menyiram seluruh tubuh Isabella.


Sesaat Sezi ingin memutar kran menjadi suhu yang lebih panas agar Isabella terbakar dan kulitnya melepuh, namun niatnya ia urungkan dan memutar kran ke arah sebaliknya. Sezi memutar kran dengan suhu air yang dingin.


"Sezi... Ini sangat dingin. Ini air es..." Kata Isabella mulutnya sudah membiru.


"Rasakan!" Geram Sezi.


Kemudian Sezi, Fay, dan juga Milly pergi namun sebelum pergi pun mereka masih membuat masalah, para siswi konomerat itu menginjak-injak baju seragam olahraga milik Isabella, bahkan sepatu olahraga milik Isabella di buang ke tempat sampah. Milly mengambil sepatu itu menggunakan banyak sekali tisu sembari menutup hidungnya.


Melihat itu Isabella mencoba untuk berdiri dan bepegangan pada dinding tempered glass kamar mandi, kaki dan tubuhnya gemetar.


Isabella memutar kran untuk mematikan air. Gadis itu menangis dan merosot kembali membuat bunyi decit kaca tempered kamar mandi.


Terlihat beberapa siswi juga hanya diam melihat perlakuan Sezi, dan gerombolannya.


Para siswi memilih bungkam dan menutup mata, karena mereka tidak ingin terlibat dan berakibat akan di jadikan sasaran perundungan yang berikutnya.


Isabella merangkak pelan, dengan gemetar karena kedinginan, ia meraih seragamnya dan mencoba berdiri dengan perlahan, mencari pegangan dan menuju bilik kamar yang lebih tertutup.


Ruangan ganti siswa cukup luas, masing-masing kelas memiliki nya sendiri. Di dalamnya sudah tersedia loker dan di beri nama masing-masing, lalu ada kamar mandi dengan tempered glass dan juga terdapat bilik-bilik kamar untuk mengganti baju yang lebih tertutup.


"Aku tidak bisa lagi..." Kata Isabella duduk di dalam bilik ruangan sembari menangis.


Perlahan Isabella mengganti pakaiannya dengan pakaian olahraga. Namun sialnya sepatu dan pakaian dalamnya basah kuyup.


"Aku tidak mungkin mengikuti pelajaran selanjutnya dengan keadaan seperti ini." Sahut Isabella.


Gadis itu masih duduk dan hanya terus menangis mengunci diri di balik bilik ruangan gantinya.


Pelajaran kesehatan sudah di mulai, semua siswa berkumpul di lapangan yang tebal akan rumput, cuaca pagi itu cukup panas dan membuat para siswi perempuan selalu protes.


"Jangan terlalu banyak memprotes, sinar matahari baik untuk pertumbuhan tulang!" Teriak guru itu.


"Ya. Saya guru olahraga kalian sekarang, kalian bisa memanggil saya Mr.Jay."


"Tampan sekali, dia masih muda." Bisik Fay dan juga Milly pada Sezi.


"Ketampanan Zack belum bisa di kalahkan siapapun." Bisik Sezi pada mereka.


"Saya akan mengabsen dan angkat tangan kalian." Kata Mr.Jay.


Tak berapa lama Zack datang dan sudah memakai pakaian olahraganya, kemudian ikut bergabung, berbaris paling belakang bersama Zhang Chen.


Mr.Jay mengabsen satu persatu muridnya. Hingga sudah pada baris tengah.


"Cecilia..."


Siswi yang bernama Cecilia mengangkat tangan menandakan dirinya hadir.


"Fay..."


Kemudian Fay mengangkat tangan.


"Sezi..."


Kemudian Sezi juga mengangkat tangan.


Dan akhirnya sampai pada nama Isabella.


"Isabella..."


Semua masih diam.


"Isabella...!" Teriak Mr.Jay.


Zack mengedarkan pandangan nya melihat pada teman-temannya yang berbaris, Isabella memang tidak ada kemudian Zack berlari pergi.


"Hey, mau kemana!" Teriak Mr.Jay.


"Tidak ada yang bisa menjawab di mana Harry serta Isabella?" Tanya Mr.Jay.


"Harry ijin sakit." Kata Milly menutupi.


"Akan ku periksa nanti ijinnya. Lalu untuk Isabella?" Tanya Mr.Jay.


Semua orang diam.


"Kalian semua tidak peduli dengan teman kalian ya sepertinya. Lari 10 kali putaran." Kata Mr.Jay.


"Apa?!!!" Sezi berteriak.


"Anda tidak boleh menghukum kami sepihak hanya karena kami tidak tahu dimana Isabella, memangnya kami ini pelayan atau pengawalnya hingga bisa tahu dia ada dimana!" Teriak Sezi.


"Tambah 5 kali putaran." Sahut Mr.Jay sembari menyemprit.


"Apa guru itu gila!!!" Teriak Fay.


"20 kali putaran!!!" Mr.Jay menyemprit kembali.


Semua siswa yang awalnya selalu memprotes akhirnya mau tidak mau melaksanakan hukuman tersebut dari pada hukuman lari mereka terus bertambah.


Sedangkan Zack masih mengelilingi Hill School mencari dimana Isabella.


Zack membuka satu persatu pintu ruangan, remaja itu berlari dan terus mencari hingga ke kantin dan bertanya pada siswi yang berada di kamar mandi.


"Apa ada siswi yang bernama Isabella di dalam kamar mandi?" Tanya Zack pada salah satu siswi.


Siswi itu tersenyum tersipu malu dan senang melihat ketampanan Zack.


"Sebentar aku lihat ya..." Kata siswi itu masuk ke dalam kamar mandi lagi.


"Apa ada yang bernama Isabella?" Teriak siswi itu hingga suara nya menggema keluar.


Semua siswi yang berada di dalam kamar mandi pun saling pandang, saling melihat name tag di depan mereka, kemudian saling menggeleng.


"Oke ku rasa tidak ada."


Kemudian siswi itu keluar dan melapor pada Zack.


"Tidak ada tampan..." Kata siswi itu menggoda sembari memelintir rambut-rambutnya.


"Oke terimakasih." Kata Zack kemudian berlalu pergi, ia kembali berlari mencari.


"Tunggu dulu, aku minta nomor ponselmu Zack." Teriak siswi tersebut.


Namun Zack tidak memperdulikannya dan terus berlari meninggalkan tempat untuk memutari ruangan yang lainnya.


Namun kemudian Zack berhenti berlari dan terpikir satu ruangan yang bahkan sepersekian detik merasa bahwa ia sangat bodoh.


~bersambung~