REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 12 -



Zack berbalik arah dan menuju ruangan yang tidak terpikirkan olehnya.


Remaja itu membuka pintu ruangan ganti siswi, karena para siswi kelas sudah berada di lapangan jadi ruangan ganti itu kosong.


Zack masuk dan memperhatikan tiap bilik ruangan, dengan langkah mantap Zack membuka satu pintu bilik.


GLEK


Suara pintu di buka.


Isabella yang menunduk sembari menyangga kepalanya dengan kedua lutut yang di tekuk kemudian mendongak. Wajah dan rambutnya basah, seragam olahraga yang baru saja ia pakai juga sudah basah.


Seluruh wajah Isabella terlihat merah, pertanda Isabella sudah terlalu banyak menangis.


Zack menarik nafas panjangnya menahan emosi, bahkan kedua tangannya sudah mengepal.


"Ayo, kau tidak mungkin ikut pelajaran." Kata Zack masih dengan wajah datar sembari menarik tangan Isabella.


Isabella hanya diam dan masih merasa asing dengan perubahan sikap Zack.


Zack menuntun Isabella untuk ikut dengannya, remaja itu mengambil jaket yang ada di loker serta tas miliknya dan juga tas milik Isabella.


"Mau kemana Zack?" Tanya Isabella lemah.


"Pulang."


"Tapi..."


"Badan mu panas dan basah kuyup, kau mau pingsan?" Kata Zack datar dan masih menggandeng Isabella.


Mobil melaju dengan cepat, wajah Zack tanpa ekspresi, datar dan dingin, sepanjang perjalanan Zack hanya diam dan tanpa menoleh pada Isabella.


Sedangkan Isabella masih takut untuk berbicara atau sekedar bertanya mau kemana, ia merasa sangat jauh dan asing dengan kepribadian Zack yang sekarang.


Namun Isabella mengerti, itu karena Zack baru saja kehilangan keluarga penting dalam kehidupannya, dan kini senyuman di wajah Zack telah memudar sepenuhnya.


Mobil masuk basement dan terparkir sempurna, berjajar dengan mobil-mobil mewah milik Zack yang lain.


Tanpa sepatah kata Zack turun dan membuka pintu mobil agar Isabella dapat keluar, perlahan gadis itu pun menurut.


Isabella mengikuti Zack dari belakang dan mereka naik menuju apartmen milik Zack.


"Kakak kau sudah pulang?" Tanya Evashya berlari ke arah lift.


Namun ia terkejut Zack pulang dengan Isabella yang basah kuyup.


"Pinjami pakaianmu pada Isabella, dia kedinginan." Kata Zack kemudian menaruh tas nya di sofa.


"Iya." Sahut Evashya datar tanpa sebuah senyuman sedikitpun.


Setelah Evahsya memberikan baju nya pada Isabella, gadis itu pun segera mengganti pakaiannya di kamar mandi.


"Kakak kenapa membawanya ke sini?" Tanya Evashya.


"Entahlah." Kata Zack yang masih duduk di sofa.


"Apa dia masih di ganggu oleh anak-anak itu?" Tanya Evahsya.


"Iya, dia menangis sendirian, aku kasihan dan tanpa sadar membawanya ke sini."


"Apa kalian pacaran?" Tanya Evashya lagi.


Belum sempat Zack menjawab Isabella sudah keluar dari kamar mandi, memakai baju milik Evashya.


"Terimakasih." Kata Isabella malu dan menundukkan kepala.


"Aku tidak tahu harus bilang apa, tapi aku juga sangat sedih mendengar kabar itu."


Awalnya Evashya sangat iri dan cemburu, kenapa Zack membawa pulang Isabella ke apartmen. Tapi, pikiran itu segera ia tepis melihat kakaknya pasti tidak akan melupakannya hanya demi cintanya.


"Terimakasih Isabella, aku akan ke kamar kalian bisa mengobrol." Kata Evashya dan pergi menaiki tangga marmer berwarna hitam.


Beberapa saat keadaan menjadi hening, Zack juga sedang sibuk dengan ponsel nya, mengecek perusahaan yang siap di dirikan untuk melawan Emir.


"Aku akan pergi..." Kata Isabella kemudian dan meraih tasnya yang ada di dekat Zack.


Kemudian Zack menaruh ponsel dan menahan tangan Isabella.


"Maaf, pikiranku bercabang-cabang sekarang." Kata Zack menyesal.


Kemudian Isabella duduk di samping Zack, sedangkan Zack sendiri menangkup kan kedua telapak tangannya di wajahnya, dan menyangganya dengan kedua sikunya.


Isabella membelai punggung Zack pelan.


Zack memandang wajah kekasihnya yang ingin ia lindungi, sekarang Zack takut berada di dekat Isabella, ia takut jika Isabella akan terseret dengan permasalahan keluarganya yang tentu saja nyawa selalu menjadi taruhannya.


Zack berusaha menghindari Isabella, agar Isabella tetap aman, namun hatinya tidak bisa.


"Badan mu panas." Kata Zack memegang tangan dan dahi Isabella.


"Aku hanya tidak enak badan." Kata Isabella menenangkan Zack.


Perlahan Zack mendekatkan wajahnya, kemudian mencium bibir Isabella yang juga sedikit panas, Isabella membalasnya dan mereka saling melumaatt.


Sejenak kemudian mereka berhenti, dan saling menempelkan dahi, hidung mereka masih saling bersentuhan, bahkan bibir mereka masih saling berdekatan, sesekali Zack mencium dan melumatt.


"Aku akan panggil dokter." Bisik Zack, mereka masih saling berhadapan.


Dahi mereka masih saling menempel satu sama lain, sedang tangan Zack juga memeluk punggung Isabella, kemudian Isabella menggeleng pelan.


"Aku tidak apa." Bisik Isabella lemah.


Zack mencium Isabella kembali, dan berhenti untuk melanjutkan kalimatnya.


"Hari ini tidur di sini, aku sangat khawatir padamu, aku akan menghubungi dokter Leizya."


Zack hendak menarik diri dari Isabella namun, gadis itu menahan wajah Zack, dan menangkupkan kedua tangannya. Isabella kemudian mencium Zack kembali, ciuman berani yang cukup panas.


Zack menerima itu dan membalasnya, mereka saling menekan, dan cukup lama mereka terus berciuman. Zack menggapai tengkuk Isabella dengan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memeluk dan membelai punggung serta tubuh Isabella.


Hingga tiba-tiba Isabella perlahan menutup mata, tubuhnya lemah, dan pingsan di pelukan Zack.


"Isabella..." Kata Zack menepuk pipi Isabella dengan pelan.


Zack menggendong Isabella dan memanggil pelayan untuk datang.


Mendengar kakaknya berteriak panik, Evashya pun keluar dari kamarnya.


"Telfon dokter Leizya Evashya!" Perintah Zack.


"Iya." Kata Evashya panik dan kembali mengambil ponselnya.


Zack masih duduk di dekat Isabella, meski dalam diamnya Zack justru sedang dalam pikiran yang cemas , tidak tahu harus melakukan apa. Sedangkan para pelayan sedang mencoba memberikan segala upaya agar Isabella bangun.


Akhirnya dokter Leizya datang.


"Temanku pingsan dokter." Kata Evashya yang menunggu di depan pintu lift.


Dokter Leizya dengan cepat masuk ke dalam kamar milik Zack dan terlihat Isabella masih menutup matanya.


Setelah mendapat perawatan dan suntikan perlahan Isabella membuka mata.


Dokter Leizya mendesahkan nafasnya, merasa prihatin. Zack yang melihat Isabella sudah sadar pun mendekat, sedangkan Evashy masih berdiri di ujung kamar ia masih sangat trauma kembali teringat orang tuanya.


"Kau demam dan akan segera sembuh." Kata Leizya tersenyum dan membelai punggung tangan Isabella.


"Aku pergi Zack, hubungi aku jika ada masalah." Kata Leizya memegang lembut bahu Zack.


Kemudian Leizya berpamitan dengan Evashya dan memeluk Evashya.


"Kau dan Zack juga anakku, dari sekecil kacang pun aku masih sangat ingat perkembangan kalian di dalam perut Laura. Kalian bisa menganggapku ibu kalian, meski aku tidak bisa menggantikan peran Laura." Kata Leizya.


Evashya kembali menangis.


Setelah kepergian Dokter Leizya, dan melihat kondisi Isabella akan membaik Evahsya kembali naik ke lantai atas untuk tidur di kamarnya, sedangkan Zack masih menunggu Isabella.


"Maafkan aku, saat kondisi mu dan Evashya seperti ini aku justru merepotkan kalian. Aku akan segera pergi setelah badanku cukup kuat berjalan." Kata Isabella merasa tidak nyaman dan tidak enak.


"Aku menyuruhmu tidur di sini Isabella." Zack kemudian ikut berbaring dan memeluk Isabella dari belakang.


"Aku sedang butuh sandaran." Zack membenamkan wajahnya di rambut dan tengkuk leher Isabella.


"Seperti biasa, cukup begini dan aku ingin tidur sebentar." Kata Zack lagi.


Isabella kemudian memeluk tangan yang merantai tubuhnya dari belakang, saat itu lah Isabella mengerti, Zack berusaha sekuat mungkin untuk menjadi kuat dan tetap berdiri, serta melindungi apapun yang masih tersisa agar orang-orang tamak dan rakus tidak dapat mengambil keuntungan apapun darinya.


~bersambung~