REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 30 -



Isabella sampai di Mansion mewah milik Harry, gadis itu terperangah takjub.


"Kenapa kita kesini Isyana?" Tanya Isabella.


"Tunggu dulu... Apa kalian berpacaran dan sudah tinggal bersama? Tapi, dilihat lihat wajah kalian sangat mirip." Kata Isabella lagi dengan wajah terkejut.


Isyana tertawa dan Harry lebih memilih untuk pergi.


"Ayo ke kamarku, aku akan menceritakannya padamu."


Saat itulah Isyana menceritakan semuanya pada Isabella dan membuat Isabella benar-benar terkejut, bahkan Isyana membawa Isabella melihat ayahnya.


"Jadi namamu adalah Alicia Benyamin, kau adik dari Harry Benyamin." Kata Isabella.


"Ya seperti itu, sekarang ceritakan padaku, apa mereka semua masih menganggumu? Mengingat semua siswa tadi memberikan sikap seperti itu pasti keadaanmu semakin sulit."


Isabella menarik nafasnya panjang, dan butiran air mata pun jatuh di pipinya.


Mereka duduk di atas sofa empuk di balkon dengan udara yang sejuk, namun tidak membuat hati Isabella ikut merasa sejuk.


Isyana kemudian memeluk Isabella.


"Kenapa tidak kau laporkan pada guru? Atau pada Zack mungkin."


"Guru pasti akan membela mereka, orang tua mereka selalu memberikan donasi paling besar, dan aku juga tidak akan menceritakannya pada Zack, dia sedang banyak pikiran san masalah." Sahut Isabella.


Hari itu Isabella menceritakan semua perlakuan Sezi dan teman-temannya pada Isyana membuat Isyana pun merasa geram dan kesal.


"Aku sangat lelah dan aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak." Kata Isabella.


"Apa kau mau tidur di sini? Siapa tahu dengan tidur siang kau bisa lebih segar, dan mandi juga lah di sini, main denganku Isabella. Aku janji akan menyuruh Harry lebih menjagamu. Harry juga lumayan tampan apa kau tidak menyukainya?" Goda Isyana.


Perkataan Isyana membuat Isabella tertawa, meski wajahnya terlihat pucat.


"Aku tidak mau punya adik ipar seperti kau." Sahut Isabella.


"Aku lebih tua beberapa bulan darimu." Kata Isyana menggoda kembali.


"Apa aku boleh tidur sebentar, aku lelah sekali." Kata Isabella.


"Ayo istirahatlah, kapanpun kau mau kau boleh ke sini, anggap rumah mu sendiri." Sahut Isyana.


Isabella kemudian berjalan ke ranjang milik Isyana dan merebahkan dirinya.


"Kau beruntung sekali Isyana, memiliki keluarga, kakak laki-laki yang sayang padamu, dan memiliki ranjang empuk ini, tapi kau pantas mendapatkannya setelah apa yang telah kau lalui selama ini, menderita dan berjuang sendirian." Kata Isabella lemah dan memejamkan matanya.


Isyana hampir menangis dengan perkataan Isabella, ia pun menginginkan Isabella selalu bahagia. Rasanya aneh jika sesuatu yang ia miliki namun sahabatnya sedang terpuruk dalam kesusahan.


Setelah Isabella tidur, Isyana berjalan menuju kamar Harry dimana saat itu kakaknya sedang duduk dengan segala buku di hadapannya.


"Boleh aku meminta bantuan lagi." Tanya Isyana berdiri di samping kakaknya.


"Katakan saja." Sahut Harry melihat pada adiknya.


"Apa kau punya semacam kamera kecil atau apapun itu yang bisa di pakai sehari-hari?"


"Untuk apa? Kau mau mengintip orang?" Kata Harry menyeringaikan sudut bibirnya, sedikit tersenyum dengan permintaan sang adik.


" Bukan itu! Aku tidak mesum. Itu untuk Isabella." Sahut Isyana.


"Isabella?"


"Ya, dia selalu di ganggu oleh teman-teman nya, bahkan hari ini wajahnya di tenggelamkan di dalam air." Sahut Isyana.


"Apa! Kenapa dia tidak cerita!" Kata Harry terkejut.


"Dia tidak ingin orang lain tahu dan masalah akan semakin melebar kemana-mana berujung pada kehilangan beasiswanya, dia hanya selalu menceritakannya hanya denganku." Sahut Isyana.


Kemudian Harry mengambil sebuah kalung yang ada di dalam rak mejanya.


"Ini sebenarnya adalah kamera kecil, satu pasang dengan yang selalu ku pakai, lihat aku selalu memakainya, awalnya aku ingin kau yang memakai ini tapi mungkin Isabella lebih membutuhkannya." Kata Harry meraih kalungnya yang tersembunyi di balik t-shirtnya dan menunjukkannya pada adiknya.



"Terimakasih untuk makan malamnya." Kata Isabella.


"Sopir akan mengantarmu pulang." Kata Harry.


"Kenapa tidak tidur di sini saja Isabella, aku akan sangat senang." Sahut Isyana.


Isabella tersenyum.


"Aku harus mengerjakan tugas sekolahku." Kata Isabella.


Kemudian Isabella pergi di antar oleh sopir keluarga Benyamin.


"Kau tidak memberitahunya?" Tanya Harry.


"Tidak, dia tidak akan mau memakainya, jadi aku melepaskan kalungnya saat dia tidur dan mengganti dengan kalung yang kau berikan." Kata Isyana.


Akhirnya Isabella sampai di apartmen, gadis itu cukup terkejut melihat Zack yang sudah menunggunya di lobby.


"Plat mobil memiliki logo keluarga Benyamin, apa benar?" Tanya Zack.


"Iya... Aku dari sana."


"Untuk apa?" Tanya Zack.


"Aku ada urusan dengan temanku."


Zack hanya diam melihat Isabella yang sedang malas menjelaskan. Lalu Zack melihat pada kalung yang Isabella pakai.


"Apa itu semua menjelaskan kenapa ada kabar bahwa kita sudah putus?" Tanya Zack.


"Apa maksudmu Zack? Apa kau menuduhku yang menyebarkan rumor bahwa kita putus dan menjalin hubungan dengan Harry?" Tanya balik Isabella.


"Dan sekarang aku melihatmu keluar dari mobil keluarga Benyamin dengan memakai kalung yang sama dengan milik Harry!" Teriak Zack.


Isabella terbelalak, dan meraba lehernya melihat sekilas.


"Kalungnya berubah. Dimana kalungku?" Tanya Isabella tak mengerti.


"Tanyakan itu pada dirimu sendiri." Ujar Zack dengan nada ketus.


"Kau salah paham Zack, aku menemui temanku."


"Teman siapa? Teman mu Harry yang sekarang sudah menjadi pacarmu? Aku tidak percaya Isabella kau benar-benar mengkhianatiku!"


Zack pergi dengan kekesalan yang memuncak tanpa menunggu penjelasan dari Isabella, ia membuang bunga yang sedari tadi ada di tangannya ke tong sampah dan memerintahkan Stark untuk segera pergi.


Isabella merasa sangat lelah, hingga tiba-tiba pandangannya terhuyung dan hampir pingsan.


"Zack tunggu, dengarkan aku dulu." Teriak Isabella.


Namun mobil tetap melaju pergi dan meninggalkan apartmen.


Kemudian Isabella naik ke apartmennya dan mehempaskan dirinya ke ranjang dengan lemah.


"Bunuh diri lah Isabella, daripada kau akan bertemu denganku dan aku akan selalu menyiksamu, kau akan merasakan bagaimana rasanya hidup di neraka. Ambil pisau dan iris nadi mu sendiri!"


"Dan sekarang aku melihatmu keluar dari mobil keluarga Benyamin dengan memakai kalung yang sama dengan milik Harry!"


Kalimat Sezi serta kalimat Zack berulang kali mengelilingi otak dan pikirannya.


Isabella kemudian berdiri dan menuju kamar mandi, di tangannya sudah membawa sebotol pil obat pereda rasa nyeri dengan segelas air dan kemudian dengan perlahan kakinya masuk ke dalam bathup, Isabella memasukkan semua pil itu masuk ke dalam mulutnya dan meminum air beberapa teguk dari gelas yang ia bawa.


Isabella kemudian menangis, terisak.


"Aku mencintaimu Zack. Aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan sekarang." Kata Isabella lirih.


Jemari lentik Isabella memutar kran bathup membuat air mengalir perlahan air itu memenuhi bathup.


Sebuah keputusan yang akhirnya di ambil oleh Isabella yang malang, bahkan ia tidak sempat menceritakan apa yang sedang membuatnya depresi.


~bersambung~