
Dax yang sedang terpuruk melepaskan emosinya pada Isyana. Gadis itu seolah tahu apa yang Dax alami, dan datang pada waktu yang tepat sebelum Dax memporak-porandakan isi apartmen nya.
Dax bagai mesin yang terus bergerak tanpa henti, ia menyalurkan segala kegundahannya, dan segala emosinya pada Isyana, seolah ingin melepaskan seluruh duka lara nya pada Isyana. Seolah ingin melepaskan bebannya dulu dan menghilang dari pikiran penatnya dengan menikmati sesuatu yang bisa memuaskannya.
Dax meraih tubuh mungil Isyana, memeluk gadis itu di bagian pinggang, merekatkan pada tubuhnya, merantai hingga Isyana tak dapat kabur dan menyesap mulut mungil kecil Isyana, Dax menjadi buas, menjadi rakus, tak bisa di tahan.
Dengan cepat kaki Dax mengarahkan Isyana untuk berjalan mundur menuju kamar milik Dax, mereka menjatuhkan diri dan pria itu masih dengan buas menciumi tubuh Isyana.
Gadis itu melenguh, meremas, mengigit, mencengkram, dan menegang.
Dax tak terkendali, bahkan lebih buas dari saat ia mengambil keperawanan Isyana.
Gadis itu mendesahhkan nafas panasnya, hingga suaranya masuk meredam gejolak emosi yang ada di dalam dada Dax.
Suara Isyana seolah mengobati dan membuat Dax melupakan dukanya, suara itu mendinginkan hati Dax, suara merdu itu mampu menyatukan setiap kepingan hati Dax yang berantakan.
" Tuan Dax..."
Suara lembut Isyana terdengar jelas di telinga pria itu, telinganya merekam setiap panggilan yang di tujukan padanya, dan masuk meresap memasuki celah-celah hatinya.
"Aku membutuhkanmu..." Kata Dax membisikkan kalimat itu.
Akhirnya Dax memulai permainannya, ia menekan tubuh Isyana dan menghantamnya dengan satu kali gerakan.
Dax memompa tubuhnya lebih cepat, dan lebih cepat, tidak ada perlawanan dari Isyana sedikitpun, seolah ia tahu hanya inilah yang bisa ia berikan untuk meredam luka yang sedang Dax alami.
Hingga beberapa jam berlalu Dax belum juga menyelesaikan permainannya, membuat Isyana sudah merasa letih, pria itu terlalu besar dan terlalu kuat untuknya yang bertubuh mungil dan masih belia.
Isyana meremas bahu Dax, tubuhnya penuh peluh dan keringat, sangat lengket dan licin, untuk kesekian kalinya, Isyana merasakan sensasi yang datang kembali, ia mengeluarkan kembali rintihan suaranya yang merdu.
Terlihat tubuh Dax di penuhi keringat yang bercucuran, urat syaraf dan juga otot bahkan kepalanya pun memperlihatkan ukiran otot-otot di dahinya.
Gerakannya makin cepat, makin liar, makin buas, dan Dax menggeram menggema memenuhi apartmen, tubuhnya jatuh di atas Isyana.
"Oh... Sh*****!!! Persetan dengan pengaman." Kata Dax lemah.
Isyana membelai rambut milik Dax dimana kepala itu berada di atas dada Isyana, ia mencoba menenangkan Dax, baru kali ini Isyana melihat Dax sangat frustasi dan berulang kali mengumpat.
Luka nya pasti sangatlah dalam hingga membuat Dax yang sangat dewasa dan penuh kehangatan berubah menjadi pria yang sedikit tidak sabaran.
"Kemana saja kau?" Tanya Dax, suaranya parau dan rendah, kemudian menatap intens mata Isyana yang terlihat sayu karena kelelahan.
"Aku akan ceritakan setelah kita tidur sebentar." Kata Isyana mengecup bibir Dax.
Dax kemudian membalas ciuman itu, menekan tubuh Isyana yang kecil dan seolah hendak menelan bibir mungil itu, kemudian Dax melepaskan ciumannya.
"Aku akan menghukummu, membuatmu tersiksa, dan memenjarakanmu di sini, setiap detik aku akan membuatmu menjerit bahkan sampai kau berkata ampun aku tidak akan mengampunimu, aku akan mempermainkanmu dan menyiksamu, tunggu dan rasakan akibatnya karena telah membuatku gila." Bisik Dax di telinga Isyana kemudian menggigit pelan telinga itu.
"Aku menantikannya Tuan Dax..." Bisik Isyana menantang dan tersenyum.
Isyana membelai wajah Dax yang masih menatapnya. Kedua tangannya yang mungil bahkan tidak bisa memenuhi wajah Dax yang cukup besar baginya.
Dax meraih selimut dan menutupi kedua tubuh polos tersebut, pria itu siap mendengar cerita Isyana. Dax berada di samping Isyana memeluk tubuh mungil Isyana, merantainya seolah tak membolehkan gadis itu pergi kemanapun. Meski sekelebat pikiran muncul di otaknya.
"Dia anak pembunuh itu. Dia anak yang telah membunuh adikmu."
Hingga pada akhirnya Dax hanya melamun dan tidak dapat mencerna setiap cerita yang Isyana sampaikan, pria itu menatap kosong, hanya memeluk Isyana sembari membelai pelan rambut gadis itu yang sedang bercerita sembari menaruh kepalanya di lengan kekar milik Dax sebagai bantalan.
Setelah beberapa menit, Isyana sudah tertidur pulas. Gadis itu kelelahan. Dax perlahan turun dan memakai celananya. Pria itu duduk di sofa meminum alkoholnya dengan pelan. Matanya tak pernah berpaling dari tubuh Isyana yang terbalut selimut berwarna grey.
"Dia anak pembunuh itu."
Bisikan itu kembali menyeruak di telinga dan pikirannya. Membuat Dax kesal dan melemparkan gelas itu hingga membentur dinding dan pecah berkeping-keping.
Nafasnya semakin memburu karena bisikan-bisikan serta pikiran itu seolah nyata berada di dekatnya, selalu mengintai dan memperhatikannya.
Isyana terkejut dan kembali tersadar.
"Tuan Dax?" Panggil Isyana.
Gadis itu melihat Dax yang masih tanpa baju hanya menggunakan celana panjangnya, menatap ke arah luar dimana tirai jendela itu masih terbuka lebar dan menuyuguhkan pemandangan gedung-gedung yang masih menyalakan lampi-lampu mereka.
Kamar Dax di dominasi jendela, hingga tak butuh penerangan lampu karena sinar bulan telah menyinari kamar tersebut meski hanya remang-remang.
Isyana melilitkan selimutnya ke tubuh dan perlahan turun, ia berjalan mendekati Dax dan memeluk pria itu dari belakang.
Dax menekan kaca jendela menggunakan tangannya, seolah sedang menyangga tubuhnya sendiri.
"Saya minta maaf, tapi saya bahkan tidak pernah tahu bagaimana wajah dan perawakan ibu saya, mungkin anda bingung ketika melihat saya di sini, karena dia telah menyebabkan berbagai masalah di keluarga anda. Saya akan pergi dan membiarkan anda lebih tenang. Jika amda membutuhkan saya, anda tahu dimana harus mencari saya." Kata Isyana mengecup punggung belakang Dax dan berbalik.
Isyana hendak pergi dan memungut pakaiannya namun tangan kekar Dax meraih lengannya.
Dax menelan ludahnya dan memandangi wajah polos Isyana, ia sadar gadis yang ada di hadapannya tidak tahu menahu, bahkan tidak ada sangkut pautnya dengan Gaby, gadis di hadapannya telah di buang sejak ia masih bayi.
Namun, bisikan-bisikan itu seolah nyata, bahkan setelah Dax melakukan hubungan itu membuatnya merasa berdosa, makam adiknya belum kering, bunganya bahkan belum layu, namun ia justru berbagi ranjang dengan anak dari pembunuh adik kandungnya.
Mereka hanya saling menatap tanpa ada yang bicara lebih dulu. Merasa bahwa Dax masih bimbang, Isyana tersenyum tegar, dan melepaskan cengkraman yang kian melemah.
"Saya harus pergi Tuan..." Kata Isyana yang sedang menguatkan dirinya sendiri.
Dax hanya diam dan kakinya bahkan tidak beranjak mengejar ketika Isyana pergi dari kamar itu dengan membawa baju-bajunya.
Setelah beberapa menit dan Isyana selesai memakai bajunya di kamar mandi, gadis itu membereskan ponsel dan tasnya, kemudian mentengnya dan pergi dari apartmen yang masih cukup gelap.
Isyana menoleh dan Dax masih berada di dalam kamarnya, namun gadis itu harus sadar diri, ibunya telah menyebabkan dua orang penting dalam hidup Dax meninggal.
Meski Isyana tidak pernah tahu bagaimana wajah ibu kandungnya, tapi ia mengerti perasaan Dax akan tetap sama, bahwa ia adalah anak dari pembunuh keluarganya. Isyana akan memberikan waktu bagi Dax untuk menenangkan diri, seberapa pun waktu yang Dax perlukan.
Air mata Isyana kembali menggenang, gadis itu turun menggunakan lift, tubuhnya perlahan merosot dan berjongkok, kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia menangis sesenggukan.
~bersambung~