
Zafran sudah membawa senjata yang ia perlukan, begitu pula Zack dan juga Stark.
Beberapa pengawal akan mengikuti mereka dari belakang, semua sudah berpakaian serba hitam.
Sampai di lokasi yang di maksud, masih dengan jarak yang tidak terdeteksi radar, mereka kemudian mematangkan rencana.
Terlihat sebuah Mansion yang tidak terlalu besar berdiri di atas bukit dan di jaga dengan ketat.
"Sekarang pukul 4 pagi, dan setiap 1 jam helikopter milik pengawal Emir Khan akan berputar dan mengawasi lokasi ini." Kata Zafran menyentuh peta dengan berputar.
"Helikopter akan melewati batas radar wilayah mansion milik Emir Khan. Saat itu kita bisa menyabotase dan mengambil alih helikopter, menghimpit dengan beberapa helikopter milik kita, lalu kita bisa memakai helikopter milik Emir untuk masuk karena hanya helikopter milik Emir yang tidak akan menimbulkan suara alarm. Kita hanya punya satu kesempatan Zack. Sesuai perjanjian kalian, Emir akan menahan senjatanya tidak menyentuh Evashya dan Isabella sampai fajar tiba hingga kau setuju dengan usulnya, setelah itu kita tidak memiliki kesempatan lagi..." Kata Zafran menegaskan.
"Aku mengerti ayah."
"Stark pastikan alat pemutus komunikasi aktif semua, saat kita menyabotase helikopter jangan sampai mereka bisa menghubungi para penjaga di mansion." Kata Zafran.
"Baik tuan."
Kemudian tak berapa lama sebuah helikopter terbang mendekati wilayah mereka untuk berputar dan memeriksa wilayah.
Helikopter yang membawa Zack, sudah menderu dengan baling-baling yang membuat pusaran angin di atas tanah kering, menimbulkan debu yang kuat dan membuat sekelilingnya tampak buram karena debu yang berterbangan.
Sedangkan kini helikopter-helikopter milik Volkofrich sudah mengudara untuk mengapit helikopter milik pengawal Emir Khan.
Para pengawal Emir Khan yang terdesak menghubungi mansion namun tidak bisa, alat komunikasi mereka tiba-tiba mati, sedangkan mereka berada di luar wilayah yang di tidak jaga radar.
Dengan terpaksa kemudian mereka mendarat, dan para pengawal sudah mengepung mereka, menangkap dan menyandra mereka.
Sedangkan helikopter dengan logo EMR kemudian di ambil alih oleh Zafran serta Zack dan Stark.
"Kita masuk dan mematikan alat radar, agar para pengawal kita bisa masuk." Kata Zafran.
"Baik tuan." Kata Stark.
"Baik ayah." Kata Zack sigap.
Stark mengemudikan helikopter terbang naik dan menuju mansion milik Emir Khan.
Tidak ada yang curiga pada mereka, sampai pada akhirnya Zack melemparkan granat pada bagian keamanan.
DUARR!!!
Granat meledak dan membuat suara menggelar dan api pun menjalar.
BLAARR!!!
Zack serta Zafran turun menggunakan tali mencari Isabella dan juga Evahsya.
Mereka saling menembakkan pistol pada para penjaga yang menghalangi, suara tembakan saling sahut menyahut.
DORR!!!
DORR!!!
DORR!!!
Sedangkan dari kejauhan terlihat para pengawal Zafran sudah bergerak maju, mereka akan mengepung Mansion.
Zafran menemukan ruangan Evahsya. Terlihat Evashya sudah panik karena mendengar suara dentuman yang keras.
"Evahsya!" Kata Zafran setelah membuka pintu.
Evashya duduk di sudut ruangan dengan kaki menekuk dan menutup kedua telinganya.
Evashya tidak asing dengan suara itu, tapi dia juga tidak tahu siapa orang yang berdiri di hadapannya dengan menggunakan pakaian serba hitam, apalagi wajahnya juga tertutup hanya bagian mata yang terlihat.
"Mata itu..." Kata Evashya lirih.
Zafran menurunkan kain hitam yang menutupi wajahnya.
Seketika Evahsya terbelalak.
"Ayah!! Ah... Aku sudah mati? Aku sudah mati?" Kata Evashya panik.
"Evashya ini ayah, ayah masih hidup."
"Ayah hidup lagi? Ayah bangkit dari kubur untuk menyelamatkan Shya?!"
Kemudian Evahsya memeluk erat ayahnya, sedangkan Zafran mencium wajah anaknya.
"Setelah dari sini akan ayah ceritakan, sekarang kau bantu ayah, di bawah banyak pengawal kita sudah mengepung, kau loncat dari atas, akan ada pengawal yang siap menangkap. Apa kau mengerti!" Kata Zafran.
Evashya hanya mengangguk dan tidak ada lagi yang bisa ia lakukan selain menuruti apa kata sang ayah, Evahsya percaya pada ayahnya.
Lalu Zafran mengajak Evashya pada bagian mansion yang sudah rusak, bagian bawah para pengawal sudah bersiap menangkap Evashya.
Saat itu Evashya sangat ketakutan.
"Ayah mencintaimu."Kata Zafran memeluk anaknya dan mencium seluruh wajah anaknya setelah itu Zafran mendorong Evashya yang belum siap sama sekali.
"Ayaahhh!!!" Teriak Evahsya sembari tangannya ingin meraih Zafran.
Zafran mendorong Evashya hingga anaknya jatuh dari lantai atas, mata Evashya terbelalak, ia belum seratus persen pada posisi yang siap, dan mentalnya juga belum benar-benar mantap.
Namun para pengawal berhasil menangkap Evashya, setelah Zafran memastikan Evashya selamat kemudian ia pergi mencari Emir Khan.
Dengan jantung yang seakan siap meledak, Evashya berdiri dengan kaki gemetar, para pengawal menjaga Evashya dan membawa Evashya ke tempat yang aman.
Di tempat lain Zack masih mencari dimana ruangan Isabella, dan akhirnya ia menemukan sebuah ruangan yang belum ia periksa.
Zack menendang pintunya dan menodongkan pistol.
BRAKK!!! Suara pintu terpelanting karena tendangan Zack.
Sepi.
Hening.
Tidak ada. suara apapun.
Zack melirik ke kanan dan kekiri tidak ada seorang pun.
Namun Zack sadar ada seseorang di belakangnya.
Dengan cepat Zack berbalik dan melihat Emir Khan sedang menodongkan pisau pada Isabella yang masih dengan mulut tersumpal dan tangan terikat di belakang.
Wajah Isabella sudah begitu banyak memar, air mata dan keringat bercampur menjadi satu.
"Brengsek! Aku sudah katakan jangan sentuh dia apalagi menyakiti dia!" Teriak Zack.
"Kau menyerang mansionku, aku menyiksanya! Lagi pula aku cukup menikmati kulit yang halus ini." Kata Emir Khan menjulurkan lidahnya pada leher Isabella.
Zack geram dan sangat marah.
Melihat pakaian Isabella pun sudah tidak baik-baik saja.
Zack kemudian membuang senapannya ke lantai dan tergelatak di sana.
"Lepaskan dia, aku akan menuruti mau mu." Kata Zack.
Tak berapa lama Zafran datang dengan masih memakai atributnya, wajahnya masih tertutup dan melihat pemandangan itu.
Zack anaknya menyerah. Zafran juga melihat Isabella ada di tangan Emir Khan.
Seorang wanita membawa sebuah dokumen dan itu adalah Paula.
"Kau..." Kata Zack.
"Ya, aku Paula bibi dari Isabella, dari awal aku bekerja sama dengan Emir Khan, dia kekasihku, aku juga yang telah memberikan ide pada Emir Khan dan membuatnya membunuh keluargaku sendiri dan keluarga Kauffman." Kata Paula.
"What the he*l!!" Umpat Zafran.
"Kau tidak akan mengerti Zack, ini sesuatu yang rumit dalam hatiku. Ayah ku, Gavaro lebih percaya memberikan seluruh hartanya pada Eldon kakakku. Saat itu aku berpacaran dengan Emir Khan, aku meminta untuk menempatkan Emir Khan di perusahaan dengan jabatan paling tinggi, tapi kakakku tidak setuju dan menghasut ayah agar memberikan jabatan yang tidak lebih seperti seorang kacung." Kata Paula.
"Dengan kematian Gavaro dan Eldon semua harta Gavaro jatuh padaku, dan dengan harta itu aku memberikan suntikan dana pada perusahaan Emir yang bangkrut setelah kau menguras seluruh hartanya saat pertemuan kalian dengan Belinda, tapi semua itu belum cukup Zack untuk, kami tertarik dengan segala yang kalian punya, kalian memiliki segalanya." Kata Paula.
"Dengar Paula, kau di bodohi Emir Khan, dia memiliki banyak wanita di sampingnya." Kata Zack.
"Aku tidak masalah, asal aku tetap berada di sampingnya, cinta ku padanya jauh lebih besar daripada kecemburuanku pada nya." Kata Paula.
Emir Khan menyeringai dengan masih menodongkan pisau di leher Isabella.
~bersambung~