REVENGE AND LOVE

REVENGE AND LOVE
- EPISODE 26 -



Senyuman merekah itu sirna, ketika ia mengingat apa yang akan gadis itu dapatkan dari Sezi dan teman-temannya.


Kemudian Isabella membuka ponselnya lagi dan melihat daftar peringkat kembali. Isabella mencari nama Sezi, Fay dan juga Milly.


Sezi terlempar jauh ke bawah, bahkan tidak masuk peringkat 10 besar. Sedangkan Fay dan Milly jauh di belakang Sezi.


"Baiklah, jika mereka menganggu kali ini aku akan melaporkannya pada guru kedisiplinan." Sahut Isabella.


Kaki jenjang Isabella melangkah mantap untuk ke sekolah meski perasaan nya masih merasa tidak aman. Bagi Isabella sekolah adalah tempat yang paling tidak aman dan seperti neraka.


Gerbang besar Hill School terbuka lebar, terlihat Harry baru saja memasuki sekolah.


Isabella melihat situasi dan kondisi apakah Sezi dan kawan-kawannya akan diam-diam menyergapnya. Isabella masuk dengan perlahan, kemudian menyusuri koridor hingga sampai lah ia di kelasnya.


Terlihat Harry serta Zack sudah duduk di kursi mereka masing-masing. Isabella kemudian masuk dan berjalan sepelan mungkin, melihat Gery pun sudah duduk di kursinya, namun Sezi, dan juga Fay tidak ada di kelas.


"Apa mereka tidak berangkat?" Batin Isabella.


Isabella hendak duduk namun ia beradu pandang pada Zack.


"Apa Zack tadi malam datang ke apartmen dan memindahkanku tidur di ranjang?" Batin Isabella lagi.


Zack dan Isabella masih saling pandang, dan tak berapa lama Mr.Jacob datang.


"Ayo semuanya duduk, dan beri tepuk tangan pada 3 besar peringkat umum kita, Zack, Isabella, dan juga Harry. Aku senang kelas kita bertambah satu siswa pintar lagi, dan itu adalah Harry." Kata Mr.Jacob bangga.


*****


Mansion Tomson...


PRANG!


BRAK!


BRAK!


"Dasar tidak berguna! Tidak becus!"


Pria paruh baya itu berteriak memaki dan memukul beberapa barang.


"Apa kau ingin mempermalukan ayahmu!" Kata pria itu sembari melotot dan tidak bisa menahan emosinya.


"Kau kalah dengan seorang gadis beasiswa yang miskin!"


"Kau ingin membuat ayahmu malu di depan semua orang!"


Pria itu masih memelototi anaknya.


Tak lain dan tak bukan seorang siswi yang sudah memakai seragam lengkap tidak di ijinkan pergi dan di tahan di dalam ruangan dimana sang ayah sedang meluapkan kekesalan dan amarahnya.


"Aku sudah berusaha ayah."


PLAK!


Sebuah tamparan panas mendarat dengan sempurna, membuat pipi Sezi memerah dan panas, air mata Sezi tak terbendung dan begitu saja mengalir di kedua matanya.


Sezi masih tegar dan menahan kakinya untuk tetap berdiri, tak bergeming dan jelas ia sedang menahan gundukan amarahnya..


"Ayah akan mengambil semua kartu kredit dan semua fasilitas yang kau dapatkan, kau harus lebih berusaha lagi, jika ujian berikutnya kau masih kalah dan berada di bawah peringkat gadis miskin itu, kau harus siap untuk pergi ke Amerika."


"Apa dengan cara ini juga kau mengusir saudariku? Kau menyingkirkannya dan membuatnya hancur, dia sudah berusaha sekuat apa pun yang dia bisa." Kata Sezi.


PLAK!!


Kembali lagi tamparan itu mendarat di pipi Sezi, pipi Sezi semakin panas dan memerah, hingga sudut bibirnya berdarah.


Air mata Sezi menitik dan kemudian dia mengangguk pelan.


"Kenapa kau tidak membunuhku saja." Kata Sezi lemah.


Kemudian pria itu mecengkram leher Sezi yang hanya dengan satu tangan sudah bisa mencekiknya.


"Kau...." Geram pria itu.


Wajah Sezi mulai memerah, ia tidak dapat bernafas, kedua tangannya meraih tangan ayahnya yang kuat, Sezi kesulitan bergerak. Kedua tangan Sezi memukul tangan sang ayah, kemudian pria itu melempaskan cekikannya.


Sezi terjatuh di lantai, dan memegangi lehernya dengan kedua tangannya.


"Uhuk! Uhuk!"


"Lakukan dengan benar, dan kau akan menjadi anak yang paling ku sayang, jangan membuatku malu. Pergilah!"


Dengan cepat Sezi keluar dari ruangan ayahnya dan berjalan menuju kamarnya kembali, saat di koridor Sezi bertemu dengan seorang wanita berambut panjang yang sangat cantik.


"Astaga, apa ayahmu memukulmu?" Tanya seorang wanita itu yang berlari mengejar Sezi dan memegang pipi Sezi.


Namun Sezi menepis tangan itu dengan tatapan penuh kebencian, dan pergi berlalu.


"Nyonya Abigail, kita harus segera terbang untuk menghadiri acara amal tersebut." Kata seorang asissten.


"Tapi... Beri aku waktu sebentar lagi. Aku mohon."


"Kita sudah tidak memiliki waktu lagi Nyonya."


"Sebentar saja." Kata Abigail dan pergi menemui Sezi ke dalam kamarnya.


Terlihat Sezi sedang duduk di sofa dekat jendela dan menyandarkan kepala sembari memeluk sebuah bantal kecil, dengan keanggunan Abigail mendekati sang anak dan menarik sebuah sofa kecil untuk ia duduk.


"Sezi... Apa kau menjawab ayahmu? Apa kau melawannya sehingga dia memukulmu?" Kata wanita itu dengan lembut dan hangat.


Jemari lentik itu hendak membelai pipi Sezi dengan lembut, namun Sezi menepisnya, gadis itu masih melihat ke arah luar, tanpa melihat Abigail sedikitpun.


"Maafkan ibu Sezi... Tapi ibu harus pergi, ada acara amal hari ini di luar negeri."


"Pergilah, aku tidak membutuhkanmu." Sahut Sezi.


"Aku akan kembali 3 hari lagi."


"Terserah."


Abigail kembali bimbang dan sangat bersalah, apalagi ia harus meninggalkan Sezi saat ia seperti itu.


"Aku sangat merasa bersalah jika saja aku bisa membatalkan acara itu." Sesal Abigail.


"Aku sudah terbiasa dengan semua ini. Kau juga akan tetap pergi." Sahut sezi tanpa melihat ibunya.


Tok Tok Tok!


"Nyonya Abigail, kita sudah tidak punya waktu." Kata sang asissten memberitahu, saat itu pintu kamar Sezi terbuka.


Abigail semakin bingung, ia berdiri dan makin kebingungan melihat anaknya jelas sangat mengacuhkannya.


Kemudian Abigail pergi meninggalkan Sezi dan menutup pintu.


Saat itulah Sezi melirik ketus, ibunya lebih mementingkan karirnya sebagai seorang selebriti dan air matanya kembali menetes tak terbendung lagi, dada nya terasa sangat sesak, Sezi menangis dan menutup wajahnya dengan bantal yang sedari tadi ada di tangannya, kemudian menjerit sekeras-kerasnya.


Suara Sezi tertutup bantal tersebut sehingga teriakannya tidak begitu keras, namun Sezi benar-benar meluapkan semua kegondokan hatinya. Semua emosi dan segala tekanan yang ia dapat dari sang ayah.


Sedangkan Abigail yang di buru waktu justru menemui suami nya.


"Nyonya..." Ingat sang asissten.


"Aku tahu kita sudah tidak memiliki waktu tapi biarkan aku mengurus rumah tanggaku lebih dulu!" Kata Abigail kesal.


Wanita itu masuk ke dalam ruangan suaminya dan melihat pria yang sudah menikahinya hampir 20tahun itu masih memiliki sifat yang sama. Keras dan angkuh.


"Mark Tomson, bisa kau lebih lembut pada Sezi setelah apa yang kau lakukan pada Seza dan kau tidak ada rasa penyesalan sama sekali!!!" Teriak Abigail.


Pria itu menghentikan tangannya yang sedang memeriksa beberapa dokumen, ia melihat pada istrinya yang sangat cantik memakai gaun berwarna biru muda lembut.


Tubuh ramping Abigail, wajah cantik, kulit mulus dan putih serta ia adalah seorang publik figur.


"Aku sedang mengurus anakku dengan caraku, apa kau punya cara lain agar mereka bisa menjadi orang sukses kelak?" Tanya Mark Tomnson pada istrinya.


"Kau bahkan sibuk dengan karirmu, lalu kenapa sekarang kau menyalahkanku yang justru selalu ada untuk mengasuh Sezi. Apa kau bisa mendampingi Sezi agar dia tidak berakhir sama dengan Seza?"


Abigail menelan ludahnya, ia marah dan kesal, karena ucapan suaminya memang benar, Abigail sibuk dengan karirnya dan sering bepergian keluar negeri, ia bahkan tidak pernah ada di samping anak kembarnya Seza dan Sezi.


~bersambung~