
Pagi ini Gavin pergi kesekolah dengan rasa tak ada beban, ia tak ingin memikirkan soal kejadian yang di alami Cheriel lagi.
Saat Gavin memarkir motornya, suara sapaan dari Nhaya terdengar memanggil namanya...
Nhaya yang baru keluar dari mobil langsung berlari menghampiri Gavin.
[Nhaya]
Vin, lo kemaren kemana sih? Gue sama Christ nungguin lo di cafe...
[Gavin]
Sorry nhay, semalam gue ketiduran..
[Nhaya]
Lo gak lagi sakit kan?
[Gavin]
Enggak kok...
[Nhaya]
Syukur deh...
Yaudah....kekelas yukk...
Nhaya lalu menggandeng lengan Gavin dan mereka menuju ke kelas.
Nhaya sudah lama menaruh perasaan terhadap Gavin, tapi Gavin selalu menganggap Nhaya sebagai saudara, namun Nhaya tak pernah menyerah untuk mendapatkan hati Gavin.
Apa lagi selama ini hanya Nhaya yang dekat dengan Gavin.
Saat mereka menuju kelas terlihat gerombolan anak anak yang mengerubuni mading sekolah. Karena rasa penasaran Gavin & Nhaya mendekati dan ingin melihat apa yang sedang di lihat oleh para murid yang lain.
Gavin & Nhaya membaca selebaran yang beetuliskan soal kompetisi Dance yang harusnya di ikuti sekolah mereka harus dibatalkan, karena leader dance tersebut tidak bisa memimpin tim mereka untuk mengikuti kompetisi, dikarenakan mengalami cidera
Gavin lalu bertanya kepada Nhaya.
[Gavin]
Hanya karena satu orang doang, harus dibatalin, apa itu gak berlebihan?
[Nhaya]
Ya....gue sih gak paham soal ginian, tapi emang sulit sih lomba tanpa ada leader yang mengarahkan.
Untungnya gue lebih milih musik dari pada harus gabung grup seperti ini.
[Gavin]
Btw siapa sih tuh leadernya, lebay banget cidera apa sih sampai harus mengorbankan tim segala...
Tiba tiba sebuah suara dari arah belakang Gavin & Nhaya menjawab peetanyaan Gavin.
Rayshaka, dia adalah ketua tim basket, dan sekaligus pesaing berat dari Gavin.
[Rayshaka]
Lo mau tau siapa leadernya?
Yakin lo bener bener gak tau...
[Gavin]
Gue gak ada urusan sama lo...
Gavin memilih pergi dari pada harus berurusan dengan Rayshaka. Tapi langkah Gavin terhenti saat sebuah nama keluar dari mulut Rayshaka.
[Rayshaka]
Cheriel.......
Cewek yang lo lempar bola basket kemaren.
Dia leader dari tim dance sekolah...
Gavin terdiam saat mendengarnya saat ia berusaha tak mau memikirkan lagi soal Cheriel, namun pagi ini Rayshaka mengingatkannya kembali.
[Rayshaka]
Gue penasaran, apa sebenarnya alasan yang buat lo sampai tega nyelakai Cheriel?
Setau gue lo gak kenal sama Cheriel.
Tak ada jawaban dari Gavin, ia hanya berdiri membelakangi Rayshaka.
[Nhaya]
Shaka, lo gak usah cari ribut deh pagi pagi...kemaren tuh gavin gak sengaja ngelempar bola ke arah tuh cewek...
[Rayshaka]
Nhaya, gue gak ada urusan sama lo, gue ada urusan sama nih pengecut.
Kalau dia gentle, temui Cheriel dan minta maaf atas perbuatannya itu, bukan malah bersikap seolah olah tak bersalah.
Gavin mencoba menahan emosinya, ia tak ingin memulai keributan di sekolah.
Tanpa menghiraukan omongan Rayshaka, Gavin pergi menuju kelasnya.
[Rayshaka]
Sampein ke pangeran lo tuh, jangan jadi pengecut.
Nhaya lalu menyusul Gavin yang telah pergi duluan.
Rayshaka, mengetahui itu semua setelah pagi ini ia meminta ijin untuk melihat CCTV pada saat kejadian Cheriel kemaren.
Ia tak menyangka jika yang melempar bola basket dengan kuat kearah
Cheriel adalah Gavin. Dan hal yang membuat Rayshaka sangat marah, setelah melempar bola ke arah Cheriel, Gavin bertingkah seolah olah tak terjadi apa apa.
----------------------------------
Di rumah sakit.
Cheriel tengah di periksa oleh dokter, dan dokter mengatakan Cheriel sudah boleh pulang, tapi dengan catatan Cheriel tak boleh menggerakan bahunya dan beraktivitas yang belerbihan.
Karena itu akan membahayakan bagi bahu Cheriel.
Mendengar dirinya diperbolehkan pulang, Cheriel gembira bukan main, ia sudah tak betah harus berlama lama di Rumah sakit.
[Bunda]
Inget ya, walaupun dokter udah ngijinin pulang, tapi tetap kamu harus banyak istirahat
[Cheriel]
Iya bunda....
[Bunda]
Yaudah, tunggu sebentar bunda urus administrasinya dulu..
[Cheriel]
Siapp bund....
Cheriel lalu duduk di sofa sambil menunggu bundanya menyelesaikan semua administrasinya.
Dan belum ada 5 menit bunda Cheriel pergi, kini bunda Cheriel telah kembali lagi.
[Cheriel]
Loh kok cepat amat bund? Perasaan bunda baru aja ke administrasi
[Bunda]
Riel, tadi bunda ke adminiatrasi, katanya semua biaya kamu udah dibayar
[Cheriel]
[Bunda]
Bunda gak tau, bunda juga udah tanya, tapi mereka gak mau ngasih tau ke bunda, katanya itu permintaan dari orang itu...
Bukan teman teman kamu kan riel ?
[Cheriel]
Gak mungkin bund, mereka masih di sekolah, kalau pun mereka pasti mereka cerita ke riel...
Cheriel & bundanya terlihat kebingungan, mereka sibuk menebak nebak siapa yang telah melunasi biaya Rumah sakit Cheriel.
15 menit kemudian, setelah mendapat obat Cheriel & bundanya meninggalkan Rumah sakit dan langsung menuju Rumah.
Di perjalanan pulang bunda Cheriel masih terus memikirkan siapa sebenarnya yang telah melunasi biaya Rumah sakit.
Dari wajahnya tampak raut ke khawatiran, bunda Cheriel mencoba menepis semua pikiran pikiran jeleknya.
Batin bunda Cheriel :
" semoga apa yang aku pikirkan ini salah, dan bukan dia yang membayar biaya Rumah sakit Cheriel, ya bukan dia, dia tak pernah mengetahui soal Cheriel"
Cheriel yang dari tadi mengamati di luar jendela taksi, tanpa sengaja ia melihat kearah bundanya, raut wajah bunda sangat bisa ditebak oleh Cheriel.
[Cheriel]
Bund......bunda masih mikirin soal siapa yang bayarin biaya Rumah sakit?
[Bunda]
Bunda cuma penasaran aja riel...
[Cheriel]
Riel bakal cari tau siapa yang bayarin biaya Rumah sakit, bunda tenang aja setelah riel tau siapa yang bayar, riel bakal kembaliin uang nya.
[Bunda]
Bunda setuju sama kamu, tapi kamu ingat kamu masih harus tetap istirahat
[Cheriel]
Iya bund....
45 menit kemudian Cheriel & bundanya telah sampai di rumah, meski baru 2 hari meninggalkan rumah tapi Cheriel sudah rindu akan kamarnya.
Ia merasa akan lebih nyenyak lagi tidurnya jika berada di kamarnya sendiri.
Bunda Cheriel lalu menyuruh Cheriel untuk masuk ke kamar dan langsung beristirahat.
----------------------------------
Jam telah menunjukkan pukul 14.30 siang, jam bel pulang sekolah telah berbunyi.
Beberapa siswa dan siswi menghambur keluar kelas dan bersiap untuk pulang.
[Chinthya]
Chik....jadikan ke rumah riel?
[Chika]
Jadi dong...
Btw kok riel udah boleh pulang sih? Bukannya cederanya lumayan parah ya?
[Chinthya]
Ahh...lo kaya gak kenal riel aja, pasti dia ngerengek tuh sama dokter biar di ijinin pulang....
[Chika]
Hahahaha....bisa aja lu...
Yaudah yukk...
[Chinthya]
Oh iya, si shaka gak masuk kelas ya?
[Chika]
Kalau riel gak ada emang mau tuh anak masuk kelas?
[Chinthya]
Iya juga sih, ya udah lah ...
Chinthya dan Chika bergegas pulang menuju rumah Cheriel.
Di parkiran Gavin, Christ,Reymond & Nhaya tengah berkumpul.
Sejak pagi tadi saat bertemu Rayshaka, mood Gavin menjadi hancur, ia hanya diam dan memasang wajah dinginnya.
[Christ]
Lo kenapa sih vin? Dari tadi pagi gue perhatiin muka lo gak enak banget...
[Reymond]
Emang kapan muka ni bocah enak di liat...??
[Nhaya]
Kalian berdua tuh bisa gak sih gak mojokin Gavin terus...
Reymond dan Christ hanya tertawa sinis mendengar ucapan Nhaya.
Bagaimanapun buruknya sikap Gavin, Nhaya akan selalu membela Gavin. Bukan karena Gavin tak bersalah, tapi itu semua Nhaya lakukan demi merebut hati Gavin.
[Reymond]
Nhay...nhay...biar ni bocah salah juga bakal terus lu bela....
[Christ]
Gue dengar tadi pagi lo ribut sama Rayshaka vin...??
[Nhaya]
Rayshaka aja tuh yang cari masalah duluan sama Gavin....
[Gavin]
Gue gak ada urusan sama tuh anak, dia aja yang cari ribut sama gue....
Reymond & Christ hanya saling menatap mereka bingung harus berkata apa lagi, mereka berdua seakan kehabisan kata kata jika sedang menghadapi Gavin.
[Christ]
Vin, lo mau sampai kapan gak ikut latihan basket?
[Gavin]
Nanti sore gue turun latihan...
[Reymond]
Gitu dong.... masa cuma karna Rayshaka lo gak latihan..
[Gavin]
Gak usah sebut tuh nama,bikin mood gua ancur aja...
Gue duluan....
Gavin lalu menaiki motornya dan memakai helmnya, ia langsung memacu motornya dengan cepat dan meninggalkan sahabat sahabatnya.